BAB 6
PART 6
Pagi itu, rumah yang seharusnya masih diliputi kebahagiaan berubah menjadi duka bercampur rasa ngeri. Tubuh Pak Bono tiba-tiba saja berubah menjadi lebam hitam, mulutnya mengeluarkan busa, dan bau tubuhnya pun busuk. Bahkan, setelah dimandikan keadaannya masih tragis. Gosip-gosip pun mulai bertebaran di luar. Kemudian aku mendengar ibu mulai berbisik ke bapak.
“Pak. Cepat kita beritahu warga, suruh mereka segera memakamkan mayat si Bono,” bisik ibu di telinga bapak.
“Lalu. Bagaimana jika ada orang yang bertanya mengapa jenazah si Bono tidak di-sholatkan terlebih dahulu!?”
“Alah! Sudah … nggak usah di-sholatkan. Toh, si Bono semasa hidupnya memang nggak pernah sholat biar aja dia semakin menderita di neraka,” lanjut ibuku.
***
“Assalamualaikum,” ucap seorang pria dengan penampilan juba putih dan sorban. Dia adalah Kyai Ahmad Sufyan. Seorang kyai sepuh yang sangat dihormati di desa ini.
Semua orang se-ketika bertanya-tanya dan saling memandang satu sama lain. Mengapa Kyai sepuh sekelas kyai Sufyan membuang muka pada almarhum Bono dengan rasa ngeri.
***
“Ada apa Pak Kyai?”
“Ini bukan kematian biasa. Bono telah dibunuh oleh Bedo Rekso.”
“Bedo Rekso? Siapa dia Pak Kyai, biar kami yang membereskannya!”
“Jaga ucapan kalian! Bedo rekso adalah raksasa jin gunung merapi. Tidak sembarang orang yang bisa membuatnya tunduk akan perintah pemiliknya. Hanya orang berilmu tinggilah yang mampu mengendalikan jin itu.”
Seketika, semua mata saling bertatapan. Siapa pembunuh Bono? Orang saktikah?
***
“Pasti Novian! Novianlah yang telah membunuh bos kami. Novian sempat kami pergoki sedang bersemedi di tapak talas. Hanya dia, warga yang tidak muncul di tempat ini.”
***
“Jaga mulut kalian! Anakku sedang merantau demi se-suap nasi untuk kami. Novian tidak sebejat kalian yang menghalalkan segala cara untuk merebut keinginannya.”
“Apa kamu bilang. Wanita lancang?!!!”
“Hentikan! Kalau kalian berani pada Darsiyem. Urusan kalian denganku.” hardik kyai Sofyan ke beberapa anak buah dan keluarga Bono.
***
“Bukti apa yang kalian miliki? Jika pun benar. Biar kalian membayar dukun terhebat. Tetap kalian tidak akan sanggup mengalahkan ilmu yang dimiliki si Novian.”
“Tunggu saja kyai tua. Urusan kita belum selesai, kau akan habis di tangan kami.”
“Baik. Saya akan menunggu kalian semua.”
Malam itu, langit berawan. Membayangi bulan purnama yang bersinar terang, longlongan anjing yang tak biasanya semakin membuat Kyai Sufyan semakin mempersiapkan pertahanannya.