“Terima kasih…” ucap sang kasir yang dibalas dengan anggukan oleh Marie yang masih tersenyum ketika ia menerima obat yang ia harap bisa membantu Jonathan untuk segera sembuh. Menurut apa yang ia baca di buku diarinya, besoknya ia akan masuk ke sekolah, tapi tetap saja hal itu bisa saja berubah. Marie berjalan ke mobilnya dan meletakkan obat yang baru dia beli di samping kursi mobilnya. Ia juga sudah membeli bubur untuk Jonathan.
“Aku harus segera sampai sebelum buburnya dingin,” ujarnya yang kemudian menghidupkan mesin dan melesat pergi dari apotek. Ia mengendarai mobilnya dengan santai hingga ia sampai ke sebuah gedung yang menjadi apartemen Jonathan. Setelah memarkirkan mobilnya, gadis itu keluar dari mobilnya membawa sebungkus obat dan bubur di tangan kanannya. Ia berjalan ke lobby dan melihat jika lift baru saja terbuka.
Dengan cepat, ia langsung masuk dan menekan lantai 10 tempat Jonathan tinggal. Gadis itu bergidik ngeri, karena di apartemen inilah pria itu mati mengenaskan. Marie sedikit takut, ia sangat takut hal itu terjadi lagi pada Jonathan… ia tidak ingin kehilangan Jonathan untuk kedua kalinya,
Marie masih bergumul dengan pikirannya dan seketika itu juga lift terbuka. Ia berjalan keluar dan melihat tanda petunjuk dimana letak lorong untuk apartemen nomor 1040. Marie pun berjalan ke kiri sembari mencari nomor 1040, setelah sekian menit mencari, akhirnya ia mendapatkan apartemen tersebut.
Gadis itu mengambil napasnya, jantungnya berdetak begitu cepat bahkan tangan kirinya yang akan dia gunakan untuk memencet bel pun tampak ragu-ragu. Gadis itu menggigit bibirnya sebelum dia akhirnya memencet tombol bel tersebut. Marie sangat gugup, ini pertama kalinya ia berkunjung ke apartemen Jonathan, terlebih tidak ada siapapun di apartemen ini selain Jonathan sendiri dan dirinya saat ini.
Marie sedikit tertunduk, apa Gianna juga pernah dibawa Jonathan ke apartemennya? Ia teringat dengan ucapan Gianna ketika perempuan itu berkata kalau mereka akan dinner bersama keluarga Jonathan. Saat itu ia menyimpulkan kalau Jonathan sudah serius kepada Gianna, terbukti karena pria itu membawa Gianna ke keluarganya.
Tapi Gianna berbeda, dia malah mengkhianati Jonathan yang begitu mencintainya. Gadis itu mengepalkan tangannya, ia sangat membenci Gianna karena menurutnya Gianna adalah penyebab kematian Jonathan.
Kedatangan Gianna akan terjadi enam bulan ke depan. Sampai hari itu tiba, Marie akan terus berusaha untuk mendekat kepada Jonathan, gadis yang memiliki postur tubuh yang mungil itu ingin sekali menjadi orang pertama yang Jonathan cari di saat pria itu merasa gundah dan resah.
“Tapi bisakah aku menjadi seseorang seperti itu?” tanyanya kepada dirinya dengan sedih.
Marie menggelengkan kepalanya dengan cepat, mau tidak mau ia harus mengubah masa depan Jonathan karena Tuhan sudah mempercayakan hal itu kepadanya,
Tubuh Marie menegang ketika terdengar pintu terbuka dan ketika pintu itu benar-benar terbuka, ia melihat Jonathan yang napasnya tidak beraturan, ia bahkan memegang dinding karena ia tidak kuat untuk berdiri. Melihat Jonathan yang lemah itu, Marie langsung menghampirinya sebelum pria itu oyong. Pria itu berakhir di pundak gadis itu karena ia tidak terlalu kuat untuk berdiri.
Marie menutup pintu dan dia membantu pria itu untuk berjalan masuk ke dalam. Marie memapah tubuh berat Jonathan lalu membawanya ke kamar pria itu untuk setidaknya ia berbaring di ranjangnya.
“Tubuhmu sangat panas,” ujar gadis itu ketika ia meletakkan tangannya di kening Jonathan.
“Begitu lah… rasanya pusing sekali…” tuturnya dengan lemah.
“Kamu sudah makan?”
Pria itu menggeleng,”Belum,” ujarnya sembari ia memejamkan matanya.
“Belum?! Dari tadi pagi?”
“Iya…”
Beruntung sekali gadis itu membeli bubur, sehingga ada makanan untuk Jonathan makan.
“Kenapa kamu belum makan? Kamu lagi sakit, kalau gak makan nanti makin sakit, loh…” ujarnya sembari meletakkan obat dan membuka bubur yang ia beli. Gadis itu menghela napas ketika ia rasa bubur yang ia beli sudah tidak panas lagi. Satu-satunya cara supaya bubur itu bisa di makan adalah bubur tersebut harus dipanaskan.
“Aku akan memanaskan bubur… tunggu di sini ya…” ujarnya lagi yang diangguki oleh Jonathan. Pria itu sangat lemah, untuk bicara saja rasanya ia susah, rasanya kepalanya mau pecah saking sakitnya. Namun meskipun begitu, kedatangan Marie benar-benar membuatnya sedikit senang entah mengapa. Ia bahkan tersenyum kecil dan berpikir jika sakit tidak selamanya buruk. Sementara itu, Marie melangkah dengan cepat untuk menemukan dapur Jonathan. Ia mulai mengambil panci dan mengeluarkan bubur tersebut dari wadah. Ia mulai mengaduk-aduk bubur tersebut dan menunggunya hingga bubur itu panas.
