Seorang gadis dengan rambut terurai panjangnya tengah duduk di lantai. Tangannya bergerak kontinyu menggerakkan pensil di sebuah kertas. Ke dua bola mata cokelatnya tak henti-hentinya fokus ke arah objek yang ia gambar. Bibir merahnya tersenyum tipis setiap detail kecil berhasil ia lukis.
"Yeay! Jadii!" Ia bersorak tatkala berhasil menyelesaikan satu gambarnya. Lantas berbalik badan, mengarahkan sketchbook miliknya pada sesosok yang berdiri di ujung pagar balkon.
"Bagus nggak?"
Sesosok itu mendekat. Mengamati setiap goresan dan garis karya yang dihasilkan gadis didepannya.
"Siapa yang kau lukis?"
"Liam." Senyumnya langsung sumringah ketika menyebutkan nama yang membuatnya semangat sebulan akhir ini.
"Gak apa-apa, aku nggak punya fotonya. Dia selalu nolak atau menghindar sekalipun aku foto dari kejauhan. Tapi dia lupa. Kalau aku ini seniman muda yang bisa melukis wajahnya kapan pun dan menempelkannya di setiap dinding kamar." Vio langsung merebahkan tubuhnya ke sofa. Menghabiskan waktu dua jam menggambar wajah lelaki itu cukup membuat tubuhnya terasa pegal.
Mata Vio tertutup sejenak. Membayangkan wajah Liam, bahwa lelaki itu akan menemani dirinya dalam mimpi indah.
"Apa yang membuat kau tergila-gila padanya?" Sesosok itu kembali bertanya. Meletakkan buku kecil itu di meja, lalu sedikit menjaga jarak.
Vio membuka matanya. Menatap hamparan bintang di langit sembari mengingat-ingat. Lagi-lagi ia menyunggingkan senyuman ketika bayangan wajah Liam melintas dalam benaknya. Vio menoleh ke arah sesosok laki-laki itu.
"Gimana aku nggak suka sama dia? Sejak pertama aku masuk kuliah dan menjalani masa OSPEK, dia banyak banget membantu aku. Bahkan dia rela gantiin posisi aku waktu aku dihukum sama kakak tingkat."
Sesosok itu hanya diam mendengarkan. Ia mengangkat sebelah alisnya. Vio langsung mengangguk. Seolah mengerti apa yang ada dipikiran sesosok itu.
"Nggak cuma aku kok yang dihukum, temen-temen lain juga. Itu karena katingnya aja yang nyebelin. Sengaja buat mainin Maba aja. Tapi, Liam itu gentle bangett! Dia mau gantiin aku buat lari mengelilingi lapangan, push up, bahkan kasih aku makan siang. Keren, kan?! Ahh, makin suka deh!" Vio sumringah, mengatakannya dengan hati berbunga-bunga.
"Seberuntung apa ya cewek yang bakalan jadi pacarnya. Dapat cowok yang care banget kayak dia," Vio mengembuskan nafas panjang. Berharap dirinyalah yang aman mengisi posisi itu suatu saat nanti.
Beberapa menit dirinya hanya diam. Namun, mata Vio langsung terarah pada sosok lelaki itu yang sedari tadi hanya menatapnya dingin. Vio mengernyit, memperhatikan sosok itu lama. Ia masih tak tahu banyak tentangnya bahkan semenjak ia tinggal di rumah berlantai dua minimalis milik ayahnya ini.
Dulu ayahnya membeli rumah ini dari seorang temannya. Rumah ini dikosongkan hingga dirinya yang tinggal di tempat ini. Ayahnya bilang, ini lebih hemat daripada harus menyewa kos walaupun jarak dengan tempat kuliah sedikit lebih jauh dibandingkan kos yang ia pilih sebelumnya.
Sesosok itu tiba-tiba muncul ketika ia hendak jatuh dari balkon waktu tengah malam. Ia tergelincir karena waktu itu lantai balkon basah saat hujan deras. Lampu rumah mendadak mati.
Sosok itu juga yang menolongnya saat malam yang gelap itu ia diganggu oleh hantu jahat yang mengikutinya entah dari mana hingga sampai rumah. Hantu tak dikenal itu muncul tiba-tiba di cermin, samping tempat tidur, bahkan terkadang tangannya menjulur langsung dari lemari.
Ia sangat ketakutan melihat sosok lelaki itu untuk yang pertama kali. Dengan pencahayaan yang sangat minim, wajah sosok itu sangat dingin. Tatapannya yang tajam membuatnya terasa terancam. Seolah dirinya baru saja membangunkannya dari tidur panjang.
Apalagi, Vio sangat takut dengan gelap. Ia selalu sesak nafas dan berkeringat dingin ketika semua lampu mati. Bahkan bisa pingsan jika gelap benar-benar menyelimuti dalam waktu yang lama.
Karena dengan gelap itulah, akan lebih banyak sosok-sosok tak terlihat yang mengajaknya berteman.
