Jonathan tersenyum kepada Marie yang tertegun sejenak mendengar perkataan itu. Ia tidak percaya jika kata-kata itu bisa keluar dari mulut Jonathan, pria yang selama ini ia sukai di dalam diamnya.
“Kamu tidak salah ngomong?” tanya gadis itu kepada Jonathan yang mengangkat tangannya dan mengelus pelan kepala gadis itu,
“Iya, aku tidak salah ngomong dan kau tidak salah dengar juga,” ujarnya sembari menarik kembali tangannya dari Marie.
“Tapi kenapa…”
“Karena kamu sudah lebih dulu baik kepadaku, anggap saja aku membalas semua kebaikanmu dengan berada di sampingmu selama kamu membutuhkanku,” jawabnya yang diangguki mengerti oleh Marie.
“Jadi dia melakukan ini karena menurutnya aku sudah baik kepadanya ya…” batinnya sembari menundukkan kepalanya. Namun tidak lama kemudian, gadis itu mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya,
”Ayolah Marie! Mengapa kau begitu berharap dia bisa menyukaimu?! Ingat! Dia hanya akan menyukai Gianna! Bukan kamu!” batin gadis itu lagi.
Sementara itu, Jonathan yang melihat gadis itu yang sedang menggelengkan kepalanya malah bingung sendiri,”Kenapa menggeleng begitu? Apa kamu tidak ingin-“
“T-tidak bukan itu… A-aku merasa berterimakasih pada perkataanmu. Aku hanya tidak menyangka kau bisa berkata begitu kepadaku…” ujarnya malu-malu. Prasangka buruk pria itu menghilang seketika, digantikan dengan senyuman lembutnya kepada gadis itu. Sepertinya ia semakin tertarik kepada Marie,
“Bisakah mulai dari sekarang kita sahabatan? Kau boleh menceritakan apapun kepadaku dan sebisa mungkin aku membantumu,” tanya pria itu yang mengagetkan Marie. Bersahabatan? Dengan Jonathan? Apakah ini sebuah mimpi?!
“Marie?” panggilnya ketika gadis itu melamun lagi,
“Ah… ya?” tanya Marie yang tidak sadar kalau dia sedang dipanggil.
“Jadi gimana? Apa kamu mau berteman denganku?” tanya pria itu sekali lagi. Marie yang sangat senang pun mengangguk pelan sebagai jawabannya kepada ajakan Jonathan. Baik Marie maupun Jonathan, keduanya sangat senang, hanya saja mereka menyembunyikan kesenangan mereka supaya masing-masing,
“Begitu ya… kalau begitu terima kasih atas bukunya ya… segera aku akan membalikkannya kembali kepadamu,” ujarnya sembari mengangkat buku tulis Marie di depan Marie sendiri,
“Iya… semoga tulisanku jelas ya…” tuturnya sebelum dia kembali ke tempat duduknya. Marie tidak tahu jika Jonathan masih menatap nya walaupun gadis itu kembali duduk di bersama dengan teman baiknya Nicky. Ia merasa senang karena hubungannya dengan gadis itu berjalan dengan baik,
Ia berharap ia bisa berguna untuk Marie.
Sementara Marie sendiri, ia kembali duduk dengan Nicky yang mulai menyikutnya untuk menggoda Marie yang sedang senyum-senyum sendiri. Nicky melihat apa yang dilakukan oleh Jonathan dan dia bisa mendengar apa yang Jonathan dan Marie bicarakan padahal jarak bangku mereka cukuplah jauh,
“Cie… sekarang temannya bertambah nih ye,” goda Nicky kepada Marie yang mengibaskan tangannya kepada Nicky,
“Berhentilah menggodaku, Nicky… lagipula bukannya tadi kami ngomongnya pelan-pelan, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku mulai berteman dengan Jonathan?” tanyanya kepada Nicky yang bingung sendiri bagaimana ia harus menjawabnya,
“Sebenarnya aku punya kekuatan super untuk menguping pembicaraan orang lain, jadi apapun yang kau dan Jonathan katakan, aku mendengarnya,” ujarnya sembari melipat tangannya dengan bangga. Marie tertawa kecil dan memukul lengannya pelan,”Kekuatan super, ndasmu! Dasar tukang nguping!” ujarnya sambil memukul Nicky,
“Ampun, jangan pukul aku lagi… nanti kekuatan superku menghilang!”
