"Takut banget nanti mati beneran kalau ketahuan .... "
Cukup lama suasana hening menyelimuti Vio. Dirinya semakin penasaran apakah ia masih berada di dalam mobil atau tidak. Tetapi kepalanya merasakan bahwa ia masih bersandar pada pria itu.
Sial. Dia malah ketiduran tadi saat berusaha mengosongkan pikirannya.
Karena tak kunjung mendengar suara Ahren, Vio sedikit mengintip, sampai akhirnya ia membuka seluruh kelopak matanya. Vio langsung terlonjak kaget ketika melihat wajah pria itu di atasnya. Hantu itu melipat kedua tangannya, lalu tidur bersandar pada kursi. Sedangkan dirinya tadi tidur dengan bantal kaki pria itu.
Bukan wajah Ahren yang membuatnya terkejut. Tidak! Wajah pria itu sudah kembali normal. Tampan seperti biasanya. Hanya saja, perasaan aneh ketika berada sangat dekat dengan lelaki itu yang membuatnya terperanjat.
Vio memegang dadanya, berusaha mengontrol detak jantungnya.
"Kau sudah bangun? Nyaman sekali kau-"
"Maaf, aku mengaku salah." Vio menyatukan kedua tangannya, sedikit menjaga jarak.
"Kamu nggak bakalan hukum aku, kan?" Pinta Vio memelas.
Tanpa menjawab, Ahren langsung keluar dari mobil dan pindah ke bangku kemudi. Kembali mengendarai mobil itu membelah jalanan tanpa mempedulikan Vio. Gadis itu juga ikut pindah disampingnya.
Hening kembali menyeruak diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Ahren yang terlebih dahulu membuka mulut.
"Pindah."
"Hm? Apa?" Kening Vio berkerut
Jari telunjuk Ahren memberi isyarat agar Vio pindah ke tempat duduknya. Bukan berganti tempat, melainkan menggantikan posisi sementaranya sebagai pengemudi. Ada polisi di depan.
"Tunggu. Aku ragu apakah kau memiliki SIM dengan kemampuan berkendara seperti itu?"
"Kau mengejekku?" Sinis Vio kembali dibuat kesal. Awalnya ia menolak. Tapi karena melihat polisi itu sudah mendekat, mau tak mau Vio langsung beranjak. Membuka jendela mobil, tersenyum seraya menyerahkan surat-suratnya ke polisi.
"Terima kasih. Untuk surat-suratnya lengkap ya. Mbak bisa melanjutkan perjalanan."
Setelah menerima kembali suratnya, Vio tersenyum mengangguk. Ia sekarang berada di kursi yang sama dengan pria itu. Tentu saja ia tetap jaga jarak dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata Vio menatap lesu kedua tangannya yang memegang setir mobil. Bagaimana caranya menjalankan mobilnya ini? Apakah ia juga harus menginjak kaki pria itu?
"Ada masalah mbak?"
Vio tersentak saat polisi itu kembali mendatanginya. Ia tersenyum kikuk, dengan ragu kakinya bergerak menyentuh gas. Tapi tidak setelah Ahren langsung memegang tangannya lantas mulai menjalankan mobilnya.
Ahren kembali menutup jendela mobil.
"Lepasin tanganku."
"Bukankah ini kesempatan kau untuk belajar mengemudi?"
"Lepasin!" Vio berusaha menarik tangannya, namun tangan Ahren justru memegangnya lebih kuat.
Tak ingin duduk berdua lebih lama, Vio langsung menggigit lengan pria itu. Ahren langsung menghindar, dan ketika hantu itu mengangkat tangannya yang seolah mengurung tubuhnya, Vio langsung melompat.
"Padahal kau tadi berusaha ingin mendekatiku. Kenapa sekarang menjauh?" Ahren tersenyum miring.
"Kamu balas dendam?" Vio tak berani menatap mata Ahren. Ia memilih memalingkan muka ke jendela.
"Sekarang kau tahu rasanya dijahili bagaimana."
