Pagi-pagi setelah sarapan, Vio dan Ahren bersiap-siap untuk pergi ke rumah Kaivan. Lumayan jauh karena beda kota. Tapi demi janjinya dan juga balas budi, Vio tetap membantu pria itu. Bahkan akan melakukannya dengan senang hati.
Ia akan berpetualang.
Duduk dibangku kemudi, Vio langsung memasang seat belt dan menoleh ke Ahren yang duduk disebelahnya.
"Kamu ingat, kan arah rumahnya?" Ahren sudah memberi tahu dirinya banyak tentang Kaivan, tapi sayang sekali. Semua itu hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Ia tidak benar-benar mendengarkannya. Kecuali menyantap sarapan dan menonton tv kartun kesukaannya.
"Tentu." Ahren menjawab singkat. Ia tahu apa isi pikiran gadis itu.
Vio mengacungkan kedua jempolnya. Menyalakan mobil, lalu mengendarainya ke jalanan. Tak lupa, ia memutar musik ringan —Think I'm Gonna Love You untuk menemani perjalanan mereka. Semua berjalan normal. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Vio pun bahkan tak tahu harus memulai percakapan apa. Toh, hantu itu yang tahu isi otaknya juga memilih tutup mulut.
Vio mengendikkan bahu tak peduli. Udara pagi ini masih segar, ia tak ingin hal apapun merusak semangatnya.
"Kanan, depan kiri."
Tanpa menyahut, Vio terus mengikuti instruksi lelaki itu. Sampai tiba-tiba ia mengerem mobilnya mendadak. Membuat kepalanya hampir terbentur setir mobil. Bahkan kendaraan di belakangnya pun berhenti mendadak. Lalu marah-marah dan memaki Vio ketika melewatinya.
"Kenapa kau berhenti mendadak?"
"Kamu nggak lihat nenek-nenek yang menyeberang jalan tadi? Nenek itu satu kaum sama kamu, kamu nggak kasihan kalau aku tabrak?"
"Apa kau juga tidak kasihan jika ada orang yang menyusul nenek itu?" Sinis Ahren. Langsung membuat Vio kesal, ia tidak ingin dimarahi. Dirinya hanya berniat baik. Lagipula ia juga refleks mengerem tadi. Mana sempat ia melihat kaki nenek itu mengambang atau tidak sedangkan wanita tua itu tiba-tiba sudah berjalan tepat didepan mobilnya.
"Keluar."
"Hah?"
"Keluar."
"Kamu—"
"Apa perintah ku tidak jelas, Violetta?"
Pagi indahnya berhasil dirusak Ahren. Setelah meminggirkan mobilnya, ia keluar dengan segala u*****n di kepala. Biar saja pria itu mendengarnya. Bahkan ia sengaja menutup pintu dengan keras meluapkan kekesalannya. Sekarang, ia berdiri tepat di depan mobil. Tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Ahren melakukan hal yang sama. Menghampirinya, lalu menarik lengan Vio.
"Kamu mau—"
"Kepala kau berisik. Aku harap mulut kau tidak sama."
Ahren membuka pintu lalu menyuruh Vio duduk. Sebelum kembali menutupnya, pria itu memperingatkan sebentar.
"Aku harap kau bisa duduk dengan tenang." Lalu pintu ditutup dengan keras, membuat Vio tersentak.
"Balas dendam ya?"
"Heh, kamu kalau ngomong pedes juga ya!" Vio berteriak dari dalam.
Ketika pria itu sudah duduk di bangku kemudi. Vio membuang muka. Satu hal lagi berhasil membuatnya terkejut. Ahren memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Tatapan matanya bertemu dengan pria itu, jarak mereka sangat dekat. Nafas Vio seketika tertahan.
"Perjalanan kita masih panjang. Aku harap kau tidak membuang banyak tenaga."
Setelahnya, pria itu mengambil sesuatu dari kursi belakang. Sebuah totebag hitam, lantas menaruhnya di atas paha Vio.
"Bukankah lebih baik menggunakan mulut kau untuk makan dibandingkan mengoceh? Tenanglah, snack itu aku dapatkan dari minimarket."
Vio tidak terkesima.
"Kamu mencuri?"
Vio langsung menangkap sebuah kartu kecil yang dilemparkan ke arahnya. Kartu ATM miliknya. Mata Vio melebar, ia langsung mengecek dompetnya.
"Kok kamu—"
"Tentu saja tahu. Kau tidur di kamar ku, memang apa yang bisa kau sembunyikan dariku?"
***
Satu jam perjalanan, Vio sudah mengumpulkan banyak ide tentang bangunan di kepalanya. Otaknya berpikir liar menggabungkan berbagai bentuk bangunan. Bagaimana jika suatu rumah terinspirasi dari gas melon? Rumah lucu berbentuk Hello Kitty? Atau wahana menantang berbentuk bom?
