Anette melempar test pack ke atas meja. Noah tidak bodoh untuk dapat menebak. Lelaki itu sudah langsung tahu begitu Anette membanjri ponselnya dengan notifikasi pesan dan meminta supaya Noah segera datang ke apartemen. Karena itu pula Noah terpaksa membiarkan Layla pergi begitu saja.
“Aku hamil,” kata Anette karena Noah hanya diam saja.
Di mata Anette sosok Noah saat ini agak aneh. Untuk ukuran lelaki yang menerima berita bahwa kekasih gelapnya sedang hamil, reaksi Noah cukup tenang.
“Kamu terlalu tenang untuk urusan gawat seperti ini.” Anette menambahkan. “Aku enggak bercanda.”
“Aku tau.”
“Apa yang akan kamu lakukan dengan ini?”
Sebetulnya alasan mengapa Noah jadi lebih lengket ke Layla adalah karena Anette. Sebagai seorang lelaki yang telah berpengalaman Noah dapat tahu kalau Anette memang hamil bahkan sebelum perempuan itu mengabarkannya. Sama seperti Layla dulu, ada perubahan yang muncul pada tubuh dan kejiwaan Anette.
Tadinya Noah berniat untuk menjauh perlahan, tapi pesan ancaman dari Anette membuatnya terpaksa kembali pada perempuan ini.
“Kamu inginnya bagaimana?”
“Aku udah bilang ‘kan lewat chat? Aku bakal ngaduin hubungan gelap kita ke Layla kalau sampai kamu lari dari tanggung jawab.”
Noah menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, sedangkan kakinya menyilang. “Bentuk tanggung jawab seperti apa yang kamu inginkan? Membiayai biaya ab0rsi? Kita bisa pergi ke luar negeri dan mengu-gurkan janin itu.”
Anette hampir dibuat tak percaya mendengar tawaran yang diberikan oleh Noah. “Aku enggak mau ab0rsi!”
“Jadi, kamu udah siap untuk jadi seorang ibu?”
“Apa?”
Noah menampilkan senyumnya yang menawan. “Kamu cantik, Anette. Kamu juga berbakat. Melahirkan, menyu-sui, dan mengurus seorang anak akan menyita banyak waktu kamu. Akan ada banyak hal yang harus kamu korbankan dan salah satunya adalah karier. Yakin kamu bisa melepaskan itu hanya demi membesarkan segumpal daging yang belum tentu bisa membalas budi?”
Noah melakukan teknik manipulatif sebagaimana yang dia lakukan kepada Layla dulu. Menurut Noah pada dasarnya semua perempuan itu sama saja. Mereka sangat mudah dibuat luluh oleh kata-kata dan tindakan. Tugas Noah hanyalah menyusun kalimat yang terdengar masuk akal dan membuat ‘perempuannya’ bungkam.
“Lihat. Kamu sendiri ragu.” Noah menambahkan. “Ingat keluargamu sendiri, Anette. Mereka berantakan. Ibumu meninggalkan kamu ketika kamu masih kecil. Ayahmu juga bukan lelaki yang setia. Dia punya banyak perempuan simpanan. Kalau kamu jadi ibu, kamu yakin enggak akan meninggalkannya? Kamu yakin enggak akan membuat dia jadi produk gagal dengan segudang trauma dan trust issue seperti kamu?”
Berhasil. Noah bersorak senang di dalam hatinya ketika melihat pertahanan Anette mulai goyah. Tadinya Anette masih terlihat keras kepala. Akan tetapi, begitu Noah mengungkin masa kecilnya sosok Anette langsung berubah rapuh seakan-akan ingatan masalalu berhasil menyedot habis seluruh keberaniannya.
“Aku … aku bukan ibuku. Kami berbeda, Noah.” Anette memandangi Noah dengan sorot kosong. “Aku berbeda, iya ‘kan?”
Noah menarik Anette ke dalam pelukannya. Beruntungnya perempuan itu tidak menolak. Tangan Noah yang besar dan kokoh mengusap bagian belakang kepala Anette. Secara perlahan Noah berbisik. “Darah akan selalu lebih kental dari air, Anette. Bisa saja perempuan itu juga mewariskan kejiwaan yang sama untuk kamu. Jadi, pikirkanlah baik-baik. Janin ini akan merasa lebih beruntung karena tidak dilahirkan dari rahim kamu. Percayalah.”
***
“Kudengar dia meninggal karena perdarahan.”
“Perdarahan apa?”
“Hamil. Katanya, Anyelir diam-diam dia melakukan ab0rsi dengan diantar oleh pacarnya. Niatnya mereka mau mengubur aib itu dari orangtua masing-masing. Tapi, kalau begini justru malah seluruh negeri yang tau.”
Fokus Layla kacau. Sabtu pagi Layla mendengar kabar duka yang secara mengejutkan datang dari Jasmine—anaknya Om Yudistira. Anyelir—anak pertama Jasmine dikabarkan meninggal dunia. Tak ada yang percaya mendengar kabar itu termasuk Layla.
