Pagi datang dengan hujan gerimis tipis yang tak kunjung berhenti. Qiandra sudah duduk di ruang tengah sejak subuh, memeluk mug lemon tea hangat dengan kedua tangan, memutar-mutar kalimat di kepalanya seperti merangkai potongan puzzel. Ia sudah menghabiskan satu malam penuh untuk persiapan percakapan ini, dan tetap saja, tidak ada satu pun rangkaian kata yang terasa aman.
Bicara soal kejiwaan dengan Nathan ibarat merangkai bom dengan tangan gemetar. Satu kata yang salah, dan yang meledak bukan hanya percakapan, melainkan seluruh ketenangan rumah ini.
"Udah mikir apa aja dari tadi pagi?" Nathan meluncur masuk ke ruang tengah, kemeja kerjanya rapi, rambutnya ditata sempurna, seolah malam kemarin tidak pernah terjadi. Di tangannya ada secangkir kopi, dan sebelum duduk, ia dengan santai menyodorkan segelas lemon tea pengganti ke arah Qiandra. Kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan. Manis perhatian yang menjadi racun pelan-pelan.
"Ada yang mau gue omongin!" Qiandra menarik napas. "Soal jadwal terapi loe."
Alis Nathan terangkat pelan. Ia menyeruput kopinya tanpa buru-buru. "Terapi jadwalnya Selasa dan Kamis. Kenapa?"
"Gue tahu loe masih kontrol sama dokter Bayu tiap bulan. Terus ada konseling pasca-kecelakaan juga, 'kan?"
"Konselingnya udah gue stop dua bulan lalu." Nathan meletakkan cangkirnya. "Buat apa? Yang patah itu kaki gue, bukan hidup gue. Gue bisa ngatur sendiri."
Itulah masalahnya. Qiandra menatap suaminya yang duduk tegak di kursi rodanya itu. Dari luar, Nathan Rajendra adalah laki-laki yang sempurna rapi, tegas, tajam, dan selalu terkendali. Tidak ada satu pun orang di kantornya, di keluarganya, bahkan di depan orang tuanya sendiri, yang akan percaya bahwa laki-laki ini tengah runtuh di dalam. Kecuali Qiandra. Karena Qiandra-lah yang menanggung puing-puing reruntuhannya setiap malam.
"Gue mau minta sesuatu." Qiandra memilih katanya dengan hati-hati. "Minggu depan waktu kontrol, gue ikut. Dan gue mau minta sama dokter Bayu buat nambah satu sesi. Bukan terapi kaki. Sesi sama psikolog yang nanganin pasien pasca-trauma."
Ruang tengah mendadak hening. Hanya suara gerimis yang mengetuk kaca jendela.
Nathan menatapnya lama. Terlalu lama. Tatapan yang biasanya tajam itu bergerak pelan, membaca setiap inci wajah Qiandra seperti membaca dokumen kontrak. Lalu, tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, ia bertanya dengan suara yang sangat pelan, "Psikolog?"
"Nggak selalu yang berat, Nat. Cuma ngobrol—"
"Ngobrol soal apa?" Nathan menyela. Nadanya masih tenang, justru karena itu menyeramkan. "Soal suami loe yang curigaan? Soal suami loe yang posesif? Soal suami loe yang menurut istrinya udah gila?"
"Gue nggak bilang loe gila!"
"Tapi itu yang loe pikirkan!" Suara Nathan akhirnya naik. Cangkir di tangannya ditaruh ke meja dengan bunyi keras. "Kemarin loe diem di mobil sambil tatap ponsel. Gue tahu loe lagi searching sesuatu. Loe pikir gue nggak lihat? Sindrom Othello, 'kan? Itu kata yang loe cari semalem?"
Qiandra terdiam. Ia tidak menyangka Nathan memperhatikan detail sekecil itu, sementara hal-hal besar tentang perasaannya sendiri justru selalu luput dari mata laki-laki itu.
