"Ahren, kamu mau ikut nggak?" Tanya Vio yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di kepalanya. Ia berjalan ke arah meja belajarnya, merapikan bukunya yang berserakan. Hampir seharian, ia mengerjakan tugas menggambar bangunan dari dosennya.
"Revisi ke tiga. Semoga besok di acc!" Harap Vio menyusun buku-bukunya ke dalam laci.
"Memangnya kau ingin ke mana?" Ahren yang membaca buku di kasur bertanya tanpa menoleh.
"Ke Kafe. Sambil koreksi tugas, biar lebih rileks sama nambah inspirasi."
"Kamu keluar dulu! Aku mau ganti baju." Vio langsung menarik dan mendorong tubuh Ahren hingga keluar balkon.
Kepala Ahren menengok ke belakang, "kenapa menyuruhku pergi? Kau memiliki kamar mandi. Kau pikir aku akan mengintip di sana? Melihat kau seharian saja sudah membuatku bosan."
"Heh! Jaga mulut kalau ngomong ya!" Marah Vio sambil menunjuk ke wajah hantu itu. Ahren mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak aku bantuin baru tahu rasa kamu!" Vio berjalan meninggalkan Ahren dengan menghentakkan kaki.
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup dengan keras.
"Dia menyuruhku keluar tapi tidak menutup pintu balkonnya." Ucap Ahreb dalam hati.
"Ngapain harus aku tutup? Toh ditutup atau nggak kamu tetap bisa masuk. Intinya kamu di luar dulu!" Teriak Vio dalam kamar mandi.
"Bisa-bisanya dia ngomongnya bikin jengkel terus. Nggak takut apa kalau aku mogok bantuin dia?!"
"Lagian, kalau dipikir-pikir kenapa aku harus ikut pusing mikirin masalah dia?"
"Toh, kalau aku nggak bantuin dia, aku juga nggak rugi apa-apa."
"Soal permintaan? Aku juga belum tahu mau minta apa. Nggak ada yang aku butuhin."
"Terus, kalau aku minta sesuatu sama dia misalnya mobil Pajeron, emas 24 karat, atau rumah 1 M dia bakalan nurutin? Dengan cara apa? Nyolong?"
Tok-tok-tok.
"Kenapa?!" Sungut Vio.
"Jaga isi kepala kau, Violetta! Lebih baik kau mengoceh langsung di depanku daripada mengomel dalam kepala nggak jelas!"
Deg.
Vio langsung memegang kepalanya. Lupa bahwa Ahren tak berada jauh darinya.
"Harusnya kamu yang jaga pikiran kamu biar nggak tahu isi kepala orangaun!" Balas Vio tak mau kalah.
"Wanita memang tidak mau salah. Padahal mereka tertangkap basah. Sudah, cepat ganti baju. Aku ikut. Aku yang akan membawa mobil itu."
Ceklek.
Kepala Vio keluar dari kamar mandi, tersenyum lebarnya.
"Wah! Sekarang aku dapat sopir baru dan gratis nih!"
Kedua bola mata Ahren melebar.
"Siapa yang dengan sukarela menjadi sopir untuk kau? Kau harus membayarnya dengan jasamu nanti!"
Vio memutar bola mata malas. "Ck, iya-iya! Tujuan aku ke Kafe buat ketemu sama Liam. Kamu gak takut jadi nyamuk?"
"Menjadi makhluk halus saja aku tidak takut."
"Kalau kamu nggak siap dengan isi otakku nanti, mending kamu jalan-jalan agak jauh ke bagian Kafe lain. Biar nggak pusing." Vio mengingatkan.
"Cepat selesaikan urusanmu." Ahren langsung pergi meninggalkan Vio yang bagaikan hantu hanya kepala. Ah ya, kuyang. Pas sekali dengan rambut gadis itu yang berantakan seperti singa.
***
"Kok nggak ada?" Vio memajukan bibirnya, kecewa ketika melihat panggung yang biasanya menjadi tempat perform Liam digunakan band lain.
