"Apa yang kau masak?"
Vio menoleh, tangannya sedang sibuk mengaduk nasi goreng agar tidak gosong.
"Nasi goreng. Mau aku buatin juga?" Vio menawari. Sesekali ia membuka laci, menambahkan bumbu hingga rasanya pas. Setelah selesai, Vio lantas membawanya ke meja makan. Sarapan pagi, sesekali ia mencuri pandang pada sosok lelaki itu yang kini duduk di sofa ruang tengah. Dapur dan ruang tengah memang terbuka, hanya dibatasi oleh sekat kecil.
"Plis! Aku masih penasaran banget sama nama dia. Masa aku manggilnya Tuan Hantu. Ya gak lucu lah. Nanti dikira aku mau jadi peliharaannya lagi." Batin Vio.
"Oke aku manggil Tuan. Tapi dianya aja nggak kasih makan. Babu pun bakalan pergi dari Tuan seperti itu."
Setelah mencuci piring dan mengemasi barangnya. Vio bergegas ke arah mobilnya untuk berangkat kuliah.
"Aku pergi dulu ya." Ucap Vio ke arah sofa. Sosok itu menonton tv. Tidak menjawabnya sama sekali. Jangankan merespon, menoleh saja tidak.
"Dia ngajarin aku tata krama. Padahal dia sendiri yang nggak tahu sopan santun. Udah jadi hantu sikapnya kayak bocah." Vio yang masih berdiri di ambang pintu mengomel kesal. Tentu saja ia hanya berani melakukannya dalam hati.
"Aku tahu isi pikiran kau. Jadi berhenti memikirkan hal buruk tentangku atau kau angkat kaki dari sini!"
Mata Vio melotot.
"Kamu bisa baca pikiran aku?!"
Kali ini, sosok itu menoleh.
"Tentu saja. Dan aku juga pusing mendengarkan setiap celotehan dan bayangan Liam di kepala kau setiap malam. Itu kenapa kehadiran kau sangat mengganggu sekalipun kau hanya diam."
Vio menatap tak percaya. Tentu saja ia langsung malu dibuatnya. Pipinya memerah seketika.
"Kamu kalau ngomong jangan jujur-jujur amat dong. Malu tahu." Vio menutup wajahnya.
"Memang kau punya malu?"
"The real. Cuma otak yang di sekolahin tapi mulut ditinggal di rumah!"
***
Jika biasanya ia naik ojek online saat berangkat. Kali ini ia mencoba memberanikan diri membawa mobilnya sendiri, pemberian ayahnya. Ia pernah, ketika mengemudikan mobil dirinya hampir membahayakan keluarganya karena berbelok tiba-tiba dan hampir menabrak tiang listrik.
Malam itu, tidak ada siapa-siapa. Jam menunjukkan tepat 00.00 Wib. Jalanan sepi dan lengang. Ia tadi melihat ada seorang ibu dan anak lewat di tengah jalan. Tetapi saat ia turun dan memeriksanya. Hanya tersisa jalanan yang lengang.
"Oke Violetta. Tenang. Nggak perlu takut. Lihat tanda-tandanya. Kalau dia hantu, berarti kakinya melayang dan wajahnya aneh. Dia bukan manusia normal." Vio menarik nafas panjang. Mengepalkan tangan erat sampai akhirnya mulai memegang bangku kemudi di depan.
Baru saja menyalakan mobilnya, Vio langsung dibuat kaget dengan ketukan kaca mobil di sebelahnya.
"Kamu nggak bikin aku kesel sehari bisa nggak?!" Sungut Vio. Ia langsung membuka pintunya kencang. Berharap hantu itu kejedot jidatnya. Tapi ia lupa, dedemit itu dapat menembusnya.
"Kenapa?" Tanya Vio dengan nada cuek. Ia tetap berada di mobil, melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Jangan pergi keluyuran. Usahakan langsung pulang ketika kuliah selesai. Tidak baik untuk wanita pergi sendirian."
Vio terdiam. Pupil matanya membesar, lantas menoleh ke arah sosok itu tak percaya. Tapi sayang sekali, sebelum ia membuka mulut. Ucapan sosok itu sudah menamparnya terlebih dulu.
"Jangan berpikir macam-macam. Itu karena aku tak ingin kau terluka sehingga kau tidak dapat membantuku. Malam nanti adalah tugas pertama kau."
Vio langsung berdecak kesal. "Kirain perhatian. Ternyata ada maunya. Perasaan dari kemarin kamu bikin emosi terus tiap pagi."
Sosok itu hanya menatapnya datar. Mungkin menurutnya ucapan Vio tidak perlu ia tanggapi.
"Lakukan saja perintah ku." Ucapnya dingin, lantas menghilangkan.
"Iya-iya aku lakuin. Aku bakalan bantu kamu baru habis itu biar kamu pergi dengan tenang terus nggak gangguin aku lagi!" Vio menarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengumpulkan kesabarannya.
