Charlie berjalan tanpa arah tujuan. Ia mengepalkan tangannya dan ia terlihat begitu emosional terhadap pertengkarannya dengan Marie. Pria itu berpikir keras, mengapa Marie sebegitu tidak ingin memberitahunya apapun? Sebenarnya, apa yang Marie pikirkan mengenai dirinya.
Pria itu melangkah dengan kaki panjangnya itu selebar mungkin, sehingga hal itu membuat Nirmala yang juga sebenarnya melihat kejadian itu susah untuk menyusulnya. Charlie berhenti melangkah ketika ia merasa lengannnya sedang dipegang oleh seseorang. Pria itu berbalik dan menemukan Nirmala yang sedang memegang lengannya,
Nirmala menatapnya dengan tatapan yang susah untuk dimengerti, namun pria itu menduga jika Nirmala sepertinya menguping atau melihat apa yang sudah terjadi pada dirinya dengan Marie. Yang membuat Charlie bingung adalah mengapa gadis ini tidak mengejar Marie seperti perhatian Nicky kepada Marie?
“Kau melihatnya, kan?”
Gadis itu mengangguk,”Iya...” jawabnya dengan jujur. Charlie menghela napasnya serta mengacak-acak rambutnya. Nirmala melihat betapa frustasinya Charlie terhadap pertengkarannya dengan Marie, kini gadis itu mulai menyadari jika pria yang ada di hadapannya ini memiliki perasaan kepada Marie,
“Apa yang kau inginkan?” tanya Charlie dengan dingin. Perasaan pria itu kacau jadi dia sedang dalam mood yang tidak baik,
“Maaf, aku tidak sengaja melihat pertengkaran kalian berdua...” ujarnya sembari menunduk kecil,
“Lalu?”
“Aku tidak menyukai Charlie yang seperti ini...” batin Nirmala begitu ia mendengar perkataan dingin pria itu kepadanya. Gadis itu perlahan mulai mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan segala keberanian yang sudah ia kumpulkan,
“Minta maaflah kepada Marie,” pinta Nirmala kepada Charlie.
“Kau berpihak kepadanya?”
Lagi-lagi Charlie mengatakan hal tersebut dengan dingin.
Gadis itu menggeleng,”Tidak, aku berusaha untuk netral. Dari yang kulihat, Marie pasti memiliki alasan mengapa dia tidak memberitahumu kemana dia pergi. Menurutku itu adalah haknya untuk tidak berkata apapun kepadamu...”
Charlie tersenyum getir,”Sudah kuduga, kau membelanya ternyata,”
“Tidak. Aku hanya memberitahumu apa yang menjadi isi pikiranku. Aku tahu, kamu hanya mengkhawatirkannya, tapi kekhawatiranmu itu berlebihan sehingga Marie tidak nyaman dengan dirimu yang sekarang ini...” ujarnya dengan sedikit takut jika Charlie tidak menerima apa yang ia katakan.
Charlie yang mendengar perkataan Nirmala pun mulai menghela napasnya. Berkat perkataan gadis cantik itu, emosinya mulai meredam dia dan ia mulai merasa bersalah dengan tindakannya. Nirmala masih menatap pria yang ia sukai itu, berharap jika dia tidak marah kepadanya.
Diluar dugaannya, Charlie tersenyum kepadanya. Pria itu mendekat kepada Nirmala masih dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya,”Terima kasih ya...” ujarnya yang membuat gadis itu tertegun sejenak.
“Aku rasa kamu benar... aku terlalu berlebihan kepada Marie sampai-sampai dia tidak nyaman denganku,” lirihnya yang membuat Nirmala merasakan denyutan hebat di hatinya. Semakin ia memperhatikan Charlie, semakin sadar pula ia kalau pria itu menyukai Marie. Ia merasa iri kepada Marie yang sudah berhasil membuat Charlie menyukainya.
