BAB 3
MISTERI HILANGNYA NOVIAN DAN BATARA KALA
Kepergian Novian meninggalkan luka dan penyesalan untuk Jedar. Namun, itu adalah awal dari petaka yang akan dikirimkan Novian kepada sang mantan kekasih. Rasa sakit hati dikhianati. Membuat cinta yang dahulu berbunga mekar, seperti taman yang dihiasi bunga-bunga cantik yang selalu dijaga dan dirawat oleh Novian. Seketika, berubah menjadi api kebencian dan dendam. Prasangka Novian yang mengira bahwa Jedar lah yang mengkhiantinya itulah sebab awal ia mengirimkan kutukan “Perempuan bahulaweyan.” Perempuan yang selalu mengalami nasib buruk setelah menikah dan akan selalu disalahkan karena membawa kesialan dan petaka buruk bagi sang suami.
Sementara itu, di dalam lembah terlarang, jauh di kedalaman hutan kalimantan. Novian bertemu dengan seorang guru bernama Sang Lana dari Sang Lana lah ia menguasai semua ilmu persilatan tingkat tinggi. Di kemudian hari, Novian membunuh Sang Lana dan mempelajari ilmu terakhir, yaitu ajian pancasona dan ajian kelut hitam serta mencuri mustika mahaputra dari sang lana.
Misteri bola api jam 12 malam
Sepeninggal Bono dan menghilangnya Novian. Jedar terus bermimpi buruk. Di dalam mimpinya, ia selalu melihat seorang nenek tua, sepasang anak dan seorang pengendara kuda hitam berkepala dua namun sang pengendara kuda justru tidak memiliki kepala. Kutukan Novian memang benar-benar menimpa dirinya dan membuat hidup Jedar menjadi tidak biasa. Ibu Jedar yang gila harta dan selalu mencarikannya pria kaya raya, akhirnya sakit-sakitan dan meninggal dunia. Satu per satu orang terdekat Jedar pun mengalami hal yang sama. Para lelaki yang jahat maupun baik yang menikahi Jedar akan tewas sesuai sifat dan kelakuan mereka. Hingga akhirnya, Jedar bertemu dengan seorang pria baik dan seorang saudagar kaya raya bernama Fandi. Jedar dan Fandi pun menikah, meski dalam hati Jedar ada kekhawatiran bahwa suaminya akan bernasib sama seperti pernikahannya sebelumnya. Pernikahan mereka bertahan hingga lima tahun dan dikarunia seorang anak laki-laki bernama Suryo. Di tahun ketiga, Fandi mulai jatuh sakit-sakitan sama seperti suami Jedar terdahulu dan akhirnya meninggal. Sebelum meninggal, sama seperti suami Jedar lainnya. Setiap malam bola api berwarna ungu selalu terbang mengitari seluruh desa hingga sebelum subuh dan baru menghilang pukul 6 pagi.
Batarakala
Dahulu, dalam mitos pewayangan batarakala adalah sosok pembawa masalah. Sosoknya yang selalu membawa petaka dan penyakit, menjadi pertanda kematian bagi siapa saja yang di datanginya. Kutukan petaka Batarakala, mendatangkan kematian bagi siapa saja yang menemuinya.
Perjalanan Novian mengambil Batarakala yang tersimpan di pengunungan fak-fak untuk melepas batarakala menempuh perjalanan penuh bahaya dan menantang maut. Konon, batarakala di segel dengan ritual khusus oleh sembilan puluh sembilan sekte yang memiliki ilmu tingkat tinggi di atas rata-rata. Di segel dengan sembilan puluh sembilan segel hanya satu jiwa dari sembilan puluh sembilan tetua sekte yang mampu melepas Batarakala. Sementara itu, ajian pancasona dan mustika mahaputra serta pedang angin. Masing-masing di sebar di delapan mata angin dan di segel di dalam barang-barang keramat dan di dalam tubuh sembilan anak terpilih untuk mengambilnya Novian harus menghabiskan waktunya untuk mencari kesembilan anak itu. Seluruh kesaktian para pendekar di tanah jawa, hampir seluruhnya di dapatkan. Namun, di antara mereka memiliki ilmu pelebur jiwa tingkat tinggi. Sehingga, mereka telah memilih untuk menghilangkan raga dan jasadnya agar tidak ditemukan dan di peralat oleh Novian. Dari hari ke hari, kesaktian Novian meningkat seluruh ilmu dari para pendekar di seluruh tanah jawa telah ia miliki. Tidak ada yang akan menandingi kesaktiannya.
