“Ini tiketnya. Begitu tiba di Auckland Aiport akan ada orang suruhanku yang mengantarkan kamu ke rs tempat ab0rsi. Kamu enggak perlu langsung pulang. Istirahatlah dulu di sana selama 3 hari. Semuanya sudah aku persiapkan baik dari kendaraan, penginapan, dan makan. Kamu hanya perlu pergi.”
Noah kembali datang ke apartemen Anette. Sejak hamil Anette memang jadi jarang datang ke butik. Gelombang mual yang kerap kali datang membuatnya tak tahan berada lama-lama di luar. Beragam aroma yang semula tercium menyenangkan sekarang tak ubahnya racun yang membuat Anette ingin memuntahkan seluruh isi lambungnya.
“Kamu enggak ikut mengantarkan aku?” tanya Anette sambil membuka tiket yang telah dicetak.
Keberangkatannya besok jam 10 pagi dengan tujuan Selandia Baru. Di negara itu ab0rsi dianggap sah bahkan tanpa alasan khusus dengan batas kehamilan 20 minggu.
“Sorry, My Love. Aku ada banyak pekerjaan minggu ini.” Noah menarik Anette ke dalam pelukannya dan mencium sekali puncak kepala kekasih gelapnya. “Aku janji setelah kamu pulang, kita langsung pergi liburan. Bagaimana?”
“Janji?”
“Janji, Sayang.”
Anette menyandarkan pipinya ke dadda bidang Noah. Sejujurnya Anette bukanlah tipikal perempuan yang mudah terpedaya oleh laki-laki. Hanya saja, bersama Noah segalanya terasa berbeda. Noah adalah tipikal laki-laki yang tahu caranya mendominasi sekaligus paham kapan harus menurunkan ego. Sesuatu yang tak pernah Anette temui dari laki-laki lain.
Bagi Anette sosok Noah adalah mahakarya yang sempurna, kecuali untuk satu urusan.
“Kamu enggak sedih akan berpisah dengan bayi kita?” tanya Anette iseng saja.
“Sejujurnya, enggak.” Noah berkata tanpa ragu. Jari-jemarinya bergerak memainkan rambut Anette yang indah. “Janin itu masih berupa gumpalan darah dan daging yang kebetulan menyimpan DNA kita berdua. Aku enggak merasa ada ikatan emosional dengannya.”
“Jadi, bayi ini sama sekali enggak berarti buat kamu ya?”
Noah mengurai pelukan. Dipandanginya sepasang mata Anette. Perempuan ini cantik sekali. Level kecantikan Anette dengan Layla berada di tingkatan yang berbeda. Anette ini mirip sekali dengan model-model kelas dunia. Anette juga tahu bagaimana caranya memuaskan Noah di atas ranjang. Bersama Anette, Noah seakan bisa memiliki seluruh keindahan duniawi—sebuah surga fana yang dicipatakan atas dasar fantasi liar.
Sementara itu, Layla … dia mirip rumah. Hatinya hangat dan lembut. Layla mengingatkan Noah pada cinta yang pernah Noah harapkan ada di dalam keluarganya. Kalau boleh jujur bersama Layla, Noah dapat merasa nyaman. Terlebih lagi sebelum hamil. Hampir setiap hari Layla akan menyambut Noah ke dalam pelukan.
Hanya saja, Layla berbeda dari Noah. Bagi Noah yang dibesarkan di dalam keluarga tanpa cinta … kehidupan seorang istri seharusnya hanya bergantung pada suami. Seharusnya hanya kepada suami seorang istri patuh. Akan tetapi, Layla tak demikian. Perempuan itu membencinya ketika Noah memutuskan untuk menyingkirkan bayi itu di antara mereka.
“Yang paling berharga buatku hanyalah kamu, Anette. Nanti ketika kita sudah lebih siap, kita bisa memiliki anak. Seorang anak yang kelak akan memanggil kamu mama dan menanggil aku papa. Bagaimana?”
“Jadi, akan ada hari yang seperti itu?”
“Tentu. Asal kamu menurut.”
***
“Minggu nanti bagaimana kalau kita pergi bersama? Udah lama ‘kan kita enggak pergi keluar.”
Pagi itu Noah datang untuk menjemput Layla. Berbeda dari jemputan sebelumnya, kali ini Noah datang mengabari terlebih dahulu. Laki-laki itu datang setelah sesi breakfast bersama selesai. Mau tak mau Layla ikut. Padahal sejujurnya Layla sudah muak duduk di dalam mobil ini.
Tak sengaja pandangan Layla jatuh ke floorboards. Di sana tepat di ujung floorboards Layla dapat melihat sesuatu berwarna merah mencolok. Tanpa menjawab ajakan Noah, Layla menundukan tubuhnya dan meraih benda tersebut.
“Ada apa, sih?” Noah melirik Layla yang lebih memilih untuk mengabaikannya.
Sebuah fake nail warna merah. Jelas bukan milik Layla karena dia tak pernah memakai benda senorak ini.
“Ini punya perempuan itu?” tanya Layla dengan nada menuding sambil menunjukkan penemuannya.
