Elisa berlari memasuki kamarnya dan mengambil handphone yang diletakkan di atas meja belajarnya, hendak menghubungi Meta. Dibukanya daftar kontak dan ia mencari huruf M. Tiba-tiba handphone-nya berdering tanda ada telepon masuk.
Kebetulan sekali, ada telepon masuk dari Meta. Elisa yang kaget kemudian buru-buru mengangkatnya.
"Halo," sapa Elisa.
"Halo, Sa. Gimana, udah ada telepon dari Akasia?" Dari nada bicaranya, terdengar Meta sedang bersemangat. Elisa berpikir mungkin itu adalah sebuah pertanda yang baik.
"Udah, Ta. Barusan," jawab Elisa dengan bersemangat. Ekspresi wajahnya tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
"Gimana hasilnya? Eh, tunggu. Kita ucapin bareng-bareng yuk!" Meta mengajak. Elisa mengangguk dengan bersemangat.
"Satu, dua, tiga!" Meta memulai hitungannya.
"Lolos!" Mereka berteriak bersamaan di saluran telepon masing-masing.
Elisa dan Meta sama-sama merasa sangat bahagia karena harapan mereka sama-sama terwujud. Setidaknya mereka memiliki seseorang yang mereka kenal nantinya di sana, terlebih lagi mereka senasib karena sama-sama masuk dari jalur beasiswa. Namun kisah dua orang yang merasa senasib tentu tidak akan selalu sama kedepannya, bukan?
***
Alex, mama, papa, Katrin, Nathan, dan Ericko beserta istrinya, sedang berpose bersama di depan sebuah gedung megah berarsitektur Gotik ala Eropa, Katedral Milano. Tour guide pribadi mereka, Miss Lina, membantu mereka mengabadikan momen itu.
Liburan sekolah kali ini, Alex dan keluarganya berlibur ke Italia. Meskipun terbatas hanya beberapa hari saja karena keluarganya mempunyai banyak pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan lama-lama di Indonesia, mereka selalu menyempatkan waktu untuk berlibur bersama.
Pagi itu pukul 10.00 waktu Italia. Katedral Milano adalah tujuan pertama mereka hari itu. Paginya sebelum berangkat, mereka sudah sarapan kecil di hotel, dan kini saatnya mereka sarapan besar.
"Ini mau makan di mana kita?" tanya papa mereka pada Miss Lina.
"Itu ada deretan restoran dengan view Katedral Pak. Bapak bisa pilih salah satu yang sekiranya Bapak dan keluarga suka," terang Miss Lina sambil menunjuk ke arah sebuah gedung di samping Katedral yang memiliki sederet restoran di rooftop-nya.
"Bolehlah, ayok," ajak papa mereka pada keluarganya itu.
"Bapak prefer restoran fine dining, semi fine dining atau yang casual dining?" tanya Miss Lina sambil mereka berjalan menuju gedung itu, berusaha menemukan rekomendasi yang tepat sesuai selera tamunya.
"Ah, nggak usah fine dining fine dining-an, Mbak. Yang penting kita makan, kenyang," jawab papa mereka santai. Meskipun sedang bercanda, nada bicaranya masih saja terdengar tegas.
Soal makanan mereka tidak pernah ribet. Bagi mereka yang terpenting adalah kebersamaan. Karena kesibukan masing-masing, terkadang sulit sekali bagi mereka untuk menemukan waktu berkumpul dalam formasi satu keluarga yang utuh.
Di belakang papa, mama, dan Miss Lina yang sedang mengobrol, Alex sedang asyik bercanda dengan Nathan dan Katrin sambil melihat-lihat hasil foto di kamera. Karena Nathan dan Katrin masih tinggal serumah dengannya, Alex jadi lebih akrab dengan mereka daripada Ericko yang sudah menikah dan pindah ke rumahnya sendiri.
Miss Lina akhirnya mengarahkan mereka ke sebuah restoran bernama Obica yang terletak di area rooftop. Karena bertema outdoor, tempat duduk di sana sebagian hanya ditutupi oleh payung besar, sebagian ditutupi oleh kanopi kaca, dan sebagian lagi tanpa penutup. Dari semua posisi tempat duduk, terlihat jelas pemandangan Katedral Milano yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari pandangan.