"Apa salah tempat ya? Enggak. Apa Kak Liam udah nggak main di band itu lagi?" Tanya Vio pada dirinya sendiri. Percuma juga tanya hantu sebelahnya, pria itu tidak akan tahu.
"Lebih baik kau segera memilih tempat duduk sebelum dipakai orang lain."
Belum juga mengedarkan pandangannya ke penjuru Kafe, hantu itu sudah menarik tangannya saja dan menggeserkan kursi untuknya. Ahren langsung melepaskan tangan gadis itu dan duduk di sebelahnya.
"Makasih!" Ujar Vio dengan senyum yang menampilkan deret gigi putihnya. Seraya meletakkan buku dan memesan minuman, mata Vio masih mencari-cari keberadaan pangeran hatinya.
"Dia nggak ada .... " Gumamnya pelan.
Mendapati Ahren yang membuka-buka buku menu, tangan Vio langsung merebutnya dan memukul lengan pria itu.
"Kamu hati-hati dong. Ini bukan rumah sampai kamu bisa berbuat seenaknya. Orang-orang bisa kabur kalau lihat buku melayang."
Ahren menatap gadis didepannya santai. "Kau juga harus hati-hati. Orang-orang bisa menganggap kau tidak waras karena berbicara sendiri."
Tak ingin semakin larut dalam kekesalannya pada pria itu, Vio memilih memalingkan muka ke arah lain. Matanya langsung membelalak ketika melihat seseorang yang menjadi tujuan utamanya telah datang.
"KAK LIAM!" Vio menyeru, melambaikan tangan ke arah Liam yang berada di ambang pintu.
Lelaki yang mengenakan kemeja overshirt warna krem dan menggendong tas di bahu kanannya tersenyum, membalas sapaan Vio. Walau wajahnya terlihat sedikit terkejut melihat keberadaan gadis itu. Ia tetap melangkah menghampiri adik tingkatnya.
"Kak Liam kok nggak manggung? Biasanya main gitar di sini." Tanya Vio heran.
"Iya, biasanya aku main disini. Tapi itu cuma bantu temen isi tempat kosong sama pas waktu bosen aja."
"Oh begitu," Vio mengangguk.
"Kak Liam kesini mau ngapain?"
Liam mengambil tas yang mengalung di pundaknya, "ini. Mau ngerjain tugas kelompok. Tapi kayaknya yang lain belum dateng."
"Oh, kalau gitu duduk disini dulu aja kak sambil nungguin temen yang lain." Tawar Vio dengan senyum manisnya. Ia menggeser kursi di depannya. "Lagian meja yang lain juga penuh."
"Mm, iya. Aku nunggu disini." Balas Liam setelah tak mendapati meja kosong, lalu mengikuti gadis itu duduk.
Ahren yang melihat pemandangan itu memilih berdiri. Hingga mendorong kursinya beberapa centi yang menimbulkan suara decitan cukup keras. Liam yang terkejut sontak menatap kursi di sebelah Vio.
"Aku kayak ngelihat kalau kursi itu tadi bergerak."
"Enggak kak. Kayaknya tadi suara kursi lain." Vio mengelak. Matanya menatap ke arah kursi, lebih tepatnya pada Ahren yang pergi ke luar Kafe.
"Mau pesen minum kak?"
Liam mengangguk, "iya. Samain kamu aja. Satu hot chocolate."
Vio tersenyum mengangguk, lalu mengangkat tangannya. Memesan minuman untuk Liam.
"Kebetulan kita ketemu disini. Kalau kamu ngerjain tugas juga? Sendirian aja?"
"Iya kak. Ini sambil ngerjain tugas juga. Tadi ada temen, tapi dia milih pergi keluar." Balas Vio, kalimat itu ia tujukan untuk Ahren. Ia menyerahkan catatan menu pada pelayan.
"Kalau arsitektur pasti sering menggambar. Boleh lihat nggak gambar kamu apa aja? Pasti bagus."
Vio yang mendapat pujian itu tersipu malu. Dengan semangat membuka buku gambar tebalnya yang berisi beberapa gambar bangunan, "nggak bagus banget sih kak. Ada yang lebih pinter gambar malah. Tapi kakak boleh lihat." Tangan Vio mengangsurkan buku.
