“Miss Anette. Are you paying attention?”
Seorang dokter obgyn bertanya heran. Sementara itu, di seberang mejanya Anette terlihat termenung. Anette baru saja tiba di Wellington Hospital yang terletak di ujung selatan Pulau Utara negara Selandia baru sekitar 3 jam lalu.
Orang suruhan Noah menyusulnya di Auckland Aiport. Usai beristirahat sebentar di kamar hotel Anette dibawa ke RS lokal di mana layanan ab0rsi umum untuk dilakukan.
“Miss Anette?” dokter itu mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya.
Suara ketukan tersebut berhasil membuyarkan lamunan Anette.
“Yes? Jet lag still affects me. What are you saying, then?”
“I’m asking you. Are you sure you want to do this treatment? This is my last question before we move to the next procedure.”
Satu tangan Anette bergerak mengusap perutnya. Di dalam sini ada darah dagingnya dan Noah yang sedang meringkuk. Membayangkan janin kecil ini harus mati membuat hati Anette cukup teriris. Masa kecilnya yang kelam membuat Anette memahami dengan jelas bagaimana rasanya tak mendapatkan cinta dari sosok orangtua.
Berdasarkan ingatan masalalu itu Anette berani untuk mengambil sebuah tindakan yang bertentangan dengan keinginan Noah.
"What if I say no?"
Dokter di hadapannya mengangguk dengan paham. “Then there’s no aborti0n. You can still keep the baby.”
“I will pay you more if you tell Noah that I did the aborti0n.”
“Sure, Miss Anette. What else can I do for you?”
“That’s all.”
Benar. Anette hanya perlu berbohong dengan berpura-pura telah melakukan ab0rsi. Toh Noah juga tidak akan tahu karena dokter obgyn yang bertugas bersedia untuk bekerja sama asal Anette membayar lebih. Nanti ketika waktunya sudah tepat Anette akan melakukan upaya apapun supaya Noah mampu menerima kehamilannya.
Lagi pula, Noah itu lelaki baik, bukan? Tak mungkin dia menolak bayi yang tumbuh semakin besar di dalam rah-im Anette.
Tiga hari kemudian Anette tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 10 pagi. Kepalanya benar-benar pening karena melewati perjalanan panjang di kondisi hamil muda begini.
Kabar pertama yang Anette dengar tentang Noah adalah berita bahwa dirinya menabrak seseorang.
“Pengacara kondang Noah Elio Rahardjo tampak keluar dari kantor kepolisian setelah kemarin mendapatkan sejumlah pertanyaan dari pihak berwenang terkait kasus yang menimpa dirinya.”
Suara news anchor di balik radio sana terdengar tegas dan tertata. Anette menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil. Tadinya Anette ingin minta dijemput oleh Noah, tetapi laki-laki itu justru memintanya untuk naik taksi.
Diam-diam Anette mensyukuri berita tersebut. Setidaknya dengan begitu keluarga Layla akan sedikit berhati-hati untuk menjadikan Noah sebagai menantu mereka.
***
“Sebelumnya saya pernah lihat Kakak di pemakaman.”
Layla baru saja hendak mengupas kulit jeruk ketika Khairina membuka suaranya. Terhitung sudah 3 hari Khairina sadarkan diri. Sekitar 8 jam setelah operasi perempuan itu sudah membuka mata. Butuh setengah hari sampai akhirnya dia terbiasa dengan kondisi tubuhnya yang terluka.
Beruntungnya selama itu pula Khairina tidak mengalami komplikasi atau perdarahan yang fatal.
“Kamu melihat saya?”
Khairina mengangguk. “Awalnya saya ragu apakah kalian orang yang sama. Tapi, setelah 3 hari melihat Kakak, saya yakin kalau orang yang saya lihat di pemakaman adalah Kakak.”
“Apa yang kamu lakukan di pemakaman umum?”
