"Nya, lo udah nyelesein bagian lo belum?" tanya Audrey sambil mengunyah sandwich.
"Udah lah, Drey. Gue nggak mau tugas ini jadi alasan buat Bima ngejek gue lagi," jawab Anya dengan tegas.
Tiba-tiba, Bima dan Reza masuk ke kantin dan duduk tidak jauh dari meja Anya dan Audrey. Bima segera melihat Anya dan senyum sinis muncul di wajahnya.
"Eh, Nya. Lo udah siap kalah lagi di tugas kali ini?" goda Bima sambil melirik Anya.
Anya mendengus kesal, "Bim, lo nggak capek apa nyari gara-gara terus? Gue udah bosen denger omongan lo."
Bima tertawa kecil, "Gue cuma bilang fakta, Anya. Nggak usah baper gitu."
Audrey mencoba menenangkan situasi, "Udah, udah. Jangan ribut di sini. Orang-orang pada ngeliatin."
Reza yang duduk di samping Bima ikut bicara, "Bim, udah lah. Nggak usah ngejekin Anya terus."
Tapi Bima tidak menggubris, "Gue cuma pengen ngasih tau kalo gue selalu di depan lo, Anya."
Anya bangkit dari kursinya, tatapan matanya penuh dengan amarah, "Lo bener-bener nyebelin, Bim. Gue nggak peduli lo mau ngomong apa, yang jelas gue bakal buktikan kalo gue bisa lebih baik dari lo."
Bima juga berdiri, menatap Anya dengan tajam, "Yaudah, gue tunggu buktinya. Tapi jangan nangis kalo lo kalah lagi."
Audrey dan Reza langsung berdiri, mencoba memisahkan mereka. "Udah, udah. Nggak usah berantem di sini," kata Audrey dengan suara tegas.
Reza menarik Bima ke belakang, "Bim, ayo kita duduk lagi. Jangan buat masalah di kantin." Anya duduk kembali dengan napas yang masih terengah-engah karena marah. "Gue bener-bener nggak ngerti kenapa dia selalu nyari gara-gara."
Audrey menepuk punggung Anya, mencoba menenangkannya, "Sabar ya, Nya. Lo harus bisa kontrol emosi. Jangan sampai lo kebawa emosi sama dia." Di meja lain, Bima juga masih terlihat kesal.
"Kenapa sih dia selalu baper kalo gue
ngomong gitu?" Reza menggelengkan kepala, "'Lo yang terlalu provokatif, Bim. Coba deh, lebih kalem dikit."
Tapi Bima hanya mengangkat bahu, "Gue cuma pengen nunjukin kalo gue nggak kalah sama dia. Dia selalu ngerasa paling hebat."
Reza tersenyum tipis, "Gue ngerti, tapi lo harus ingat, kita semua temen sekelas. Nggak perlu lah sampai ribut terus."
Hari itu, susana di kantin kampus kembali normal setelah Anya dan Bima dipisahkan oleh teman-teman mereka. Namun, persaingan di antara mereka tidak akan mudah mereda. Setiap hari selalu ada saja yang membuat keduanya beradu argumen, menciptakan cerita yang penuh warna dan konflik di kampus teknik industri tersebut.
Anya dan Bima mungkin tidak pernah akur, tapi mereka juga tidak pernah berhenti saling mendorong untuk menjadi yang terbaik. Di balik semua perbedaan dan pertengkaran, mereka sebenarnya saling memotivasi untuk terus maju dan berprestasi. Dan cerita mereka akan terus berlanjut dengan penuh ketegangan, persaingan, dan mungkin, sedikit rasa saling menghormati yang tak terucapkan.
**
"Nya, lo udah denger tentang mahasiswa baru yang katanya pinter banget itu?" tanya Audrey sambil menyeruput kopi.
Anya menggeleng, "Belum. Emang siapa?"
"Namanya Nina. Dia anak pindahan dari kampus ternama di luar negeri. Katanya sih jenius."
Anya mengangkat bahu, "Bodo amat. Selama dia nggak ikut campur urusan gue, gue nggak peduli."
Tiba-tiba, Bima dan Reza berjalan melewati mereka. Bima terlihat sedang ngobrol dengan seorang cewek yang Anya belum pernah lihat sebelumnya.
"Kayaknya itu Nina deh," bisik Audrey.
