“Sudah siap?”
Athala melirik melalui rear view mirror. Di jok belakang sana Khairina duduk bersebelahan dengan Harsa, sedangkan tepat di samping Athala duduk Layla.
“Sudah, Kak Athala,” jawab Khairina semringah.
Hari ini Khairina keluar dari RS. Setelah melewati perawatan selama 2 minggu akhirnya dokter mengizinkan Khairina untuk pulang. Sisanya gadis itu hanya perlu datang minggu depan untuk melakukan kontrol jahitan pasca-operasi.
Selama 14 hari dirawat Khairina tidak pernah merasa sebahagia ini. Untuk pertama kalinya selama 13 tahun hidup Khairina merasa benar-benar menjadi manusia yang dianggap layak, disayangi, dan dihargai keberadaannya. Terutama oleh Layla dan Athala. Entah apa hubungan Layla dan Athala, tetapi di mata Khairi keduanya bagai sepasang jiwa yang saling mencintai.
“Gimana rasanya kembali ke rumah?” Layla bertanya dengan penuh rasa penasaran.
Seingatnya Khairina bukanlah anak yang mendapatkan kasih sayang di rumah. Selama dirawat di RS pun kedua orangtuanya hanya menjengkuk sesekali. Kembali ke kehidupan lama pasti akan terasa begitu menyesakkan.
“Sebetulnya saya takut.”
“Takut kenapa?” Athala yang belum mengetahui fakta tentang Khairina melemparkan pertanyaan.
“Saya enggak suka tinggal di rumah. Rumah bukan tempat terakhir yang ingin saya datangi seandainya ada opsi lain.”
Layla yang memahami kondisi Khairina mengusulkan sesuatu. “Kalau begitu mau pergi ke suatu tempat dulu? Hitung-hitung hiburan karena selama 14 hari penuh kamu menghabiskan waktu di kamar rawat.”
“Eh?” Khairina tampak setengah bingung sekaligus setengah senang. “Boleh, Kak?”
“Boleh, dong.” Layla menoleh ke belakang. Tatapannya jatuh pada Harsa. Akhir-akhir ini Harsa terlihat murung. Keponakannya itu juga terkesan menghindar. Entah apa yang terjadi padanya. Hanya saja, Layla merasa bahwa mungkin Harsa jenuh karena kegiatan kuliah. “Kamu ikut juga ya? Kita pergi ke Dufan. Gimana menurut kamu, Athala?”
“Aku ayo aja.”
“Kamu mau Harsa?”
Harsa menatap Layla. Sorot matanya sayu. Berbanding terbalik dengan sorot mata Layla yang menampilkan keceriaan. Melihat itu perasaan Harsa semakin tidak menentu. Layla yang seindah dan secantik ini pernah melalui masalalu yang begitu menyakitkan.
“Aku ikut aja,” balas Harsa sesaat kemudian.
“Okay, let’s go!”
***
“Athala, lihatlah. Lautnya indah.” Di dalam wahana bianglala Layla menunjuk ke arah di mana laut biru Jakarta terbentang dengan luas. Tampak sejumlah kapal yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Kali itu bukan hanya Athala saja yang menoleh ke arah yang dimaksud oleh Layla melainkan juga Harsa dan Khairina. Ketiganya kompak melempar pandang ke arah tempat di mana Pantai Ancol berada.
Tidak hanya pelabuhan, dari ketinggian 30 meter dpl itu pula mereka dapat menyaksikan aktivitas pengunjung dan keramaian yang tersebar di berbagai wahana permainan seperti tornado, kora-kora, halilintar, dan istana boneka.
Athala menanggapi. “Itu tempat yang bersejarah karena tempat tempat itu menjadi pintu masuk utama perdagangan pada masa Kerajaan Sunda dan era penjajahan Belanda.”
“Ternyata air laut kalau dilihat dari ketinggian di siang hari kelihatan berkilau ya.” Khairina kut berkomentar dengan takjub. Untuk pertama kalinya dia menaiki wahana bianglala. “Waktu kecil saya pernah naik gondola di pasar malam. Tapi, enggak setinggi ini dan jarak pandangnya terbatas.”
“Aku juga pernah.” Layla menimpali. “Lihatlah lautnya sepuas hati kamu, Khai. Bayangkan suatu saat nanti kamu melintasi laut yang biru dan berkilau itu meninggalkan negeri ini demi kehidupan yang lebih baik.”
Sisa hari itu berjalan menyenangkan.
“Athala, aku seperti mau terbang!” Layla berteriak penuh euforia ketika wahana kora-kora yang dinaiki olehnya dan Athala bergerak dengan kecepatan yang sedikit lebih kencang.
Rambut Layla yang panjang bahkan berulang kali menampar wajahnya sendiri dan menghalangi pandangan.
“Kamu suka?” tanya Athala dengan suara yang agak keras.
Di sekitar mereka terdapat sekitar 45 orang yang ikut menaiki wahana kora-kora. Setiap orang yang duduk di dalamnya tak hanya diam. Mereka semua mengekspresikan rasa senang dan rasa takut dengan teriakan. Karena itu pula suara di sekitar terasa begitu ramai.