"Tapi bukan gitu. Kalau aku tadi kan cuma iseng. Kalau kamu .... " Vio tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau aku serius?"
****
Ahren menghentikan mobil di depan satu rumah. Mata Vio langsung menelisik bangunan besar bergaya japandi itu. Memperhatikan detail kecil, bagaimana struktur keamanan rumah dan desainnya.
"Kaivan sama istrinya punya selera berbeda." Batin Vio.
Setelah menekan tombol dekat pagar, seorang wanita dengan rambut bob membukakan gerbang. Vio dapat langsung tahu bahwa wanita yang sekitar berumur 23 an tahun itu adalah istri Kaivan. Ada cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Selamat sore. Perkenalkan saya Vio. Saya mencari Kak Kaivan, apakah ada di rumah?" Tanya Vio agak kaku.
"Sore. Mas Kaivan sekarang masih di kantor, ada perlu apa ya?" Tanya wanita itu sopan.
"Saya .... " Vio melirik Ahren. Bingung harus berbicara apa.
"Bilang saja teman kantor di perusahaan Itsecurity DataQ."
"Saya teman kantor Kak Kaivan di perusahaan Itsecurity DataQ sebelum Kak Kaivan pindah kerja. Saya ada perlu untuk membicarakan data perusahaan. Karena hanya Kak Kaivan yang tahu." Jawab Vio sedikit ragu.
"Oh, kalau begitu tunggu di dalam saja. Sebentar lagi Mas Kaivan pulang." Wanita itu mendorong pagarnya, mempersilahkan Vio masuk.
Begitu tiba di dalam, mata Vio terpaku pada interior rumah yang simpel dan hangat.
"Mas Kaivan sudah dua tahun tidak bekerja di kantor itu. Sekarang dia bekerja di perusahaan baru. Kamu sudah berapa lama bekerja di sana?"
"Anak magang."
"Saya tidak bekerja. Saya anak magang disana."
"Oh, baru magang. Memangnya data apa yang pengen kamu tahu?"
Vio menghela nafas panjang, tetap memaksakan bibirnya tersenyum ramah.
"Ada data perusahaan yang hilang. Selain itu kamu perlu belajar tentang perusahaan itu."
"Saya ingin membantu teman saya. Ada data perusahaan yang ternyata hilang, sepertinya Kak Kaivan masih memiliki salinannya. Ini demi kepentingan klien. Selain itu, saya juga ingin belajar lebih dalam soal perusahaan itu."
"Kok kayak malah jadi interview sih?" Sebal Vio.
"Memang di perusahaan, Vio tidak diajari atau training?"
Kali ini Vio langsung menginjak kaki Ahren yang duduk di sebelahnya. Disaat dirinya sering kebingungan dengan kebohongan yang dibuat. Pria itu justru duduk santai sambil memperhatikan setiap sudut rumah.
Akhirnya, orang yang ditunggu tiba. Benar saja, wanita itu langsung mencium tangan Kaivan-suaminya, dan pergi ke belakang dengan membawa serta jas dan tas suaminya. Vio berani bertaruh, wanita itu akan kembali dengan segelas kopi atau minuman lain untuk suaminya.
Mudah saja, pola yang berulang.
"Aku Kaivan. Aku tahu dari Dewi kalau kamu ada perlu sama aku. Soal apa?" Sambut Kaivan dengan senyum hangatnya.
"Saya Vio." Vio tersenyum, menyambut uluran tangan Kaivan. Lantas kembali duduk di sofa.
"Makasih ya," Kaivan langsung mengambil secangkir kopi yang disuguhkan istrinya.
Sembari menunggu Kaivan yang menyeruput minum buatan Dewi, Vio memutar otak untuk memulai pembicaraan. Ia yang hanya orang asing tiba-tiba membicarakan hal rahasia tentang perusahaan. Apa tidak aneh?
"To the point saja. Tidak perlu bertele-tele."
Vio melirik Ahren sinis. Lalu menoleh kembali Kaivan dengan mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah hantu itu.
