“Ateu ….”
Layla yang tertidur di sofa vila merasa terganggu manakala Harsa mengguncang bahunya. Susah payah Layla berusaha melawan rasa kantuk demi membuka mata. Di hadapannya Harsa terlihat menampilkan senyum jahil yang khas. Senyum yang sering Layla jumpai ketika keponakannya baru memasuki usia remaja.
“Ada apa? Kak Sheila udah kembali?” tanya Layla heran. Tadi Gasendra dan Sheila memang pamit untuk membeli kue.
Harsa menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan. Di depan ada Mas Athala.”
Mendengar nama Athala disebut sontak saja membuat Layla langsung mengubah posisi menjadi duduk. Kala itu suasana vila tempat mereka menginap cukup sepi. Sewaktu melirik jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.
Di sofa seberang tampak Khairina yang tidur lelap. Sedangkan,