“Sudah beres ya, Bu.”
Layla bangkit dari posisi rebahnya di atas brankar. Kepalanya agak pening begitu mengubah posisi. Sesaat Layla bahkan harus menghentikan langkah kaki di tengah lorong rumah sakit yang sibuk sewaktu pemandangan di hadapannya menjadi berkunang-kunang.
Tadi Layla baru saja melakukan donor darah untuk korban yang tertabrak oleh Noah. Sementara itu, Noah sendiri harus memberikan keterangan di kantor kepolisian. Jadilah tersisa Layla seorang diri.
Tadi ketika korban sedang dilakukan tindak operasi perawat mengatakan bahwa mereka butuh tambahan darah. Sebagai satu-satunya orang yang bisa diandalkan kala itu Layla mengajukan diri sebagai pendonor.
“Are you okay?” Athala datang menyusul begitu Layla mengabari bahwa dirinya butuh seseorang untuk menemani. Disentuhnya pundak Layla supaya perempuan itu menoleh.
Setelah berkeliling mencari keberadaan Layla akhirnya Athala menemukan perempuan itu berdiri tidak jauh dari pintu ruang operasi.
Layla langsung memutar tubuh menghadap Athala. Wajahnya kala itu terlihat agak pucat. Penurunan volume darah di dalam tubuhnya menimbulkan stres fisik. Sambil memijat keningnya Layla menjawab, “Agak pusing sedikit. Tapi, operasinya belum selesai. Bisa kamu temani aku dulu di sini?”
“Tentu, I’ll be here, Layla.”
Athala meletakkan satu tangannya memeluk pinggang Layla kemudian secara perlahan laki-laki itu menuntun Layla agar duduk tepat di kursi tunggu ruang operasi.
Layla menyandarkan kepalanya ke bahu Athala, sedangkan di bawah sana tangan keduanya saling menggenggam. Ujung jari-jemari Layla terasa membeku di dalam rengkuhan Athala. Sebelumnya Athala sudah mendengar bahwa mobil yang dikendarai oleh Noah menabrak seseorang. Layla yang ikut di dalam mobil pasti mengalami trauma.
“Aku lelah sekali, Athala,” kata Layla menyuarakan isi hatinya. “Ingin pergi dari dunia yang berisik ini rasanya.”
“Tidurlah, Layla. Aku akan menemani kamu di sini.” Tangan Athala yang bebas bergerak mengusap pipi Layla secara lembut.
Sentuhan itu menyadarkan Layla bahwa Athala memang nyata. Laki-laki ini berada di sisinya. Layla mampu mendengar suara napas Athala, aroma parfumnya, dan kulit tangannya yang hangat. Peristiwa traumatis sebagai saksi dari peristiwa tabrakan tadi mengingatkan Layla ketika dia pertama kali menyentuh nark0tika.
Rasa-rasanya darah yang mengalir di atas aspal, aroma amis, dan teriakan orang-orang bagai ilusi.
Athala bersenandung pelan. Suara rendah yang dibuat dengan menggerakkan udara melalui rongga mulut itu terdengar bagai nyanyian yang menarik Layla ke dalam dunia mimpi. Di dalam pelukan Athala akhirnya Layla lelap.
***
“Layla?”
Layla dapat dengan jelas merasakan tepukan pelan pipinya. Gerakan yang konstan dan hati-hati itu tak ayal membuat Layla terbangun. Di hadapannya berdiri Athala. Sepasang mata Athala menatap Layla teduh. Ada cinta yang dipantulkan oleh iris Athala yang gelap.
“Ya?”
“Operasinya sudah selesai. Pasien juga sudah keluar dari recovery room. Baru saja perawat membawanya ke ruang rawat. Kamu mau menjenguk?”
Layla mendesah lelah. Rasa resah yang semula sempat Layla lupakan kini merangkak naik. “Aku merasa enggak pantas untuk masuk dan menjenguk dia. Mau bagaimana pun kecelakaan ini terjadi karena mobil yang juga ditumpangi oleh aku.”