"Saya ingin menanyakan soal data salinan bukti kecurangan Kepala Divisi IT perusahaan Itsecurity DataQ."
Deg. Detak jantung Kaivan seakan berhenti di detik itu juga. Pupil mata Kaivan melebar. Bahkan kopi yang berada dalam mulutnya hampir ia semburkan.
"Setelah sekian lama. Akhirnya ada yang membicarakannya lagi."
"Apa maksud kamu?"
"Saya teman Ahren. Tentu Kak Kaivan tahu sahabat kakak sendiri. Dia meminta bantuan saya untuk mengungkap kasus kematiannya dan kejahatan Pak Dimas."
Kaivan mengernyit. Sedikit tak percaya dengan gadis muda didepannya ini. Tentu saja, bagaimana bisa ia percaya dengan orang asing yang baru ia kenal sore ini?
"Saya bisa melihat Ahren, sekalipun dia sudah tidak ada. Bisa dikatakan, saya memiliki kemampuan berbeda sehingga saya bisa melihat hal seperti itu."
"Bagaimana aku bisa percaya soal itu?" Sangsi Kaivan.
Vio menatap sekelilingnya. Disaat-saat seperti ini, pria itu justru menghilang. Membuatnya jengah.
"Ahren pergi." Ucap Vio. Beruntunglah sorot matanya langsung menangkap sosok Ahren yang berada di tangga. Gadis itu langsung berdiri, menghampirinya dan menarik lengan Ahren agar kembali duduk manis disampingnya.
"Kamu cari apa sih? Jangan keliaran sembarangan di rumah orang!"
"Mending kamu jelasin langsung deh sama Kak Kaivan. Bingung tahu!" Semprot Vio.
"Kak Kaivan, bolehkah saya meminta selembar kertas dan bolpoin?"
Kaivan mengangguk. Ia langsung membuka laci dan memberikan benda itu pada Vio. Vio langsung menggeser cepat ke meja depan Ahren.
"Tulis keperluan kamu. Jelasin sama Kak Kaivan tujuan kamu." Titah Vio tegas. Ia sudah tak ingin memusingkan urusan itu lagi.
Ahren mengangguk, dengan cepat segera mengambil bolpoin dan menuliskan beberapa kalimat.
Kaivan, tolong percaya. Aku Ahren. Aku bukan roh jahat atau sekadar makhluk halus bualan dari mulut gadis itu. Aku disini. Aku membutuhkan bantuan mu.
Kau ingat dulu aku pernah ke rumahmu membicarakan soal kejahatan Pak Dimas? Aku pernah memberikan beberapa bukti padamu yang akan kita gunakan untuk membongkar kebusukan pria itu.
Setelah kecelakaan itu, barang pribadi ku seperti laptop, dompet, dan lainnya dirampas oleh anak buah pria tua itu. Aku sempat melihatnya sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran.
Kaivan yang membaca tulisan itu menelan ludah. Antara sedikit tak percaya dan bimbang. Ia tak bisa membicarakan hal ini pada orang yang salah.
Katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu percaya bahwa ini adalah aku.
Kaivan menggeleng, ia tak tahu harus berbuat apa.
Ah ya ... Apakah kau akan percaya bahwa aku adalah Ahren jika aku menyebutkan nama file itu? Log_12_ItKlien'sX. Benar?
Dapat Vio lihat raut muka Kaivan yang berubah drastis. Lelaki itu langsung terdiam. Memikirkan sesuatu lalu beranjak pergi dan kembali dengan laptop di tangannya. Tetapi kali ini ia mengambil posisi duduk tepat di depan sahabatnya.
Kaivan menyalakan laptopnya, lalu mencari sesuatu. Setelahnya, ia membalik laptopnya ke arah Ahren.
"Mungkin aku seperti orang gila karena berbicara dengan angin. Buka saja, hanya kamu yang tahu sandinya."