Namun, kelak Novian akan bertemu dengan seorang pemuda bernama Mahaputra yang memiliki kesaktian tingkat tinggi bahkan melebihi tingkat kesaktian Novian. Pertarungan kolosal antara energi baik dan jahat pun terjadi selama 40 hari, 40 malam. Saat itu, seluruh desa di pesisir laut jawa akan dilanda kecemasan, awan cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap, laut mengamuk. Badai ganas yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya, pusaran-pusaran air dari dalam laut dan topan raksasa yang terus berputar di tengah lautan mengeluarkan macam-macam warna aura mustika, bau anyir darah terus tercium mendatangkan wabah penyakit bagi penduduk, sebagian desa yang tadinya adalah desa terpadat dengan kehidupan bahagia. Berubah menjadi desa mati yang ditinggalkan, hanya ada kumpulan mayat yang berserakan di jalan. Mayat dari para penduduk yang menghirup udara beracun yang dihasilkan pecahan-pecahan batu gaib yang saling mengesek di udara, menghasilkan racun dan bertiup hingga pemukiman warga.
“Akan ku lebur jasadmu bersama lautan. Bersiaplah, Novian!” Pertarungan di antara Novian dan Ki Siti Jenar di laut selatan membuat gemuruh di langit, suasana riuh dan kacau. Baik Novian dengan sang guru, masing-masing mengeluarkan ilmu kanurangan yang dimiilikinya.
“Hahaha coba saja, Pak tua! Kau tidak akan mampu meleburku walau kau gunakan ajian welasti bumi untuk menanamku di dasar laut ini.”
Novian memang ilmu tingkat tinggi apalagi ia memiliki ilmu pancasona yang tidak akan mampu menghancurkan tubuhnya walaupun dengan pedang langit. Sebuah ilmu yang menjadi rebutan seluruh pendekar dan penyihir di seluruh dunia.
Perburuan ilmu
Suatu hari, terjadi peperangan sengit antara kerajaan Majapahit dan kerajaan Kediri. Duel maut para jawara, pendekar di antara dua kerajaan demi mempertahankan kedaulatan negaranya, berlangsung sangat kolosal. Seluruh daerah di dua kerajaan itu tertutupi awan hitam dan hanya ada suara gemuruh di langit dan banjir darah dimana-mana. Peperangan itu dipicu oleh perebutan wilayah kerajaan Kediri, konon terdapat mustika raja ular di dalam sebuah gua di atas gunung kelud arah utara. Dalam peperangan itulah banyak nyawa melayang. Sumpah resi yang bertuah mengelapkan awan di kediri. Peperangan tiada henti demi menjaga wilayah dan seluruh isinya, termasuk gerbang-gerbang gaib yang dapat menembus ke tempat mustika itu berada. Karena memiliki kesaktian tingkat tinggi, Novian berhasil menembus gerbang gaib pertama dengan mudahnya. Namun, di tengah jalan dua jin penjaga wilayah yang dibangkitkan oleh Resi Kediri harus dihadapi Novian, kedua jin sakti berilmu tinggi itu bernama Bendo rekso dan bendo resi. Sadar bahwa kedua jin itu sulit untuk dikalahkan. Novian mengatur siasat agar kesaktian yang dimiliki keduanya, mampu ia miliki dan ilmu kanurangannya pun meningkat. Kedua kekuatan jin tersebut disadari oleh Novian mampu menjadi penopang ajian pancasona yang ia miliki.
Ilmu pancasona tidak akan menghancurkan tubuh dan raga pemakainya. Ilmu itu disebut-sebut adalah ilmu ke-9 dari sembilan sena ilmu tingkat tinggi. Di kemudian hari, seratus tahun kemudian seorang dari sulawesi bernama Mahesa akan mempelajari kembali dasar dari ilmu pancasona. Pemiliknya tidak akan merasakan mati, meskipun memakai kesaktian tingkat tinggi. Pertarungan gelap dunia persilatan membuat pancaran radiasi ajian pancasona meledak dan partikelnya tersebar ke seluruh tanah jawa bahkan dunia.
“Matilah kau Mahaputra! Akan kulebur kau dengan ajian raga puspo.”