Dirinya ingin mewujudkan pintu Doraemon di rumah yang bisa menghubungkan ke beberapa ruangan rahasia.
"Dia membuatku lelah." Ahren memandang malas Vio yang sedang menatap ke luar jendela malas. Pikiran gadis itu sangat abstrak. Membuatnya pusing.
Beberapa menit kemudian, Ahren membelokkan mobil dan berhenti di sebuah depan pagar rumah. Rumah bergaya kontemporer dua lantai itu semakin membangkitkan imajinasi Vio. Gadis itu ikut turun ketika Ahren keluar dari mobil. Mengikuti Ahren, pria itu tampak terkejut saat tahu bahwa ternyata rumah temannya telah dijual.
"Kavian tidak berada disini." Baru saja Ahren hendak mengulurkan tangannya. Vio sudah lebih dulu menghubungi nomor ponsel yang ada pada papan.
Ahren menunggu.
"Nggak ada jawaban. Ponselnya mati." Ujar Vio. Melempar ponselnya pada Ahren. Dengan sigap pria itu langsung menangkapnya, lantas mengetikkan sesuatu dan mulai mendekatkan benda persegi itu ke telinga.
"Kamu nggak percaya banget sama aku. Udah aku bilang—"
"Shut up. Aku menghubungi rekan dekat Kaivan. Bukan Kaivan." Tajam Ahren. Membuat garis itu seketika bungkam.
Masih tak ada jawaban. Seorang wanita tiba-tiba menghampiri mereka. Ahren pun langsung memberikan ponsel itu ke Vio. Takut jika ibu yang sedang menggendong bayi ketakutan melihat ponsel melayang.
"Permisi mbak. Mbak cari orang yang dulu tinggal disini?"
Vio mengangguk. "Iya, namanya Kaivan. Ibu tahu Kaivan sekarang berada di mana? Sepertinya rumah ini dijual."
"Oh, Mas Kaivan sudah menikah mbak. Rumahnya dijual, dia pindah ke kota istrinya. Kebetulan saya tahu alamatnya."
Vio langsung sumringah mendengar itu. Refleks lengannya langsung menyenggol Ahren. Membuat pria itu merasa sedikit risih karena, sok akrab?
"Saya minta nomor ibu ya? Nanti ibu kirim alamatnya ke nomor saya."
"Boleh mbak."
Vio menoleh, masih memberikan senyum senang ke arah pria itu. Setelah mendapatkan alamatnya, perjalanan mereka kembali di mulai. Vio yang sudah merasa kenyang memilih berkutat dengan sketchbook-nya. Bukan bangunan yang ia gambar, tetapi hal yang lebih hebat.
"Coba lihat! Bagus nggak?!" Vio menunjukkan bukunya pada Ahren. Menampilkan gambar sosok pria itu yang tengah menyetir.
"Digambar aja ganteng kayak gini, apalagi di real life. Untung cuma aku yang bisa lihat kegantengan kamu." Vio menggoda Ahren dengan senyum genitnya.
"Kau bertingkah seperti cacing kepanasan."
"Terserah dong. Aku yang bertingkah, kenapa kamu yang kepanasan?" Kali ini Vio menopang dagunya, mengedipkan matanya berulang kali.
"Jadilah manusia normal seperti pada umumnya." Ucapnya dingin.
"Kan dari dulu aku memang bukan manusia normall. Buktinya aku bisa lihat kamu." Jari telunjuk Vio menyentuh lengan Ahren. Membuat tatapan tajam langsung menghunusnya.
"Diam atau aku—"
"Lariii!" Vio dengan cepat langsung melompat ke kursi belakang. Bersembunyi dari kemarahan hantu itu, lalu tertawa keras sambil memegang perutnya.
"Kamu lucu banget sih kalau ngambek." Vio menyeka air matanya, menatap hantu itu yang memejamkan mata seolah sudah muak dengan tingkahnya.
3 detik kemudian, ketenangan Ahren kembali terganggu karena kepala Vio tiba-tiba muncul tepat disampingnya dari belakang mengagetkannya. Selama jadi hantu, ia belum pernah sejahil ini dengan manusia. Yang ada, manusia yang sering cari gara-gara. Salah satunya gadis itu yang sedang mencari masalah dengannya.
"Cieee, kaget yaaa!?"
"Sekali kau menggangguku, tidak akan aku izinkan kau menempati rumah ku." Ancam Ahren.
"Tuanku ini lucu banget sih ... Nggak bisa. Secara hukum, rumah itu sudah dibeli ayah aku dari orang tua kamu. Jadi kamu nggak bisa usir aku." Kali ini Vio semakin memajukan wajahnya sejajar dengan Ahren.