Setelah menolongnya, sosok lelaki kulkas itu langsung menghilang. Vio menjalani harinya dengan perasaan takut dan was-was karena sosok itu bisa muncul atau bahkan mencelakainya kapan saja. Beruntungnya, setelah sosok lelaki itu muncul, hantu jahat itu hilang. Semakin lama ia mulai terbiasa dengan kehadirannya. Dia tak jahat seperti yang dibayangkan. Menakut-nakuti dirinya saja tidak.
"Btw, aku belum tahu nama kamu. Boleh kenalan nggak?" Vio mengedipkan matanya berulang kali. Tersenyumlah sangat lebar, memohon.
Sosok laki-laki itu hanya diam. Tak bereaksi sedikit pun dengan gaya kedua tangannya menyilang di depan d**a.
"Masa gak boleh kenalan sih? Nanti kalau aku mau manggil kamu atau ngajak ngomong pakai nama apa dong?"
Sama. Sesosok itu hanya diam.
"Ish, seleb amat!" Vio langsung mengambil buku dan peralatan gambarnya. Ia melayangkan tatapan sebal sebelum kembali masuk ke kamarnya.
"Bye! Hantu tanpa nama!" Vio menutup pintu balkon dengan keras. Bahkan sebelum ia menarik tirai, masih sempat dirinya menjulurkan lidahnya mengejek.
Srettt
Vio menutup pintu. Namun 5 detik kemudian membukanya kembali. Sesosok itu masih berada di tempat yang sama dengan reaksi tak berbeda pula.
"Lebih baik kamu pergi sekarang. Atau aku siram kamu pakai air. Keluar malam, keluyuran sana. Biasanya hantu gangguin orang." Seru Vio.
"Kau berani mengusirku. Aku pemilik tempat ini sebelum kau."
"Apa kau ingin aku teror sepanjang malam agar kau yang angkat kaki sukarela dari sini?"
Mendengar ancaman langsung sesosok itu untuknya. Vio langsung menelan ludah. Ia tersenyum kecil lantas menggeleng. Secepatnya ia mengunci pintu balkon, jendela dan pintu kamarnya agar sesosok itu tidak berani mengganggunya.
Ia hanya tinggal sendirian. Hantu itu bisa melakukan apa saja padanya. Mengerikan!
Andai ia bisa menyuruh hantu itu pergi secara baik-baik. Tentu ia akan melakukannya. Tapi sangatlah mustahil. Sosok itu telah lebih lama berada disini daripada dirinya.
"Sayang banget, dia lebih berkuasa. Aku nggak bisa apa-apa."
"Tapi nyeremin, kalau cuma tinggal sendirian di rumah yang ada penunggunya."
"Papa sih, punya rumah bagus kayak gini gak ditempatin. Jadinya kan ditinggali dedemit. Oke kalau aku gak bisa lihat, tapi kan anaknya bisa lihat begituan."
Tok-tok.
"Diam! Jangan ganggu aku!" Vio langsung berteriak begitu mendengar suara ketukan pintu dari balkon. Ia langsung mengambil penggaris besi panjang dan sapu. Berjaga-jaga jika hantu itu muncul di depannya dan mengganggunya.
Tok-tok-tok.
"Mau kamu apa sih? Aku gak takut ya! Modal ketok pintu nggak bakalan bikin nyali aku ciut!" Vio semakin berjalan mendekat ke arah pintu balkon. Dengan langkah pelan, bahkan tanpa suara, ia sudah siap siaga dengan s*****a di tangannya.
Dengan gemetar, tangannya meraih gagang pintu. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia mulai menarik knop pintu dan membukanya.
"Hyaaa!" Dengan mata tertutup, Vio langsung memukulkan sapunya ke sembarang arah. Hanya bermodalkan nekat, ia langsung maju dan melawan sesosok itu. Tanpa tahu, bahwa sosok itu hanya diam di ujung balkon dan memainkan tangannya mengetuk pagar.
"Kamu diam ya! Jangan ganggu aku! Atau aku beneran bakal usir kamu!"
"Aku capek! Aku ngantuk! Kamu —"
Ucapan Vio langsung terhenti ketika ada yang menahan sapunya. Ia berhenti bergerak. Perlahan, mulai membuka matanya. Begitu terkejut ketika sosok itu sudah berada tepat di depannya.
Masih dengan reaksi dan tatapan yang sama. Vio meneguk ludah kasar. Jantungnya berdetak makin tak karuan. Apakah ia akan mati malam ini dan menjadi temannya?
Sosok itu mendorong sapunya, membuat tubuhnya ikut mundur kembali ke kamar. Tubuhnya membeku seketika. Terlebih saat melihat hantu itu mengangkat jari dinginnya ke arah bibir. Memberinya isyarat agar diam.
"Tidurlah. Aku yang justru akan menjaga kau."
"Ke-kenapa? Kamu mau.. jadiin aku tumbal?"