Namun, Nirmala tidak bisa membenci Marie karena menurutnya Marie adalah gadis yang baik. Berkat dia, Nirmala bisa selangkah lebih dekat dengan Charlie. Nirmala memilih untuk menyimpan perasaannya dan dia pun mendekat kepada Charlie untuk dia bisa menepuk pundak pria itu,”Cepatlah minta maaf kepadanya sebelum hubungan kalian semakin dingin, kamu tidak ingin hal seperti itu terjadi kan?” tanya gadis itu kepada Charlie yang menatapnya dengan sungguh.
Charlie berpikir jika perkataan Nirmala ada benarnya juga. Pria itu merasa bersalah karena sempat melampiaskan kekesalannya kepada Nirmala untuk sejenak. Pria itu tergerak untuk meletakkan tangannya di atas kepala gadis itu dan mengusapnya seakan Nirmala adalah seorang anak kecil di matanya,”Terima kasih ya sudah memperingatkanku,” tuturnya dengan lembut.
Nirmala mengangguk dengan wajah yang mulai memanas dan jantung yang berdegub dengan kencang. Gadis itu mengambil tangan pria itu dari kepalanya dan dia pun menarik tangan besar itu, mengajaknya untuk kembali ke kelas,
“Yuk ke kelas,” ujarnya tanpa berani untuk menatap Charlie yang setuju dengan tindakan gadis itu,
“Yuk…” balas pria itu tanpa melepaskan tangannya dari Nirmala.
***
Marie dan Nicky akhirnya sampai ke kelas juga. Orang pertama yang ia lihat adalah Jonathan yang juga sedang melihatnya. Gadis itu memutuskan rantai tatapannya dan dia pun bersama Nicky melangkah ke tempat duduk mereka. Selepas Marie menaruh bokongnya di kursi, gadis itu pun teringat akan buku yang sudah ia siapkan untuk Jonathan.
Dengan sigap, ia membuka tasnya dan mencari beberapa buku catatan miliknya. Setelah sudah terkumpul, gadis itu berdiri dan berjalan kepada Jonathan sembari memberikan buku-bukunya itu kepada Jonathan yang mengangkat satu alisnya yang bingung,
“Kemarin kau tidak masuk, jadi aku sudah mempersiapkan catatan ini untukmu,” ujarnya dengan tangan yang menggantung memegang bukunya. Jonathan tersenyum miring dan dia mengambil buku tersebut lalu meletakkannya di mejanya. Tangannya ia kibaskan kepada Marie, mengisyaratkan untuk gadis itu mendekat kepadanya. Marie pun melakukan apa yang pria itu isyaratkan untuk dia mendekat kepadanya.
Jonathan menatapnya sejenak sebelum dia bertanya,”Kau tidak apa?” tanyanya yang membuat gadis itu bingung,
“Maksudnya tidak apa gimana?”
“Kau terlihat baru selesai menangis,” ujarnya yang membuat Marie memundurkan dirinya dari Jonathan,
“B-benarkah?” ujarnya sembari menyeka bekas air matanya dengan cepat. Ia sangat malu, maunya tadi dia pergi ke toilet untuk mencuci mukanya supaya ia terlihat segar.
“Duh, gimana ini?! Apa aku benar-benar terlihat acak-acakan?”
