Rangga gegas meninggalkan ruang depan praktiknya dengan langkah cepat. Sesampainya di parkiran, Rangga masuk ke dalam mobil, melajukannya dengan kecepatan sedang.
Untuk saat ini Rangga belum tahu ke mana ia akan pergi. Pikirannya terus berputar pada wanita yang sudah sangat jauh berbeda. Kenangan beberapa tahun silam tentang kebersamaan indah mereka seketika memudar, digantikan saat malam di mana wanita itu menghancurkan harga dirinya.
''Aku harus mencari tahu siapa pria itu!'' gumam Rangga, jarinya mengetuk setir mobil.
Begitu sampai di tempat tujuan, Rangga turun dari mobil diikuti sambutan dari teras bangunan.
"Hei, lihat siapa yang datang!" sambut Riko. Melihat kehadiran Rangga, ia langsung keluar dari basecamp, tempat biasa mereka berkumpul dulunya.
''Selamat datang dokter Rangga! Aku pikir kamu sudah melupakan tempat ini!'' seru Bastian. Matanya menelisik penampilan Rangga yang memang sudah sangat jauh berbeda.
"Wah, Rangga kita sudah sukses sekarang! Dokter ternama!" bangga Bagas.
Rangga melewati teman-temannya begitu saja tanpa mempedulikan sambutan itu. Rangga duduk di kursi tunggal, di susul ke tiga teman-temannya. Mereka satu sekolah dulunya. Namun hanya Rangga yang sukses tanpa bantuan keluarga karena Rangga bukanlah dari kalangan anak orang kaya.
''Bagaimana kalau nanti malam kita pesta?" Rangga membuka suara.
''Wah, ide bagus, tuh! Udah lama juga kita gak adain pesta, iya, kan, guys? Sekarang Rangga kan udah kaya, bolehlah traktirin kita kita minum,'' sambut Riko begitu antusias.
''Kalian boleh minum sepuasnya. Tapi aku punya syarat,'' ujar Rangga. Menatap Riko, Bagas dan Bastian.
''Gua tau syarat lo. Wanita, 'kan?" tebak Riko, menarik sebelah alis. Apalagi coba yang dibutuhkan untuk menemani malam. Lagian, pergaulan Rangga pasti sudah jauh berbeda di luar negeri sana. Semua tahu itu.
Ya, Rangga hanyalah seorang anak pembantu yang mendapatkan perhatian dari majikan yang merupakan orang lumayan kaya di kota itu.
Rangga mengangguk membenarkan. "Tepat sekali,'' sahut Rangga.
''Gampang, kalau masalah itu. Kamu tinggal bilang siapa. Sarah? Choel? Atau Tina? Asal kamu tahu aja, Ga, itu perempuan makin cantik aja sekarang. Yakin gak bakal nyesel kamu sama mereka,'' papar Bastian, menarik sebelah alisnya, melirik Riko dan Bagas.
Ketiga wanita itu juga teman semasa SMA dulunya. Rangga sangat tau seperti apa ketiganya, berasal dari keluarga terpandang tentunya sangat cantik.
''Kata aku, mending kamu pilih Choel, deh, Ga. Itu cewek jelas tergila-gila sejak SMA dulu. Kamu ingat gimana Choel tantrum saat kamu pergi ke luar negeri?'' papar Riko. Mengingatkan bagaimana Choel dalam menarik perhatian Rangga. Akan tetapi Rangga terlalu mengagumi Rindu yang memang tak kalah cantik dan lebih menonjol, Rindu gadis pintar berprestasi.
''Kalau Choel tahu kamu udah balik, dia pasti senang, Ga,'' timpal Bagas.
''Yakin, itu perempuan bakal tunduk di kaki kamu malam ini. Secara cinta lamanya sudah kembali,'' imbuh Bagas menimpali. Ketiganya terbahak bersamaan.
Rangga menyeringai tipis, menatap satu persatu temannya.
''Aku gak butuh mereka. Kalau mau, kalian boleh ambil.''
''Oh, ternyata seleramu udah berubah ya, Ga? oke, kamu mau yang seperti apa, nanti malam aku bawa kemari,'' kata Bastian.
''Rindu. Nanti malam bawa Rindu kemari. Undang dia.''
Bagas dan Bastian saling pandang.
''Apa? Kami gak salah dengar, Ga?'' Ekspresi Riko berubah serius. ''Perempuan itu, 'kan-''
''Aku mau dia ikut acara kita. Bawa Rindu kehadapanku, malam ini!'' Rangga kekeuh dengan keinginannya, membuat ketiga temannya menghela napas, dan terpaksa setuju.