Liam menerimanya, lalu membuka lembar demi lembar buku putih itu. Hatinya terkagum. Gambar gadis itu memang mengagumkan. "Sejak SMA kamu suka gambar. Bahkan kamu hobi buat maket rumah juga. Dulu waktu ada event, kamu diminta yang buat desain tempatnya."
Vio yang mendengar itu sontak menatap wajah lelaki itu. Sedangkan Liam yang baru saja menyadari ucapannya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Kok kak Liam tahu? Aku memang suka gambar dan buat maket rumah. Awal mulai memang dari kardus. Terus nabung buat beli peralatan yang lain. Tapi aku nggak inget waktu SMA pernah disuruh buat desain itu." Vio berusaha mengingat hal yang diceritakan Liam. Tapi tetap saja, ia tak mengingat apa-apa.
"Ah, i-itu .... aku diceritain sama temen. Kalau ketos di sekolah kamu, pernah minta bantuan kamu desain panggung." Liam menggaruk lehernya yang tak gatal, mengalihkan mata ke arah lain.
Vio mengangguk mendengar penjelasan itu. Lalu mengaduk cokelat minumannya.
"Ternyata dia memang tidak mengingat itu. Aku, dan semua kejadian itu." Batin Liam. Tangannya mengeluarkan ponsel dari saku. Di bawah meja, ia mengetikkan sesuatu di group chat.
Gue ada urusan. Ngerjain tugas besok. Jam sama waktu sama.
Bro! Kita udah mau berangkat.
Lo batalin janji seenaknya.
Kasih kabar jangan mendadak, man! Gue baru batalin janji sama doi buat nugas! Tega bener Lo!
Lha gue udah otw dijalan. Masa mau balik?
Lo dijalan kok bisa balas chat, sob?
Hehe, beli makanan kucing bentar. Katanya pengen makan cemilan malem nanti.
Perhatian banget sama anak angkat.
Calon bapak sejati boss😎
Liam tak peduli dengan balasan temannya. Dengan santai, ia mengetikkan balasan.
Salah kalian sendiri. Gue udah datang ke tempatnya, kalian belum otw. Sekarang gue mau cabut. Ada urusan.
Liam langsung mematikan ponselnya. Menyimpannya, lalu kembali memperhatikan gadis di depannya.
"Gambar kamu bagus semua. Padahal baru semester satu. Kelihatan banget kalau udah pengalaman. Ayah kamu arsitek, wajar kalau turun ke anaknya."
Vio yang mendengarnya lagi-lagi tyak menyangka. Bagaimana lelaki itu bisa tahu tentang dirinya?
"Nggak juga. Aku beberapa kali revisi. Maaf, memangnya Kak Liam dapat cerita itu dari temannya juga ya?"
Liam yang mendengar itu hanya membalasnya dengan senyum kecil. Menutup buku gambar, lalu mengembalikannya ke sang pemilik.
"Kerja kelompoknya dibatalin. Teman-temanku nggak jadi datang. Jadi aku sekarang mau ngerjain tugas pribadiku aja. Kamu nggak keberatan kalau aku duduk disini mungkin sampai nanti malam?"
Vio yang mendengarnya langsung bersemangat. Tak menyangka bahwa ia akan duduk berlama-lama dengan lelaki yang disukainya. Tentu saja ia mengangguk cepat, mengiyakan.
"Rasanya kayak mimpi. Aaa! Nggak nyangka duduk lama berdua sama kak Liam! Suka dehhh!"
Baru saja menyeruput cokelat panas mereka, perhatian keduanya langsung teralihkan pada seorang pria yang tiba-tiba mendatangi meja mereka
"Kakek? Kenapa disini?"
Mata Vio menelisik wajah Pria yang mengenakan jas hitam itu.
"Aura old money-nya kuat banget!" Batin Vio.
"Kamu kakek hubungi nggak dijawab. Nanti malam ada acara untuk keluarga kita. Kamu datang ke tempat ini. Jangan terlambat. Ada yang ingin kakek bicarakan. Kebetulan saja kakek tadi lewat dan melihat mobil kamu disana."
