"Hai!" Sapa gadis itu, dan memilih tempat duduk di sebelah kanan Elisa.
"Hai!" balas Elisa.
"Ternyata kamu juga daftar beasiswa di sini. Masih ingat aku, kan?" tanyanya sambil tersenyum.
Elisa cukup terkejut. Seingat Elisa, gadis itu adalah seseorang dengan kesan yang kuat. Namun ternyata ia ramah juga.
"Iya masih, kok," jawab Elisa juga dengan tersenyum.
"Oh iya, kita belum kenalan ya waktu itu. Meta," kata gadis itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Aura percaya dirinya begitu kuat.
"Elisa." Elisa menjabat tangan Meta.
"Gak nyangka ya, kita bisa ketemu lagi di sini," kata Meta merasa tak percaya. "Katanya cuma ada 3 orang yang bakal lolos program beasiswa ini. Semoga kita berdua termasuk salah satunya ya," harapnya.
"Amin, amin...," jawab Elisa. Mereka berdua saling tersenyum.
Elisa lega karena ia dan Meta tidak harus saling mengalahkan satu sama lain karena ada tiga orang yang memiliki kesempatan sama besarnya untuk bersekolah di SMA Akasia. Entah darimana Meta mengetahui informasi tersebut, tapi hal itu seolah menjadi angin segar bagi Elisa.
Setelah semua peserta hadir dan jam menunjukkan pukul 8.00, seorang pria dan seorang wanita dewasa berbaju batik, yang sepertinya merupakan guru di situ, masuk ke dalam ruangan. Mereka membawa setumpuk kertas di tangan.
Berdiri di depan para siswa, guru perempuan itu menjelaskan sistematika tes hari itu.
"Good morning everyone. Welcome to Akasia High School. Untuk tes hari ini, jam 8.00 - 12.00 kalian akan mengerjakan soal Theory of Knowledge dan soal Essay. Kemudian istirahat, dan akan dilanjutkan dengan Psikotes jam 12.30 - 15.00. Rangkaian tes hari ini akan diakhiri dengan sesi interview singkat dengan guru dan kepala sekolah. Sebelum kami memulai tesnya, mungkin ada yang ingin ditanyakan?" tanyanya menutup penjelasannya.
Karena tidak ada pertanyaan, guru itu pun melanjutkan, "Baiklah kalau sudah jelas, tes akan dimulai dari sekarang ya." Ia dan guru laki-laki di sebelahnya mulai membagikan lembar soal yang sekaligus menjadi satu dengan lembar jawaban.
Suasana di ruangan itu pun berubah menjadi hening. Semua siswa mengerjakan tes yang ada di hadapan mereka masing-masing dengan sangat serius. Hanya terdengar suara detak jam dinding menemani mereka. Tes yang harus mereka lalui memang sangatlah sulit karena hanya siswa yang benar-benar pilihan yang bisa lolos program beasiswa di sana. Bagaimana tidak? Jika ditotal, pihak sekolah menggratiskan biaya sekolah yang ditaksir mencapai lebih dari 120 juta dalam setahun bagi mereka yang lolos. Belum lagi jaminan untuk diterima di perguruan tinggi yang bekerja sama dengan mereka di dalam maupun luar negeri.
Sudah lewat 4 jam, waktu mengerjakan tes pun telah selesai. Mereka mengumpulkan lembar jawaban mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka menunjukkan wajah lelah, mungkin kepala mereka pening.
"Kita makan bareng yuk," ajak Meta tiba-tiba kepada Elisa. Elisa menganggukkan kepala tanda setuju sambil tersenyum, meskipun kepalanya sebenarnya agak pening.
Mereka berjalan menuju kantin mengikuti papan arahan yang mereka lihat, sambil mengobrol.
"Gimana tesnya tadi?" tanya Elisa basa-basi tapi juga sedikit penasaran.
"Hmmh... Lumayan bikin otak panas," jawab Meta disambut tawa mereka.
Mereka berjalan bersama melewati koridor sekolah yang terbuka sambil Elisa tetap mengagumi penampakan sekolah tersebut.
"Kok kamu kayak enggak takjub gitu sih, lihat sekolah segede dan sebagus ini?" tanya Elisa penasaran karena Meta sama sekali tidak menampakkan wajah terkejutnya.
"Aku udah pernah ke sini sebelumnya. Kakak aku juga dapet beasiswa di sini dulu. Aku sering nemenin mama aku ambil raport kakak aku. Kalau sekarang udah nggak kaget, dulunya kaget banget," jawab Meta. Elisa pun tertawa mendengarnya.