Keluarga Alex memilih tempat duduk yang terbuka karena masih pagi, matahari masih belum terlalu panas dan udara masih sejuk. Liburan mereka saat itu berada di pertengahan bulan Juni, saat musim di Italia sedang beralih dari musim semi ke musim panas.
Para anggota keluarga perempuan sangat bersemangat untuk mengabadikan diri mereka dengan latar pemandangan Katedral. Setelah memilih menu, mereka pun berjalan mendekati pagar kaca rooftop untuk mendapatkan gambar yang lebih bagus. Alex hanya tersenyum melihat kelakuan mama, kakak, dan kakak iparnya tersebut. Ia memakluminya karena jarang-jarang mereka liburan ke luar negeri bersama. Mungkin hanya sekali atau dua kali saja dalam setahun, terlepas dari perjalanan bisnis. Jika mereka memiliki waktu luang bersama biasanya mereka lebih sering menghabiskan waktu liburan di dalam negeri.
Papanya dan Ericko sedang asyik membicarakan masalah bisnis seperti biasanya, sementara Nathan sedang menelepon Direktur Operasionalnya untuk menanyakan keadaan di kantor. Bisnis adalah passion mereka, jadi meski sedang berlibur sekalipun mereka tak akan berhenti memikirkan dan membicarakannya.
Melihat yang lain sedang sibuk, Alex mengambil handphone dari dalam saku celananya. Handphone-nya itu bukan keluaran terbaru dan sudah terdapat beberapa retakan di layarnya. Baginya kalau masih bisa dipakai untuk apa diganti?
Ia menelepon Steven dan Joshua di saat yang bersamaan lewat group video call.
Menghubungkan... Dan tersambung duluan ke Steven. Tampak ia sedang tiduran di atas kasur, tapi terlihat bukan kasurnya sendiri.
"Hei," sapa Alex.
"Hei, Lex. Gimana Itali? Lagi di mana itu?" tanya Steven.
"Sarapan di Milan. Gimana Jepang?" Alex balik bertanya.
"Yah... gini-gini aja. Sekarang lagi di resort punya temennya Papa. Viewnya sumpah bagus banget, Lex. Nih, aku liatin." Steven bangkit dari tempat tidurnya. Di belakangnya tampak sebuah ruangan hotel yang sangat luas dengan nuansa Jepang klasik. Ia berjalan menuju jendela besar kamarnya dan keluar ke balkon. Ia menghadapkan kamera handphone-nya pada pemandangan alam perbukitan dan danau yang ada di depan kamarnya.
"Wuih, gila! Bagus banget! Bakal betah kamu di sana ya," canda Alex. "Jam berapa di sana, Ven?"
"Jam 5 sore, Lex. Seharian tidur di sini enak banget," katanya sambil merebahkan badannya lagi di kasur.
Sementara itu Joshua tak kunjung mengangkat teleponnya dan koneksinya pun terputus.
"Joshua ke mana tuh, kok nggak angkat telpon? Coba telpon lagi, Lex," pinta Steven.
Alex pun menghubungkan...
Dan akhirnya Joshua mengangkat teleponnya. Tampak ia sedang mengenakan topi safari dan berada di atas sebuah mobil Jeep yang sedang berjalan menyusuri jalanan tanah, yang diapit oleh kebun berisi pohon-pohon besar. Hari sepertinya sudah sore di tempatnya berada.
"Hei," sapa Alex.
"Hei, Bro," jawab Joshua sambil layar handphone-nya bergoyang-goyang karena gerakan mobil di jalan tanah yang agak kasar.
"Ke mana aja, kok enggak diangkat tadi?" tanya Steven.
"Hey, look at me! Look at what I'm wearing!" Joshua mengarahkan kameranya ke pakaian yang dikenakannya. Terlihat ia sedang mengenakan kemeja Polo berwarna putih dan topi safari lebar berwarna krem.
"Di Belanda?" canda Steven, karena Joshua bilang beberapa hari yang lalu kalau ia ingin pergi liburan ke Belanda.
