Setelah pertemuan panas di kantin, Anya merasa semakin jengkel dengan kehadiran Bima. Hari-hari di kampus terasa seperti medan perang, dengan setiap pertemuan mereka berujung pada adu mulut.
Suatu sore, Anya duduk bersama Audrey di taman kampus. Mereka sedang membahas tugas kuliah, tapi pikiran Anya terus teralihkan oleh Bima.
"Gue nggak ngerti lagi deh, Drey. Kenapa sih gue harus terus-terusan bentrok sama Bima?" keluh Anya sambil memainkan ujung buku catatannya.
Audrey menatap sahabatnya dengan prihatin, "Mungkin karena kalian berdua sama-sama keras kepala. Tapi serius, Nya, lo harus cari cara biar bisa damai sama dia. Nggak capek apa terus-terusan berantem?"
Anya menghela napas panjang, "Gue juga capek, tapi gimana ya? Dia selalu aja bikin masalah."
Audrey tersenyum kecil, mencoba menyemangati Anya, "Mungkin lo harus lebih santai. Jangan selalu diambil hati. Coba deh cari cara biar lo bisa ngadepin dia tanpa harus marah-marah."
Anya mengangguk, meski di dalam hatinya, ia masih merasa marah. "Gue coba, deh. Tapi kalo dia masih bikin masalah, gue nggak jamin bisa sabar."
Sementara itu, di sudut lain kampus, Bima dan Reza sedang duduk di kafe, membicarakan hal yang sama.
"Bim, lo kenapa sih harus terus-terusan cari gara-gara sama Anya? Kalian kan bisa aja damai," kata Reza sambil menyeruput kopinya.
Bima tersenyum miring, "Nggak tau, Za. Mungkin karena gue suka ngeliat dia kesel. Dia itu seru, selalu ada aja yang bisa dibahas."
Reza menggelengkan kepala, "Lo gila. Tapi serius, jangan sampai kebablasan. Gue nggak mau lo berdua sampai bermusuhan beneran."
Bima tertawa kecil, "Tenang aja, gue tau batas. Lagian, dia juga kadang bikin gue kesel. Kita impas lah."
Hari-hari berikutnya, Anya mencoba untuk lebih sabar menghadapi Bima. Namun, saat mereka bertemu di laboratorium untuk praktikum, ketegangan kembali muncul.
"Bima, lo bisa nggak, nggak ganggu kerjaan gue? Gue butuh fokus," kata Anya dengan nada tajam.
Bima menoleh dengan santai, "Gue nggak ganggu kok. Lo aja yang terlalu sensitif."
Anya memutar mata, "Sensitif apaan? Lo tuh emang selalu bikin masalah."
Bima mengangkat bahu, "Yaudah, terserah lo deh."
Anya menahan diri untuk tidak berteriak, berusaha tetap fokus pada pekerjaannya. Tapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa masalah dengan Bima tidak akan selesai begitu saja.
Ketika mereka selesai dengan praktikum, Anya bertemu dengan Audrey lagi. "Gimana tadi di lab?" tanya Audrey dengan penasaran.
Anya menggelengkan kepala, "Masih sama aja. Gue bener-bener nggak ngerti kenapa harus ada dia di setiap kesempatan."
Audrey tersenyum, "Mungkin lo harus mulai cari cara buat bikin dia kapok. Tapi inget, jangan terlalu keras, ya."
Anya tersenyum tipis, "Iya, gue coba."
Namun, di dalam hatinya, Anya mulai merencanakan sesuatu. Ia ingin memberi pelajaran pada Bima, tapi ia harus mencari cara yang tepat. Dan saat kesempatan itu datang, Anya tahu bahwa ia tidak akan ragu untuk melakukannya.
**
Anya tiba lebih dulu dan mulai mempersiapkan peralatan praktikum. Audrey datang menghampirinya sambil membawa catatan.
"Nya, lo yakin nggak ada masalah sama Bima kali ini?" tanya Audrey dengan nada hati-hati.
Anya mengangguk yakin, "Gue bakal fokus ke tugas gue. Nggak peduli sama dia."
Tak lama kemudian, Bima dan Reza datang. Bima langsung melihat Anya dan melempar senyum sinis. "Wah, udah mulai duluan nih? Gak sabar banget ya?"
