BAB 7 :
PERLAWANAN RAJA JIN DAN TAPA RAGA SUKMO
PART 7
Sore hari Kyai Sofyan mulai mengingatkan warga untuk mengunci pintu rumah dan jendela serta terus berdzikir atau membaca al-quran karena hanya kepada Allah lah para penduduk berharap dilindung dari para jin durjana yang akan datang lagi malam ini ke desa mereka. Kyai Sofyan juga berpesan kepada para santrinya untuk melindungi masyarakat. Kyai Sofyan lalu menunjuk santri seniornya bernama Bayu Aji dan Joko untuk menjaga pesantren miliknya
Malam hari pun tiba, angin malam yang berhembus tenang tiba-tiba menjadi riuh. Bau anyir pun tercium dan suara gelak tawa Buto Ijo.
“Siapa namamu hai anak muda?”
“Mahaputra, tapi bapak bisa memanggil saya Putra.”
Di masa lalu, sosok Mahaputra lah yang menyebabkan sebuah kutukan di tanah jawa dan lima ratus lamanya. Sosok Mahaputra terlahir kembali sama seperti lima ratus tahun lalu. Namun, dalam buku takdir Mahaputra akan memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Sebuah takdir, akan mempertemukan Buto Ijo (sang raja jin) dengan sang tuan yang sebenarnya telah meninggal tiga ratus tahun yang lalu. Namun, dengan kesaktiannya ia diyakini belum pernah mati selama lima ratus tahun.
***
“Bhahahaha … kau lagi Sofyan. Belum jera juga kau?” buto ijo terus menatap ke arah Mahaputra bukan karena keinginannya untuk memakan anak muda itu. Namun, ia teringat dengan sang tuan yang lima ratus tahun lalu sudah menyelamatkannya dari kematian dan memberinya kesaktian yang luar biasa.
“Ha. Bersiaplah, Gunde Bara! Akan ku musnahkan kau.”
Baik Kyai Sofyan maupun raja jin melakukan perlawanan sengit. Sesaat Gunde Bara memohon ampun. Namun, dengan cepat keadaan berubah. Kyai Sofyan, kyai berusia 80 tahun itu meninggal di tangan buto ijo. Tubuhnya dijadikan santapan, dengan rasa penuh bahagia oleh sang buto ijo.
“Hei anak muda! Tadinya aku ingin memakanmu. Namun, kelihatannya kau bukan orang sembarangan. Aku akan menjadikanmu pelayanku saja.”
Singkat cerita, Mahaputra pun menghilang mengikuti Gunde Bara.