BAB 5
KEKACAUAN DI ISTANA LAIKA AHA
“Tidak datuk. Saya tidak akan menikahi gadis itu karena urusan politik.”
“Halah. Apapun yang terjadi, kau harus menikah dengan Putri Raden Kencana”
“Maaf ayahanda, tapi kali ini nanda harus kembali melaut. Nanti saja nanda jawab apa keputusan nanda. Toh datuk Amran sudah nanda anggap sebagai paman dan putri-putrinya seperti Putri Raden Kencana sudah nanda anggap seperti adik sendiri,” jawab tegas Mahaputra sebelum ia pergi menemui gurunya Bopo Gawu.
***
“Sudahlah Yang Mulia Pangeran. Kau tidak usah terlalu sering melawan ayahmu, nanti yang mulia dikutuk jadi batu kali, begini saja yang mulia berlayarlah ke selatan pulau jawa dan cari Ki Seno Boyo. Mintakan padanya ramuan tahan lama.” Kelakar Bopo Gawu kepada Mahaputra.
“Baiklah guru. Besok aku akan ke jawa, doakan aku.”
“Iya. Hati-hati, jangan ku suruh berguru, malah engkau kawin dengan wanita disana.”
***
Keputusan Mahaputra sudah bulat. Tekadnya pun sudah kuat untuk berguru ke Ki Seno Boyo. Beruntung ia menemukan sosok guru seperti Bopo Gawu yang selalu mendukung dan membelanya.
Pagi itu, suasana kantor raja ribut. Terjadi kegaduhan antara raja, para menteri dan pembesar istana. Hal ini, sudah ditebak oleh Mahaputra dan gurunya. Atas nasehat dan saran gurunya ia pun berani untuk menghadap ayahnya. Situasi memang sangat genting, apalagi semalam di kamar permaisuri ada yang mengirim doti (santet) untuk mencelakai ratu.
“Berhenti Mahaputra!!! Kalau kau tidak menikah. Maka jangan kembali lagi.
“Maaf yang mulia. Jika hamba diizinkan membela pangeran, ini semua sebenarnya salah Anda yang berhutang terlalu banyak dan yang mulia rela melacurkan diri dan keluarga demi pangkat dan jabatan.”
***
“Maaf yang mulia. Jika hamba diizinkan membela pangeran, ini semua sebenarnya salah Anda yang berhutang terlalu banyak dan yang mulia rela melacurkan diri dan keluarga demi pangkat dan jabatan.”
Dahulu Mahaputra adalah sosok putra mahkota yang dibanggakan oleh gurunya Bopo Gawu. Namun, kebijaksaan dan kebaikan Mahaputra sirna sekejap ketika ia terkena pelet Nyi Sukma. Mahaputra yang sedang kasmaran karena kecantikan Nyi Sukma mulai digelapkan matanya oleh harta, tahta dan wanita. Perebutan kekuasan di kerajaan berakhir dengan menumpahkan darah saudara kandung sendiri. Karena di gelapkan matanya oleh kekuasaan dan keinginan untuk memiliki Nyi Sukma. Mahaputra yang memiliki ilmu “kabala” luar biasa sakti mantra guna. Sehingga mulus saja baginya untuk naik tahta dengan cepat. Di awal-awal pemerintahannya, ia tampak begitu bijaksana dan berwibawa. Namun, semuanya menjadi bencana ketika ia mulai berubah menjadi haus akan kekuasaan