Sisa perjalanan pulang terasa seperti hukuman. Pak Shodiq mengecilkan volume mp3 player-nya hingga nyaris tak terdengar, memilih fokus pada aspal di depan dengan kesadaran penuh. Sopir berpengalaman itu tahu betul, karyawan mana pun yang berada di dekat Nathan dalam suasana hati seperti ini sebaiknya membuat dirinya senyap mungkin, tak kasat mata mungkin. Hanya saja, tugasnya mendorong kursi roda sang majikan keluar dari mobil begitu tiba, membuat Pak Shodiq tak punya pilihan selain menahan napas sepanjang waktu.
Di jok belakang, Qiandra terus menatap layar ponselnya. Bukan karena ada yang ia baca. Layar itu sudah lama padam. Pandangannya mengarah ke nama Johan di daftar kontak yang diblokir, tetapi pikirannya melayang jauh, kembali pada kalimat yang Nathan ucapkan beberapa menit yang lalu.
Gantikan oksigen dalam setiap napas gue.
Kalimat seperti itu tidak seharusnya diucapkan oleh suami kepada istrinya. Kalimat seperti itu milik penyair yang kehabisan akal, atau milik orang yang kehilangan pijakan pada kenyataan. Qiandra mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lelah pada tingkat yang tak bisa dijelaskan. Empat bulan lebih ia menjalani pernikahan ini. Empat bulan lebih ia berjalan di atas pecahan kaca yang sama, dan kakinya mulai berdarah.
Mobil berbelok masuk ke pekarangan cluster. Lampu teras rumah menyala redup, menandakan Bi Umi sudah lama menunggu. Begitu pintu mobil terbuka, wanita paruh baya itu langsung keluar sambil mengusap kedua tangannya ke pinggang, kebiasaan kecilnya setiap kali cemas.
"Aden pulang. Nyonya juga." Bi Umi membungkuk sedikit, lalu matanya bergerak cepat dari Nathan ke Qiandra, mengukur suasana di antara keduanya dalam sepersekian detik. Empat puluh tahun hidup bersama orang-orang rumah tangga keluarga Rajendra mengajarinya membaca ketegangan hanya dari cara dua orang turun dari mobil.
Nathan tidak menjawab. Ia mendorong kursi rodanya sendiri melewati teras, melewati ruang tengah, lurus menuju kamar utama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bunyi roda karet pada lantai marmer terdengar keras di keheningan malam, seperti pengganti semua amarah yang belum sempat keluar.
Qiandra berdiri di depan pintu, menatap punggung suaminya menghilang di balik kusen kamar.
"Nak." Bi Umi memanggil pelan. "Sudah makan? Bi Umi sisain ayam goreng sama sambal terasi."
"Sudah, Bi. Di acara tadi ada makanan." Qiandra memaksakan senyum kecil. "Bi Umi tidur saja. Udah malam."
"Nyonya juga jangan terlalu lama begadang. Mata Nyonya udah sembab."
Qiandra membeku sejenak. Sembab? Ia meringis pelan di dalam hati. Jadi sepanjang malam ini wajahnya memang terlihat seperti orang yang menangis, padahal ia sama sekali tak menangis. Mungkin itu yang lebih buruk. Menangis saja tidak sanggup.
Di kamar, Nathan sudah berbaring menghadap dinding, selimut menutupi sampai bahu. Kursi rodanya terparkir rapi di sisi tempat tidur, seperti penjaga yang tidak pernah tidur. Qiandra berjalan pelan menuju lemari, mengganti pakaiannya, lalu berbaring di sisi ranjang yang menjadi wilayahnya sendiri. Garis batas yang tak kasat mata itu masih ada, tegak dan tak tersentuh, meskipun sudah berapa malam mereka berpura-pura tidak melihatnya.
Awal-awal pernikahan, Qiandra sempat berpikir garis itu akan perlahan menghilang. Nathan membuatkan kopi tiga gula. Nathan menghafal semua makanan yang ia sukai. Nathan menakar gula lemon tea-nya tanpa perlu bertanya. Hal-hal kecil itu dulu membuat Qiandra percaya bahwa laki-laki itu cukup waras dalam caranya mencintai, meski caranya sesak dan mengikat. Namun seiring waktu, kelembutan-kelembutan itu justru menjadi jebakan. Setiap senyum yang Nathan berikan selalu punya harga. Setiap perhatian selalu disertai tuntutan baru. Sekarang, harga yang dimintanya sudah bukan lagi sepotong perhatian, melainkan seluruh hidup Qiandra. Teman-temannya. Tawanya. Bahkan napasnya.
Pernikahan yang katanya damai, ternyata hanyalah penjara yang dicat dengan warna-warna lembut.
Lima belas menit berlalu. Dua puluh menit. Napas Nathan terdengar teratur, tapi Qiandra tahu laki-laki itu belum tidur. Orang yang tidur tidak menahan napasnya setiap kali orang di sebelahnya bergerak.
