Begitu kelas selesai, Vio bersama temannya pergi ke kantin. Kelas hari ini cukup melelahkan, apalagi dengan tugas yang baru diberikan hingga dipastikan mereka tidak akan tidur lebih cepat.
"Nyebelin banget dosennya! Gini nih, kalau gak ada bakat gambar malah masuk arsitektur. Memang cari masalah."
"Yang lain gambar rumah, gue berasa gambar gubuk sawah."
Vio yang baru saja duduk sembari meletakkan nampan hanya tersenyum. Kedua temannya itu bukan tidak benar-benar memiliki bakat. Hanya saja dosen mereka tadi cukup perfeksionis hingga semuanya harus mendekati sempurna.
"Jalanin aja. Kan tujuannya kuliah memang buat belajar." Balas Vio. Ia mengambil saus lalu menuangkannya ke mangkok baksonya.
"Vio, kalau aku lihat Kak Liam perhatian banget ya sama kamu? Inget waktu kita disuruh push up bertiga di lapangan super panas? Kak Liam rela gantiin kita! Dan yang lebih hebatnya lagi, dia gak rela kamu digangguin sama kating yang lain." Tanya Jessy yang duduk tepat di depan Vio.
Vio yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Ia tidak ingin baper dengan perhatian itu, tapi hatinya sudah mengharapkan lebih.
"Kamu yakin Kak Liam nggak ada rasa sama kamu? Atau sebelumnya kalian udah pernah kenal? Dia langsung tahu nama kamu bahkan sebelum kamu memperkenalkan nama!"
"Ya elah. Kalau masalah nama kan waktu itu kita pakai kardus gede yang ditulis nama kita. Gimana sih?" Refa ikut menyahut.
Vio yang mendengar celotehan itu tak membalas banyak. Benar ucapan Jessy. Untuk saat ini dirinya memang hanya mengagumi sosok Liam. Kakak tingkatnya yang sedang kuliah semester 5 jurusan informatika dan menjadi anggota organisasi BEM di kampusnya. Tapi entah jika suatu saat nanti, ia sangat berharap perasaannya akan terbalaskan.
"Aku ketemu sama Kak Liam baru seminggu. Aku cuma kagum aja sama sikapnya." Tegas Vio.
Jessy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Di bawah meja, kakinya menyenggol kaki Vio, memberi isyarat agar menoleh ke belakang.
Vio yang tak mengerti hanya menurut melihat.
"Cieee. Kayaknya ada yang diam-diam diperhatiin dari jauh nih." Goda Refa.
Jessy tersenyum lebar ikut menanggapi.
"Kalian apa-apaan sih." Vio berusaha kembali bersikap normal. Pertemuan matanya dan Liam berhasil membuat jantungnya langsung berdebar.
"Kayaknya Kak Liam juga punya rasa deh sama Lo. Daritadi lihatin Lo mulu. Walau pura-pura sambil ngobrol sama temennya sih," Refa menyenggol bahu Vio.
"Iya. Ngapain Kak Liam jauh-jauh ke kantin sini. Padahal kan fakultasnya juga punya kantin." Jessy yang sedari tadi hanya tersenyum langsung tertawa, apalagi melihat wajah Vio yang memerah.
"Udah ah. Aku mau ke kamar mandi." Vio beranjak dari duduknya. Lantas berjalan cepat keluar dari kantin.
"Eh, tunggu dong. Gue juga mau ke kamar mandi." Refa langsung meneguk habis minumannya tanpa sedotan.
"Lo mau ikut nggak?" Tanya Refa pada Jessy.
"Enggak. Aku ada janji sama pacar gue." Jessy mengedipkan sebelah matanya.
"Oh, oke deh." Refa yang tertinggal jauh dari Vio, lekas melambaikan tangannya pada Jessy dan bergegas menyusul temannya.
"Vio! Tungguin gue dong!"
***
"Lo nggak jadi pergi ke kamar mandi?" Tanya Refa yang sadar ketika mereka berbelok arah yang berbeda.
"Enggak."
"Lah, gue kebelet. Ayo dong temenin gue bentar." Refa yang tak sabaran langsung menarik lengan Vio ke arah kamar mandi. Gadis itu hanya mendelik kesal.
Ketika tiba di kamar mandi. Tiba-tiba saja langkah Vio terhenti. Tatapannya berubah menjadi waspada. Ia menatap ke sekeliling. Bulu kuduknya seketika meremang.
"Kok berhenti sih. Buruan!"