“Apa sih kamu ini! Ngaco aja!” ujarnya sembari tertawa. Tawaan gadis itu memudar ketika ia melihat Charlie baru saja masuk ke dalam kelas. Marie terdiam dan dia tidak berani menatap Charlie, sementara Nicky ia mengikuti Charlie yang ternyata masuk bersamaan dengan Nirmala yang berada di belakangnya.
Jonathan tidak melihat jelas raut wajah gadis itu, namun yang ia tahu gadis itu berhenti bergerak ketika Charlie masuk ke dalam kelas. Ia juga mencoba untuk melirik Charlie yang sebenarnya matanya tertuju kepada Marie yang berada di depannya. Pria itu menghela napas, ia menyesal terlambat di hari pertama sehingga ia duduk jauh di belakang,
Sementara Charlie, ia masih berpikir, bagaimana caranya untuk memulai minta maaf kepada Marie. Ia menyadari kesalahannya sekarang dan dia semakin merasa bersalah. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Marie yang ia tidak ketahui sedang apa dan bagaimana ekspresinya karena ia duduk beberapa meja di belakang Marie.
“Apa aku harus menghampirinya sekarang?” tanyanya kepada dirinya sendiri. Pria itu memegang kepalanya dan berpikir lagi, mungkin untuk sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuknya meminta maaf karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai.
Charlie mengepalkan tangannya dan kini dia sudah memutuskan bahwa ia akan meminta maaf kepada gadis itu pada saat istirahat nanti.
“Ya… aku harus meminta maaf kepadanya nanti,” batin pria itu tanpa melepas matanya dari Marie. Sementara Nirmala yang sekarang ini duduknya sejajar dengan Charlie pun bisa melihat jika Charlie sedang merencanakan sesuatu untuk Marie. Ia pun tersenyum dan berharap jika hubungan keduanya bisa kembali baik.
***
Charlie mencari Marie yang duduk entah di mana, tadi sebelum bel berbunyi, ia sempat ke toilet sehingga ketika bel berbunyi, ia masih di dalam toilet. Saat ia kembali ke kelas, ia sudah tidak menemukan Marie di mana pun, yang mana gadis itu pasti sudah ke kantin. Sepanjang jalannya ke kantin, ia bertemu dengan gurunya yang memanggilnya untuk membantu sang guru membawakan barang-barangnya yang super banyak.
Mau tidak mau Charlie membantu guru tersebut sebelum dia menyusul Marie ke kantin.
Sementara itu, Nirmala sedang menunggu Nicky dan Marie membeli makanan mereka. Tidak lama menunggu, akhirnya kedua gadis itu datang menghampirinya,
“Nirmala, pergilah… kami sudah membawa makanan kami,” ujar Nicky sembari ia mulai duduk di hadapan Nirmala.
“Aku bawa bekal kok…” ujarnya sembari mengangkat bekalnya di hadapan Nicky dan Marie.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita makan!” ajak Nicky yang diangguki oleh kedua gadis itu. Nirmala terlihat tenang memakan bekalnya, namun sebenarnya ia tidak sepenuhnya tenang… ia mencari keberadaan Charlie karena yang ia tahu Charlie ingin meminta maaf kepada Marie di saat istirahat begini.
Nirmala mengembalikan pandangannya ke Marie yang terlihat santai saja. Sama seperti Nirmala, sebenarnya ia merasa kurang tanpa adanya Charlie di sini. Ia berpikir, apa Charlie sudah benar-benar membencinya? Ia penasaran dengan hal itu,
“Charlie dimana ya…” ujar Nirmala dengan sengaja mencari Charlie menggunakan matanya.
