Anya, Bima, dan Nina duduk bersama di ruang kelompok, sedang berusaha menuntaskan tugas besar mereka tentang desain mesin. Namun, suasana mulai tegang saat Nina mengusulkan pendekatan yang berbeda dalam proses perancangan.
"Nah, menurut gue kalau kita masukin komponen ini ke sini, bisa lebih efisien," kata Nina sambil menggambar sketsa baru di papan tulis.
Anya mengangkat alisnya, agak tersinggung dengan saran yang baru itu. "Tapi kan itu beda banget dari rencana awal yang udah kita diskusiin. Gue rasa kita harus ngikutin struktur yang udah kita atur."
Bima mencoba memediasi, nyari jalan tengah. "Mungkin ada cara buat nyatuin ide-ide kita? Nina, gimana kalau kita liat gimana cara ini bisa disesuaiin dengan konsep dasar yang udah kita buat?"
Nina manggut-manggut, senyum ramah. "Oke, gue setuju. Mari kita coba cari solusi yang bisa memadukan ide-ide kita."
Anya mengerutkan keningnya sambil memandangi sketsa yang baru saja digambar Nina di papan tulis. "Eh, Nin, ini kok jadi beda banget sama yang udah kita diskusikan dari tadi?"
Nina tersenyum ramah, mencoba menjelaskan, "Iya nih, Nya. Gue mikir, mungkin ada cara yang lebih efektif buat ngatur komponen ini. Kita bisa coba lihat Anya mengerutkan keningnya sambil memandangi sketsa yang baru saja digambar Nina di papan tulis. "Eh, Nin, ini kok jadi beda banget sama yang udah kita diskusikan dari tadi?"
Nina tersenyum ramah, mencoba menjelaskan, "Iya nih, Nya.
Gue mikir, mungkin ada cara yang lebih efektif buat ngatur komponen ini. Kita bisa coba lihat dari sisi lain."
Anya menggeleng pelan. "Tapi kan kita udah deal dari awal soal strategi yang bakal kita pake. Gue agak ragu kalau ini jalan terbaik."
Bima menengahi dengan tenang, "Coba aja dulu, Nya. Mungkin ide Nina bisa jadi tambahan yang bikin proyek kita lebih unik." Anya menarik nafas dalam-dalam, mencoba menerima saran dari
Bima. "Okay, tapi jangan lupa kita harus tetap di timeline yang udah kita sepakati ya."
Nina mengangguk antusias. "Oke, gue pasti akan pertimbangkan itu. Mari kita sama-sama cari solusi terbaik."
Suasana di ruang kelompok terasa lebih tenang setelah mereka berhasil menyelesaikan perdebatan tentang pendekatan desain. Namun, tiba-tiba terdengar suara dering handphone yang datang dari tas Bima. Dia mengambil teleponnya dengan ekspresi terkejut.
"Bentar, ini telepon dari dosen kita, Prof. Rahman," kata Bima, wajahnya memucat saat menatap layar ponselnya.
Anya dan Nina saling bertatapan dengan cemas. "Ada apa, Bim?" tanya Anya dengan nada khawatir.
Bima mengangkat teleponnya dan langsung mendengarkan dengan serius. Setelah beberapa saat, ekspresi wajahnya berubah. "Baik, Prof. Rahman. Kami akan segera datang," ucapnya pelan.
"Ada masalah apa?" tanya Nina, mencoba membaca ekspresi Bima.
Bima menatap mereka dengan serius. "Prof. Rahman mengatakan ada perubahan mendadak terkait spesifikasi proyek ini. Kita perlu merombak beberapa bagian desain yang udah kita kerjain."
Anya membulatkan matanya. "Tapi kan udah hampir selesai, Bima!"
"Sayangnya, ini diluar kendali kita," jawab Bima sambil mengatur nafasnya. "Kita perlu bergerak cepat untuk menyesuaikan dengan perubahan ini."
Anya menarik napas dalam-dalam, ekspresinya sedikit kecewa.
"Ini pasti bakal memperlambat kita," ujarnya dengan nada yang agak frustrasi.
Nina mengangguk setuju. "Tapi kita nggak punya opsi lain. Kita harus ikuti perubahan yang diminta."
Bima memutar otak saat membaca pesan dari Prof. Rahman di layar ponselnya, mencoba mencerna info baru yang mereka terima. "Kita harus gerak cepat untuk pahami perubahan ini dan bagaimana cara terbaik masukkin ke desain kita."