Vio hanya diam ketika Refa kembali menarik tangannya. Sesaat tiba di salah satu bilik, pupil mata Vio langsung melebar. Di pojok dinding, jauh di depannya sana. Seorang wanita dengan rambut tergerai berdiri menatapnya. Vio yang sadar langsung mengalihkan pandangan.
"Tunggu gue bentar ya!" Refa yang sudah tak tahan langsung menyerahkan tasnya pada Vio. Vio hanya diam saat ternyata Refa memilih bilik yang tepat berada di samping sosok itu.
Begitu pintu tertutup, Vio berbalik badan. Berjalan ke luar kamar mandi untuk menghindari sosok yang sedari tadi memperhatikannya. Jantungnya semakin berdegup kencang saat merasakan sosok itu mengikutinya dari belakang.
"Jangan ceritakan pada siapapun soal kemampuan kamu ya Vio."
"Kamu harus bisa menjaga dirimu baik-baik."
"Percayalah. Semua ini demi kebaikan kamu di tempat baru, oke?"
Vio yang panik berusaha bersikap normal. Ia berusaha mengendalikan dirinya. Tepat saat itu ponselnya berdering. Nama Jessy muncul pada layar.
"Halo Refa. Oh, kamu udah selesai? Okey. Aku balik ke sana. Maaf, tadi aku cuma jalan-jalan bentar."
Vio yang tadi menolak panggilan, seolah-olah berbicara membalas. Ia berbalik arah. Berjalan santai menembus sosok itu seakan tidak ada yang menghalanginya.
"Iya. Tunggu bentar. Kamu butuh tisu? Aku bawa tisu sekotak."
Tanpa berbalik, kepala sosok itu berputar 180 derajat memperhatikan langkah Vio yang baru saja melewatinya.
"Kamu lama banget sih!" Vio langsung melempar tas Refa begitu pemiliknya keluar.
"What? Gue baru masuk bentar dan Lo bilang-"
"Cepat! Keluar dari sini!" Dengan penuh penekanan Vio langsung menarik tangan Refa.
Dari jauh, dapat Vio lihat sosok itu yang masih berdiri di tempat yang sama. Tubuhnya membelakanginya, tapi wajahnya menoleh lurus ke belakang. Menatap tepat ke matanya. Vio berusaha menahan perutnya yang mual karena bau anyir. Darah sosok itu menetes ke lantai.
Sekuat tenaga Vio berjalan tenang dan tersenyum ketika kembali menembus sosok wanita itu. Beruntunglah, semuanya baik-baik saja. Sosok itu tidak lagi mengikutinya.
"Tapi aku yakin matanya menatap ke arahku tadi .... "
Seketika Vio menelan ludah.
***
"Vio, nongkrong ke kafe yuk." Ajak Refa setelah kuliah mereka selesai.
Vio mengernyit. Ia ingat ada tugas yang harus diselesaikan tentang jenis-jenis arsir.
"Tapi aku-"
"Bentar aja. Gue yakin Lo bakal suka sama tempatnya. Percaya deh sama sahabat Lo yang satu ini! Gue yang traktir Lo, oke?"
Baru saja membuka mulut, lengan Refa langsung merangkul dirinya. Mengajaknya masuk ke dalam mobil mewahnya.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah kafe yang ternyata tak jauh dari kampus mereka.
Begitu masuk, suara nyanyian merdu langsung menyambut mereka. Tatapan Vio, tak henti-hentinya terlepas dari band yang membawakan lagu di atas panggung. Hati Vio seketika bersorak.
"Kak Liam ternyata main gitar di kafe ini?!"
"Apa gue bilang. Lo bakal betah deh disini. Apalagi ada pujaan hati Lo buat cuci mata." Ujar Refa. Memilih salah satu meja, lalu memesan makanan.
"Lo mau pesen apa?"
"Samain aja." Sahut Vio yang dibalas dengan anggukan.
"Aku nggak nyangka ternyata Kak Liam main gitar di band itu. Keren bangettt!" Kagum Vio.
"Gue pun baru tahu juga. Kita disini sambil ngerjain tugas aja. Kafe nya buka sampai jam 10 kok. Tenang aja. Siapa tahu suasana baru bisa munculin ide-ide baru yang lebih seger." Refa mulai mengeluarkan alat gambarnya. Sedangkan Vio, gadis itu sudah sejak tadi menggoreskan pena di atas kertas. Menggambar seorang gitaris yang memetik senar.
Sepanjang menggambar, Vio tak henti-hentinya tersenyum. Sungguh perpaduan yang luar biasa. Latar belakang kafe dan seorang laki-laki bermain gitar. Ini menjadi salah satu mahakarya miliknya yang luar biasa.
"Eh, gue ada urusan."
