Jonathan masih tidak melepas pandangannya dari Marie yang terlihat telaten merawatnya, bahkan untuk suapan terakhir pun dia enggan melepaskan matanya dari Marie. Sedangkan Marie, ia terus menahan kegugupannya, dan ia berharap Jonathan tidak melihat jika tangannya sedang bergetar.
“Akhirnya habis juga,” ujar gadis itu yang kemudian meletakkan mangkuk tersebut kembali di atas nampan. Dia kemudian memberikan air putih kepada Jonathan untuk dia minum. Jonathan mengikuti apa saja yang Marie lakukan kepadanya, termasuk menghabiskan air putih yang mulai tidak hangat lagi.
“Aku akan memasak air lagi, kamu perlu air hangat untuk minum obat. Kita tunggu dulu beberapa menit untuk kamu nantinya minum obat,” ujarnya yang mulai beranjak dari tempatnya dengan nampan yang berisikan mangkuk dan gelas yang sudah kosong. Ada perasaan tidak rela pada Jonathan ketika Marie mulai meninggalkannya sehingga ia memegang tangan gadis itu dengan refleks. Marie yang tidak mengerti perasaan Jonathan pun menoleh kepada pria itu dan bertanya,”Apa ada yang bisa ku bantu lagi?” tanya gadis itu dengan ramah,
Jonathan baru sadar jika dia sedang menahan gadis itu, dia pun berkata,”A-ah... maaf, tidak apa...” ujarnya dengan wajah yang sedikit memanas. Ia bahkan memegang tengkuknya dengan canggung. Marie mengangguk paham dan dia pun kembali melangkah ke dapur meninggalkan Jonathan sendiri di ruangannya.
Tanpa Jonathan ketahui, gadis itu memegang dadanya dan menghela napas untuk mengontrol kegugupannya. Ia teringat dengan tatapan Jonathan yang begitu dalam kepadanya,
“Kenapa dia menatapku begitu?” tanyanya sembari dia meletakkan nampan tersebut untuk ia cuci. Setelah selesai mencuci piring, ia kembali memanaskan air dan menunggunya sedikit mendidih. Ia memegang tangannya yang Jonathan tadi pegang, ia penasaran, mengapa pria itu memegang tangannya?
“Rasanya aku tidak ingin mencuci tanganku ini,”
Keadaan berbalik kepada Jonathan yang mengangkat tangan kanannya yang tadinya menghentikan langkah gadis itu, ia tidak yakin namun ia bertanya kepada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang sudah ia lakukan?
Jonathan menatap kepergian gadis itu yang sudah tidak terlihat lagi oleh matanya, entah mengapa sakitnya mulai membaik, apa ini karena ia sudah makan? Mungkin begitu, namun pria itu tidak yakin jika itu adalah faktor yang membuat sakitnya bisa mendingan.
“Apa ini karena gadis itu?” tanyanya kepada dirinya sendiri.
Saat pertama kali bertemu, ia melihat Marie seperti gadis yang aneh menurutnya. Hal itu karena Marie tidak pernah berani menatap matanya atau berhadapan langsung dengannya. Ia juga tidak mengharapkan untuk menjalin hubungan yang dekat dengan Marie karena gadis itu bukanlah tipenya. Namun siapa sangka, gadis yang menurutnya aneh malah memberikan perhatian seperti ini kepadanya? Tidak hanya itu, sebelumnya juga disaat pria itu merasa tidak berdaya, kata-kata motivasi gadis itu membangkitkan kembali dirinya yang sudah pesimis,
Hatinya mulai melunak dan ia mulai mencari tahu mengenai Marie dan dia mendapatkan gadis itu adalah gadis yang pintar dan berprestasi. Dengan ragu-ragu dia meminta gadis itu untuk mengajarnya dan tidak disangka gadis itu malah menerima dirinya. Jonathan menghela napasnya, ia merasa jahat sendiri.