Layla menoleh. Wajahnya tampak bersemu akibat luapan andrenalin yang mengalir di dalam tubuhnya. Sudah lama sekali Layla tidak merasa sebebas ini. “Aku suka. Rasanya aku seperti burung yang bisa terbang melewati laut yang berkilau. Kora-kora ini bentuknya ‘kan seperti kapal yang mengarungi lautan. Aku merasa bebas sekali, Athala!”
Para penumpang kora-kora semakin heboh terlebih ketika ayuhanan wahana berbentuk kapal bajak laut ini mencapai kemiringan 90 derajat. Athala yang tadinya merasa biasa saja kini ikut merasa bersemangat.
Athala meraih satu tangan Layla dan menggenggamnya. Hanya dalam hitungan detik Athala dapat merasakan jari-jemari Layla yang mengisi celah-celah jari Athala.
Telapak tangan Layla siang itu terasa hangat dan lembap karena keringat. Di sampingnya Layla berulang kali berseru mengekspresikan perasaan senangnya. Sesekali Athala mengalihkan pandangan kepada Layla.
Untuk pertama kalinya mereka berdua bisa pergi bersama di tempat umum pada situasi siang hari. Kencan sembunyi-sembunyi yang selama ini mereka lakukan di apartemen atau ketika Jakarta sudah lelap kini berganti.
Untuk pertama kalinya juga Layla merasa seperti pasangan normal.
Layla menampilkan senyum lembut sewaktu memergoki Athala yang mencuri pandang ke arahnya. “Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kamu, Athala. Waktu-waktu yang membahagiakan seperti ini. Juga pada waktu-waktu di mana aku enggak merasa berdaya.”
Di mata Athala pemandangan Layla yang tersenyum, berseru, dan bagaimana sepasang mata indahnya menampilkan kilau kehidupan … semuanya terasa begitu sempurna. Athala seakan mampu melihat cahaya pada iris seterang madu milik Layla. Sosok Layla yang Athala temui hari ini begitu berwarna dan hidup.
"May I give you a cheek kiss?"
Layla tanpa ragu memberikan anggukan. Pada saat itulah Athala mengecup pipinya. Sebuah kecupan yang singkat, tetapi begitu berarti bagi keduanya.
***
Dari kejauhan Khairina melambaikan tangannya ketika dia melihat Layla dan Athala yang melambai ke arahnya.
Karena baru sembuh tentu saja Khairina tidak bisa ikut naik kora-kora. Harsa yang tak keberatan untuk mendampingi ikut berdiri di samping gadis itu. Keduanya kini mengawasi Athala dan Layla yang terlihat bahagia menaiki wahana kora-kora.
“She looks so happy,” kata Khairina sungguh-sungguh.
Setelah mendengar cerita Layla, Khairina jadi membayangkan betapa menderitanya Layla di masalalu. Seandainya cerita itu tidak pernah sampai ke telinganya mungkin Khairina akan menganggap Layla sebagai manusia paling beruntung di muka bumi.
“Begitukah kelihatannya?”
Kahirina menoleh ke tempat di mana Harsa berada. Kalau Layla, Athala, dan Khairina terlihat jelas menikmati liburan ini maka Harsa sebaliknya. Pada banyak kesempatan Harsa akan terlihat gelisah dan murung.
“Iya. Kak Layla banyak tersenyum. Pasti karena dia bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Kak Athala.”
“Menurut kamu Mas Athala itu siapanya Tante?”
“Itu … eh.” Khairina menggaruk keningnya yang sama sekali tidak gatal. “Kekasih?”
“Tapi, Tante saya sudah punya tunangan. Mas Athala mungkin bisa dibilang sebagai kekasih gelapnya.”
Khairina tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut di wajahnya. “Itu … bukan urusan kita.”
“Kamu tau ‘kan kalau Tante saya pernah melahirkan? Jasad bayinya di kubur di pemakaman di mana kamu bekerja.”
Kali ini Khairina bukan hanya terkejut, melainkan juga cemas. Kulit wajahnya berubah pucat seakan dia baru saja ketahuan mencuri. “Kak Harsa sudah tau?”
“Saya mencuri dengar percakapan kalian waktu itu. Saya mau meminta kamu untuk merahasiakan ini dari Ateu Layla. Anggap saja bahwa saya enggak mengetahui kenyataan tersebut.”
“Tapi ….”
Harsa menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan atas protes yang siap diberikan oleh Khairina. “Saya bukan meminta, tapi memerintah. Hanya dengan begini saya bisa mencari tau jejak masalalu Ateu. Saya ingin mengetahui apa yang terjadi pada dia. Kalau Ateu Layla tau, pasti dia akan memohon pada saya untuk menelan rasa penasaran ini. Bisa kamu terima perintah dari saya?”
Khairina menelan ludahnya gugup. Layla merupakan orang yang baik. Apabila malaikat diwujudkan dalam bentuk manusia maka, salah satunya pasti adalah Layla. Mendengar ide Harsa rasanya tak salah.