Ucapan Refa langsung membuat Vio mengalihkan perhatian padanya.
"Gue cabut dulu ya. Bokap gue nyuruh gue balik."
"Kok gitu? Kamu -"
"Tenang aja. Semua udah gue bayar. Sorry ya, gak bisa lama-lama. Thanks udah nemenin gue. Lumayan satu jam buat nyicil tugas. Byeee." Refa langsung mengangkat tas dipunggungnya dan bergegas keluar.
Vio yang ditinggal sendirian menggerutu sebal. Berpikir Refa sengaja meninggalkannya.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu dan juga makanannya. Vio memilih untuk menikmati malamnya di kafe itu. Melukis sosok Liam, mengerjakan tugasnya sembari makan dan mendengarkan setiap alunan nada yang dipetik dari jari-jemari Liam.
Itu sangat memanjakan telinganya.
"Andai aja, ada lagi yang dinyanyikan cuma untukku." Vio menopang dagunya, menikmati wajah Liam dan musik yang menemani malamnya. Bahkan tak sekali dua kali tatapan mata mereka sempat berjumpa.
Begitu lagu terakhir selesai, semua anggota band mengucapkan terima kasih sebagai penutup penampilan malam ini. Vio pun tak kalah semangatnya ikut bertepuk tangan dengan penonton yang lain.
Ketika Liam dan teman-temannya hendak keluar dari kafe, Vio menyempatkan untuk menemui lelaki yang ia kagumi akhir-akhir ini. Dengan tersenyum malu-malu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyodorkan sebuah sketchbook yang berisi gambar lelaki itu. Vio yang merasa jantungnya sudah berdebar tak karuan langsung berlari, keluar meninggalkan kafe sendirian.
"Kayaknya tuh cewek naksir berat sama Lo. Minimal manfaatin sono. Lumayan buat mainan bentar. Tuh cewek juga cantik, polos lagi." Ucap teman Liam yang berada tepat disamping lelaki itu.
Liam hanya tersenyum miring menatap gambar dirinya di sebuah buku.
"Kalau gak bisa jaga, minimal gak mainin perempuan. Itu prinsip gue."
***
Begitu sampai rumah, Vio langsung melemparkan tubuhnya ke kasur. Ia tersenyum-senyum sendiri. Menutup wajahnya, gemas lalu berguling-guling.
"Aaa! Kak Liam keren banget waktu main gitar!"
"Mana matanya sempet lihatin aku lama lagi."
"Semoga aja gambarnya di museumkan di kamarnya!"
"Bukankah lebih baik kau pergi mandi daripada memikirkan lelaki itu?"
Mata Vio terbuka. Seketika, gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk di tepi kasur. Menatap malas pada sosok hantu yang berdiri di sudut dinding.
"Kamu selalu merusak suasana. Bukankah lebih baik kau tidur daripada mengganggu orang disini?" Walaupun begitu, Vio tetap menurut dan melangkah ke kamar mandi.
Setelah merasa tubuhnya lebih segar, Vio kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. Di meja belajar, matanya fokus menatap setiap goresan pensil pada kertas. Lampu belajar bentuk karakter kucing dari ibunya memberinya sedikit semangat. Sekuat mungkin ia mengenyahkan wajah lelaki itu dari kepalanya sejenak. Ada masa depan yang harus ia kejar.
Kurang sedikit lagi, tiba-tiba tanpa sengaja pensilnya terjatuh. Baru saja Vio menunduk, sosok laki-laki itu sudah terlebih dahulu mengambilnya. Vio mendongak, dia meletakkan pensilnya di meja.
"Terima kasih." Untuk kali ini, Vio berkata tulus.
"Jika sudah selesai, temui aku di balkon. Kau bisa memilih tidur jika ternyata sangat mengantuk."
Setelah mengatakan itu, sosok itu langsung menghilang. Seolah terbawa angin.
"Apa dia di dalam kamar aku sejak tadi?" Pikir Vio.
Setelah menyelesaikan tugas perspektifnya. Vio menghampiri sosok itu di balkon. Suara pintu berdecit pelan. Dari tempatnya berdiri, dapat Vio lihat sosok itu yang menyilangkan tangan dekat pagar. Wajahnya mendongak dengan kedua matanya tertutup rapat.
"Kalau dilihat kayak gini, dia nggak nyebelin kayak biasanya." Batin Vio.
"Kamu kayaknya suka banget menyendiri di balkon ini. Aku jadi penasaran, kok bisa ayah aku beli rumah ini yang kebetulan banget dulunya punya kamu." Ujar Vio mengawali pembicaraan.