"Tapi asal kamu tahu. Pak Dimas datang ke rumahku setelah kamu pergi malam itu. Sepertinya dia mengikuti kamu. Lalu dengan tidak sopan mengambil laptop lamaku yang berisi file dari kamu dan aku dipecat. Termasuk flashdisk juga raib. Tapi untungnya, aku sempat back up file itu di laptop lain karena aku merasa itu sangat penting dan rentan dicuri."
Ahren memperhatikan sosok Kaivan, lalu mulai mengetikkan sandi rahasia untuk membuka file itu. Tetapi tidak bisa. Bukan ia yang lupa sandi, melainkan ....
Brakkk!
Vio terkejut karena gebrakan meja yang keras tepat disebelahnya.
"Kamu kenapa? Bisa santai gak sih?"
Ahren langsung menoleh dengan sorot tajamnya.
"Filenya rusak!" Ahren mengembalikan laptop pada Kaivan. Kaivan pun tak kalah terkejutnya melihat file rahasia itu yang tak dapat dibuka. Kaivan ikut memukul kepala sofa.
"Kau punya salinannya di Drive? Selain di flashdisk ini?"
"Ahren bertanya, apakah kak Kaivan punya salinannya di Drive? Selain di flashdisk ini?"
Kaivan menggeleng lemas. Terlihat pasrah, raut wajahnya yang lelah berpadu dengan kekesalannya.
"Tidak. Aku tidak pernah mengotak-atik file itu selain malam terakhir dua tahun lalu. Hanya Ahren yang bisa membukanya."
"Memang bagaimana cara kau membongkar kejahatan pria tua itu? Atau, rencana kau selanjutnya setelah tahu file ini rusak?"
"Kau akan menyusup dan mengobrak-abrik kantor untuk mencari data itu dengan bantuan Vio? Mustahil!" Ucap Kaivan pada Ahren.
Pranggg!!!!
****
Vio melirik Ahren yang sepertinya masih marah dan kecewa. Sekarang mereka berada dalam mobil. Kembali ke rumahnya. Vio pun tak berani mengajak berbicara, apalagi melihat kemarahan hantu itu di rumah Kaivan.
Berani sekali Ahren membanting vas bunga di meja hingga pecah. Lagi-lagi dirinya dibuat jantungan dengan sikap tak terduga Ahren. Beruntunglah Kaivan tidak marah dan hanya merespon datar kejadian itu. Seolah sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya.
Malahan Kaivan dengan santainya berucap, "tidak apa-apa. Lempar saja semua. Justru itu semakin membuktikan kalau itu benar kamu."
"Ahren." Panggil Vio pelan.
Tak ada sahutan.
"Sebelum pulang, aku mampir ke suatu tempat boleh nggak?"
Hening.
"Di Yaman. Eh, maksudnya di taman. Aku mau beli cilok. Laper, malemnya aku belum makan." Pinta Vio memelas.
"Ya, aku tahu sih. Biasanya aku juga gak terlalu mempersoalkan masalah makan. Cuman aku pengen ke situ dulu, ya?"
"Kalau kamu gak mau, ganti aku aja yang setir. Biar aku nggak perlu minta kamu buat anterin tapi aku bisa ke tempat itu sendiri." Vio sudah bersiap hendak beralih ke bangku kemudi. Tapi tatapan dingin Ahren membuatnya mengurungkan niat.
"Duduk disitu. Kita ke sana."
Vio tersenyum sumringah. "Makasih Gula Aren! Suka deh,"
Ahren mengerutkan kening, lantas menoleh ke arah Vio.
"Panggilan baru buat kamu dari aku." Vio mengerlingkan matanya.
Sesampainya di sana, Vio langsung menyusuri taman. Membeli jajanan diantara dari penjual satu ke yang lain. Hari ini tampak lebih meriah dari biasanya karena ada event. Merasa tangannya sudah penuh dengan makanan, Vio mengajak Ahren yang dari tadi mengekor dibelakangnya mencari tempat duduk.
"Duduk di kursi itu yuk." Vio berlari lebih dulu meninggalkan Ahren yang berjalan pelan, memperhatikan langkahnya.