"Tapi kek, aku -"
"Kakek tidak menerima penolakan. Datang tepat waktu, atau kamu tidak pernah bertemu lagi dengan kakek."
Ada rasa kesal yang menyeruak dari d**a Vio. Pertama karena kakek Liam menganggu waktunya dengan Liam. Kedua, perintahnya yang terdengar menyebalkan. Tidak bisakah menggunakan kata maaf, tolong, dan terima kasih? Sungguh tidak sopan.
Ketika kakek Liam berbalik menatap teman cucunya, kedua pupil mata Vio membesar. Matanya seperti terasa memanas. Tak menyangka bahwa pria tua kekar yang ia puji waktu itu kini berada di depannya.
"Dia yang membunuh Gula Aren."
"Kamu pacar cucu saya? Kamu tidak keberatan jika saya mengambil waktu Liam untuk malam ini?"
Tiba-tiba saja Vio salah tingkat. Terkejut dan tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk, menatap ke arah sepatunya.
"Terima kasih." Lalu Kakek Liam pergi begitu saja.
"Aku harus kasih tahu Ahren! Tapi dia dimana?"
"Apa aku mending keluar? Nyusul Ahren?"
"Tapi aku nggak mau sia-siain waktuku sama Kak Liam."
Vio memejamkan matanya. Sangat berharap bahwa sosok itu ternyata berada di dekatnya.
"Ahren. Kamu bisa baca pikiran aku, kan? Tolong ke sini! Orang yang mengambil kehidupan kamu ada disini!"
"Aku bertemu dia! Pak Dimas! Orang yang membunuh kamu dua tahun silam."
"Gula Aren! Kamu punya telinga nggak sih! Dia mau pergi! Cegah dia! Ini urgent! Orang yang kamu cari disini Gula Aren!"
Ahren yang berada disebelah bangunan menikmati kafe outdoor dan sesekali mengangguk orang atau anak kecil yang lewat didepannya agar tersandung, seketika berdiri tegap mendengar suara Vio di kepalanya. Ia langsung berlari, mencari keberadaan orang yang Vio maksud. Tapi nihil! Ketika ia memutuskan pergi ke tempat parkir, yang ia lihat hanyalah mobil hitam yang baru saja keluar. Mata tajamnya langsung menangkap pria tua yang mengemudi mobil dari jendela.
"Setelah semua yang kau perbuat. Aku tidak akan membiarkanmu tenang. Kau harus mati di penjara!"
Ahren masuk ke kafe dan duduk di sebelah Vio yang tengah berbincang dengan Liam. Vio yang sedang mengobrol, tak bisa memberitahu Ahren langsung.
"Aku lihat Pak Tua itu. Mari kita pulang. Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Ahren.
"Yah, kamu ngajak aku pulang. Padahal masih ada waktu dua jam lagi biar bisa makan malam sama Kak Liam." Jawab Vio lewat pikirannya, menatap lawan bicaranya sedih.
"Kalau begitu. Aku ingin meminjam laptop kau. Untuk melakukan suatu hal. Di sini dan sekarang juga!"
"Kamu kan tahu laptopnya masih aku pakai. Nanti Kak Liam takut kalau lihat laptopnya ngetik sendiri!" Vio memberikan isyarat lewat mata.
Ahren berdecak kesal. Marah pada Vio, bukankah gadis itu akan membantunya? Tetapi dia malah lebih memilih tertawa ria dengan cowok didepannya.
"Kau membantuku hanya sebentar. Kau bisa menghabiskan sisa waktu selama hidup kau untuk mengejar lelaki itu."
Kali ini Vio menatap wajah Ahren. "Tapi kesempatan itu belum tentu terjadi banyak kali. Kamu bisa nunggu sebentar lagi, kan? Aku-"
Ahren langsung berdiri. Meninggalkan Vio yang belum menyelesaikan alasannya. Berbicara dengan gadis yang sedang jatuh cinta saat ini tidak ada gunanya.
"Jika kau sudah selesai dengan urusanmu. Aku menunggu di mobil." Ucap Ahren, lantas berjalan menembus beberapa orang.