“Saya kerja jadi tukang membersihkan kuburan. Setiap keluarga yang datang untuk berziarah biasanya akan meminta saya untuk membersihkan rumput liar atau dedaunan kering yang berjatuhan di atas kuburan orang yang mereka kenal. Itu adalah pemakaman yang enggak bisa diakses oleh semua orang. Biasanya hanya orang-orang berduit yang membeli liang lahat di sana, tapi anehnya hanya ada satu kuburan yang terlihat enggak terurus. Yaitu, kuburan tempat di mana Kakak berdiri selama berjam-jam.” Khairina agak ragu ketika harus mengucapkan kalimat terakhir.
Gadis itu tahu betul bahwa ucapannya agak mengusik Layla. Hanya saja, Khairina juga tak bisa menyembunyikan fakta tersebut dari Layla.
“Apa kamu punya rahasia?”
Walaupun agak bingung, tetapi Khairina mengangguk. “Orang yang saya panggil ibu sesungguhnya ibu tiri. Dia adalah istri kesekian bapak saya. Sedangkan, bapak saya pecandu alkohol. Mereka berdua enggak bekerja dan sebagai gantinya saya yang harus banting tulang cari nafkah. Jadi, apa rahasia Kak Layla?”
Sambil bercerita tangan Layla bergerak mengupas kulit jeruk. Setelah membuka rahasia tentang Kiara kepada Athala, Layla jadi tak terlalu merasa keberatan menceritakan hal yang sama kepada Khairina. “Itu adalah makam dari mendiang anak saya. Saya begitu menyayanginya, tapi ayah biologisnya begitu membenci kehadirannya. Ketika baru lahir pun, tepat setelah dokter memotong tali pusarnya dari tubuh saya, kami dipisahkan. Saya enggak tau di mana dia dimakamkan sampai beberapa minggu kemudian. Kuburannya juga enggak diberi nisan. Tidak ada penanda. Tidak ada bunga. Sepertinya selain saya, enggak ada lagi yang berziarah ke makam anak kami.”
“Setiap hari saya datang kok. Saya membersihkan makamnya. Jadi, saya harap Kak Layla enggak terlalu bersedih.”
Layla tersenyum tulus. “Terima kasih.”
“Nanti kalau saya sudah sembuh dan bisa kembali bekerja, saya bawakan beberapa bunga ya. Di sekitar pemakaman itu kebetulan tumbuh beberapa jenis bunga.”
Layla menyuapi Khairina dengan jeruk. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Setelah sadar dari kecelakaan setiap hari Layla akan datang untuk menjenguk. Biasanya kalau sedang sibuk di kantor kehadiran Layla akan digantikan oleh Harsa.
Selain Harsa keluarga Layla yang lain juga ikut menjenguk seperti Sheila dan Gasendra. Noah dan keluarganya juga sempat datang meskipun tidak lama.
“Apa saja pekerjaan kamu?” tanya Layla ingin tahu.
“Serabutan aja sih, Kak. Soalnya saya ‘kan baru SMP jadi, ijazah terakhir yang saya punya cuma ijazah SD. Di kota besar seperti Jakarta dengan latar belakang pendidikan saya hanya sedikit pekerjaan yang mampu saya lakukan. Terakhir, sih saya kerja jualan koran, membersihkan makam, kuli cuci piring di rumah makan, dan nyikat toilet SPBU juga pernah.”
Sosok Khairina mengingatkan Layla kepada Sheila. Keduanya sama-sama memikul beban kemiskinan di punggung masing-masing.
“Kamu punya saudara?”
Khairina menggeleng pelan. “Saya anak tunggal. Kadang saya harap saya punya saudara supaya kalau pulang kerja saya punya teman mengobrol. Kakak tau … hidup di tengah kemiskinan rasanya begitu sepi.”
Layla mengusap pipi Khairina dengan lembut. Kulit Khairina yang kecokelatan sebagai akibat dari terpanggang cahaya matahari terasa agak kasar ketika bersentuhan dengan kulit Layla.