"Nat." Qiandra memanggil tanpa menoleh.
Tak ada jawaban.
"Gue nggak akan buka blokirnya. Gue cuma mau bilang, besok gue jemput sendiri. Nggak usah Pak Shodiq." Diam sebentar. "Biar loe nggak perlu mikir aneh-aneh."
Napas di seberang garis batas itu terdengar tertahan sejenak, lalu keluar panjang. "Sebaiknya begitu." Hanya itu. Dua kata dingin yang menutup malam.
Qiandra menatap langit-langit kamar dalam gelap. Lambat laun, ia meraih ponselnya di bawah selimut, menyalakannya dengan kecerahan layar paling rendah. Jari-jarinya mengetik satu kata di kolom pencarian.
Sindrom Othello.
Halaman demi halaman ia baca di bawah selimut, dengan perasaan yang semakin menyeramkan. Kecemburuan patologis. Kecurigan tanpa dasar. Memeriksa ponsel pasangan. Memblokir kontak. Melarang interaksi sosial. Menginterpretasikan hal netral sebagai bukti perselingkuhan. Artikel itu menyebutkan bahwa penderitanya sering kali tidak sadar sakit, merasa dirinya penuh cinta, dan merasa tindakannya adalah bentuk perlindungan.
Perlindungan. Qiandra hampir tertawa getir. Nathan selalu memakai kata itu, bukan? Bahwa semua batasan ini demi kebaikan pernikahan mereka.
Artikel lainnya lebih menakutkan. Sindrom Othello bisa muncul setelah cedera kepala. Bisa memburuk oleh rasa tidak berdaya. Dan dalam kasus yang parah, berujung pada kekerasan.
Gejala yang ia baca satu per satu terasa seperti daftar kebiasaan Nathan dalam beberapa bulan terakhir. Tidak boleh berbicara lama dengan lawan jenis. Tidak boleh tertawa terlalu lepas. Pola kunci ponsel harus dihapus. Kontak teman kerja diblokir tanpa izin. Nathan bahkan sempat mengeceknya seperti detektif, bertanya hal yang sama berulang kali hanya untuk melihat apakah jawabannya konsisten. Saat itu Qiandra menganggapnya sekadar sifat posesif biasa. Laki-laki mana yang tidak cemburu? Feli pernah berkata begitu. Tetapi cemburu dan sakit adalah dua hal yang berbeda, dan sekarang Qiandra mulai bisa membedakannya.
Yang paling membuatnya gentar adalah satu kalimat di ujung artikel panjang itu. Penderita sindrom Othello jarang datang ke psikiater atas kemauannya sendiri, karena ia tidak pernah merasa dirinya sakit. Mereka datang karena dipaksa pasangan, atau karena sudah terjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Qiandra menelan ludahnya. Bagaimana caranya memaksa Nathan Rajendra, laki-laki yang bahkan pada ayah kandungnya sendiri saja tidak mau tunduk, untuk duduk di depan seorang psikiater?
Barangkali ia bisa menyamarkannya. Nathan masih rutin kontrol kakinya. Masih menjalani terapi fisik dan konseling pasca-kecelakaan. Mungkin ia bisa menyelipkan satu permintaan kecil di sela-sela jadwal kontrol itu. Permintaan yang dibungkus sedemikian rupa agar tidak terdengar seperti tuduhan. Qiandra sudah belajar, satu kata yang keliru saja bisa membuat Nathan meledak seperti petasan.
Ia teringat Elis—Elli, temannya yang paling suka menakut-nakuti orang dengan pengetahuannya. Kalau Elli ada di sini, pasti wanita itu akan berkata, "Dokumentasikan dulu semua perilakunya, biar ada bukti kalau dia nanti ngeles." Qiandra mendesah. Ia tidak ingin mengumpulkan bukti terhadap suaminya sendiri. Ia hanya ingin hidupnya tenang. Dua puluh sembilan tahun hidupnya sebelum kecelakaan itu, ia tidak pernah menyangka akan menghabiskan malam-malamnya seperti detektif yang menyelidiki pasangan sendiri.
Ponsel di tangannya terasa makin berat.
Besok, pikir Qiandra menatap kegelapan. Besok gue harus bicara. Entah bagaimana caranya.
Besok, pikir Qiandra menatap kegelapan. Besok gue harus bicara. Entah bagaimana caranya.
Hanya saja, ia belum tahu bahwa di malam yang sama, di kota yang sama, ada perempuan lain yang juga terjaga. Perempuan yang sedang mengusap perutnya yang membuncit, menatap foto sebuah keluarga besar di layar ponselnya, dan tersenyum dengan cara yang membuat kakaknya, Sam, ikut tersenyum penuh perhitungan.
Rencana mereka sudah lama matang. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dijatuhkan.
…