Vio langsung menggaruk kepalanya gemas. Ia tak bisa memilih salah satu dari mereka.
"Udah ah! Aku juga sebel sama dia! Dia kadang juga gitu. Mending aku lanjutin ngerjain tugas dan ngobrol sama Kak Liam!" Vio menegarkan hatinya.
Tapi belum ada 20 menit, pikiran tentang Ahren sudah mengacak-acak kepalanya. Ia tidak bisa fokus. Ada perasaan bersalah karena membiarkan pria itu sendiri.
Memilih mengemasi barangnya, Vio langsung berdiri. Membuat Liam sekita menatapnya.
"Kak, ternyata aku ada urusan. Aku pergi duluan ya, maaf. Permisi kak," Lalu berlari meninggalkan Liam yang menatap kepergiannya dalam diam.
Begitu membuka pintu mobil, Vio langsung mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah pria itu, nafasnya terengah-engah.
"Kamu lihat kan? Aku lebih pilih kamu daripada Liam!"
"Tidak juga. Kau memilih Liam 18 menit sebelum aku." Lalu Ahren menyalakan mobil dan langsung membawanya ke jalan. Jika ia tega, bisa saja ia meninggalkan gadis itu di kafe karena kunci mobil ada pada dirinya. Bukankah ini kesempatan bagus Vio untuk mendapatkan tumpangan dari pujaan hatinya?
***
Dengan membawa makan malamnya, Vio menaiki tangga menuju lantai atas. Begitu kamarnya terbuka, dapat ia lihat sosok hantu itu yang masih fokus dengan laptopnya, di kasurnya.
Berjalan pelan, Vio menghampiri Ahren dan duduk dengan agak menjaga jarak darinya.
"Apa yang kamu cari di laptop aku? Lebih tepatnya, apa yang kamu lakukan? Dari tadi loh, masa kamu nge-game. Lucu banget." Tanya Vio, mencoba mengintip. Tapi langsung berhenti ketika sosok itu meliriknya tajam.
Lagi dan lagi.
"Aku mencari identitas pemilik mobil tadi. Aku ingat nomor pelatnya, tapi sayang sekali. Ternyata itu bukan dia. Pria Tua itu memakai pelat mobil palsu."
"Tapi mobilnya masih sama yang digunakan buat mencelakai kamu?"
Ahren menggeleng lemas, ia menutup laptop Vio setelah me-restart semuanya. "Berbeda. Aku mencoba mencari bukti lain penyalahgunaan data klien dengan masuk ke dark web lewat laptop kau. Tenang saja, aku telah memperkuat sistem kemananan-nya, dan ternyata dia masih melakukan hal sama. Menjual data pribadi klien secara ilegal dan diam-diam."
Sambil menggulung spaghetti di piring menggunakan sumpitnya, Vio hanya manggut-manggut. Mencoba mengerti semua ucapan Ahren walaupun banyak pertanyaan yang ada di benaknya.
"Memang tujuan Pak Dimas jual data klien biasanya untuk apa? Apa keuntungannya buat orang yang beli? Padahal itu pasti mahal." Vio tersenyum, melirik Ahren. Berharap lelaki itu tak marah karena dirinya banyak tanya.
Ahren memperbaiki posisi setelah meletakkan laptop di meja. Mengambil guling dan memeluknya, lalu bersandar pada dinding.
"Tujuan Pak Dimas? Tentu saja demi uang. Data-data perusahaan itu sangat rahasia. Jika perusahaan kompetitor mendapatkannya, biasanya digunakan untuk persaingan. Mengobrak-abrik sistem, mencari celah, termasuk menjatuhkan perusahaan lawan."
"Kenapa kamu harus memperkuat sistem keamanan di laptop aku? Apa seberbahaya itu dark web?" Akhirnya semua pertanyaan Vio akan keluar dari kepalanya juga.
"Tak banyak orang yang bisa masuk ke dalam dark web, Violetta. Banyak orang yang merasa sudah menyelam dan tahu banyak, padahal mereka baru sampai di bagian surface. Setelah bagian permukaan, ada lagi deep web lalu dark web."