"What? Mana ada Belanda panas kayak gini? Nih di kebun di Kalimantan!" Joshua berseru dengan cukup keras karena suaranya tersaingi oleh deru mesin mobil Jeep yang ditumpanginya.
"Loh, di kebun sawit? Kerja lagi?" tanya Alex dengan ekspresi kaget bercampur lucu.
"Yes. As usual.. Demi mama-mama kalian bisa goreng tempe kesukaan kalian, I'll do it with aaaall my heart," canda Joshua diakhiri dengan ekspresi mewek.
Alex dan Steven tertawa terbahak-bahak meskipun sebenarnya mereka kasihan karena sahabatnya itu tidak bisa menikmati liburan sekolah lagi. Liburan sekolah yang lalu, papa Joshua juga mengajaknya ke Kalimantan untuk belajar mengurus lahan kelapa sawit dan melihat proses pengolahan pabrik sawit milik keluarganya di Kalimantan, Sulawesi, dan Riau yang beroperasi di bawah naungan Anugerah Mas Group.
Anugerah Mas Group sudah malang melintang di dunia persawitan Indonesia sejak empat dekade yang lalu. Mereka memiliki ratusan ribu hektar kebun kelapa sawit di berbagai provinsi di Indonesia serta beberapa pabrik pengolahan kelapa sawit yang juga merupakan anak perusahaan dari Anugerah Mas Group. Papa Joshua sebagai generasi kedua memang sangat disiplin dalam mewariskan ilmu bisnis pada anak-anaknya, apalagi Joshua adalah anak sulung. Dorongan itu semakin kuat karena kakeknya, pendiri Anugerah Mas Group, juga mendukung Joshua untuk meneruskan bisnis keluarga yang rencananya akan terus diwariskan turun-temurun. Kakeknya sendiri sekarang sudah berusia 70 tahun dan kesulitan berjalan sehingga semua bisnisnya dipercayakan pada anak-anaknya. Tapi dari semua anaknya, papa Joshua yang bernama Michael Hartanto-lah yang berhasil membuat perusahaan keluarga mereka menjadi jauh lebih maju dan lebih besar seperti sekarang.
Alex tidak bisa menahan diri untuk membagi pemandangan lucu Joshua itu kepada papa dan kakaknya yang juga sudah sangat mengenal keluarga Joshua.
"Pa, liat nih. Joshua liburannya di kebun sawit lagi," kata Alex pada papanya dan Ericko sambil menunjukkan layarnya.
"Eh, halo Om! Kak Erick!" Joshua menyapa mereka.
"Halo, Joshua. Liburan kerja lagi ya?" tanya papa Alex.
"Iya, Om. Maklum, Putra Mahkota," canda Joshua yang disambut tawa papa Alex dan Ericko. Ericko merasakan kelucuan yang lebih lagi karena ia pun juga merasakan hal senasib, menjadi "Putra Mahkota" yang mewarisi bisnis utama papanya.
"Oh ya, Om. Ada salam dari Papa juga," kata Steven tiba-tiba, teringat salam dari papanya untuk papa Alex. Sejenak mereka lupa Steven juga ada di grup itu karena terfokus pada kelucuan Joshua.
"Eh, iya Steven. Nanti kalau udah di Indo ya, main ke rumah," timpal papa Alex.
"Iya, Om," jawab Steven.
Setelah asyik mengobrol selama beberapa menit, Alex pun mengakhiri obrolannya dengan sahabat-sahabatnya itu. Sebagai anak para konglomerat, hal yang tidak biasa bagi orang-orang pada umumnya menjadi hal yang mungkin terasa biasa bagi mereka. Demikian pula hal yang terasa biasa bagi orang-orang pada umumnya bisa jadi merupakan hal yang terasa asing bagi mereka.
Sementara Trio Cassanova menikmati liburan dan posisi mereka sebagai anak konglomerat, di tempat yang jauh di sana Elisa sedang bekerja keras membantu ayahnya menerima pesanan dan menyiapkan pesanan-pesanan soto di kedai. Dunia mereka sangat jauh berbeda, bagaikan Bumi dan Langit yang dipisahkan oleh sebuah ruang kosong. Sepertinya terlihat dekat namun sebenarnya sangatlah jauh...