"Tapi aku bisa membuat kau tidak betah."
"Caranya? Apakah kamu bakalan berubah wujud menjadi hantu mengerikan?" Vio menantang.
Sejenak, pandangan Vio lurus ke depan. Namun karena Ahren tidak membalas, ia melirik ke arah pria itu, matanya langsung membulat sempurna ketika melihat sebuah darah mengucur dari kepala Ahren. Mengalir hingga ke pipi samping pria itu.
Vio menelan ludah. Ia langsung memundurkan wajahnya, menggeser tubuhnya menjauh. Bulu kuduknya seketika meremang karena hawa dingin tiba-tiba menyengat kulitnya. Tatapan Ahren berubah mengintimidasi.
"Ah-Ahren... kamu nggak bakalan ajak aku mati, kan?" Suara Vio terdengar gemetar. Jantungnya mulai berdegup semakin kencang.
Apalagi saat Ahren mulai menolehkan wajah ke arahnya. Menampakkan muka Ahren yang penuh darah. Darah segar keluar dari telinga, kepala dan hidung pria itu. Untuk pertama kalinya, Ahren tersenyum dengan tatapan mengerikan seolah siap menerkamnya.
Vio menggeleng kuat. Kedua tangannya menutup rapat wajahnya, semakin menempelkan tubuhnya pada sudut pintu mobil.
"Kau ingin berpetualang di dimensi lain bersama ku, Violetta? Dengan senang hati aku akan memandu mu."
"Enggak! Tolong pergi! Jangan ganggu aku! Tolong .... " Nafas Vio terasa semakin sesak. Tangan Vio bergerak menyentuh dadanya, matanya terpejam.
"Aku pergi pun kau akan berakhir sama. Kau pikir Liam yang akan menggantikan ku mengemudikan mobil ini?"
"Diam! Jangan takuti aku!" Vio berteriak dengan nafas yang terengah-engah. Tangan berusaha meraih sesuatu yang bisa ia jadikan s*****a. Tapi nihil. Ia tak menemukan satu barang pun kecuali bantal.
"Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, kau masih membayangkan wajah Liam. Cih, berharap sekali dia akan datang menjadi pahlawan kau." Terdengar suara tawa pria itu yang mampu membuat gendang telinga Vio pecah.
"Jangan ganggu aku, aku mohon ... maaf," rasanya oksigen di sekitar Vio semakin menipis. Ia berusaha mengais udara lewat mulutnya. Matanya yang terpejam terlihat memerah.
Dalam bayangan Vio, hantu itu tersenyum sinis menatap ke arah jalanan. Bersorak dengan kemenangannya. Walau dirinya sadar bahwa semua itu hanya sekadar balas dendam Ahren. Tapi entah mengapa seperti ada rasa sesak yang tak bisa ia kendalikan.
"Gelap .... " Kali ini air matanya menetes. Kedua tangan Vio memegang dadanya yang semakin tak dapat bernafas.
"Kau ingin menjadi partner setiaku, Violetta?"
"Menemaniku dalam suka dan duka. Lucu sekali bukan?"
"Hentikan .... " Suara Vio terdengar semakin melemah. Ia berusaha meraba-raba tombol untuk membuka jendela. Berharap bisa meminta bantuan bahwa dirinya sedang diculik makhluk jahat.
"Jadilah teman mati ku Violetta," suaranya terdengar semakin menyeramkan.
"Tolong ... gelap ... kebakaran .... "
Ahren tertawa puas. Karena fak mendengar lagi suara ketakutan gadis itu. Beberapa saat kemudian ia terpaksa menengok ke belakang. Seketika terkejut menemukan gadis itu yang sudah dalam keadaan tak sadar.
"Letta!" Ahren langsung meminggirkan mobil. Keluar, lalu membuka pintu bagian belakang. Memastikan keselamatan gadis itu.
"Letta! Bernafaslah! Aku tidak memiliki oksigen untuk memberikan kau nafas buatan." Ahren masuk ke mobil, meluruskan tubuh Vio dan meletakkan kepala gadis itu di pahanya.
"Woi! Jangan mati singa!"
"Aku tidak ingin menjadi tuan abadi kau di dunia lain!"
"Letta? Kau tidak bercanda?" Ahren menepuk pipi Vio. Berharap gadis itu sadar. Ia menopang kepala Vio dengan lengan kekarnya.
"Diem. Tahan ... tahan."
"Jangan berpikir. Jangan mikir macem-macem, Vio."
"Ya elah. Semakin nggak pengen mikir kok malah makin kepikiran."
"Takut banget nanti mati beneran kalau ketahuan .... "