"Banyak hal gila di web terakhir ini. Penjualan organ ilegal, n*****a, data curian, pembunuh bayaran, dan lainnya. Karena hanya orang tertentu yang bisa masuk disini, berarti mereka bukan orang sembarangan."
"Orang yang masuk di dark web bisa terancam disadap walaupun keamanan sistemnya kuat. Selalu ada orang yang lebih pintar dan bisa menemukan celah."
"Oh gitu, paham-paham. Kamu pinter juga ya bisa masuk sampai situ. Aku boleh lihat nggak?"
Ahren menyeringai, sedikit memiringkan kepalanya menatap gadis di depannya. "Memangnya apa yang ingin kau ketahui?"
"Nggak ada, cuma penasaran." Jawab Vio santai.
"Kau tidak boleh melihatnya. Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan orang jahat jika bisa membobol data kau. Lagipula, aku juga tidak mengizinkan kau mengetahuinya."
"Kenapa?"
Ingin sekali Ahren melempar kepala gadis itu dengan gulingnya jika saja Vio tidak sedang makan. Maka, ia memilih sabar, menutup mata. Diam dan menarik selimut, lalu tidur.
"Ihh, kamu kok malah tidur disini? Di ruang tamu, balkon atau ruangan lain dong!" Vio meletakkan piringnya yang sudah kosong, lalu menarik selimut yang menutupi tubuh hantu itu.
"Kau kenapa? Ini kamarku. Aku pemilik terdahulu kamar ini. Kau mengambil alih kamarku."
"Enak aja! Memang kamu kakek moyang aku? Enggak. Sana pergi! Hush!" Kali ini Vio mencoba menarik guling dari pria itu. Sama-sama tak mau mengalah. Ahren hanya diam, tersenyum kecil dan tetap mempertahankan posisinya. Walau berupaya dengan kedua tangan, nyatanya tenaga Vio masih kalah dengan hantu itu.
"Cepetan keluar! Aku mau-" Vio yang kehilangan keseimbangan langsung terjatuh tepat disamping pria itu. Tubuh Vio membeku seketika saat menatap wajah pria itu tepat didepannya.
Bug!
Vio langsung memukul wajah pria itu dengan bantal.
"Kamu curi kesempatan! Bilang aja, kamu sengaja kan tadi narik selimutnya pakai kaki supaya aku jatuh, terus kamu bisa lihat wajah aku lama-lama!" Gemas Vio.
Berbeda dengan Vio yang tantrum, Ahren hanya bersikap biasa saja dan memasang wajah tanpa rasa bersalah.
"Lebih cantik mantan aku dibandingkan kau." Ujarnya santai.
Vio melebarkan matanya dengan mulutnya menganga lebar. Tak menyangka Ahren akan membandingkan dirinya dengan wanita yang bahkan ia tak kenal.
"Oke kalau itu mau kamu. Aku yang bakalan tidur di luar!"
"Good girl!" Ahren yang menarik selimut hingga menutupi hingga ke wajahnya, mengacungkan jempol tanpa menatap gadis itu.
Vio keluar dengan perasaan dongkol, tak lupa ia membawa satu bantal dan guling. Berbagai u*****n, terus ia kobarkan di kepalanya. Enak juga, hantu itu bisa membaca pikirannya. Cukup berpikiran buruk tentangnya, hantu itu bisa langsung jadi cenayang. Ia tak perlu membuang terlalu banyak tenaga dalam.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, sesuatu dari belakang langsung menarik bahu kanannya. Vio berteriak, terkejut saat Ahren langsung mengarahkan dirinya ke kasur. Menaikkan kakinya, lalu menyelimuti dirinya. Bahkan lelaki itu merapikan bantal dan gulingnya yang tadi sempat berantakan.
"Dia sehat?"
"Aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku membiarkan seorang wanita tidur sendirian di luar. Bukan karena takut diculik laki-laki asing, aku lebih khawatir kaki kau ditarik sosok tak kasat mata selain diriku."
"Kayak kamu tadi!" Vio langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu berbalik memunggungi Ahren.
"Cepat keluar!"