Anya mengangguk, meskipun dengan sedikit ketidakpuasan. "Oke, mari kita cek detailnya. Apa aja yang harus diubah?"
Bima menunjukkan pesan dari Prof. Rahman yang berisi spesifikasi baru yang harus dimasukkan ke desain mereka.
Mereka langsung rapat, berusaha pahami implikasi perubahan ini dan cara terbaik buat terapinnya.
Nina mengambil pensil dan mulai bikin ulang sebagian sketsa di papan tulis. "Kayaknya kita bisa pertahankan sebagian besar konsep ini," katanya sambil adaptasi ide-ide baru dari Prof.
Rahman.
Anya mikir sebentar. "Apakah timeline kita cukup buat ubah-ubah beginian?"
Bima mengangguk, "Kita harus kerja lebih efisien dan fokus biar bisa selesaiin revisi ini. Tapi kayaknya mash kena target, selama kita kerja sama dan tetap teratur."
Setelah beberapa jam diskusi dan kolaborasi, mereka bisa membuat rencana untuk memasukkan perubahan spesifikasi ke desain mereka. Meskipun ada tantangan baru, mereka lega karena sudah punya pendekatan yang solid buat menyelesaikan proyek ini.
"Nanti kita kasih tau Prof. Rahman kalau kita udah siap dengan perubahan ini," kata Nina sambil catat poin-poin penting yang harus mereka sampaikan.
Anya setuju, "Yuk langsung kabarin beliau. Semoga dia puas sama revisi kita." Bima menutup handphone-nya setelah kirim pesan ke Prof.
Rahman. "Gue pikir kita udah berupaya sebaik mungkin.
Sekarang, tinggal nunggu respon dari beliau." Dengan semangat baru, mereka fokus kembali untuk menyelesaikan proyek besar ini. Meskipun awalnya ada perdebatan dan perdebatan, mereka berhasil menghadapi perubahan mendadak dengan cara yang terorganisir dan kolaboratif.
**
Anya dan Bima tidak pernah bisa lepas dari permainan saling menggoda setiap kali bertemu. Di kelas, mereka sering saling melempar komentar yang menyengat atau melontarkan sindiran yang halus namun tajam.
Misanya, saat mereka duduk bersebelahan dalam sebuah seminar, Anya memutar bola matanya saat Bima mengangkat tangan untuk bertanya pada dosen. Ketika Bima selesai berbicara, Anya tidak tahan untuk tidak menimpali, "Tadi aja pake pertanyaan klise gitu, Bim? Kalau mau impress dosen, cari pertanyaan yang lebih deep, lah."
Bima hanya tersenyum dan menjawab dengan tenang, "Mungkin kalau pertanyaan lo lebih banyak memberi solusi daripada komentar sinis, kita bisa selesai lebih cepat, Nya."
Anya mendengus kecil, merasa tertantang. "Ngomong-ngomong soal selesai, nih, kok belum kelar juga proyek kita minggu lalu? Ada yang sibuk banget nyari perhatian," ujarnya dengan nada mengejek.
Bima menjawab tanpa tersinggung, "Mungkin kalau ada yang nggak terlalu sibuk ngecek i********: setiap lima menit, kita bisa meeting lebih efektif, ya."
Anya tetap menjaga image sebagai gadis yang cenderung kesal dan tajam dalam berbicara. Setelah pertukaran sindiran itu, dia melirik Bima dengan pandangan tajam. "Ngomong-ngomong soal i********:, Bim, mungkin lo harus belajar gimana caranya nyimak dengan baik," balasnya dengan nada mengejek.
Bima tersenyum lebar, menunjukkan bahwa dia tidak terganggu dengan sindiran Anya. "Ah, tapi kan nggak semuanya harus serius, Nya. Kadang-kadang liat hape bisa bikin pikiran fresh, tahu."
Anya mendengus dengan skeptis, namun ada senyum kecil di bibirnya yang menunjukkan bahwa dia juga menikmati interaksi mereka yang penuh dengan teka-teki. "Bukannya fresh, malah jadi salah fokus, Bim. Kayaknya lo butuh detox media sosial."
Bima mengangkat bahunya sambil tertawa. "Mungkin besok gue coba, deh. Tapi yang jelas, nggak akan ada yang lebih bikin kesal daripada ngadepin lo setiap hari."