Anya memperhatikan dengan tatapan tajam. "Oh, jadi dia orangnya."
Di kelas, Pak Arif memperkenalkan Nina kepada semua mahasiswa. "Anak-anak, ini Nina. Dia akan bergabung dengan kita mulai hari ini. Tolong bantu dia beradaptasi, ya."
Setelah perkenalan, Nina duduk di dekat Anya dan Audrey. "Hai, gue Nina. Senang kenal kalian," sapanya dengan senyum ramah.
Audrey membalas senyum itu, "Hai, gue Audrey. Ini Anya."
Anya hanya mengangguk singkat. "Hai."
Beberapa hari kemudian, Nina mulai menunjukkan kepintarannya di kelas. Dia sering berdiskusi dengan Pak Arif dan membuat beberapa mahasiswa terkesan, termasuk Bima.
"Nya, lo liat nggak? Bima kayaknya tertarik banget sama Nina," kata Audrey sambil mengamati Bima yang sedang ngobrol dengan Nina.
Anya mendengus, "Biarin aja. Mungkin sekarang dia bakal berhenti gangguin gue."
Namun, tidak lama kemudian, Anya menyadari bahwa kehadiran Nina justru membuat Bima semakin semangat untuk menunjukkan kemampuannya. Persaingan mereka semakin memanas, dan kali ini, Nina juga terlibat di dalamnya.
Bima dan Nina duduk bersama, membahas proyek besar yang baru saja diberikan oleh Pak Arif. Anya dan Audrey duduk tidak jauh dari mereka.
"Bim, lo yakin bisa ngalahin Anya di proyek ini?" tanya Nina dengan nada menggoda.
Bima tersenyum percaya diri, "Tentu aja bisa. Gue udah sering ngalahin dia."
Anya yang mendengar percakapan itu merasa tersaingi. "Drey, gue nggak bakal kalah dari mereka. Gue harus buktiin kalo gue bisa lebih baik."
Audrey menepuk bahu Anya, "Gue percaya sama lo, Nya. Lo pasti bisa."
Dengan adanya Nina, persaingan antara
Anya dan Bima semakin kompleks. Kehadiran Nina memberikan dinamika baru yang menambah ketegangan di kampus. Setiap hari terasa seperti medan pertempuran di mana mereka semua berusaha untuk menjadi yang terbaik.
**
Anya dan Bima tengah duduk di sudut perpustakaan, sibuk dengan tugas akhir mereka. Tiba-tiba, langkah ringan menghampiri meja mereka.
"Hei, ada yang butuh bantuan?" tanya Nina dengan senyum ramah, suaranya tenang namun penuh percaya diri.
Anya terkejut sedikit, matanya mengerjap beberapa kali sebelum menjawab, "Oh, nggak sih."
"Oiya, gue kenalan lagi ya, gue Nina, siapa tau kalian lupa," ucap Nina.
Anya mengangguk cuek. Sedangkan Bima melihat Nina dengan rasa ingin tahu yang jelas terpancar dari matanya. "Hai, Nina. Gue denger-denger lo punya reputasi bagus ya di kampus lo yang dulu?"
Nina tersenyum tipis. "Ah, itu mungkin sedikit berlebihan. Tapi senang bisa gabung dengan kalian dalam proyek ini."
Anya menggaruk kepalanya dengan agak kasar, mencerminkan rasa tidak suka dalam sikapnya. "Ya, senang bisa kenal," ucapnya dengan nada yang agak dingin. Bima dan Nina melanjutkan diskusi tentang
ide-ide mereka, tetapi Anya terlihat agak tertutup dan lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya sendiri. Meskipun mereka mencoba bekerja sama, keheningan antara Anya dan Bima terasa kuat, menciptakan atmosfer yang tegang di sekitar mereka.
Anya tidak menyukai kehadiran Nina, ia khawatir cewek itu akan menghancurkan dirinya karena selangkah lebih maju. Karena mengalahkan Bima saja Anya harus banyak berdebat dan tidak akan pernah mau kalah, sekarang ia juga harus berhadapan dengan Nina, yang katanya punya otak pintar, sebanding dengan Anya dan Bima. Tapi diantara mereka bertiga pasti akan ada yang menempati garis terdepan, dan Anya tidak mau Nina berada di garis terdepan itu. Anya hanya ingin dirinya yang menjadi nomor satu.