“Ajian ini. Kuberi nama ajian raga puspo.” ujar Ki Seno Boyo saat duduk di antara para muridnya, selepas latihan menjelang maghrib dan selepas Isya, Ki Seno Boyo selalu mengumpulkan murid-muridnya untuk mendengar tembangnya, tembang itu bukan sembarang lagu. Melainkan membuat siapa saja yang memiliki kesaktian bisa meningkat kesaktiannya atau malah berakhir dengan kematian. Selain itu, lesehan tersebut sering digunakan untuk mempresantasekan ilmu baru.
“Apa kalian tau. Apa kelebihan dari ilmu ini?”
“Apa, Ki.” jawab Prayoga. Murid junior Ki Seno Boyo itu masih sangat muda, wajar saja bila rasa keingintahuannya tinggi.
“Ilmu ini bisa membuat jasad dan raga pemiliknya tidak akan hancur. Meskipun, diserang dengan ilmu tingkat tinggi.”
Seluruh murid yang mendengarkan dan menyaksikan sendiri ilmu itu berdecak kagum akan kehebatan ilmu ciptaan guru mereka itu. Ki Seno Boyo memang seorang pendekar sakti yang dijuluki 99 pendekar terkuat di tanah jawa. Suatu hari Ki Seno Boyo, melakukan perjalanan petilasan untuk mengambil ajian tapa bunga teratai. Saat di dalam perjalanan menuju lembah kematian, Ki Seno Boyo bertemu dengan seorang pengembara yang sedang terluka parah dari percakapan mereka. Diketahui pemuda itu, bernama Mahaputra dan berasal dari tanah sulawesi. Kedatangan pemuda itu untuk memperdalam ilmu kanurangan atas saran gurunya bernama Bopo Gawu. Ki Seno Boyo pun memutuskan merawat pemuda itu sampai ia sembuh.
“Pekenalkan Pak, nama saya Mahaputra.”
“Kisanak ini darimana? Dan mau apa kesini?”
“Saya, dari pulau sulawesi. Saya disuruh oleh guru saya untuk mencari seseorang bernama Ki Seno Boyo.”
“Siapa nama gurumu?”
“Bopo Gawu, Pak.”
Bopo Gawu adalah sahabat baik sekaligus guru Ki Seno Boyo. Sehingga Ki Seno Boyo sudah tahu bahwa Mahaputra pasti memiliki kesaktian yang tidak dimiliki oleh sembarangan orang. Apalagi, penampilannya meski ia sedang dalam penyamaran tetap saja kelihatan ia adalah seorang bangsawan. Akan tetapi, Ki Seno Boyo tetap menaruh rasa curiga kepada Mahaputra. Mengapa Mahaputra menyamar. Apakah ia seorang pelarian.
Ki Seno Boyo penasaran dengan sosok bangsawan seperti Mahaputra. Tidak mungkin Bopo Gawu mengangkat murid sembarangan apalagi sampai ia mengutus orang itu untuk berguru kepadanya. Pelan-pelan, Ki Seno Boyo melempar pertanyaan kepada Mahaputra agar bisa mengetahui sosok Mahaputra lebih jauh lagi.
“Kisanak tampaknya seorang bangsawan?”
“Ah. Bukan, Pak saya cuman seorang kuli yang diutus majikan saya untuk berdagang di daerah demak, Pak.”
“Lantas. Kenapa kisanak babak belur?”
“Kemarin sore, di jalan saya bertemu dengan kawanan perompak. Daripada takut mereka mencelakakan saya nanti, jadi saya kasih semua harta saya.”
***
Mahaputra adalah seorang pemuda cerdas dan gagah. Ia cepat beradaptasi pada Ilmu baru yang diajarkan oleh Bopo Gawu, sebagai seorang putra mahkota ia memiliki tugas yang berat melindungi negeri, kerajaan dan rakyatnya.
***
Kisanak. Karena kau tampaknya orang yang jujur. Maka akan kuperlihatkan bahkan akupun bersedia mengajarimu salah satu dari sembilan jurus terlatih tingkat tinggi. Butuh lima puluh tahun untuk aku mempelajarinya dan 25 tahun sisanya saat ini untuk aku menguasai ilmu ini. Ilmu ini adalah ilmu yang tak akan membuat mati penggunanya. Aku akan mengajarkannya padamu sekarang.
Maka, sejak saat itulah Mahaputra menjadi murid Ki Seno Boyo. Akan tetapi, pertemuannya dengan putri kerajaan selatan bernama Nyi Sekar membuat ia menjadi kehilangan akal sehat. Ambisinya menjadi penguasa yang tak terkalahkan membuat kebaikan di dalam hatinya sirna berubah menjadi keangkuhan dan kesombongan. Apalagi sejak naik tahta sifatnya berubah. Hal yang disesali Ki Seno Boyo hingga kematiannya. Namun, takdir akan segera berubah menjadi malapetaka bagi Mahaputra, dendam Nyi Sukma dan kemampuan sihir tingkat tinggi.atau celah-celah kayu yang masih ada air hujan di dalamnya. Kemudian Ki Seno Boyo mencari sebuah batu besar dan sholat di atasnya, selesai salam ia duduk bersila dan menarik energi tenaga dalam, “Assalamualaikum.”
“Guru! Mengapa guru memberi salam padaku?” tanya heran Mahaputra. Sementara itu Ki Seno Boyo terus merapal ajian dan setelah selesai, barulah ia menjawab pertanyaan konyol muridnya itu.
“Hai anak muda. Tadi itu raja siluman ular beserta bala tentaranya sedang lewat. Mereka akan di kerajaan seberang. Namun, dalam penglihatanku aku hening seketika tatkala melihat mereka akan terbunuh semuanya.”
***
“Mengapa mereka mati, guru?”
“Nanti kau akan tau sendiri.” balas Ki Seno Boyo. Setelah itu Ki Seno Boyo dan Mahaputra pun melanjutkan perjalanannya. Sore hari, mereka akhirnya melihat sebuah perkampungan penduduk.
Ki Seno Boyo dan Mahaputra memutuskan untuk turun dan beristirahat di kampung itu.
Suasana kampung itu begitu lenggang. Hanya pasar saja yang terlihat ramai, namun di jalan suasana tampak sepi. Hanya beberapa warga saja yang terlihat beraktivitas di jalan. Sepanjang jalan, Mahaputra terus memasang sorot matanya dengan tajam, semua indra perasanya mulai di pertajamnya. Keadaan desa yang mencurigakan dan terlihat aneh. Membuat Mahaputra selalu mewaspadai setiap pergerakan yang tidak biasa di desa itu. Namun, tidak seperti Mahaputra, Ki Seno Boyo justru terlihat tanpak tenang.
“Tenang saja anak muda. Ini belum dimulai, di depan ada musuh. Siluman buto ijo, siluman itu yang menguasai desa ini dan gemar menyantap hewan ternak dan manusia. Makanyam, para penduduk tidak terlihat malam hari. Malam ini kita akan bersenang-senang dengannya, dia butuh kita dan aku butuh kristal jiwanya.”
“Maksudnya guru?”
***
Perlahan fajar tenggelam di peraduannya, berganti dengan sinar rembulan. Angin mulai bertiup kencang, bagi yang memiliki kesaktian tingkat tinggi akan mencium bau anyir darah pada maghrib sebelum kedatangan buto ijo.
“Hai anak muda. Siapa namamu lagi?”
“Mahaputra.”
“Sepertinya kau memiliki ilmu tinggi Mahaputra. Kau akan maju duluan, bersiaplah aku akan melindungimu. Aku akan melakukan transfer ilmu jika dia mulai menyerang.”