Marie langsung membalas pesan tersebut,
Marie: Tidak masalah... aku akan membawakanmu obat dan bubur nantinya,
“Benar kan, Marie?” tanya Nicky yang membuat Marie kebingungan,
“Benar apaan?” tanyanya yang tidak menyimak percakapan Nicky, Charlie dan Nirmala,
Nicky menghela napasnya,”Benar kan kalau Nirmala harus bisa mengambil hati ayahnya supaya ia bisa menjadi pramugari?” tanyanya yang diangguki oleh Marie disaat itu juga,
“Benar... kamu harus bekerja dengan keras, belajar dengan keras... buktikan ke orang tuamu kalau kamu bisa menjadi pramugari di salah satu maskapai terbaik di Indonesia ini,” ujar Marie dengan bersemangat. Nicky menyenggol gadis itu, berniat untuk menggodanya karena Marie pastinya sangat senang karena kali ini dia bisa berkomunikasi dengan Jonathan,
“Sudah, bilang saja papamu kalau aku pilotnya, kamu akan selamat,” ujar Charlie dengan enteng untuk sekali lagi,
“Emangnya bisa milih pramugari seenak jidat begitu, hah?” balas Nicky dengan sewot. Marie menghela napas lagi, ia malas sekali jika keduanya sudah mulai kembali bertengkar. Sementara Nirmala yang sudah terbiasa melihat mereka bertengkar hanya bisa tersenyum saja,
“Makanya, tetaplah bersama denganku, kamu pasti akan aman...” ujar Charlie yang membuat Nirmala berdebar-debar di saat itu juga. Marie tersenyum, melirik Nirmala yang tampak senang mendengar perkataan itu dari Charlie. Ah... ingin sekali ia menggoda Nirmala namun di sini ada Charlie, jadi tidak mungkin dia melakukannya.
“Sudahlah Nir... abaikan saja perkataannya yang tidak jelas itu,” ujar Nicky kepada Nirmala yang malah terkekeh,”Tidak masalah... entah mengapa aku malah senang melihat kalian bertengkar,” ujarnya sembari menutup mulutnya dan sedikit terkekeh.
“Aku tidak salah dengar kan? Sejak kapan ada orang yang senang kalau temannya bertengkar?” ucap Nicky yang bingung sendiri dengan selera Nirmala. Nirmala kemudian menjelaskan jika keduanya terlihat begitu lucu kalau sedang bertengkar,”Kalian seperti anak kecil kalau sudah bertengkar,” ujarnya sembari terkekeh,
Tidak lama setelahnya, Marie mendapatkan pesan masuk dari Jonathan.
Jonathan: Baiklah... datang saja ke apartemenku di lantai 10, di kamar 1040,
“Yes!” ujar Marie secara refleks berteriak dan berdiri, membuat ketiga temannya terdiam dan menatapnya dengan bingung. Marie yang sadar jika dirinya sudah mengundang banyak perhatian dari teman dan orang sekitaran kantin pun kembali duduk kembali dan berdehem,
“Ada apa tuh? Apa ada kabar baik?” tanya Nirmala kepada Marie,
“Baik! Sangat baik!” batin Marie yang sedang berteriak.
“Ya, begitulah...” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya. Nicky mengintip apa yang menjadi isi pesan gadis itu, yang mana ini membuatnya bertanya kepada Marie untuk sekadar mengalihkan perhatian orang terhadap interaksinya dengan Jonathan melalui chat,
“Bagaimana denganmu Marie?” tanya Nicky yang membuat Marie yang bingung sendiri,
“Maksudnya bagaimana gimana?”
“Itu loh... setahuku kamu setelah SMA ini kamu bakalan kerja dan tidak kuliah... apa kamu masih berpikiran seperti itu?” tanya Nicky, memperjelas apa yang menjadi pertanyaannya tadi. Marie berpikir sejenak, di kehidupan sebelumnya berkat Jonathan, entah mengapa ia ingin menjadi seorang dosen. Dengan senyuman manisnya, gadis itu pun berkata,”Aku rasa aku akan menjadi dosen...” ujarnya sembari mengingat kembali momennya bersama dengan Jonathan di kehidupan pertamanya.
“Dosen? Bukankah itu artinya kamu harus kuliah sampai S2?”
Marie mengangguk,”Aku tidak punya bakat yang spesifik selain otakku yang cukup encer... aku juga senang mengajari orang jadi aku rasa aku akan menjadi dosen,” ujarnya yang disetujui oleh teman-temannya. Sebelumnya gadis itu berkata jika dia akan bekerja dan dia tidak akan kuliah. Namun pada akhirnya gadis itu mengubah pikirannya dan itu adalah suatu hal yang baik untuknya.