“Kamu kerja di rumah Mas Gasendra mau? Saya bisa minta pekerjaan untuk kamu. Seenggaknya kamu enggak perlu keliaran di jalan raya yang panas.”
Sepasang mata Khairina berbinar senang. “Mau, Kak. Pekerjaan apa aja saya mau kok termasuk kalau disuruh menyikat toren.”
Layla menggenggam tangan Khairina yang bebas dari jarum infus. Melihat senyum di wajah Khairinan membawa ingatan Layla pada hari di mana dia bertemu Gasendra untuk pertama kalinya..
***
Harsa tertegun. Pemuda itu berdiri di balik pintu kamar rawat Khairina dengan keterkejutan dan perasaan yang hancur.
Harsa baru pulang kuliah. Tadinya dia berniat untuk mengajak Khairina dan Layla makan bersama. Kebetulan sebelum ke RS Harsa terlebih dulu membeli makanan Korea secara take away. Akan tetapi, yang Harsa dengar ketika akan mengetuk pintu adalah sebuah percakapan rahasia yang terjalin antara Layla dengan Khairina.
Apa tadi katanya? Layla pernah hamil dan melahirkan.
Fakta tersebut menggunjang batin Harsa dengan hebat.
Air mata menggenang di pelupuk matanya. Membayangkan Layla yang harus menutupi kehamilannya seorang diri terasa begitu menyakitkan.
Harsa merasa bodoh karena tak mengetahui hal tersebut lebih awal. Nafsu makannya kini hilang. Dengan berat hati Harsa menarik langkah menjauhi ruang rawat Khairina. Harsa yakin dirinya tak akan sanggup langsung menghadapi Layla hari ini juga.
***
Menjelang sore Kaditya sempat datang ke rumah Gasendra. Lelaki itu masih sibuk bekerja sekalipun usianya tak semuda dulu. Bekas luka di tubuhnya kini bertambah. Kaditya memilih untuk menutup bekas luka yang mudah dilihat oleh orang lain dengan tato. Karena itu pula kini tangan kirinya penuh oleh tato.
“Mau pergi jauh lagi?” Gasendra yang kebetulan baru pulang ikut duduk bergabung bersama Kaditya di teras.
Kaditya menyentil ujung rokoknya sebelumnya menimpali, “Gitu, deh. Kali ini ke luar negeri, tapi masih di kawasan Asia.”
“Kasus gede?”
“Human traffi-cking yang melibatkan remaja laki-laki. Katanya, mereka dij-ual oleh orangtua mereka sendiri untuk bergabung sebagai komplotan love scam-ming. Semacam penipuan di mana korban diperdaya dengan cara membuatnya jatuh cinta terlebih dahulu.”
“Hati-hati. Lo udah enggak lagi muda, Dit. Selama ini pekerjaan yang lo ambil pasti berbahaya. Gue enggak mau denger kabar kematian lo dalam waktu dekat. Akhir-akhir ini gue sibuk jadi enggak akan bisa melayat ke pemakaman lo.”
Kaditya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya. Bertepatan dengan itu pula mobil Harsa parkir di halaman. Harsa keluar tak lama dari itu dan salim kepada Gasendra serta Kaditya.
Wajah Harsa yang tampak sedih menimbulkan pertanyaan di dalam benak Gasendra.
“Kenapa lesu begitu?” tanya Gasendra sepenuhnya peduli.
Harsa menampilkan senyum terpaksa. “Biasa, Pah. Beban mahasiswa berat banget.” Harsa lalu menoleh kepada Kadit. “Om Kadit mau pergi dinas jauh ya?”
Sejak kecil sosok Kaditya Rakan sudah akrab dengan keluarganya. Sejak dulu polanya selalu sama. Kaditya akan berkunjung ke rumah mereka sebelum hilang tanpa kabar selama berbulan-bulan. Kaditya mencekoki Harsa dengan istilah ‘pergi dinas’ supaya dia tak banyak tanya.