Athala berjongkok tepat di hadapan Layla sehingga kini posisi mereka sejajar. Diraihnya tangan Layla lantas Athala menggenggamnya. Rasa resah yang sejak tadi menggerogoti tubuh Layla bagai semut kini perlahan-lahan berkurang. Agaknya Athala memiliki sihir di kulitnya. Sihir yang mampu membuat Layla seketika merasa lebih baik.
“Kita jenguk bersama ya? Mau?”
Ucapan Athala terdengar bagai janji yang menanangkan sehingga satu-satunya respons yang bisa Layla berikan adalah mengangguk setuju.
Pada akhirnya mereka berdua pergi bersama ke ruang rawat VIP tempat korban berada. Ruangan VIP itu sunyi dan dingin.
“Namanya Nerissa Khairina,” kata Layla memecah bisu. Dia menunjuk informasi yang tertera di ujung brankar yang ditiduri oleh korban kecelakaan termasuk nama dan usianya. “Dia baru 13 tahun, tapi tubuhnya terlalu kecil dan kurus untuk ukuran seusianya.”
Athala memperhatikan wajah Khairina yang lelap. Bekas luka terbuka tampak di sejumlah titik tubuhnya. Yang paling mencolok adalah keberadaan perban dan di kepala serta luka robek di tulang pipi.
“Dokter bilang operasinya berjalan dengan baik. Sekarang tugas kita hanyalah memastikan bahwa anak ini mendapatkan perawatan medis terbaik,” balas Athala menimpali.
“Kudengar dia sedang menyebrang untuk menawarkan koran ketika mobil Noah menabraknya.” Ujung jari telunjuk Layla bergerak mengusap lembut lengan Khairina yang kurus. “Ibunya dihubungi, tapi dia bilang selama Noah mau bertanggung jawab secara material maka masalah ini enggak akan diperpanjang. Ayahnya bahkan enggak peduli ketika perawat menelpon bahwa mereka butuh donor darah. Dengan tubuh serapuh ini dia berusaha untuk bertahan hidup. Kalau dipikir-pikir Tuhan itu agak … kejam ya? Anak selemah ini harus dihadapkan pada banyak rasa sakit.”
“Tuhan itu enggak kejam, Layla. Yang menjadikan kehidupan ini kejam adalah manusia. Ibunya yang meninggalkan dia, ayahnya yang entah ada di mana, dan kemiskinan struktural yang menimpa keluarganya. Itu ulah manusia, bukan?”
Layla termenung mendengar ucapan Athala. Padahal Athala juga pernah sangat berduka. Walaupun begitu, Athala masih bisa melihat dunia dengan sudut pandang yang jauh lebih baik.
Layla mengangkat pandangan bersamaan dengan Athala yang menatapnya. “Kamu selalu melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda dariku, Athala. Bagaimana kamu melakukannya? Padahal kamu juga sebelumnya pernah dibuat terluka oleh takdir Tuhan, bukan?”
“Semua orang pernah terluka. Yang membedakan kami hanyalah bagaimana kami mengobati luka itu.” Athala menampilkan seulas senyum tipis yang tulus. Dia berusaha untuk meyakinkan Layla bahwa ucapannya bukanlah kebohongan. “Aku juga ingin kamu sembuh dari trauma dan rasa sakit yang menimpamu, Layla. Entah apapun itu. Aku ingin melihat kamu sebagaimana Harsa yang melihat Layla di waktu 3 tahun lalu. Layla yang katanya berwarna, hidup, dan utuh.”
Pernyataan Athala mendorong sesuatu di dalam diri Layla untuk bercerita.
“Aku dulu punya anak, Athala.” Layla tak berani menatap lawan bicaranya. Sepenuhnya pandangan Layla tertuju pada Khairina. Layla takut menemukan penghakiman dari sepasang manik Athala. “Namanya Kiara. Aku mengandungnya sampai 7 bulan. Aku begitu bahagia ketika dokter mengatakan bahwa aku positif hamil meskipun saat itu posisinya aku belum menikah.”