"Wah... gen kamu sekeluarga jenius semua ya," puji Elisa.
"Ah enggak juga... lagi beruntung aja," jawabnya merendah. Elisa melihat Meta seolah sedang melihat dirinya sendiri, yang menganggap kepandaian adalah sebuah anugerah dan keberuntungan yang tidak perlu disombongkan.
Mereka pun sampai di kantin, sebuah ruangan yang sangat luas dengan sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca. Terdapat banyak meja dan kursi dalam kondisi yang masih sangat bagus tersusun rapi. Ruangannya sangat bersih dan lantainya pun mengkilap. Belum lagi terdapat banyak stan makanan di sana. Elisa lagi-lagi takjub dibuatnya. Ia memikirkan betapa beruntungnya siswa-siswa yang bersekolah di situ.
Hari itu hanya ada satu stan makanan yang buka khusus melayani para peserta tes. Fasilitas tersebut diberikan secara gratis sebagai bentuk perhatian sekolah kepada para peserta tes yang pastinya membutuhkan asupan tenaga setelah mengerjakan tes. Mereka memilih makanan di stan Indonesian food tersebut dan menuju ke tempat duduk yang mereka pilih di dekat jendela.
"Ini pertama kalinya sih, aku masuk kantin di sini. Jujur lumayan kaget juga. Nggak heran tapi kalau kantinnya segini bagusnya. Anak-anak yang sekolah di sini rata-rata berduit, ada yang kaya banget malah katanya. Ada artis, anak-anak artis juga. Nggak kebayang deh nanti kayak gimana kalau aku keterima." Meta menyelesaikan perkataannya kemudian mulai melahap makanannya.
"Sama, aku juga nggak bisa bayangin gimana kalau aku sekolah di sini. Moga-moga sih kalau kita keterima di sini, semuanya bakal baik-baik aja ya," harap Elisa. "Tapi menurut pengalaman kakak kamu, apa murid beasiswa ada yang berhenti di tengah jalan?" tanyanya mengemukakan kekhawatirannya.
"Mmm... setau aku sih, katanya ada ya, tapi cuma kayak 1 di antara 10 gitu. Katanya ujian terberatnya itu ya di perbedaan gaya hidup aja sih. Jadi ada beberapa yang merasa minder gitu, terus akhirnya nggak punya temen. Cuma ya kuat-kuatin aja sambil terus mikirin cita-cita kita," terang Meta.
"Oh gitu... Oya, emang tujuan kamu ikut beasiswa di sini apa Ta, kalau boleh tau?" tanya Elisa penasaran.
"Aku sih pingin ambil beasiswa Kedokteran di Akasia University. Kakak aku udah duluan ambil beasiswa di Kedokteran Gigi. Kalau kamu?" Meta balik bertanya.
"Aku... pingin ke Cambridge," jawab Elisa malu-malu.
"Wah... Cambridge University ya. Bagus tuh. Apalagi di sini juga pakai kurikulum Cambridge kan? Berdoa aja semoga kita berdua bisa lolos," harap Meta yang sekali lagi diamini oleh Elisa.
Mereka membawa impian dan cita-cita mereka masing-masing untuk dipertaruhkan hari itu, berharap semuanya bisa terwujud meskipun jalannya tidaklah mudah.
Sesi tes hari itu pun dilanjutkan dengan Psikotes dan sesi wawancara singkat bersama beberapa guru dan kepala sekolah. Pihak sekolah menjanjikan hasilnya akan diberitahukan kepada orang tua murid pada tanggal 21 Juni, tepat seminggu lagi. Hati Elisa pasti akan merasa tidak tenang selama seminggu ke depan.
***
Sudah seminggu berlalu. Hari itu tanggal 21 Juni pagi.
Elisa dan ayahnya duduk diam di kursi ruang keluarga sambil memandangi handphone ayahnya yang diletakkan di atas meja, berharap-harap cemas menunggu ada telepon masuk. Mulai jam 7 sampai jam 9 pagi, mereka duduk diam di situ memandangi handphone sambil diselingi dengan menonton TV.
"Wah, Sa. Kalau gini terus, Ayah nggak kerja-kerja nih," kata ayahnya yang kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur.
Tiba-tiba handphone ayahnya itu pun berdering. Ia segera berbalik dan lari menghampirinya. Diambilnya handphone itu dan diterimanya telepon yang masuk.
"Halo," katanya membuka percakapan sambil melihat ke arah Elisa yang menunjukkan ekspresi penasaran dan berharap.