Nicky melirik Marie yang berhenti mengunyah dan memilih untuk menelan makanannya. Tidak mengherankan baginya jika Nirmala mencari Charlie karena suasana sangat berbeda tanpa adanya Charlie di sini,
“Mungkin dia tidak akan kemari…” ujar Marie, membuat Nirmala kembali menatapnya,
“Kenapa?” tanyanya, berpura-pura tidak tahu jika Marie dan Charlie sedang bertengkar. Ia sengaja melakukannya karena ia ingin tahu sisi pandang dari Marie serta ia juga penasaran, apa Marie juga memiliki perasaan kepada Charlie?
“Sebenarnya kami tadi bertengkar…” ujarnya dengan menunduk. Terlihat jelas jika gadis itu sedih akan hubungannya dengan Charlie. Nirmala yang pura-pura tidak tahu, kembali bertanya,”Apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa bertengkar?” tanyanya yang langsung disanggah Nicky,
“Kamu tidak tahu kenapa?” tanya Nicky yang digelengkan oleh Nirmala,
“Pokoknya rumit deh masalahnya… aku sampai tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan semuanya,” ujar Nicky sebelum dia menyeruput es teh dinginnya. Nirmala mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya kepada Marie mengenai perasaannya kepada Charlie dan sejujurnya ia berharap jika Marie hanya menganggap Charlie sebagai teman saja, tidak lebih.
Ia sungguh berharap jika harapan dan ekspektasinya tidaklah jahat.
“Marie… bisakah aku bertanya beberapa hal?” tanya Nirmala kepada Marie yang kemudian menatap ke arahnya,
“Ya… apa itu?” tanya gadis itu balik,
“Sebenarnya, bagaimana hubunganmu dengan Charlie yang sebenarnya? Kalian tampak sudah dekat dan mengenal satu sama lain sedari dulu… Bagimu, Charlie itu siapanya kamu?” tanya gadis itu sebelum dia meminta maaf jika pertanyaannya ini mungkin terlalu privasi dan menyinggungnya,
“Charlie adalah temanku yang berharga… aku menganggapnya seperti saudaraku karena kami selalu bersama sejak dulu…” jelasnya yang membuat Nirmala mengangguk. Sudah ia duga, sepertinya Marie menyukai Charlie karena Nirmala menilai Marie sangat menghargai persahabatan dirinya dengan Charlie.
Melihat Nirmala yang menunduk, gadis itu mulai paham. Ia pun tersenyum dan berkata, “Kamu tidak usah khawatir, aku hanya menganggapnya sebagai teman kok, tidak lebih,” ujar Marie, membuat Nirmala salah tingkah,
“M-maksudnya kh-khawatir gimana?” tanyanya yang takut jika gadis itu mengetahui perasaannya kepada Charlie. Ketakutannya tentu saja terjadi karena memang Marie mengetahui sejak awal jika Nirmala menyukai Charlie,
“Apa lagi? Kamu kan suka Charlie, ya kan?” ujarnya sembari menggoda Nirmala yang sudah salah tingkah.
“A-apa sih… masa karena aku bertanya begitu kamu jadi berkesimpulan begitu?” protes Nirmala yang ingin mengelak ketahuan Marie. Marie menatap Nicky yang sudah mengerti maksud perkataannya,
“Sudahlah, Nirmala… kami berdua sudah tahu kalau kamu itu suka Charlie… nampak kok dari gelagatmu…” ujarnya yang membuat Nirmala menghela napasnya dengan pasrah. Akhirnya mau tidak mau ia harus mengalah kepada kedua gadis yang duduk di depannya ini,
“Terlihat jelas ya?" tanya gadis itu malu-malu.
“Hehehe… iya, terlihat kok. Kamu gak usah khawatir, si Marie ini suka sama orang lain kok, bukan Charlie,” ujar Nicky sembari merangkul Marie yang memukul lengannya karena Nicky mau membeberkan siapa yang gadis itu sukai,
“Hush! Kamu ini bisa diam tidak?” ujar Marie dengan kesal.