“Iya, kepintaranmu jadi tidak sia-sia lagi,” ujar Nicky yang diangguki oleh Marie. Marie tersenyum sembari memikirkan keadaan Jonathan yang sedang tidak baik. Ia harap waktu berjalan dengan cepat supaya ia bisa menjenguk Jonathan,
***
“Hah?! Jadi kamu kemarin telat pulang karena nganterin Jonathan balik?!” pekik Nicky yang menganggu perpustakaan beserta orang-orang di dalamnya. Karena gadis itu bising, Marie menutup mulutnya dan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya,
“Hey! Jangan kuat-kuat!” ujarnya, memperingatkan Nicky untuk tidak bersuara besar apalagi membocorkan rahasia ini,
Nicky mengangguk tepat sebelum gadis itu melepaskan tangannya dari bibir gadis itu,”Jadi sekarang kamu mau menjenguknya?” tanya gadis itu yang diangguki oleh Marie yang malu-malu. Nicky tersenyum usil dan menyikut gadis itu,”Cie nanti berduaan, jangan macam-macam ya nanti... ingat, kalian belum nikah, jadi lakukan itu saat sudah menikah,” ujarnya memperingatkan Marie.
Marie memukul lengan gadis itu dengan kesal,”Siapa juga yang mau melakukan begituan huh! Kamu aja yang pikirannya kemana-mana,” ujarnya dengan tidak senang, sementara Nicky hanya bisa terkekeh sembari mengangguk,
“Yaudah sana, kerjakan bukumu itu dan segera salin catatanku, aku mau secepatnya pergi,” ujarnya yang diangguki oleh Nicky,
“Siap boss!” balasnya sembari mencatat.
Marie mengeluarkan ponselnya, sepertinya ia harus mengabari Jonathan kalau dia akan sedikit terlambat menjenguknya karena ia harus menunggu Nicky menyelesaikan catatannya. Marie sengaja tidak ingin meninggalkan bukunya bersama dengan Nicky karena ia takut Nicky lupa bawa keesokkan harinya, padahal dia sudah berencana untuk memberikan buku catatan pelajaran hari ini kepada Jonathan yang tidak masuk ke sekolah hari ini,
Marie: Sepertinya aku bisanya agak malam karena aku ada urusan, apa tidak masalah?
Marie menutup ponselnya dan bersender di kursi. Ia mendongakkan kepalanya dan menghela napasnya. Ia penasaran, apa yang sedang dilakukan oleh Jonathan ya saat ini? Apa dia terbaring di lemah di kasurnya seperti yang ia pikirkan? Ah entahlah, ia akan tahu jika dia mendatangi Jonathan secara langsung,
Jonathan: Tidak masalah... jangan khawatir, kamu datang saja aku sudah senang,
“S-senang...” ujar gadis itu yang tidak bisa menahan senyumannya ketika ia membaca pesan dari Jonathan. Ah, ia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Jonathan nantinya!
“Dari Jonathan kah?” tanya Nicky yang masih mencatat secepat mungkin,
“Begitulah...” jawabnya sembari ia mengetik balasan untuk Jonathan,
Marie: Oke... see you there...
Marie menutup ponselnya lagi dan dia melihat ke arah Nicky yang sudah mulai selesai dengan catatannya. Marie menyahut Nicky ketika gadis itu memanggil namanya,
“Ada apa?” tanya Marie kepada Nicky,
“Aku penasaran, apa kamu juga menceritakan tentang Jonathan ke Charlie?”
Marie dengan cepat menggelengkan kepalanya,”Sama sekali tidak... kalau Nirmala sih juga aku belum mau cerita karena dia masih baru juga kan bersama dengan kita...” jelasnya sembari mengawasi Nicky menulis,
“Kenapa memangnya dengan Charlie? Kenapa kamu tidak cerita mengenai Jonathan kepadanya?”
Nicky masih penasaran, apakah Marie ini mengetahui jika Charlie itu sebenarnya menyukai dirinya? Bagi Nicky, sudah terlihat jelas betapa sukanya Charlie kepada Marie, hanya saja ia tidak tahu apakah Marie mengetahui mengenai ini apa tidak,
“Hmm... terakhir kali aku cerita padanya, ia terlihat tidak senang dan dia sedikit marah kepadaku. Aku jadi merasa kurang nyaman kalau terus menerus menceritakan Jonathan kepadanya,”
“Itu karena dia suka samamu, tahu!” batin Nicky berteriak,
“Jadi itu alasanmu tidak menceritakan apapun kepadanya?”
“Soal itu sih, sebenarnya aku masih berbicara mengenai Jonathan kepada Charlie, namun tidak sesering sekarang ini...” jelasnya yang membuat mata Nicky berbinar-binar,”Berarti hanya aku yang tahu mengenai hal ini?” tanyanya yang diangguki oleh Marie,
“Iya, hanya kamu,”
“Sudah kuduga, aku adalah orang yang lebih berharga daripada si kucrut itu,” ujarnya dengan senyuman miringnya. Marie hanya bisa terkekeh kecil ketika ia mendengar panggilan Nicky kepada Charlie yang dinilainya lucu. Tidak berselang lama, akhirnya Nicky pun menyelesaikan catatannya dan dia pun memberikan catatan Marie kembali kepadanya,
“Makasih ya... titip salam dariku juga...” ujar Nicky yang diangguki oleh Marie,
“Oke...”