Anya hanya melirik tajam, "Gue cuma mau cepet selesai. Biar nggak ketemu lo lama-lama."
Bima mendekati meja kerja Anya dengan sikap santai, "Yakin lo bisa selesai lebih cepet dari gue?"
Anya menghela napas panjang, "Gue nggak peduli lo selesai kapan. Gue cuma mau fokus sama tugas gue."
Praktikum berjalan dengan tegang. Setiap kali Anya mencoba fokus, Bima selalu saja mencari celah untuk mengganggunya. Akhirnya, saat praktikum hampir selesai, Bima membuat langkah yang membuat Anya benar-benar marah.
"Bima, lo apaan sih? Kenapa lo sengaja mindahin alat gue?" seru Anya dengan suara meninggi.
Bima tertawa kecil, "Tenang aja, Nya. Gue cuma mau ngebantu lo biar lebih efisien."
Anya menatap Bima dengan marah, "Bantu apaan? Lo malah bikin kacau!"
Reza yang melihat pertengkaran itu mencoba menengahi, "Udah, udah. Jangan ribut di lab. Ntar kena marah dosen lagi."
Anya tidak bisa menahan amarahnya, "Gue bener-bener nggak ngerti sama lo, Bima. Lo selalu aja nyari masalah."
Bima mengangkat bahu, "Mungkin lo yang terlalu gampang marah. Santai aja, Nya."
Setelah praktikum berakhir, Anya dan Audrey berjalan keluar dari laboratorium. Anya masih terlihat kesal dan gelisah.
"Gue nggak bisa terus-terusan kayak gini, Drey. Gue harus kasih dia pelajaran," kata Anya dengan nada penuh tekad.
Audrey menatapnya khawatir, "Jangan sampai lo kebawa emosi, Nya. Lo bisa bikin masalah lebih gede."
Anya tersenyum tipis, "Gue tau. Tapi gue nggak bisa terus-terusan diintimidasi sama dia."
Sementara itu, Bima dan Reza juga sedang membicarakan hal yang sama di luar lab.
"Lo bener-bener bikin Anya kesel banget tadi, Bim," kata Reza sambil tertawa.
Bima tersenyum puas, "Emang itu tujuannya. Biar dia tau gue nggak gampang diintimidasi."
Reza menggelengkan kepala, "Lo harus hati-hati. Jangan sampai lo sendiri yang kena masalah."
Bima mengangguk, "Gue tau batasnya. Tenang aja."
Namun, konflik mereka tidak berakhir di situ. Pada malam harinya, Anya mulai merencanakan langkah balasan untuk Bima. Dia tahu bahwa dia harus pintar-pintar mencari celah, dan dia tidak akan membiarkan Bima terus-terusan mengganggunya tanpa balasan.
Jika tidak bisa membalasnya, maka Anya ingin ia tidak akan pernah berbaikan dengan Bima. Ia tidak akan semudah itu membuat Bima senang karena dirinya mengalah. Anya yang sudah terkenal keras kepala dan mau selalu menang tidak akan pernah mundur selangkah dari Bima. Ia ingin selalu berada di garis terdepan, mengalahkan Bima, sang musuhnya sejak SMA.
Anya terlahir sebagai cewek pintar, serta terbiasa ditekan oleh kedua orang tuanya untuk selalu maju, membuatnya tidak mudah rapuh. Sedangkan Bima, ia tidak ditekan oleh kedua orang tuanya, namun ia ingin menjadi cowok cerdas dan pintar yang bisa mengalahkan siapa pun dengan sikap santainya. Sebenarnya ia tidak suka bersaing, tapi karena Anya selalu membuatnya ingin bersaing, maka Bima akan membuat Anya semakin menggebu-gebu untuk menjatuhkannya. Bima begitu senang saat melihat cewek itu marah, bahkan mengata-ngatainya, ada hiburan tersendiri bagi Bima saat melihat Anya mengamuk. Bima akan terus tersenyum licik saat melihat wajah cewek itu merengut dengan kedua mata yang melotot tajam pada Bima.
Sebagaimana Rival yang semestinya, Anya dan Bima selalu perang kata-kata, hingga perang otak, jadi bisa dipastikan mereka berdua tidak pernah berhenti berpikir dan menggunakan otaknya setiap hari.