”Bukannya aku tidak mau, aku hanya tidak bisa... aku tidak ingin hubunganku yang sudah kucoba bangun dengannya malah hancur jika dia tahu aku menyukainya,” ujarnya yang masih menunduk. Jonathan tidak mengerti akan dirinya, ia sangat penasaran dengan siapa gadis itu sukai. Ia ingin segera mengetahuinya namun tidak mungkin dia memaksa Marie untuk memberitahunya, ia tidak ingin Marie melihatnya buruk,
“Maksudnya? Aduh, aku jadi semakin penasaran siapa pria itu,” ujarnya sembari bersender.
Marie tersenyum,”Kamu mengenal orangnya kok,” ceplosnya yang membuatnya menutup mulutnya seketika itu juga. Jonathan mengerjapkan matanya dan dia bertanya,”Benarkah? Aku mengenalnya?”
“Orangnya itu kamu...” batin gadis itu dibalik senyuman tipisnya.
Mau tidak mau ia terpaksa jujur dengan Jonathan karena tidak ada lagi alasannya untuk mengelak,”Iya... kamu kenal kok...” jawab Marie yang terus berharap Jonathan tidak menyadari perasaannya. Jonathan mengangguk paham, ia sama sekali tidak tahu jika orang yang Marie maksud adalah dirinya.
Saat Jonathan mencari tahu sedikit tentang Marie, ia teringat dengan sosok pria yang selalu bersama dengan Marie. Kalau tidak salah pria itu bernama Charlie, yang ia ketahui adalah sahabat dari Marie. Melihat Marie yang merasa tidak bisa memberitahu perasaannya seperti itu, ia berpikir jika Marie menyukai Charlie. Mereka sudah menjalin hubungan pertemanan yang sejak dulu, mungkin ini yang dimaksud Marie jika dia tidak ingin mengacaukan hubungannya yang telah ia bangun bersama dengan Charlie.
“Kenapa aku malah risih dengan hal ini ya?” batin Jonathan yang terlihat oleh Marie sedang melamun.
“Jonathan?” panggil gadis itu karena pria itu masih melamun sebelum dia sadar sendiri ketika namanya dipanggil,
“E-eh? Ya?”
“Sedang mikirin apa? Kok kayaknya serius banget?” tanya gadis itu dengan lugu. Melihat keluguan gadis itu, pria itu tersenyum dengan lembut, yang mana senyuman ini benar-benar membuat Marie tergugah seakan-akan panah cinta telah menembus hatinya yang rapuh itu,
“Bisakah aku meminta satu hal padamu?”
Marie sedikit terkesiap mendengarnya,”Apa itu?” tanyanya dengan penasaran. Gadis itu membenarkan kacamatanya dan tampak sedang menunggu pria itu berkata-kata,
“Jangan panggil aku Jonathan lagi,” pintanya yang membuat gadis itu bingung sendiri,
“Kalau tidak dipanggil Jonathan, jadi dipanggil apa?” tanyanya dengan lugu,
“Manisnya...” batin Jonathan melihat keluguan gadis itu yang alami. Keluguan Marie terlihat jelas tidak dibuat-buat seperti perempuan-perempuan yang pernah ia temui sebelumnya. Pria itu malah tersenyum sendiri sebelum dia menyadari sesuatu, “T-tunggu! Kenapa aku malah berpikir seperti itu?!” batin Jonathan,
“Hmm? Kenapa kamu melamun lagi?”
“A-ah, maaf... aku kepikiran sesuatu yang aneh,” ujarnya sembari cengigiran,
“Memangnya kamu sedang mikirin apa?” Jonathan ingin sekali menggoda gadis itu, ia ingin sekali melihat reaksi gadis itu ketika pertanyaannya itu tidak ia jawab dengan gamblang,
”Ra-ha-sia,” ujarnya yang berharap gadis itu semakin penasaran akan dirinya. Namun diluar pikirannya, gadis itu malah mengangguk paham dan tidak menunjukkan sama sekali ketertarikkannya mengenai apa yang sedang Jonathan pikirkan.
“Kenapa dia malah mengangguk? Apa dia tidak tertarik dengan apa yang sedang kupikirkan?”
“Aku mengerti, tidak semua hal bisa dikatakan dan dideskripsikan...” ujar Marie sembari mengangguk.
“Bukan itu yang kuinginkan!” batin Jonathan yang menjerit.
“Oh iya, mengenai tadi... mengapa aku tidak boleh memanggilmu Jonathan?”