Jonathan merasa bersalah dengan caranya memandang Marie dulu. Ia hanya melihat penampilan gadis itu sebelum dia menyadari jika sebenarnya Marie adalah gadis yang begitu perduli dan baik kepadanya. Orang-orang yang ia sebut sebagai teman saja tidak ada yang mencarinya ketika ia tidak masuk sekolah. Hanya Marie... hanya gadis itu yang mencarinya dan mendatanginya serta mengurusnya seperti ini.
“Bahkan orang tuaku saja tidak perduli kepadaku,” tuturnya lagi sembari menunduk.
Hal ini membuat Jonathan belajar untuk tidak melihat seseorang dari penampilannya saja, seperti yang ia lakukan dahulu. Sekarang ia merasa tertampar akan perilakunya yang kurang baik itu. Jonathan tidak tahu lagi bagaimana ia harus berterimakasih kepada Marie karena kehadiran gadis itu membuat hatinya menghangat,
Tidak lama ia bergumul dengan pikirannya, Marie mengetuk pintu.
“Masuk saja,”
Marie pun masuk ke dalam kamar pria itu untuk kedua kalinya sembari membawa segelas air putih hangat yang sudah ia panaskan. Ia meletakkan gelas tersebut di nakas pria itu sembari dia mengambil tempat untuk duduk. Marie terlihat bingung ketika ia melihat Jonathan terkekeh sendiri,
“Ada apa? Apa ada yang lucu?” tanya gadis itu dengan bingung,
“Seharusnya kau tidak usah mengetuk pintu tadi,” jawabnya yang membuat gadis itu mengerjapkan matanya,”Bukannya tidak sopan jika aku langsung masuk begitu?” tanyanya dengan lugu. Jonathan tersenyum kecil ketika ia mendengar hal itu. Terlihat jelas jika Marie adalah tipikal yang suka sungkan dengan orang lain,
“Mulai sekarang, anggap saja ini rumahmu sendiri karena bukankah minggu depan kita akan belajar bersama di apartemen ini?”
“Belajar bersama? Di apartemen ini? Dan hanya berdua?” batin gadis itu sembari ia menelan ludahnya,
“B-bukannya kita bakalan belajar di perpustakaan?”
“Menurutmu mana lebih baik? Belajar di perpustakaan atau belajar di sini?” tanya Jonathan kepada Marie. Marie berpikir keras, jika ia belajar bersama dengan Jonathan di tempat ini, tentu tidak ada yang akan tahu jika dia sedang belajar dengan pria kesayangan para siswi sekolahnya. Tentu Charlie juga tidak akan tahu mengenai hal ini, jika saja pria itu tahu, dia pasti akan marah kepada Marie.
Tapi jika dia berada di sini berdua saja dengan Jonathan, ia takut jika ia tidak akan konsen dengan pelajaran yang mereka akan pelajari, seperti saat ini... ia sangat berdebar-debar karena di apartemen ini hanya ada dirinya dengan Jonathan,
Jonathan tahu jika gadis itu tidak bisa memilih. Tapi jika dirinya juga disuruh untuk memilih, ia memilih untuk belajar bersama di apartemennya saja karena tidak akan ada yang menganggu mereka berdua. Jonathan masih menunggu jawaban gadis itu dan melihat Marie tidak kunjung menjawab, dia pun memberi usul,
“Kalau aku sarankan, lebih baik kita di sini saja. Tidak ada yang tahu kalau kita sedang bersama, seperti yang kau tahu juga, penggemarku begitu banyak,” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya dengan canggung. Marie mengembalikan tatapannya kepada Jonathan dan gadis itu tersenyum samar,
“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sebelum dia sadar untuk segera memberikan minuman hangat yang jika kelamaan dibiarkan akan menjadi dingin.
“E-eh iya... ini minumlah obatmu sebelum airnya jadi dingin,” ujarnya sembari membuka obat-obatan yang sudah ia beli. Ia mengumpulkan obat-obatan itu di tangannya sebelum dia memberikan semuanya kepada Jonathan.
“Ini...” ujarnya, menyodorkan obat-obatan yang sudah siap untuk diminum. Jonathan mengambil gelas berisikan air putih yang mulai tidak terlalu panas itu dan mengambil obat-obat yang sudah Marie siapkan untuknya dan meminumnya sekali teguk.