Setelah dirasa sudah cukup panas, ia mencari mangkuk sebagai wadah dari bubur tersebut. Ia juga memanaskan air supaya pria itu bisa meminum air hangat nantinya.
Marie dapat merasakan kesepian yang Jonathan alami. Dulu saat kedua orang tuanya baru saja meninggal, gadis itu sempat tinggal sendirian. Ia tahu benar bagaimana rasanya jika tidak memiliki siapa pun di rumah, rasanya begitu hampa dan sepi. Gadis itu melunakkan pandangannya, ia merasa bersimpati kepada Jonathan, sekaligus ia penasaran… apakah orang tuanya pernah mendatanginya di apartemen ini?
Jika orang tuanya benar-benar mendatanginya, bukankah seharusnya mereka tahu jika anak mereka sedang sakit? Gadis itu mulai penasaran dan ada banyak sekali pertanyaan muncul dibenaknya, namun ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut kepada Jonathan karena menurutnya ia tidak berhak untuk menanyakan hal pribadi begitu,
Setelah selesai mempersiapkan segalanya, gadis itu mengambil nampan untuk meletakkan bubur dan air tersebut. Ia kemudian berjalan ke kamar pria itu yang tidak tertutup rapat. Tanpa mengetuk, ia menggunakan kakinya untuk membuka pintu dan dia melihat Jonathan yang sedang bersender di senderan ranjangnya,
Gadis itu tersenyum dan menghampiri Jonathan yang mulai menyadari keberadaan Marie. Marie meletakkan nampan tersebut di nakas. Gadis itu menoleh kepada Jonathan yang menunjuk kursi sebagai isyarat untuk menggunakan tempat duduk itu sebagai tempat Marie duduk. Marie yang mengerti pun mengambil kursi itu dan mulai duduk di samping Jonathan.
“Aku sudah memanaskan buburnya. Apa kamu bisa makan sendiri?”
Pria itu mengangguk. Ia mencoba untuk meraih gelas tersebut namun tangannya sedikit bergetar. Melihat itu, Marie memegang tangannya dan berkata,”Aku akan melakukannya untukmu…” ujarnya yang membuat pria itu tersenyum. Melihat pria itu tersenyum, gadis itu bertanya,”Kenapa senyum begitu? Apa ada yang lucu?” tanyanya dengan lugu,
“Aku tidak menyangka jika kau ini sebaik ini…” ujarnya yang membuat gadis itu berdebar-debar. Ia sangat senang mendapat pujian dari Jonathan, rasanya ia tengah terbang tinggi ke udara,
“Aku berusaha untuk baik kepada semua orang,” ujarnya sembari mengambil segelas air putih hangat itu dan memberikannya kepada Jonathan untuk ia minum. Jonathan masih belum melepas tatapannya dari Marie, sementara Marie sendiri berusaha untuk menguatkan dirinya untuk tidak melakukan kesalahan karena kegugupannya.
“Aku yakin kau akan menjadi istri yang baik nantinya, siapa pun yang mendapatkanmu, dia pasti beruntung,” ujarnya yang semakin membuat gadis itu melayang ke udara.
“Tidak, tidak… aku harus fokus!” ujarnya di dalam hati,
“Kau terlalu berlebihan… aku hanyalah perempuan biasa. Bukankah seharusnya tugas seorang perempuan itu melayani suaminya dengan baik?” jawabnya yang kemudian mengambil semangkuk bubur untuk ia suap ke Jonathan. Jonathan mulai memakan bubur tersebut dan sedikit mengunyahnya sebelum dia menelannya.
“Tidak semua perempuan seperti itu… tidak semua bisa menjadi istri dan ibu yang baik” ujarnya tanpa melepaskan tatapannya dari Marie. Hal ini mengingatkannya kepada ibunya yang sibuk sendiri dengan urusannya sendiri. Kedua orang tuanya selalu bertengkar, sehingga sang ayah sendiri memiliki selingkuhan. Meskipun Ayu- ibu Jonathan mengetahui jika sang ayah memiliki simpanan, tampaknya perempuan cantik itu tidak perduli. Kedua orang tuanya seakan-akan memiliki kehidupan mereka masing-masing, begitu juga dengan dirinya sendiri yang merasa terpisah dari kedua orang tuanya.
Marie tersenyum kecil sebelum dia menyendokki bubur untuk Jonathan,”Aku harap sih aku bisa menjadi istri yang baik dan ibu yang baik juga untuk anak-anakku nanti,” ujarnya sebelum dia menyuap Jonathan yang menyambut suapan tersebut dengan perlahan.
“Aku rasa kamu bisa menjadi sosok yang seperti itu…” jawab pria itu sebelum dia menerima suapan lain dari Marie. Melihat ada bubur di daerah bibir Jonathan, gadis itu menarik tisu dan menyeka bekas bubur itu dengan perlahan. Ia terlalu fokus dengan bekas bubur itu tanpa mengetahui jika sedari tadi Jonathan tidak melepaskan tatapannya dari Marie.
Ketika Marie hendak menarik diri, mata cokelatnya bertemu dengan mata tajam Jonathan yang menatapnya dengan dalam. Marie tidak bisa mendeskripsikan makna tatapan pria itu. Keduanya saling bertatap-tatapan dalam jarak yang cukup dekat sebelum Marie memutuskan rantai tatapan mereka. Meskipun begitu, Jonathan masih menatap gadis itu yang sedang menahan kegugupannya. Untuk pertama kalinya, Jonathan merasakan sesuatu yang aneh dari Marie. Ia tidak mengerti namun yang ia pahami ia sangat nyaman dengan keberadaan gadis itu bersama dengannya.