“Iya.”
“Kalau gitu, hati-hati ya, Om. Tatonya jangan sampai nambah. Jangan lupa solat juga.”
Setelah mengatakan itu Harsa pamit ke kamarnya.
“Anak lo udah gede ya,” kata Kaditya usai mengisap rok0knya.
“Harsa, Liliana, dan Layla. Mereka semua sudah jadi orang dewasa sekarang, Dit. Anak-anak yang dulu suka ngintilin lo tiap kali datang ke sini sekarang diem-diem udah tau apa pekerjaan lo.”
“Omong-omong soal Layla ….” Kaditya agak ragu untuk melanjutkan ucapannya. “Gue denger kabar miring soal tuanangannya dari orang internal.”
“Kabar miring apa?”
“Waktu kuliah dulu Noah pernah punya pacar. Perempuan yang dia pacari itu adalah anak dari mantan sopir pribadinya Agung Rahardjo. Dari yang gue dengar perempuan itu sampai hamil. Yang bikin gue ngeri adalah gue denger Noah maksa pacarnya buat ab0rsi padahal usia kandungannya udah cukup besar. Faktor resikonya terlalu tinggi, bukan? Dan, bener aja. Perempuan itu meninggal karena perdarahan berat. Masalahnya enggak berhenti sampai sana, ayah dari pacarnya Noah ini dipecat dan enggak ada satu pun media massa yang mengabarkan tentang berita ini. Di samping itu, gue juga dengar selama mereka pacaran banyak saksi yang mengatakan kalau hampir setiap bulannya selalu ada luka memar di tubuh pacarnya Noah. Tebakan gue, perempuan itu mengalami keke-rasan selama pacaran.”
Gasendra butuh waktu beberapa saat untuk mencerna cerita yang dibeberkan oleh Kaditya. Sepanjang mengenal Kaditya, Gasendra tahu betul bahwa sahabatnya tak pernah berbohong terutama jika itu menyangkut kehidupan orang lain. Fakta yang dibeberkan oleh Kaditya kali ini begitu mengguncang Gasendra.
Tak mampu Gasendra bayangkan sosok Noah yang selama ini ia kenal pernah memiliki sejarah kelam yang bedarah.
“Lo tau kabar keluarga mendiang perempuan itu?”
“Karena penasaran ya, sampe gue cek. Mereka tinggal di kawasan pinggiran Jakarta Pusat. Ayahnya kerja serabutan, sedangkan ibunya jadi ART. Anak mereka yang meninggal itu … anak satu-satunya. Dari yang gue dengar, sih sejak anaknya meninggal keluarga itu jadi tertutup.”
“Lo enggak salah? Bukan Noah yang lain?”
“Gue tau lo akan menyangkal. Tapi, itu adalah Noah yang sama. Mungkin selama ini dia main rapi, cuma yang namanya bangkai mau ditutupi kayak gimana pasti akan ada bau yang tertinggal.” Kadiya meletakkan puntung rok0knya yang telah habis ke dalam asbak lantas menambahkan, “Gue bilang begini karena gue khawatir sama Layla. Dia sudah seperti adik gue sendiri. Selama gue menangani banyak kasus, yang paling banyak muncul adalah isu kekerasan di dalam hubungan orang dewasa. Sekalipun saling mencintai, tapi enggak sedikit orang yang memb-unuh pasangannya ketika menemukan ketidakpuasan. Karena itu, seandainya gue kembali hanya dengan nama, gue harap lo sudah tau informasi ini dan tau harus melakukan apa.”
Setelah mengatakan itu Kaditya pamit untuk pulang padahal Sheila sempat memaksanya untuk makan malam bersama.
Kepergian Kaditya meninggalkan satu tanda tanya besar di dalam kepala Gasendra; apakah Layla pernah menjadi korban kekerasan Noah?
Karena itu pula Layla melarikan rasa sakit dan frustasinya pada obat-obatan terlarang?
[]