Setelahnya, Rangga langsung berdiri, melangkah pergi meninggalkan Riko, Bastian dan Bagas yang terdiam. dengan pikirannya masing-masing.
''Heran, si Rangga bisa-bisanya kecintaan sama itu perempuan, padahal kan udah bertahun lamanya. Apa dia gak tau tentang Rindu?'' ujar Bastian, menatap serius Bagas dan Riko.
''Kayaknya itu dokter gak tahu, deh, Bas,'' sahut Bagas, yang dijawab anggukan kepala Riko.
Saat ini hanya mereka bertiga di ruangan itu. Sementara Rangga sudah terlebih dahulu pulang setelah menyampaikan permintaannya.
''Trus, gimana?'' Bastian pun kembali bertanya.
''Ya udahlah, ngapain juga dipikirin. Kita bawa aja sesuai keinginan Rangga. Lagian itu perempuan juga udah gak cantik kayak dulu. Mana mau Rangga lihat muka kucelnya. Kalian tau sendiri kan, Rangga sekarang siapa?'' papar Bagas, seraya berjalan terlebih dahulu keluar dari ruangan itu.
Bastian dan Riko mengangkat kedua bahu, pikirnya, terserahlah apa maunya Rangga. Yang pastinya, malam ini semua akan berpesta menyambut kepulangan Rangga dari luar negeri.
Setelah sekian tahun meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuntut ilmu ke luar negeri sesuai impian hati, malam ini untuk pertama kalinya Rangga berkumpul lagi bersama keluarga serta teman-teman semasa SMA-nya dulu. Begitu banyak kenangan yang tertinggal.
Dan malam ini juga, untuk pertama kalinya Rangga bertemu Rindu, setelah kejadian di rumah sakit tadi siang.
***
Malam ini, suasana semarak begitu kental terasa di tempat mereka berkumpul. Di kursi tunggal, Rangga sudah hadir setengah jam tadi. Ia duduk dengan tenang sambil memegangi gelas berisikan minuman.
Bukan hanya Rangga di sana. Sarah, Tina, dan Choel juga sudah hadir, menikmati alunan musik sembari sesekali berjoget. Tawa riang ketiga wanita terdengar riuh.
Choel menoleh ke arah Rangga. Tersenyum lebar lalu melangkah pelan mendekat.
''Rangga, gabung, yuk,'' ajak Choel, mengulurkan tangan.
''Duluan saja. Aku masih menunggu seseorang,'' tolak Rangga. Tidak sedikitpun menatap Choel yang berdiri dihadapannya.
Namun Choel tidak memperdulikan ucapan Rangga. Dengan santai Choel duduk di kursi yang sebelumnya ditarik lebih dekat hingga lengan mereka menempel. Choel menatap Rangga dengan bibir tersenyum manis.
''Kamu nunggu siapa lagi sih, Ga?'' tanya Choel, penasaran. Sejatinya memang tidak tahu akan kehadiran Rindu di acara itu.
Rangga tidak menyahut, memilih diam membisu. Netranya menatap ke arah pintu, sementara tangannya memutar gelasnya perlahan.
Choel tidak menyerah, perlahan jemarinya menyentuh bisep kokoh Rangga. Pria ini memang sudah mencuri pandangannya sejak dulu. Tapi semua itu terhalang akan bayangan Rindu yang tidak tahu malu. Choel menggigit bibir. Begitu terbentuk meski dari balut kemeja.
''Choel, kamu cocok banget di samping Rangga, tau. Buruan resmiin, dong!'' kata sarah, menyenggol Tina di sampingnya yang langsung berhenti bergoyang.
''Iya, Choel. Nggak nyangka banget jodoh padahal lama gak ketemu,'' sahut Tina, turut mengompori.
Mendapati dukungan kedua temannya, tentu Choel semakin merasa senang. Dengan beraninya menyenderkan kepala di lengan Rangga, seolah mengklaim kepemilikannya pada pria disampingnya.
Sorot mata Rangga tajam melirik Choel yang masih mengelendot manja seperti anak kucing disampingnya. Padahal Rangga tidak menunjukkan rasa tertariknya, tapi memang Choel tidak tahu malu seolah tidak mengerti apapun.
''Rangga, kangen,'' bisik Choel, sengaja menciptakan desahan nakal yang dibuat-buat.
''Lebih baik jaga batasanmu, Choel!''