Anyelir baru berusia 16 tahun ketika dia meninggal. Selama ini Layla mengenal Anyelir sebagai anak yang sehat, cerdas, dan aktif. Kematian Anyelir terdengar bagai kebohongan.
Layla tak tahu penyebab kematiannya sampai bisik-bisik di belakang punggungnya terdengar. Sabtu siang pemakaman Anyelir digelar.
Layla mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Percakapan dua orang itu memang pelan sekali. Layla ragu Yudistira dan Jasmine yang berdiri di barisan paling depan dapat mendengarnya. Walaupun demikian, rasanya amat tak etis membicarakan tentang masalalu Anyelir terlebih di hari seperti ini.
“Hamil di luar nikah itu aib besar.”
“Benar. Kalau anak perempuanku sampai hamil di luar nikah, aku pasti akan langsung mendepaknya dari daftar waris.”
“Permisi—”
Layla berniat untuk menegur orang-orang itu. Mereka masihlah kerabat Anyelir dan karenanya Layla merasa memiliki hak untuk bicara. Akan tetapi, Noah yang berdiri di sampingnya segera menahan.
Noah meraih tangan Layla lalu berbisik. “Lihat sekeliling. Mereka secara sembunyi-sembunyi mencemooh Anyelir. Kalau kamu menegur mereka yang ada mereka curiga. Karena alih-alih berada di pihak yang sama, kamu justru berdiri di seberang. Jangan jadi anomali.”
“Aku enggak bisa diam aja mengetahui—”
“Kalau begitu pura-pura enggak dengar aja. Tadi kamu dengar sendiri kalau hamil di luar nikah adalah aib besar. Bisa kamu bayangkan kalau kita masih mempertahankan bayi itu? Kak Sheila akan jadi orang yang paling malu.”
“Aku—”
“Kamu bukan marah karena mereka membicarakan mendiang Anyelir. Kamu marah karena mereka menyinggung masalalu kamu. Percakapan mereka sedikit banyaknya mengingatkan kamu pada bayi itu, bukan?”
Ucapan Noah berhasil membungkam mulut Layla.
Proses pemakaman siang itu berlangsung sekitar 70 menit. Setiap pelayat perlahan meninggalkan area pemakaman. Layla menyaksikan Jasmine yang masih terisak sambil memeluk nisan anaknya.
Layla jadi teringat Kiara. Dulu Noah tak mengizinkan Layla untuk menyaksikan proses penguburan. Noah membawa mayat Kiara yang telah dingin dan baru menjelaskan letak kuburannya.
Ternyata setiap ibu yang mencintai anaknya akan berduka dengan cara yang sama—mereka menangis, terlihat hancur, dan terluka.
***
Layla merasa lelah. Senin ini tubuhnya seakan tak mau diajak bekerja sama. Beban setelah meninggalkan pemakaman Anyelir masih terasa berat meskipun hari telah berganti.
From Kak Sheila: Kamu lembur lagi?
Layla membaca sederet pesan yang dikirim oleh kakaknya sambil berjalan keluar dari elevator menuju basement. Sebetulnya pekerjaan Layla hari ini tidak menumpuk. Layla terpaksa bekerja sampai malam karena hanya dengan begitu otaknya yang berisik dapat lebih fokus.
“Kamu mungkin bisa menabrak kalau berjalan sambil fokus pada layar hp.”
Suara itu menyedot seluruh perhatian Layla. Ketika mengangkat pandangan Layla melihat Athala. Lelaki itu bersandar di bumper mobil milik Layla.
“Belum pulang?” tanya Layla heran.
Suasana basement kala itu sudah sepi. Tinggal tersisa mobil Layla, mobil Athala, dan beberapa sepeda motor saja. Wajar mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Hanya segelintir karyawan yang masih lembur.
“Menunggu kamu,” jawab Athala ringan.
Layla berjalan mendekati Athala. Tanpa mengatakan apapun Layla kemudian menyadarkan keningnya ke bahu Athala. Aroma parfum Athala yang kental akan tabaco tercium di jarak sedekat itu. Layla memejamkan kedua matanya ketika merasakan tangan Athala melingkar di sekitar pinggangnya.
“Aku cape banget.” Layla berbisik. Suaranya kering dan berat. “Kepalaku berisik banget, Athala.”
Athala memeluk Layla membuat tubuh perempuan itu semakin dekat dengan tubuhnya. Sementara itu, jari-jemari Athala bergerak mengusap kepala Layla. “Mau pergi bersamaku? Ke tempat yang enggak berisik.”
***
Athala menjadikan Kota Tua sebagai tujuan. Niat untuk mendatangi tempat bersejarah itu muncul secara impulsif oleh Athala.
Keduanya duduk di sekitar Taman Fatahilah. Di tempat itu hanya terlihat beberapa orang saja yang sedang duduk-duduk. Secara praktis tempat ini sepi.
“Aku enggak menyangka kamu akan membawaku ke sini,” kata Layla membuka percakapan malam itu.
Angin malam yang bertiup lembut membawa sejuk di atas kulit Layla. Membuatnya sejenak lupa akan suasana kantor yang monoton.