"Tentu saja. Untuk apa berlama-lama dengan kau didalam."
Ahren tetaplah Ahren. Jawabannya selalu menyebalkan sekalipun hal manis baru saja terjadi-menurutnya.
Mendengar pintu telah tertutup, Vio langsung menyibak selimutnya, melayangkan pandangannya ke arah pintu. Tepat saat itu, pintu dibuka dari luar. Menampakkan kembali wajah menyebalkan Gula Aren.
"Kenapa kamu masih-"
"Aku melupakan sesuatu. Aku besok meminjam laptop kau dari pagi. Ada hal penting yang harus aku lakukan."
"Terus besok aku ke kuliah pakai apa?"
"Tentu saja dengan mobil. Tidak, bercanda. Tenang saja. Aku sudah mengirim pesan pada pujaan hati kau itu- Liam, bahwa kau akan meminjam laptop milik dia."
Vio membulatkan mata tak percaya.
"Kau tahu apa jawabannya? Dia bersedia. Padahal jurusan informatika pasti membutuhkan laptop lebih sering untuk kuliahnya. Tapi dia mau meminjamkannya untuk kau."
Ahren bertepuk tangan. "Sepertinya perasaan kau akan terbalas. Congrats, Letta!"
"GULA AREN! AWAS AJA KAMU!" Vio melompat hendak memukul pria itu dengan guling. Tetapi Ahren lebih cepat, ia sudah menutup pintunya rapat-rapat . Termasuk menguncinya dari luar. Vio meringis kesakitan karena pukulannya justru mengenai pintu.
"Akhhh .... " Vio mengibas-ngibaskan tangannya yang perih.
Vio mengeluarkan ponsel yang sedari tadi nangkring di sakunya. Berpikir. Bagaimana bisa Ahren menghubungi Liam? Padahal tautan hp dan laptopnya juga sudah ia putuskan. Tangannya membuka riwayat chat. Benar saja, laki-laki itu mengiyakan.
Selamat malam liammm. Aku Vio. Aku ingin meminjam laptop kamu ya. Laptop aku rusak. Kemarin waktu pulang jatuh.
Kamu jatuh? Kamu nggak apa-apa? Ada yang terluka?
Tenang aja, amannnn. Cuma laptopku rusak, sedihhh🙁
Kalau gitu, besok kita ketemu di perpustakaan. Aku akan kasih laptop ke kamu. Syukur kamu nggak kenapa-kenapa.
Makasihhh liammm. Suka dehhhh! Luplup♥️♥️
Sama-sama. Panggil aku aja kalau kamu lagi butuh bantuan.😉
Kaki Vio langsung lemas setelah membaca pesan itu. Siapa sangka, Ahren ternyata menggunakan gaya kalimat seperti itu pada Liam. To the point dan lebay. Tubuh Vio semakin merosot turun. Ia terduduk di lantai, bersandar pada pintu.
Tangannya menyentuh dadanya, merasakan jantungnya berdetak kencang karena ulah pria menyebalkan itu.
"Maluu bangettt."
"Dia nyebelinnn banget ya ampun!"
"Asem bangett tu bocahh!!"
Vio menunduk kepalanya. Tak habis pikir, hampir saja ia menangis. Nafasnya naik turun dengan cepat.
"Bentar." Vio mendongak, menatap kembali ponselnya.
"Gimana cara Ahren kirim pesan ke Liam? Dia sadap hp aku?"
"Sama .... " Vio memutar kepalanya pelan-pelan ke arah pintu. Teringat sesuatu yang paling penting. Bahkan tak terpikirkan ia sebelumnya.
"Ahren! Gimana bisa kamu dapat nomornya Liam sedangkan aku sendiri aja nggak punya!!!"
Dibalik pintu, Ahren yang masih bersandar pada dinding. Hanya memainkan ujung jemari kuku dan menikmati setiap kegelisahan hati serta pikiran berantakan gadis itu dengan tersenyum.
"Dengan ... sedikit gerakan ujung jari dan rasa ingin tahu." Ahren meniup tangannya sombong, lalu menatap ke arah pintu— menyeringai kecil.