Jam alarm yang super berisik berhasil membangunkan Vio dari mimpi buruknya. Entah kenapa, ia lebih sering mimpi hal-hal aneh tiga hari ini. Ketika bangun, Vio masih berdiam sejenak di atas kasurnya. Mencoba mengingat puing-puing mimpi yang menjadi teman tidurnya semalam.
Tapi sayangnya, setiap kali ia berusaha mengingat. Semuanya tampak kabur, buram dan justru semakin menghilang. Ia hanya melihat, seorang wanita yang menangis di sebuah ruangan penuh asap hitam. Di saat yang sama, ia merasakan sesak dan ketakutan yang sama.
Vio menggelengkan kepala kuat. Menguap lebar, lalu berjalan lemas menuju balkonnya. Sesekali ia mengusap lengannya yang terasa dingin. Wanita itu melirik jam beker di meja, menunjukkan pukul 5.
Begitu membuka tirai dan pintu balkon, dapat ia lihat hantu itu yang sudah berdiri dengan tangan bertumpu memegang pagar balkon membelakanginya.
Bisa kalian bayangkan bagaimana wajahnya lelaki tampan itu tertimpa oleh sinar lembut matahari pagi?
Stamina Vio langsung naik untuk menjalani hari ini.
"Wah, beruntung sekali aku bangun-bangun pagi langsung disambut abang hantu tampan." Ujar Vio sambil menguap, ia tersenyum lebar. Namun lelaki itu hanya membalasnya dengan lirikan datar.
"Apa dulu balkon ini tempat favorit kamu juga?" Vio asal bertanya, lantas berjalan menuju sofa. Ia menyenderkan tubuhnya pada kepala sofa dan menutupi wajahnya dengan bantal kecil. Lima menit lagi.
Lelaki itu memperhatikan Vio yang kembali tidur. Ia mulai mendekat, memperhatikan gadis itu lama. Mempertimbangkan sesuatu apakah ia akan meminta bantuan pada gadis menyebalkan itu atau tidak.
Tetapi jika tidak, ia harus meminta tolong siapa? Hanya Vio yang dapat melihatnya.
Gadis itu satu-satunya kesempatan untuknya.
Lelaki itu meletakkan kaki panjangnya pada bagian pinggir sofa. Lalu, setelah mengambil posisi siap. Ia langsung mendorong sofa itu hingga bergeser beberapa centi dari tempatnya semula.
Vio yang terkejut refleks berteriak.
"GEMPA!!"
Vio langsung melayangkan tatapan tajamnya pada sosok lelaki itu. Mendapat tatapan yang lagi-lagi kurang mengenakkan dari sosok itu membuatnya semakin sebal. Vio meletakkan kedua jari tangannya membentuk lingkaran didepan mata.
"Kenapa kamu dorong kursinya? Itu mengganggu tidur aku banget tauk! Nggak lihat mata aku masih ngantuk? Kemarin malem aku gak nyenyak tidurnya."
Lelaki itu hanya mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak bertanya." Membuat Vio mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
"Aku pikir pagi-pagi udah dibikin kamu kena penyakit diabetes, ternyata malah kamu bikin aku darah tinggi. Why are you so annoying?! Nggak diem nggak gerak bikin jengkel mulu." Kesal Vio menatap Lelaki itu jengkel.
"Kau juga sangat mengganggu semenjak berada disini."
Vio memutar bola mata malas. Melempar bantalnya kesal, lantas berdiri.
"Oke. Kalau gitu aku pergi." Ia berbalik badan.
"Apakah kau memang bangun setiap hari dengan rambut singamu itu?"
Langkah Vio terhenti, ia mengernyit. Kedua tangannya langsung tergerak menyentuh kepalanya.
"Biasalah kalau perempuan bangun-bangun rambutnya kayak gini." Vio berbalik.
"Tapi yang aku lihat tidak seberantakan itu."
"BODO AMAT!"
Lelaki itu mengernyit. Berpikir, apa memang benar bahwa Vio langsung terkena darah tinggi setelah bangun tidur? Gadis itu marah-marah sejak tadi.
Vio berteriak tepat didepan wajah lelaki itu. Membuat laki-laki itu mengibaskan tangan didepan wajahnya.
"Bau sekali. Apa kau tidak sikat gigi sebelum tidur?"
"Enak aja. Aku sikat gigi setiap sebelum tidur kalau ingat tahu!"
Sosok itu tak bereaksi, kembali menatapnya datar seperti biasa. Membuat Vio menarik nafas dalam.