“Marie...” panggil Jonathan, membuat gadis itu menoleh kepadanya,
“Ya?”
“Aku penasaran akan sesuatu...” ujarnya sebelum dia kembali melanjutkan perkataannya,
“Apa kamu sedang menyukai seseorang?”
Marie terdiam di tempat dan dia tertegun untuk beberapa saat. Apa pria itu tahu jika dirinya menyukai Jonathan? Apa terlihat jelas jika dirinya sedang menyukai Jonathan? Ia merasa tidak bisa menjawab pertanyaan Jonathan karena ia tidak siap untuk memberitahu perasaannya kepada Jonathan. Marie merasa waktu sekarang ini masih terlalu cepat untuk memberitahu Jonathan sementara saat ini mereka tidak berhubungan dengan dekat seperti ia dekat dengan Charlie dan Nicky,
“Hmm... mengapa kau ingin tahu mengenai hal itu?” tanya gadis itu balik kepada Jonathan yang terlihat tidak puas dengan jawaban gadis itu,
“Mengapa kamu membalas pertanyaan dengan pertanyaan? Ayolah, jawab saja... aku janji tidak akan membocorkan kepada siapapun,” tuturnya dengan yakin. Marie tertunduk sejenak, tidak mungkin ia memberitahu Jonathan mengenai perasaannya, ia takut hubungan mereka akan renggang dan Jonathan menjauhinya,“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu,” jawabnya dengan pelan.
Jonathan terlihat menghela napasnya,”Baiklah... kalau begitu spill saja orangnya seperti apa,” Marie mengangkat kepalanya dan dia membalas perkataan itu,”Jika aku memberitahumu mengenai ini, berjanjilah kamu juga akan menjawab pertanyaanku,”
Pria itu mengangguk,”Oke, setuju,”
Marie berpikir sejenak, bagaimana dia bisa mendeskripsikan Jonathan ya? Ia tidak sepenuhnya mengenal Jonathan, jadi dia sedikit kesulitan untuk mendeskripsikan sosok Jonathan,
“Hmm... sebenarnya aku sedang menyukai seseorang sejak lama... kalau seperti apa orangnya sih, dia orang yang baik kepadaku dan dia memiliki kepribadian yang banyak disukai orang...” jawabnya yang masih berharap Jonathan tidak menyadari jika Marie sedang membicarakan dirinya.
Wajah gadis itu memerah dan Jonathan melihat itu. Ia terkekeh geli melihat gadis itu yang salah tingkah,”Kamu lucu deh kalau lagi salah tingkah begini,” ujarnya yang membuat wajah gadis itu semakin memerah.
“B-berhentilah menggodaku begitu,” ujarnya terbata-bata,
“Iya iya... sekarang kamu mau tanya apa ke aku?”
“Pertanyaanku simpel saja... aku hanya ingin tahu mengapa kamu menanyakan hal ini kepadaku?” tanyanya dengan lugu.
Jonathan merasa tidak puas dengan pertanyaan gadis itu,”Mengapa dia malah bertanya begitu? Apa dia sama sekali tidak penasaran dengan diriku?” batin Jonathan sebelum dia memasang senyumnya kepada Marie,
“Hmm... aku hanya penasaran, aku rasa siapapun yang kamu sukai, dia adalah orang yang beruntung,”
Marie mengunci rapat mulutnya untuk sesaat dan dia sedikit menunduk,”Aku ragu jika dia berpikiran seperti itu,” ujarnya dengan sedih. Jonathan bisa melihat perubahan ekspresi gadis itu sehingga ia kembali bertanya, ”Kenapa kamu tidak menyatakan perasaanmu? Mana tau dia juga menyukai kamu,”
Marie tersenyum ketir,”Bukannya aku tidak mau, aku hanya tidak bisa... aku tidak ingin hubunganku yang sudah kucoba bangun dengannya malah hancur jika dia tahu aku menyukainya,”