***
Siang hari ketika kelas pertama selesai, Vio memutuskan pergi ke perpustakaan. Kelas kedua di mulai pukul satu siang. Karena itu, memanfaatkan waktunya untuk membaca.
Jika biasanya dirinya pergi dengan Jessy dan Refa, kali ini ia sendirian. Meneliti setiap buku diantara rak-rak yang menjulang tinggi. Vio mencari buku yang berisi desain bangunan untuk memberikan inspirasi gambarnya.
"Yah, tinggi banget." Vio melompat kecil, berusaha menggapai buku yang berada di rak paling atas.
Sebuah buku di rak samping tiba-tiba saja jatuh. Vio berjongkok, berniat mengembalikan buku yang entah dijatuhkan oleh siapa. Mungkinkah seseorang yang mengambil buku dari sisi lain?
Baru saja memasukkan buku itu kembali ke susunan, buku yang hendak ia ambil tadi terjatuh. Entah kebetulan atau tidak, tapi itu cukup memudahkannya. Apakah sosok penjaga perpustakaan tak terlihat yang membantunya? Siapapun itu, ia mengucapkan terima kasih.
Vio mencari tempat duduk untuk membaca. Tanpa menyadari, bahwa ada seseorang di sisi lain rak buku. Liam, sengaja menjatuhkan dua buku untuk membantu gadis itu. Bahkan, ia juga duduk agak jauh, mengamati Vio yang tenggelam dalam buku.
Ketika Vio meminjam buku, lalu keluar mencari makan. Lelaki itu pun mengikutinya dari belakang. Bahkan setelah Vio menyelesaikan makannya, ia pula yang membayarnya secara diam-diam. Liam ingin memastikan, gadis itu selamat hingga kelas berikutnya. Bahkan ia mengambil tempat duduk tepat di belakang Vio. Tentu saja ia membelakangi gadis itu. Pendengarannya yang tajam bisa merasakan kepergian Vio lewat suara decit kursi.
Terlalu fokus, Liam tak sadar bahwa seseorang yang baru saja melewati mereka hampir saja menjatuhkan gelas kaca dari nampan. Vio refleks langsung berbalik menangkap gelas itu sebelum mengenai kepala Liam.
Liam menoleh. Tatapannya yang bertemu dengan manik mata cokelat Vio sejenak membuatnya membeku.
***
Baru saja Vio pulang, dirinya sudah disambut dengan hantu tanpa nama yang sudah menunggunya di ruang tengah. Ia lelah hari ini, tapi ia sudah berjanji untuk membantu sosok itu.
Menyebalkan, tapi tidak tega.
Seandainya ia menjadi hantu, ada masalah yang belum terselesaikan. Pasti ia juga tak akan tenang. Hanya sedikit orang yang dapat melihatnya. Jika sudah begitu, ia harus bagaimana sedangkan dirinya sudah bukan manusia.
"Ada makanan di lemari dan air hangat. Kau bisa memilih antara makan terlebih dulu atau mandi." Sosok itu fokus menonton tv.
"Kamu yang masak?" Tanya Vio skeptis.
"Tidak. Aku mencurinya di warung depan dan menggunakan dispenser untuk air panasnya."
"Masa?" Vio berjalan ke dapur. Mengecek galon yang ternyata airnya masih sama seperti tadi pagi. Lalu makanan? Ia tak melihat ada yang menjual pizza di sekitar rumah ini. Apalagi di warung.
"Galon pagi tadi habis. Maka aku menggantinya. Harusnya kau berterima kasih pada Tuan mu dan menuruti perintahnya." Suara sosok itu masih sama, terdengar dingin.
"Pizza ini nggak kamu beli dari warung goib kan? Takut banget kalau aku makan tiba-tiba berubah jadi daun, sosisnya belatung sama kejunya da-"
"Tinggal kau makan atau buang!"
Vio terkejut mendengar nada seperti itu. Tapi akhirnya tersenyum manis. Terkesan dipaksakan.
"Terima kasih Tuan Hantu. Kau sangat baik. Teruslah bersikap seperti ini. Karena singamu ini bisa melawan jika kau tidak merawatnya dengan baik." Sindir Vio. Ia mengambil pizza lalu memakannya di ruang tengah. Duduk disamping pria itu dan ikut menonton tv.
"Lumayan. Makanan gratis."
"Kamu mau nggak?" Vio menyodorkan satu slice pizza. Pria itu hanya diam.
"Dingin banget."
Ketika menyuapkan pizza ke mulutnya, pria itu mendorong kotak tisu di meja depannya.
"Untuk mulut kau yang makan belepotan."
"Tentu. Terima kasih." Balas Vio sedikit penekanan. Kepalanya berpikir, apa yang dapat ia berikan untuk mulut pria yang dingin dan kaku itu?