“Sekarang di Jakarta hanya tempat ini yang sepi.”
“Kalau datang siang kita bisa naik sepeda.” Layla menunjuk spot di mana barisan sepeda sewa biasa parkir. “Kita juga bisa beli topi lebar karena kalau siang hari tempat ini panas luar biasa.”
“Kedengarannya kamu udah hafal sama tempat ini.”
Ada senyum bangga yang Layla tampilkan sebelum dia menimpali, “Dulu sebelum Harsa lahir aku, Lili, Mas Gasendra, dan Kak Sheila cukup sering main kemari. Udah banyak pertunjukkan yang kami saksikan di sekitar Kota Tua.” Layla menunjuk Meriam Si Jagur yang terletak tak jauh dari posisi mereka duduk. “Enggak jauh di sana pernah ada acara musik dan festival. Lalu waktu aku masih kecil setiap malam Minggu tempat ini akan ramai.”
“Apa lagi yang kamu tau soal tempat ini?”
“Awalnya tempat ini bernama Stadhuis yang digunakan sebagai balai kota. Sedangkan, lapangan luas tempat kita duduk sekarang disebut sebagai Stadhuisplein. Mas Gasendra pernah bilang bahwa tugu air mancur di sana pernah jadi satu-satunya sumber mata air masyarakat setempat di zamannya. Airnya berasal dari Pancorang Glodok yang disalurkan oleh pipa. Bisa kamu bayangkan tempat ini menjadi saksi bisu dari bergantungnya banyak jiwa? Dari dulu sampai sekarang.” Layla menoleh ke arah Athala yang sedang memandangi tugu air mancur seraya mendengarkan ceritanya secara khidmat. “Bisa kamu bayangkan enggak betapa banyak pasangan yang datang dan pergi ke tempat ini? Entah untuk mengambil air, sekadar jalan-jalan, bertemu dengan orang baru, atau bahkan berpisah dengan orang terkasihnya.”
“Aku baru kepikiran soal itu.”
“Awalnya juga aku enggak kepikiran. Tapi saking seringnya datang ke sini aku jadi memerhatikan para wisatawan. Ada yang bawa keluarga, bawa pacar, dan pernah juga yang diputusin pacarnya di sini. Sejak saat itu setiap kali pergi liburan ke tempat baru, aku bukan hanya akan memerhatikan objek wisatanya, tapi juga para turis yang datang. Ekspresi wajah mereka, orang yang datang bersama mereka, dan kegiatan yang mereka lakukan.”
Athala seperti mampu melihat semua momentum yang Layla bayangkan. Di dalam benaknya muncul sebuah televisi imaginary yang menampilkan kegiatan orang-orang di Kota Tua.
“Apa ada tempat yang enggak kamu suka?”
Layla terlihat merenung sejenak sebelum menjawab, “Bandara, stasiun kereta, dan terminal.”
“Kenapa dengan tempat-tempat itu?”
“Karena kebanyakan orang di tempat-tempat yang aku sebutkan tadi berpisah. Orangtua yang melepaskan anaknya untuk kuliah, istri yang merelakan suaminya untuk dinas, dan masih banyak perpisahan yang terjadi di sana. Aku enggak suka, tapi waktu kuliah dulu kalau lagi cape aku suka naik MRT … tanpa tujuan. Rasanya aku seperti bisa menjauh dari tempat di mana masalahku muncul. Meskipun hanya sebentar.”
Athala bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan kanan. “Mau pergi bersamaku?”
Layla mendongkak. “Ke mana?”
“Stasiun Jakarta Kota. Kita lari sebentar dari realita ini.”
***
Stasiun Jakarta Kota masih ramai ketika Layla dan Athala masuk ke gerbong KRL. Kebetulan jam operasional untuk commuter line berhenti pada pukul 23.30. Layla dan Athala tiba tepat waktu sebelum kereta terakhir berangkat.
Athala melirik rute KRL yang ditempel di badan gerbong. “Depok atau Bekasi. Pilihlah.”
“Bagaimana kalau Depok?”
“Ayo, ada 18 stasiun yang harus kita lewati sebelum turun.”
Keduanya memilih untuk duduk bersebalahan. Kondisi kereta malam itu tidak sepadat saat siang. Seluruh kursi terlihat penuh. Layla menyandarkan kepalanya ke bahu Athala, sedangkan tangan keduanya saling menggenggam di bawah sana.
Di sini … hanya di tempat ini Layla dan Athala bisa bersikap sebagaimana kebanyakan sepasang kekasih pada umumnya.
Setidaknya selama perjalanan melewati 18 stasiun Layla menjadi dirinya sendiri.
Setidaknya di tempat ini … hanya di tempat ini Layla bisa merasa bebas memiliki Athala. Athala juga merasakan hal yang sama. Jakarta malam itu menjadi saksi dari betapa besarnya keinginan mereka berdua untuk bersatu dan melarikan diri dari realita.
Layla jadi berandai-andai. Bagaimana kalau perjalanan di dalam KRL ini tak pernah berakhir saja? Dengan begitu tak ada yang memisahkan Layla dan Athala.
[]