Mereka duduk di sebuah kursi panjang pinggir taman. Tempat duduk mereka langsung mengarah ke jalanan, membuat Vio dapat menyaksikan para pemotor, penjual sekaligus pemandangan langit malam yang luas.
Sembari menggigit makanannya, Vio menikmati semilir angin yang memainkan rambutnya. Begitu dingin, namun tenang. Tapi kali ini ia tak kesepian karena ada teman dari dimensi lain yang menemaninya. Sekalipun tak banyak bicara.
Tangannya mengambil satu tusuk dakkochi—jajanan kaki lima di korea selatan yang mirip sate, lalu menggigitnya. Senyap. Cukup lama Vio dan Ahren hanyut dalam pikiran masing-masing.
Mata Vio melirik ke pria di sebelahnya.
"Ahren, kenapa kamu butuh bantuan aku buat memecahkan kasus itu? Bukannya kamu bisa dengan mudah menyusup ke perusahaan dan mencuri data? Terus kabur nembus pintu dan tembok udah." Heran Vio.
"Kau pikir semudah itu?"
"Iya."
Sorot mata Ahren tertuju manik mata Vio. Tatapannya masih sama.
"Kau pikir aku akan mengambil dan membawa laptop besar itu dari perusahaan melayang ke rumahku? Atau mengotak-atik lemari dan data perusahaan sendirian saat malam? Akan aku bawa atau pindah ke mana data yang sudah berhasil aku curi?"
"Bagaimana aku bisa menemui dan berkomunikasi dengan Kaivan jika tidak karena bantuan kau? Lalu, siapa yang akan angkat bicara jika semuanya terungkap?"
"Apakah aku cukup menyebarkannya di media sosial? Cih, pria tua licik itu dengan mudahnya menggunakan kekuasaan untuk membungkam media. Jika tidak tahu siapa yang menyebarkan, bagaimana orang-orang akan percaya?"
Vio mengangguk mendengar penuturan panjang lebar Ahren.
"Benar juga. Aku nggak mikir sampai segitu. Masuk akal."
Diam. Kepala Vio berputar bagaimana tetap bisa berkomunikasi dengan pria itu. Ahren cukup dingin dan misterius. Ia tak tahu banyak soal Gula Aren.
"Udah dong sedihnya. Kita bisa cari cara lain. Semua keinginan kita ada jalan, cuman kadang tertutup bentar aja."
Vio menghela nafas panjang melihat raut wajah Ahren yang hanya diam dan berantakan memikirkan masalah itu.
"Ahren. Kesana yuk." Vio menunjuk salah satu bangunan di depan mereka.
"Ke museum. Kita lihat-lihat patung sama lukisan disana, bentar aja." Vio menyatukan kedua tangannya memohon.
Ahren mengangguk.
Vio langsung berdiri. Bersorak senang sambil melompat. "Ya udah, ayo!" Lantas menarik tangan Ahren. Tak lupa ia mengambil sampah plastik miliknya dan membuangnya ke tempat sampah.
Saat hendak menyeberang, Ahren memegang lengan Vio. Menengok kanan kiri, setelah memastikan tak ada kendaraan ia langsung menarik gadis itu.
Tak lama Vio dan Ahren berkeliling dalam museum, menyaksikan setiap pahatan karya seni dan benda dua dimensi. Ketika sampai di ruang auditorium, sebuah alunan musik langsung menyambut mereka. Vio berjalan mendekati salah satu lukisan, mengamatimya lebih dekat.
Tangannya merogoh ponsel di saku jaket. Lalu, memberikannya pada Ahren.
"Minta tolong fotoin dong," Vio tersenyum sambil mengedipkan mata berulang kali.
Tak banyak bicara, Ahren langsung mengambil jarak dan memilih beberapa sudut mengambil foto rekan manusianya.
"Makasihhh!" Senang Vio, melihat hasil fotonya yang pas.