Sosok itu membuka matanya, menoleh pada Vio yang mulai menghampirinya. Lantas, berdiri tepat di sebelahnya.
"Kamar yang kau tempati dulu adalah milikku."
Vio seketika menoleh.
"Kenapa kamu nyuruh aku ke sini? Aku ngantuk tauk. Cepetan, mau ngomong apa." Tanya Vio langsung ke inti.
"Kau boleh tidur jika mengantuk."
"Aish, cepetan mau ngomong apa! Aku nggak mau tidur dihantui rasa penasaran." Kejar gadis yang mengenakan jaket ungu itu. Lalu duduk di atas pagar, masih di seberang sosok itu.
"Aku membutuhkan bantuan kau. Mencari orang ini." Dia mengulurkan sebuah foto yang entah dari mana.
Vio mengambilnya, memperhatikannya lebih dekat.
"Orangnya walau udah tua tapi masih kelihatan ganteng. Memang beda ya aura orang old money." Kalimat itu keluar pertama dari mulut Vio sesaat melihat pria tua gagah yang mengenakan jas dalam foto.
"Tapi sayang sekali. Hatinya busuk."
"Dia yang menyebabkan kamu meninggal?"
Sosok itu mengangguk.
"Aku bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar sebagai teknisi keamanan."
"Cyber security ya?" Celetuk Vio dengan menjentikkan jari.
Sosok itu kembali mengangguk sabar. "Kau benar. Perusahaan kami adalah perusahaan teknologi yang menangani sistem keamanan klien seperti penyimpanan log data trafik, backup sistem dan lainnya. Waktu itu, aku ingin membongkar kelicikan Pak Dimas yang menjual data pribadi klien secara ilegal di dark web dan perusahaan lain yang ingin menjatuhkan perusahaan klien. Pria licik itu memanfaatkan data demi keuntungan pribadinya."
"Pulang dari kantor, aku langsung pergi ke rumah Kaivan untuk menceritakan kejahatan Kepala Divisi IT itu. Pukul 11 malam keluar dari rumahnya, aku diikuti dua mobil asing. Aku tahu, satu mobil itu milik Pak Dimas. Mereka sengaja membuatku kecelakaan hingga aku menabrak pembatas jalan."
Hati Vio ikut sakit mendengar itu.
"Beberapa bukti yang aku kumpulkan hilang. Kabar baiknya, Kaivan sepertinya masih memiliki file yang berisi beberapa data. Aku memberikannya salinan, walau tak semua. Kaivan sekarang pasti sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi. Tidak mungkin Pak Dimas akan mempekerjakan orang yang akan membahayakan dirinya. Kecuali Kaivan bersedia bersekongkol dengannya."
Vio mendengarkan dengan seksama. Sesekali mengangguk mendengarkan cerita sosok di depannya.
"Kamu meninggal sejak kapan?" Tanya Vio.
Sosok itu diam sejenak. Lalu meluruskan pandangan dinginnya pada Vio.
"Dua tahun yang lalu."
Vio tersentak. Kata 'dua tahun' itu seolah mengingatkannya pada suatu hal.
"Apa yang bisa aku lakukan buat bantu kamu?" Pagi tadi sosok itu meminta bantuannya, bukan?
"Sebenarnya aku kurang yakin melibatkan kamu dalam hal berbahaya ini." Dia menatap ke arah langit.
Entah mengapa, hati Vio ikut merasakan apa yang mungkin dialami sosok itu. Perlahan, Vio mengulurkan tangannya. Menepuk pelan pundak lelaki itu.
"Aku tidak tahu pasti apa masalah kamu. Tapi aku bisa merasakannya."
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kamu?" Tanya Vio sekali lagi.
Sosok itu menatap tangan Vio. Lantas menurunkannya pelan.
"Mari buat suatu perjanjian. Kau membantuku memecahkan kasus ini. Lalu aku akan mengabulkan permintaan kau."
"Kau dapat meminta apapun dariku. Namun aku hanya akan mengabulkan permintaan kau yang sepadan dan masuk akal."
"Gimana kalau aku sampai minta hati kamu?"
"Hati ayam mau? Aku bisa mencurikannya untukmu."
"Habisnya kamu ganteng sih. Coba kalau masih hidup. Nggak dapat imbalan pun ikhlas asal dapatnya kamuuu," Vio menopang dagunya, menatap lebih dekat wajah sosok didepannya.
"Kau juga cantik."
Vio mengerjapkan mata berulang kali.
"Eh?"
"Jangan terbawa perasaan. Aku hanya sekadar membalas pujian kau untukku tadi."
"Kau memujiku ganteng. Aku membalasnya cantik. Impas, bukan?"