Dahi Noah berkerut tipis. Karena sambil mengemudi Noah jadi tak terlalu bisa memfokuskan perhatian ke benda di tangan Layla. “Apa itu?”
“Ini fake nail. Jelas bukan punya aku.”
Kali ini Noah tampak terkejut. Ingatan tentang sebuah malam yang panas ketika dia dan Anette bercin-ta di dalam mobil ini kembali terngiang. Dengan cepat Noah meraih kuku palsu itu dan membuangnya melalui jendela mobil yang dibuka.
Layla sih tak masalah buktinya dibuang. Toh, dia sudah melihatnya secara langsung. Dari gelagat Noah juga dapat dipastikan kalau tuduhan Layla seratus persen benar.
“Kamu sangat menjijikkan, Noah,” kata Layla muak. Rasa benci Layla kepada Noah jauh lebih besar daripada rasa takutnya kepada laki-laki itu. Terlebih mereka ada di jalan raya. Layla yakin Noah tak akan bisa membu-nuhnya. Setidaknya tidak di sini. “Kamu membawaku dengan mobil yang sama dengan yang kamu gunakan bersama perempuan itu. Aku enggak peduli kalian mau ngapain di sini. Aku hanya merasa terhina karena diperlakukan sejajar dengan dia.”
“Itu punya teman kerjaku.”
Layla mendengkus sinis. “Sekarang selingkuhan kamu bertambah?”
“Layla, jangan memulai.”
“Noah, apakah pernah sekali saja kamu merasa bersalah padaku?”
Noah menaikan kecepatan mobil. Dia tak suka ditodong dengan pertanyaan semacam itu. Jika tadi Noah berharap bisa berlama-lama bersama Layla di mobil maka, sekarang sebaliknya. Noah berharap mereka segara sampai di kantor Layla.
“Noah,” panggil Layla sekali lagi. “Ah, apa yang aku harapkan dari kamu. Mustahil bagi kamu untuk menyesal.”
“Apa ini karena bayi itu? Kamu belum bisa melupakan mayat bayi itu?”
“Dia punya nama! Anakku punya nama!” Layla menjerit frustasi.
Selama ini Noah selalu menggunakan kata ‘bayi itu’ untuk menunjuk Kiara. Padahal bayi mereka punya nama yang indah. Kiara—bunga cantik yang indah lagi terang. Noah selalu menganggap Kiara sebagai barang dan bukannya manusia. Hal tersebut diam-diam ikut menyakiti Layla selaku ibu yang melahirkannya.
“Jangan berteriak kepadaku.” Noah memperingati dengan nada mengancam.
Kali ini Layla mengabaikan tekanan emosional yang diberikan oleh Noah. Dengan rasa sakit yang bergumpal di hatinya Layla bertanya, “Ketika Kiara lahir apakah kamu sempat memberinya iqamah?”
Noah bungkam.
Layla mengguncang lengan Noah membuat mobil nyaris keluar dari jalur. “Apa dengan tanganmu sendiri kamu menguburnya?”
Noah menepis kasar Layla. Beberapa mobil di belakang mereka memberi klakson karena Noah hampir saja membuat kecelakaan beruntun jika saja tak buru-buru mengendalikan laju kendaraan.
“Berhenti bersikap berlebihan begitu, Layla. It’s nothing. Okay? Pada akhirnya bayi itu hanya mayat. Dia hanya daging yang akan membusuk kalau dibiarkan terlalu lama.”
Habis sudah kesabaran Layla. “Bagi kamu mungkin enggak penting, tapi dia lahir dari rahimku, Noah. Aku yang menanggung seluruh rasa sakit ketika cairan sialan bernama induksi memaksaku untuk melahirkannya. Aku mampu merasakannya ketika dia keluar dari jalur lahirku. Aku mampu merasakan kulitnya yang dingin. Aku! Akulah ibunya!”
“Kamu akan hamil lagi nantinya!” Noah balas membentak. “Kamu masih bisa hamil dan melahirkan lagi.”
Layla terisak. “Bagi kamu mungkin aku ini hanya hewan ternak yang hanya perlu melahirkan ketika kamu mau dan harus segera berhenti berduka ketika kamu risih. Aku enggak sanggup lagi dengan hubungan ini. Aku ingin semuanya selesai—”
“Layla—” Karena sengitnya perdebatan pagi itu Noah sampai kehilangan fokus untuk menyetir. Pikirannya sekarang terbagi dua antara kepada Layla dan kepada jalanan di depan sana. Ketika hendak fokus pada Layla bertepatan dengan itu pula seorang remaja laki-laki menyebrang. Tubuh remaja laki-laki itu tertabrak bumper mobil Noah sebelum akhirnya terpental dan jatuh di atas aspal yang keras.
“Ah!” Layla memekik ketakutan.
Sedangkan, Noah luar biasa terguncang. Orang-orang mulai berkumpul ke tempat di mana korban terkapar tidak berdaya. Layla menjadi orang pertama yang keluar dan memeriksa. Napas Layla seakan tertahan di tenggorokan sewaktu dia melihat kondisi korban yang mengenaskan. Darah ada di mana—di wajahnya, di kepala, dan di aspal.
Layla terjatuh lemas.
[]