"Ngomong sama kamu memang bikin hipertensi. Bye! Mau mandi dulu." Vio berbalik dengan mengibaskan rambutnya yang dicap sebagai 'rambut singa' oleh lelaki itu tadi.
"Eh, tapi tunggu dulu," Vio tersenyum miring. Kembali berbalik badan, menatap sosok di belakangnya dengan senyum manis. Lalu ...
"huahhhh.... "
Sosok itu langsung mengibaskan tangan di depan wajahnya. Seolah-olah bau mulut Vio sudah mencemari udara pagi segarnya.
"Kau sangat tidak sopan! Mulut kau bahkan lebih bau dari t*i ayam. Kau memang harus belajar tata krama." Tajam sosok itu.
"Hidup kamu terlalu serius buat aku yang senang bercanda!" Cetus Vio.
Lelaki itu hanya menatapnya datar. Kesal karena tak mendapat respon. Vio berbalik badan dengan mengibaskan rambutnya untuk yang kedua kalinya hingga sengaja mengenai wajah hantu itu.
"Eh?"
Vio menoleh. Lelaki itu memegang tudung jaketnya dengan dua jari tangannya. Vio menaikkan satu alisnya.
"Kenapa?"
Lelaki itu menarik tudung jaketnya hingga membuatnya memundurkan beberapa langkah.
"Aku membutuhkan bantuan kau."
Setelah tudung jaket ungunya dilepas, ia menghadapkan badannya sempurna ke arah sosok itu kembali.
"Setelah mengejek aku tadi, sekarang kau meminta bantuan ku. Wow, tidak tahu malu sekali Tuan Hantu." Rasanya Vio telah menemukan panggilan yang tepat untuk sosok itu.
"Akan ada imbalan untuk kau setelah membantuku. Termasuk mengajari kau tentang tata krama agar menjadi wanita yang lebih elegan." Sosok itu tak kalah sinis.
"Argh!" Hantu itu tiba-tiba mengerang.
Rasa puas nampak di kedua bola mata Vio setelah menginjak kaki hantu itu. Tapi tunggu, ada yang aneh. Vio mengamati lelaki itu yang berdiri kesakitan memegang kakinya.
"Eh, kok tersentuh?" Tanya Vio sekaligus terheran.
Lelaki itu menatapnya tajam. Seolah menantang, mengajaknya bertengkar di pertandingan gulat.
"Maaf... aku nggak tahu kalau bakalan kena." Vio berjongkok di depan hantu itu. Memejamkan mata dan mendongak. Ia meletakkan kedua tangannya didepan d**a.
"Suer. Aku nggak tahu kalau ternyata aku bisa sentuh kamu. Maafin aku ya? Ya-ya-ya? Aku kira tembus." Vio masih memohon pada lelaki itu yang sepertinya masih belum mengampuninya. Sangat takut jika ia sampai disuruh angkat kaki dari rumah ini.
"Mana nginjaknya kuat lagi. Kalau tahu gitu mah, mending nginjaknya lebih kuat lagi, kan? Sekalian balas dendam." Batin Vio sembari menatap kaki lelaki itu sedikit sebal.
"Pengen puas tapi takut. Tertekan banget."
"Baru pertama kali aku menemui singa yang tidak galak dan nakal. Sangat penurut dengan tuannya. Teruskan bakat kau ini Letta."
Vio melebarkan matanya. Wajahnya langsung mendongak. Menatap lelaki didepannya tak percaya. Mulutnya terbuka ingin mengucapkan sumpah serapah. Terlebih lagi lelaki itu tersenyum dengan memegang kepalanya yang rambutnya berantakan bagaikan dirinya ini hewan peliharaan dia.
"Bagus. Pertahankan itu b***k manis. Tuanmu tidak akan mengampunimu sebelum datang esok pagi."
"Asem banget tuh bocah!" Gerutu Vio sangat pelan. Ia langsung menggigit tangan hantu itu yang masih berada di atas kepalanya.
Lelaki itu berteriak kembali. Memegangi tangannya kuat.
"Ternyata kau sangat nakal!" Lelaki itu menatap Vio tajam.
Kali ini Vio dapat tertawa puas. Ia tersenyum manis, mengeringkan mata jahil pada sosok hantu di depannya itu.
"Ayolah, aku hanya ingin mengajak tuanku bermain. Aku sungguh kesepian." Kini Vio memposisikan tangannya menyerupai tangan kucing didepan d**a yang memohon pada tuannya.
"Ayo tuan, ajak aku bermain ke taman, beri aku makan, belai aku dengan kasih sayang dan cinta.... Aummm!"
~♥️~