Vio menggandeng tangan Ahren, menyusuri lukisan lain dalam diam. Benar-benar hening, tak ada yang menyeletuk berbicara. Mata mereka terpaku pada setiap goresan kuas yang mengandung makna. Sebelum pergi, Vio dan Ahren sempat duduk berdua mengamati lukisan yang cukup besar di depan mereka. Suasana tenang, membuat mereka terpaku lebih lama.
"Ternyata pergi dengan gadis ini jika dia tidak berisik cukup menyenangkan." Batin Ahren.
Vio membulatkan matanya. Melirik Ahren yang duduk tenang di sebelahnya.
Jepret
Jepret
Vio mengarahkan kamera pada Ahren. Lampu flash menyala, membuat pria itu langsung menghalau sinar dengan tangannya.
"Hentikan. Apa yang kau lakukan?"
"Memotret kamu. Memang apa lagi?"
Jepret
Jepret
"Letta! Hentikan!"
"Nggak mau." Vio bersikeras. Ia tertawa saat melihat wajah Ahren yang marah dan terus menutupi wajahnya.
"Ayolah, kok takut difoto sih? Wajah ganteng jangan cuma disimpen sendirian. Nggak mubazir?" Vio masih berusaha untuk menangkap wajah sosok Ahren yang keras kepala itu.
Karena marah, Ahren langsung berdiri dan pergi meninggalkan Vio.
"Ahren, bentar dong. Foto disinu." Vio menarik tangan Ahren, menyuruhnya berhenti.
Ahren kekeuh menolak. Tetap berjalan cepat meninggalkan Vio yang berusaha mencuri fotonya.
"Gula Aren nyebelin! Ayo dong, kita foto berdua. Kita belum punya kenangan bareng loh,"
"Aku tidak butuh itu."
"Tapi aku butuh, ayo dong .... please, "
Vio memilih berhenti. Tak lagi mengikuti sosok itu. Memasang wajah cemberut, mengancam tak akan pulang jika lelaki itu tetap menolak.
"Tidak ingin pulang? Oke. Aku pulang sendirian." Ucapnya dingin.
"Yah ... Gula Aren jangan gitu dong!" Vio langsung berlari mengejar.
Setelah berada di mobil, Vio pun masih tak mengubah raut wajahnya. Memalingkan muka karena sikap Ahren yang acuh tak acuh padanya.
"Kamu ganteng tapi kalau gak peka juga nggak bakalan ada cewek yang mau sama kamu."
"Aku tidak peduli."
"Kamu kalau nggak pernah ngerti mau cewek, gimana bisa cewek mau ngertiin kamu."
"Oh."
"Kalau kamu dingin, kaku, tatapan tajem nyebelin sampai pengen aku colok gitu, cewek bakalan -"
Vio seketika terdiam saat sebuah bunga mawar merah disodorkan tepat didepannya. Tubuh Vio membeku, tatapannya terpusat pada setangkai bunga itu. Kepalanya sudah memikirkan berbagai kemungkinan.
Apakah mawar ini untuknya?
Apakah ini sebagai bentuk terima kasih atas bantuannya?
Atau, permintaan maaf Gula Aren karena telah membuat dirinya marah?
Kedua tangan Vio masih bergeming, tak bergerak menyentuh bunga itu. Ia mulai menoleh ke arah sosok itu. "Buat apa?"
"Buat apa? Buat menabur bunga di makamku."
"Ahren nyebelinnn! Pake banget! Udah dibantuin gak bilang makasih, gak ada apresiasi atau basa-basi!"
"Just kidding. This is for you. Ambil!"
"Nggak mau terima! Kamu kasihnya gak ikhlas. Gak ada senyum tulus. Why are you so annoying?!"
"Aku ulangi. This is for you, only for Letta. Terima kasih atas segala kebaikan dan kemurahan hatimu hari ini. Jadi, terimalah ini."
"Masih tak mau menerima? Oke, aku buang. Padahal aku sudah rela memetikkannya untukmu."
"Jangan dong! TERIMA KASIH GULA ARENNN!"