"Elli yang ngomong soal itu, bukan gue." Qiandra tetap berusaha tenang. "Tapi selama ini gue nggak pernah mikir panjang soal kata-kata itu. Sampai semalem. Nat, gue lihat loe capek. Gue lihat loe nggak pernah bisa tidur tenang. Lo selalu curiga sama semua orang, termasuk sama orang yang nggak akan pernah nyakitin loe. Itu namanya menderita. Dan penderitaan kayak gitu bukan sesuatu yang bisa loe lawan sendirian."
"Jadi istrinya sudah berbaik hati mendiagnosis gue." Nathan tertawa pendek, tanpa humor sama sekali. "Empat bulan nikah, satu hal yang akhirnya loe pelajari tentang gue: gue sakit jiwa."
"Nathan—"
"Gue kecelakaan karena loe, Qian." Kalimat itu keluar seperti cambuk. Nathan sendiri tampak terkejut dengan kalimatnya sendiri, tetapi ia sudah terlanjur melangkah, dan laki-laki seperti Nathan tidak pernah mundur. "Gue nggak bisa jalan karena loe. Istri pertama gue ninggalin gue karena loe. Seluruh hidup gue berubah jadi reruntuhan karena loe. Dan sekarang loe duduk di depan gue dengan lemon tea yang gue buatin, bilang ke gue buat ke psikiater?"
Qiandra merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pelupuk matanya. Bukan air mata. Amarah yang sudah menumpuk terlalu lama dan mulai menemukan celah keluar.
"Jadi ini soal utang, ya?" Suaranya bergetar. "Gue nikah sama loe karena gue ngerasa bersalah. Gue tahan semua batasan aneh loe karena gue ngerasa bersalah. Gue rela temen-temen gue jaga jarak karena gue ngerasa bersalah. Dan sekarang loe mau gue ngerasa bersalah juga waktu gue cuma pengin loe sehat?"
"Gue nggak minta dikasihani!"
"Gue juga nggak kasihan sama loe, Nathan!" Qiandra berdiri. "Gue cuma capek hidup sama orang yang tiap hari mikir gue bakal selingkuh! Capek dipantau tiap menit! Capek jadi tersangka di rumah sendiri! Kalau loe mau tau, selama ini gue yang butuh psikolog, karena tinggal sama loe pelan-pelan bikin gue ikut gila!"
Kalimat terakhir itu menggantung di udara seperti asap yang tidak mau hilang.
Nathan menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini, Qiandra melihat sesuatu di mata suaminya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan amarah. Bukan tuduhan. Luka. Luka yang begitu besar dan begitu lama terkubur, sehingga ketika akhirnya muncul ke permukaan, bentuknya sudah tidak dikenali lagi bahkan oleh pemiliknya.
"Bagus." Nathan mengangguk pelan. Ia memutar kursi rodanya, membelakangi Qiandra. "Kalau begitu memang sebaiknya kita berdua ke psikiater. Berduaan. Biar dokternya bisa nanya langsung ke gue, orang yang paling sering bikin istrinya menderita."
"Nat, gue nggak bermaksud—"
"Pergi kerja sekarang, atau loe mau gue antar dengan suasana hati yang kayak gini?" Nathan tidak menoleh. "Pilih yang aman buat kita berdua."
Qiandra berdiri kaku beberapa saat. Ada ribuan kata yang tersangkut di tenggorokannya, tetapi ia menelan semuanya. Ia berjalan menuju pintu, meraih tasnya, dan keluar tanpa pamit.
Di teras, hujan gerimis menyambutnya. Ia menatap langit kelam dan baru menyadari satu hal yang membuat hatinya mencelos lebih dalam. Dalam pertengkaran tadi, untuk pertama kalinya, Nathan tidak membatasinya. Tidak melarang. Tidak mengancam. Laki-laki itu hanya menyakiti dirinya sendiri dengan kalimat-kalimat yang bahkan lebih tajam daripada batasan-batasan yang selama ini ia bangun.
Dan entah mengapa, rasa sakit itu jauh lebih sulit untuk ditonton.
Di dalam rumah, Nathan masih duduk di tempatnya. Perlahan, ia meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, tangan laki-laki itu gemetar.
…