Jonathan berdehem sedikit,”Jo... panggil saja aku Jo, tidak usah panggil aku Jonathan,” jawabnya yang diangguki saja oleh Marie. Jonathan merasa semakin kecewa, baginya gadis itu tidak menunjukkan ketertarikan apapun kepadanya, padahal dia sangat menanti gadis itu bertanya sesuatu mengenai dirinya,
“K-kamu... kamu tidak ingin bertanya apapun kepadaku?” tanya pria itu dengan canggung, hingga detik ini ia ingin gadis itu bertanya apapun kepadanya,
“Hmm... aku rasa tidak ada... memangnya apa yang harus aku tanyakan lagi kepadamu?”
“S-seperti umm... seperti siapa gitu yang aku sukai atau bagaimana gadis yang menjadi tipe idealku,” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,
“Hmm? Memangnya untuk apa aku bertanya begitu?”
Diam-diam, pria itu menghela napas. Sudah fix, menurutnya Marie tidak tertarik mengenai apapun mengenai dirinya. Ia merasa kecewa ketika ia mengingat kembali gadis itu berkata jika dia berusaha untuk bersikap baik kepada semua orang. Pria itu berpikir, apakah kebaikan Marie kepada dirinya hanya karena memang sifatnya yang baik? Dan apa dia juga memperlakukan semua orang seperti ini?
Jonathan kembali menatap Marie yang masih juga menatapnya. Sekarang ia sadar jika gadis itu sudah mulai berani menatapnya, tidak seperti dulu yang dia selalu menghindarkan matanya dari dirinya.
“Aku penasaran... mengapa dulu dia tidak berani menatapku? Apa dia illfeel atau dia tidak menyukaiku?”
“Untuk apa aku bertanya sesuatu hal yang bisa menyakitkan hatiku? Pada akhirnya kamu akan menyukai Gianna juga, kan?” batin gadis itu sembari menunduk sedikit,
“Marie...” panggil pria itu dengan lembut. Perlahan, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap kembali Jonathan yang sedang tersenyum kepadanya. Sungguh, gadis itu sangat terpana dengan senyuman manis pria itu,
“Terima kasih untuk hari ini...” ujarnya dengan tulus. Marie tersenyum juga dan mengangguk,”Sama-sama...” ujarnya sebelum dia mengambil gelas yang sudah kosong itu untuk ia cuci. Melihat gadis itu yang mulai beranjak, pria itu bertanya kepadanya,
“Apa kau sudah ingin pergi?” tanya pria itu tidak rela,
Gadis itu mengangguk,”Nanti aku dicariin orang rumah kalau pulang kelamaan,” ujarnya yang saat ini sudah berdiri.
Pria itu menghela napas dan mengangguk, “Sampai ketemu lagi besok,”
***
Sepanjang hari Marie terus teringat dengan senyum Jonathan kepadanya dan perkataan terima kasih Jonathan yang terus bergema di pikirannya. Marie meletakkan kepalanya di setiran mobil, dia mengambil napas sebelum dia mengambil tasnya dan keluar dari mobilnya. Seperti biasanya, Nicky menghampirinya setiap kali ia baru mau melangkah ke kelas.
“Hey, kemarin kamu kemana? Mamamu meneleponku menanyakan keberadaanmu,” tanya Nicky sembari berjalan beriringan dengan Marie. Marie tidak kaget dengan hal ini karena memang Adelia mencarinya karena ia pulang lebih malam daripada biasanya,
“Aku ada urusan sebentar,”
“Sebentar? Sampai semalam itu? Apa ini berhubungan dengan Jonathan?” tanya Nicky yang membuat gadis itu berhenti berjalan. Ia menoleh kepada Nicky dengan pandangan tidak percayanya,
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya yang membuat Nicky merasa bangga sendiri,”Tentu saja, apa sih yang tidak aku tahu darimu?” ungkapnya sembari mengangkat alisnya. Marie menghela napasnya, ia menduga jika Nicky hanya menebak asal saja dan kebetulan tebakannya benar,
“Begitulah... aku hanya menjenguknya semalam,” ujarnya yang kembali lagi berjalan, diikuti oleh Nicky yang memperlebar langkahnya supaya dia bisa beriringan dengan Marie,
“Jadi jadi... bagaimana semalam? Apa kalian melakukan sesuatu yang menyenangkan?” tanya Nicky sembari menggoda Marie yang sudah tidak lagi salah tingkah jika ia harus menceritakan sesuatu mengenai Jonathan.