"Mari kita berpikir. Apa yang dapat aku berikan untuk mencairkan pria beku itu?" Vio menatap lurus sosok itu.
"Kau kenapa?"
***
"Jadi aku cukup menemukan laptop dan barang bukti kamu yang tertinggal di rumah Kaivan lalu dengan bantuan kamu, aku membongkar semuanya? Itu cukup mudah."
"Kau jangan menganggap ini sepele. Membongkar kasus ini bisa membahayakan nyawa kau. Karena itulah aku berpikir dua kali untuk menyeret kau dalam kasus ini."
"Kenapa harus takut? Coba deh bayangin. Aku punya kamu yang bisa jadi bodyguard gratis dan rahasia. Jadi kalau ada yang nyakitin aku, kamu yang bakalan jaga aku. Kamu bisa lihat mereka, tapi mereka nggak bisa lihat kamu. Mereka nggak bakalan bisa melawan kamu." Jelas Vio. Mereka kini sedang duduk di sofa balkon.
"Kau pikir semudah itu?"
"Kenapa kalau ngomong sama kamu aku merasa terintimidasi ya?" Sebal Vio.
"Aku pernah mencari Kaivan. Tapi rumahnya sudah dijual. Aku yakin, ini ada campur tangan Kepala Divisi IT itu."
"Besok, kita mencari Kaivan. Mungkin akan aneh jika kau tiba-tiba menanyakan laptop dan data milikku. Atau dia tidak percaya pada kau. Jika itu terjadi, aku yang akan ambil alih."
"Setelah barang itu ada, aku baru bisa mengakses datanya. Mungkin aku juga membutuhkan bantuan kau untuk menyusup ke kantor itu."
Bola mata Vio melebar. Lantas menimpuk lengan pria itu dengan buku tebalnya. Ia mengangkat tak percaya.
"Kamu kan bisa tembus apa aja. Kenapa nggak kamu yang cari dan ambil sendirian? Nggak ada orang yang bisa lihat kamu." Vio terheran.
"Lalu bagaimana dengan pengakuan untuk membongkar kejahatan itu? Aku tidak bisa dilihat oleh Keivan secara langsung."
"Iya juga ya. Terus kamu butuh bantuan aku buat menyelidiki kasus kematian kamu atau mengungkap kejahatan Bapak tua itu?"
Sosok itu terlihat berpikir.
"Semua. Apakah kau keberatan?"
"Ya pastilah agak berat. Makanya, buat imbalan aku bakalan minta dua permintaan. Gimana?"
Sosok itu mengangguk.
"Oke. Kita memiliki kesepakatan yang saling menguntungkan. Aku bantu kamu. Kamu akan memenuhi dua permintaan aku. Karena aku belum tahu bakalan minta apa, jadi aku bakalan kasih tahu waktu semua udah clear. Deal?"
Ahren kembali mengangguk.
"Jawab dong. Masa tiba-tiba jadi pendiem."
"Tentu Letta."
"Deal!" Vio langsung memegang tangan Ahren. Seperti orang yang berjabat tangan, perjanjian telah disepakati. Vio tersenyum manis.
Sedangkan, Ahren yang bisa mengetahui isi pikiran Vio diam-diam berusaha memahami gadis itu.
"Sebagai permulaan. Aku mau tahu nama kamu. Siapa nama kamu?" Vio masih belum melepaskan genggamannya. Bahkan sengaja menahan. Ia sudah memberikan tatapan mengancam tak ingin membantu lelaki itu jika menolak.
"Ayo dong. Masa aku manggil kamu hantu? Tuan Hantu? Ghost? Atau sekalian dipanggil Ghosting?"
"Please. Nama kamu. Siapa?" Vio tersenyum memohon. Kelopak matanya berkedip berkali-kali ke arah lelaki itu. Dalam hati ia tertawa keras saat melihat pria itu menatapnya jijik dan aneh.
"Ahren."
"Apa?" Ucapan pria itu terlalu cepat dan tak terdengar jelas.
"Ahren."
"Aren?"
"AHREN, LETTA!"
Vio terkejut sampai memundurkan tubuhnya. Tangannya langsung mengelus dadanya.
"Santai Bang. Jangan teriak-teriak, udah malem."
Lelaki itu tak menjawab. Kecuali menatapnya dengan malas. Sepertinya sudah muak dengan sikapnya. Memang dirinya bagaimana?
"Oh, jadi nama kamu Ahren. Salam kenal Ahren. Namaku Violetta."
"Sudah tahu." Ahren menjawabnya cuek.
Diam-diam Ahren berusaha membaca isi pikiran gadis itu. Namun, tak ada informasi yang ia dapatkan dari kepala gadis didepannya ini tentang permintaannya.
"Apakah kau benar-benar akan meminta hatiku sebagai imbalan perjanjian itu, Letta?"