Oleh karena itu pula Khairina mengangguk setuju.
***
“Khai?”
Khairina terbangun sewaktu merasakan sentuhan lembut di pipinya. Sewaktu membuka mata dia melihat Layla yang sudah membuka pintu di kursi penumpang.
“Bangun yuk? Kita sudah sampai.”
Khairina mengedarkan pandangan untuk mengetahui bahwa mereka telah tiba di mini market tak jauh dari rumahnya berada. Sehubung rumah Khairina berada di dalam gang sempit yang hanya muat dilewati oleh satu motor maka, terpaksa Athala mematkirkan mobilnya di sini.
Khairina bergegas membawa tas berisi pakaian ganti miliknya. Dia juga membawa tas karton berisi makanan yang tadi dibelikan oleh Layla.
“Makasih ya, Kak Layla, Kak Athala, dan Kak Harsa. Hari ini saya bahagia sekali.” Khairina bersiap untuk pamit.
“Aku antar kamu ya. Kalian tunggu aja di sini.”
Layla meraih tas berisi pakaian milik Khairina dan membawanya selama mereka berjalan menuju tempat di mana gadis itu tinggal. Sementara itu, Athala dan Harsa menunggu di depan mini market.
“Set-an ya lo! Anj-ing lo! Dibilang gue belom ada duit. Nanti kalau anak gue udah balik, gue kasih duitnya.”
Langkah Layla dan Khairina berhenti tepat di depan pintu rumahnya yang terbuka. Seorang lelaki yang kemungkinan besar adalah de-bt collector terlihat melindungi dirinya dari hajaran gagang sapu injuk yang dilayangkan oleh seorang wanita.
Aksi pemukulan itu baru berhenti ketika perempuan tersebut melihat Khairina. Dengan langkah beringas dia menghampiri Khairina dan merogoh kantong baju anaknya.
“Lu balik bawa duit kagak sih? Nih orang kaya emang kagak ngasih lu duit?” tanya ibunya dengan kecewa karena tak menemukan selembar pun uang dari kantong baju Khairina. Pandangannya lantas beralih pada tas Khairina yang berada di tangan Layla. Tanpa sopan santun perempuan itu merebut tas tersebut dan mengobrak-abrik isinya.
Terdapat selembar amplop berisi uang yang pernah diberikan oleh Sheila dan Noah.
“Ibu, itu uangku.” Khairina berusaha untuk merebut uangnya kembali.
Hanya saja, sang ibu menepis tangannya. “Duit elu ya, duit gue juga. Pe’a. Lu jadi anak jangan pe’a dah.” Perempuan itu kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya kepada sang de-bt collector. “Udah sana lu balik. Udah gue bayar.”
Layla yang menyaksikan adegan itu dibuat terheran. Bagaimana mungkin ada orangtua yang tega bersikap sekejam ini kepada anaknya sendiri? Layla masih mengingat mendiang ibunya. Meskipun mendiang ibunya hidup di antara garis kemiskinan, akan tetapi sang ibu selalu memastikan Layla serta Sheila kenyang dan aman.
Kini yang berdiri di hadapan Layla tak layak untuk disebut ibu.
“Eh, elu ‘kan udah balik ya. Sekalian bikinin gue emih, dong. Bapak lu entar maleman juga balik. Masak nasi ya buat bapak lu.”
Cukup. Layla tidak tahan hanya diam. Secara mengejutkan Layla meraih amplop berisi sisa uang yang seharusnya menjadi hak milik Khairina.
“Ini adalah uang Khairina. Anda enggak punya hak untuk mengklaimnya sebagai harta bersama,” kata Layla penuh penekanan.
“Eh, gue ibunya. Elu siapa berani larang-larang.”
“Anda sama sekali enggak pantas untuk disebut ibu. Seorang lintah darat bahkan sepertinya lebih memanusiakan Khairina daripada Anda.”
“Eh, se-tan ya lu! Mentang-mentang orang kaya jadi, mulutnya bisa seenaknya ngatain gue.” Perempuan itu mendorong Layla, namun Layla mampu bertahan di posisinya.
“Harusnya orangtua seperti Anda yang mati.” Layla jadi teringat kepada Noah.
Ibunya Khairina mungkin sama kejamnya dengan Noah walaupun cara mereka berbeda.
Mendengar kalimat balasan dari Layla membuat lawan bicaranya mengamuk. Dengan beringas seperti hewan buas perempuan itu menjambak Layla. Khairina sempat berusaha melerai, namun karena tubuhnya belum sepenuhnya sehat tenaga Khairina sia-sia.
Beruntungnya saat itu Athala dan Harsa menyusul.
Tadinya Khairina menduga bahwa Athala yang akan menjadi tameng, tetapi dugaannya salah. Harsa menerjang ibunya Khairina dan mendorong perempuan itu sampai jatuh tersungkur.
Rupanya kebahagiaan dan kesengsaraan memiliki batas yang tipis bagai cermin dua sisi.
[]