“Umm… aku rasa aku perlu ke toilet dan-“
“Marie…” panggil Jonathan, memotong pembicaraan sekaligus niat Marie untuk menghilangkan dirinya dari hadapan Jonathan. Gadis itu menyahutnya sembari ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jonathan memegang tangan gadis itu, membuat Marie bingung terlebih saat Jonathan tersenyum kepadanya, ia sempat tertegun sejenak melihatnya,
Jarang-jarang dia bisa melihat pria itu bisa tersenyum begitu kepadanya,
“Tidak perlu ke toilet, sudah cantik kok,” ujarnya yang membuat wajah gadis itu memanas ketika mendengarnya. Gadis itu mengerjapkan matanya dengan gugup karena ini pertama kalinya pria itu berkata demikian kepadanya,
“A-apa yang kau bicarakan?” tanyanya tergagu-gagu,
“Aku serius… bagiku kamu cantik kok,” ujarnya sembari menarik tangan gadis itu yang masih menutupi wajahnya. Marie menurut saja ketika pria itu menurunkan tangannya dan kali ini ia memberanikan diri untuk menatap Jonathan,
“Kamu belum menjawab pertanyaanku,”
Gadis itu mengerutkan keningnya,”Pertanyaan apa?” tanyanya yang masih bingung,
“Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya lagi, mengulang apa yang ia tanyakan kepada Marie. Jonathan menangkap kesedihan di air muka Marie dan hal itu membuatnya tidak suka melihat gadis itu yang bersedih akan seseorang yang tidak bisa menghargainya. Jonathan ingin sekali merengkuh gadis itu dan membiarkannya melepas kesedihannya di dalam dekapannya hanya saja mereka berada di publik, tidak mungkin ia melakukan itu kepadanya sekarang juga,
“Ah iya… aku baik-baik saja kok,” ujar gadis itu yang masih mencoba untuk tersenyum walaupun ia merasa sedang tidak baik. Ini memang bukan pertama kalinya Marie bertengkar dengan Charlie, hanya saja untuk kali ini ia merasa ia lebih emosional daripada sebelum-sebelumnya. Ia berpikir, bagaimana hubungannya dengan Charlie untuk kedepannya? Apa pertengkaran tadi adalah akhir dari hubungan pertemanan mereka?
Marie harap itu tidak terjadi karena dia menganggap Charlie sebagai temannya yang begitu berharga karena kebersamaan mereka yang sudah terbangun sejak dahulu…
“Apa yang sedang kau pikirkan? Kau terlihat melamun…” tanya Jonathan, menghancurkan lamunan Marie seketika itu juga,
“A-ah… tidak ada…” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya,
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Jonathan berpura-pura untuk tidak tahu mengenai pertengkarannya dengan Charlie. Hal ini dia lakukan supaya gadis itu nyaman bercerita dengannya,
“Sebenarnya aku sedang bertengkar dengan teman dekatku…” ujar gadis itu dengan sedih. Jonathan melihat kesedihan gadis itu dan ia merasa iri… ia mengira jika Marie memiliki perasaan kepada Charlie sehingga ia terlihat begitu tertekan dan emosional karena hubungan mereka yang sedang tidak sehat,
“Teman dekat? Apa dia teman lelaki yang selalu bersama denganmu?”
Gadis itu membulatkan matanya,”B-bagaimana kau bisa tahu?”
“Sial, aku keceplosan,” batin Jonathan,”Hmm aku hanya menebaknya,” kilahnya yang dipercayai saja oleh Marie. Marie yang tidak pandai berbohong pun hanya bisa menganggukkan kepalanya kepada Jonathan,
“Iya begitu lah… aku bertengkar dengannya baru-baru ini…” ujarnya sembari tertunduk.
“Sebegitu berharganya kah pria itu untuknya?” tanya Jonathan di dalam batinnya. Ia tahu ini terdengar jahat, namun ia harap Marie tidak berbaikan dengan teman prianya itu.
“Apa dia nanti bisa menganggapku berharga seperti dia menganggap lelaki itu?”
“Apa kalian sebelumnya sering bertengkar?” tanya Jonathan yang kemudian digelengi oleh Marie,”Tidak juga… kami jarang bertengkar dan biasanya setelah bertengkar, kami akan berbaikan. Namun kali ini tampaknya pertengkaran kami cukup serius…” ujarnya dengan sedih.
Jonathan masih belum melepaskan pandangannya dari Marie sebelum dia berkata sesuatu hal yang membuat Marie mengangkat kepalanya,
“Kalau kamu mau, aku bisa selalu ada untukmu…”