“Layla—”
Layla menutup matanya sejenak lalu memotong. “It’s okay, Athala. Izinkan aku untuk menceritakan satu kisah ini kepada kamu. Bagaimana pandangan kamu terhadapku setelah ini ya … terserah.” Layla menarik napasnya dalam-dalam mengisi paru-parunya yang terasa sesak sebelum melanjutkan, “Tapi, dia meninggal enggak lama dari itu … dia meninggalkanku saat masih berada di dalam kandungan. Aku melahirkan dia dan memeluk tubuhnya yang sudah tak bergerak. Padahal … padahal biasanya hampir setiap pagi aku bisa merasakan tendangannya. Setiap hari aku selalu mengajaknya bicara. Di dalam imajinasiku, Kiara mampu mendengarkanku dan memahami ucapanku. Tapi, hari itu dia enggak memberikan respons apapun. Tubuhnya dingin. Aku kehilangan anakku untuk selamanya.”
Kini terjawab sudah rasa penasaran Athala mengenai makam yang tempo hari ditangisi oleh Layla. Itu adalah makam mendiang bayinya sendiri.
Ketika mengangkat pandangan Layla melihat buram di sekitar. Airmata yang menggenang membuat penglihatannya tidak jelas.
Walaupun proses menceritakan kisah tentang Kiara terasa begitu berat, namun tak dapat dipungkiri bahwa kini Layla merasa lega. Satu rahasianya tersingkap sudah di hadapan Athala.
Sambil terkekeh pahit Layla menambahkan, “Kalau setelah ini kamu ingin meninggalkanku maka, enggak apa-apa. Aku enggak akan menahan kamu, Athala. Manusia seperti kamu terlalu sempurna untuk bertahan di sisiku—”
“Layla.” Giliran Athala yang memotong. Laki-laki mendekati Layla dan mengusap airmata yang mengalir di atas pipi putih Layla. “Pasti enggak mudah buat kamu untuk bercerita. Jadi, terima kasih karena kamu sudah membiarkan aku untuk mengetahui kisah tentang Kiara.”
“Dia sudah lama pergi, tapi aku masih berduka. Aku payah ya?”
“Layla Sayang, enggak ada waktu pasti bagi seseorang untuk berhenti berduka. Jangan bandingkan rasa sakit kamu dengan rasa sakit milik orang lain ya?” Athala menarik Layla ke dalam dekapannya. “Duka itu bentuknya abstrak, Layla. Enggak ada aturan absolut yang mengatakan kapan kita harus berdamai dengan kesedihan.”
Ini yang dulu Layla harapkan dari Noah. Layla ingin ditenangkan, ingin dipeluk, ingin divalidasi perasaan dukanya. Daripada memvalidasi rasa sakit Layla, Noah justru buru-buru mendorong Layla untuk melupakan bayi mereka. Untuk segera maju ke depan padahal tali masalalu masih mengikatnya dengan erat.
“Aku ibu yang buruk, Athala. Mungkin jauh lebih buruk daripada ibunya Khairina.”
Athala mengusap pelan punggung Layla. Isak tangis perempuan yang dicintainya terdengar begitu pilu. “Kamu ibu yang baik, Layla. Kamu melahirkannya dengan cinta dan masih memelihara cinta itu sampai dengan hari ini. Tubuhmu dan tubuh Kiara memang sudah terpisah jauh, tapi jiwa kalian akan saling terikat. Di jasadnya ada bagian dari dirimu, Layla. Di dalam ingatannya ada suaramu, Layla. Kiara lahir dari seorang ibu yang luar biasa.”
Kalimat Athala tempo hari itu mengobati jiwa Layla yang selama ini menggigil kesakitan. Memori kelam ketika melahirkan Kiara entah bagaimana mampu disulap oleh Athala menjadi adegan yang terkesan tak terlalu pahit.
[]