"Halo, selamat pagi. Benar dengan Bapak Dahlan Widagdo?" tanya wanita di seberang telepon.
"Benar, Bu," jawab ayah Elisa dengan semangat. Ia merasakan aura positif dari suara wanita dalam telepon tersebut.
"Perkenalkan nama saya Widya..." Wanita itu seperti belum selesai berbicara.
"Iya, Bu Widya. Bagaimana, Bu?" potong ayah Elisa saking semangatnya.
"Begini Pak... Saya dari Asuransi Jiwa Mentari Pagi. Apakah Bapak punya waktu sebentar untuk saya jelaskan produk terbaru yang kami punya?" tanya wanita itu.
Raut wajah ayah Elisa mendadak berubah menjadi cemberut mengetahui bahwa itu bukanlah panggilan yang dinanti-nantikannya hari itu.
"Waduh, maaf Mbak, saya lagi meeting ini. Nah, ini Bos saya datang. Maaf banget ya, Mbak... Iya Mbak... Makasih banyak ya." Ayah Elisa menutup teleponnya.
"Siapa, Yah?" tanya Elisa penasaran.
"Orang nawarin asuransi. Kirain dari Akasia, Sa," jawab ayahnya sambil cemberut.
Tiba-tiba handphone ayahnya berdering lagi.
"Nah, telepon lagi dia," kata ayahnya merujuk pada wanita yang di telepon tadi. Ia pun mengangkatnya meskipun dengan perasaan enggan.
"Iya, Mbak?" sambut ayahnya dengan nada datar.
"Apakah benar ini dengan Bapak Dahlan Widagdo?" tanya wanita di seberang telepon.
"Ya, Mbak. Mbak, maaf Mbak, saya lagi meeting sekarang," jawab ayah Elisa beralasan.
"Oh, maaf mengganggu, Pak. Mungkin nanti setelah 1 jam, saya telepon lagi ya, Pak. Saya dari SMA Akasia." Mata ayah Elisa langsung membelalak.
"Oh, Bu! Maaf, Bu! Saya pikir telepon dari orang yang mau nawarin produk. Maaf sekali lagi," kata ayahnya dengan agak tergesa-gesa.
Elisa mendekatkan telinganya ke telepon ayahnya.
"Oh iya, tidak apa-apa, Pak." Suara wanita tersebut seperti menahan tawa. "Bapak sedang meeting? Apakah tidak apa-apa saya mengganggu?" tanyanya.
"Begini, Bu... Saya ini meeting-nya... di kedai soto saya, Bu. Hehehe." Ayah Elisa memasang ekspresi wajah yang aneh karena merasa lucu dengan situasi yang sedang dihadapinya.
"Oh begitu... Baik. Begini, Pak Dahlan..." Wajah Elisa dan ayahnya tampak tegang dan harap-harap cemas mendengarkan perkataan di telepon. "Saya ingin mengucapkan selamat Pak, putri Bapak atas nama Elisa Putri berhasil lolos diterima di SMA Akasia melalui program beasiswa." Wanita itu akhirnya mengucapkan kalimat yang sedari tadi ditunggu oleh Elisa dan ayahnya.
"Beneran, Bu?" tanya ayah Elisa tak percaya.
"Benar, Pak. Nanti bisa dicek informasi resminya lewat e-mail. Untuk selanjutnya nanti Bapak dan Elisa harus datang ke sekolah untuk urusan administratif dan pengukuran seragam, serta pemesanan buku-buku," terang wanita tersebut.
"Baik, baik, Bu. Terima kasih," lanjutnya. Ia mendengarkan perkataan wanita itu dengan seksama. "Baik, Bu. Terima kasih banyak sekali lagi, Bu." Ayah Elisa menutup teleponnya. Ia kemudian menatap anaknya yang sedang menunjukkan ekspresi sangat penasaran, menunggu kabar dari ayahnya.
"Selamat anak Ayah keterima!" Ayahnya berseru dengan senang sambil membuka kedua tangannya hendak memeluk Elisa.
"Beneran, Yah?" tanya Elisa yang disambut anggukan ayahnya.
Elisa pun memeluk ayahnya dengan senang dan mereka melompat-lompat kecil kegirangan. Kebahagiaan yang dirasakan Elisa sungguh tak terbendung. Ia merasa seperti habis memenangkan sebuah lotere dan merasa sangat beruntung memperoleh kesempatan langka itu. Tapi... apakah memang dirinya seberuntung itu?