“Tidak ada hal yang berarti, dia tinggal sendiri dan tidak ada yang mengurusnya. Jadi aku rasa tidak ada salahnya aku menjenguknya,” jawab gadis itu dengan santai. Nicky mengangguk mengerti, mendengar Marie yang tampak santai membicarakan Jonathan, membuatnya sadar jika gadis itu sudah tidak lagi salah tingkah jika ada sesuatu yang membahas mengenai Jonathan,
Sembari berjalan, mereka bertemu dengan Charlie yang juga sedang berjalan ke kelas. Charlie yang tahu jika Marie pulang larut pun menghampirinya ketika Nicky dan Marie tidak menyadari keberadaannya dair kejauhan,
“Marie!” panggil Charlie, membuat Marie menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara,
“Ada apa, Charlie? Kenapa kau berlari-lari begitu?” tanyanya ketika ia melihat Charlie menghampirinya dengan berlari.
“Kemarin... kemarin kenapa kamu pulangnya malam?” tanyanya yang membuat gadis itu menganga. Ia tidak menyangka jika mamanya juga menghubungi Charlie. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Charlie karena ia tidak ingin Charlie tahu jika dirinya sedang bersama dengan Jonathan,
“Kemarin aku ada urusan sebentar,”
“Urusan apa?”
Nicky yang tahu jika Marie tidak pandai untuk berbohong pun langsung menyanggah,”Kemarin dia bareng samaku, kemarin dia shopping bareng aku,” jawab Nicky sembari merangkul Marie. Marie yang mengerti jika gadis itu sedang menyelamatkannya pun mengangguk kaku kepada Charlie. Charlie masih diam untuk sejenak dan hal itu membuat kedua gadis itu menelan ludahnya,
“Jangan bohong, kemarin mamamu bilang Nicky juga tidak tahu kamu kemana,” ujarnya, memperingatkan Marie dan Nicky yang berusaha untuk berbohong kepadanya. Nicky masih menatap Marie yang tidak ingin membuka mulut, sementara Charlie sendiri ingin mendengar langsung dari Marie kemana dia kemarin,
Bukan tanpa alasan dia mencari Marie sampai segitunya. Ia hanya khawatir karena Marie tidak seperti biasanya pulang lama tanpa izin kepada orang tuanya,
“Kau tidak ingin memberitahuku?” tanyanya tidak senang. Marie yang tidak ingin menjawab pun merasa tidak senang dengan nada pria itu,
“Memangnya kenapa kalau aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu?” ujarnya dengan nyolot,
“Marie...” panggilnya dengan nada yang ia tekan amarahnya. “Apa salahnya memberitahuku kemana kau pergi, sih?!” tanya pria itu dengan frustasi bercampurkan kesal,
“Apa kewajibanku untuk melapor padamu kemana pun aku pergi? Bukankah semua yang kulakukan itu adalah hakku?!”
“Marie!”
Nicky yang sudah sadar jika atmosfir diantara Marie dan Charlie tidak baik pun berusaha untuk menengahi pertengkaran keduanya. Nicky berpihak kepada Marie karena menurutnya Charlie sudah berlebihan, ia terlihat sangat posesif dan tempramen saat ini,
“Charlie...” panggil Nicky, membuat pria itu menatapnya. Nicky menggelengkan kepalanya sebagai sinyal untuk pria itu menghentikan perkataannya. Dengan frustasi, pria itu langsung meninggalkan keduanya dengan kesal sementara Marie menahan air matanya untuk tidak tumpah. Ia merasa sangat emosional hingga tanpa sadar air matanya turun.
Nicky mengerti perasaan Marie dan ia tahu betul jika tidak enak bertengkar dengan sahabat sendiri. Ia pun menepuk-nepuk punggung gadis itu dan berusaha untuk menenangkan Marie yang napasnya sudah naik turun. Sementara itu, tidak ada yang menyadari jika Jonathan sedang menyaksikan pertengkaran keduanya dari kejauhan. Ia tertegun sejenak ketika ia melihat gadis itu menyeka air matanya. Pria itu mengepalkan tangannya, selain dia merasa risih akan kedekatan Marie dan Charlie, ia juga membenci sosok Charlie yang telah membuat gadis itu menangis. Namun hal yang membuatnya emosional ialah ia menyadari jika Charlie adalah orang yang begitu berarti untuk Marie.