Apartemen di kawasan Kuningan itu sama seperti dua bulan yang lalu. Rokok bercampur alkohol di udara, piring-piring sisa makan malam menumpuk di wastafel, dan jendela yang dibiarkan terbuka setengah agar bau tidak terlalu menyiksa. Hanya satu hal yang berubah: perut Stephanie. Sudah tidak bisa lagi disembunyikan dengan pakaian longgar. Tonjolan kecil itu tumbuh perlahan, seperti tagihan yang tak pernah mau dibayar.
Empat bulan. Usia kandungan ini sudah melewati masa paling rentan, dan setiap minggu yang lewat membuat rencana mereka semakin sulit ditunda. Bulan depan perutnya akan semakin membesar. Bulan depan orang-orang di dunia modeling yang dulu memujanya akan mulai bertanya-tanya. Stephanie tidak punya banyak waktu lagi untuk bersembunyi di balik kabar bahagia palsu yang biasa ia pamerkan di media sosial.
Stephanie duduk di sofa, kakinya diselonjorkan di meja kaca. Di hadapannya, Sam meletakkan selembar kertas print-out di atas meja. Kertas itu bergambar siluet keluarga besar keluarga Rajendra, dengan lingkaran merah di sekitar wajah Subagio dan Mega.
"Ini target kita." Sam mengetuk foto itu. "Bukan Nathan. Loe nggak usah mikirin Nathan. Nathan cuma anak yang dijadiin tameng orang tua. Kita harus bicara langsung sama pemegang kunci brankasnya."
Stephanie mengangkat kertas itu, membolak-baliknya dengan malas. "Nathan nggak akan tinggal diam kalau tahu rencana ini."
"Justru karena itu. Nathan tidak boleh tahu sampai saatnya dia harus tahu." Sam mencondongkan badan. "Gue udah research. Dua bulan lalu mereka cerai resmi, hak asuh dan harta gono-gini sudah beres. Tapi Nathan nggak tahu satu hal: saat putusan pengadilan itu dibacakan, loe udah hamil dua bulan. Itu artinya, secara hukum, anak ini masih bisa diklaim sebagai anak hasil pernikahan. Atau setidaknya, anak yang dilahirkan dari hubungan yang masih sah ketika proses perceraian berjalan."
Stephanie menatap langit-langit. "Kita nggak tahu persis ini anak siapa."
"Justru itu senjatanya." Sam mengisap rokoknya dalam-dalam. "Nathan punya kecacatan fisik. Itu kelemahannya di mata publik. Tapi dia juga punya kebanggaan luar biasa. Bayangin kalau dia tahu ada anaknya yang lahir setelah perceraian, dari istri yang pernah ninggalin dia saat lumpuh. Bayangin rasa bersalahnya. Bayangin rasa kehilangan gengsinya kalau anak itu dibesarkan orang lain. Nathan akan melakukan apa saja supaya anak itu diakui."
Sam sudah menghitung semuanya dari jauh-jauh hari. Ia bahkan sudah menghubungi kenalannya, seorang pengacara muda yang katanya paham hukum keluarga, untuk memastikan celah hukum yang bisa mereka pakai. Pengacara itu bilang, selama nama ayah kandung di akta kelahiran masih bisa diperdebatkan, selama itu pula ruang negosiasi terbuka. Dan ruang negosiasi adalah tempat Sam paling jago bermain.
"Atau supaya anak itu tidak pernah diakui." Stephanie menurunkan kakinya. "Nathan bukan tipe yang mau jadi bahan perbincangan. Dia bisa saja membeli semua hak atas bayi ini, terus melupakannya."
"Betul. Dan itu justru untung kita." Sam tersenyum. "Apa pun yang dia pilih—mengakui atau tidak—harganya tetap tinggi. Tinggal kita yang atur lelangnya."
Stephanie tidak langsung menjawab. Tangannya mengelus perutnya, gerakan yang sudah menjadi kebiasaan beberapa bulan terakhir. Di dalam sana, makhluk kecil itu sudah mulai bergerak. Stephanie merasakannya kadang-kadang, seperti ikan kecil yang menabrak dinding kolam. Sensasi aneh yang tidak bisa ia jelaskan pada siapa pun. Termasuk pada kakaknya yang hanya melihat perut itu sebagai mesin cetak uang.
Kadang Stephanie berpikir tentang ibunya. Wanita yang meninggal di atas meja operasi karena menggugurkan kandungannya sendiri. Stephanie masih ingat betul hari itu, ingat bagaimana ayahnya menangis di lorong rumah sakit, dan ingat janji yang ia ucapkan dalam hati: aku tidak akan pernah sebodoh itu. Sekarang janji itu masih ia pegang, meski bentuknya sudah berubah. Ia tidak akan menggugurkan bayi ini. Ia akan menjadikannya alat.
Entah apakah ibunya akan bangga atau justru menangis melihatnya seperti ini.
"Berapa nilai yang loe mau?" tanya Sam.
"Jangan terlalu tinggi. Kita masih butuh mereka tertarik, bukan takut." Stephanie berdiri, berjalan ke jendela. Di bawah, Jakarta malam ini ramai dengan lampu dan asap. "Aku mau apartemen ini dibeliin. Sama uang yang cukup buat gue nggak perlu kerja lima tahun. Dan satu lagi."
"Apa?"
"Gue nggak mau ketemu Nathan." Stephanie menoleh, dan untuk pertama kalinya Sam melihat sesuatu di mata adiknya yang jarang ia lihat. Bukan keserakahan. Bukan perhitungan. Ketakutan. "Gue nggak mau dia melihat perut ini. Gue nggak mau dia tahu. Gue cuma mau Sam yang bicara sama keluarganya. Atau sama Mega. Bukan sama Nathan langsung."
Sam memperhatikan adiknya lama. "Loe masih peduli sama dia?"
"Peduli?" Stephanie tertawa pendek. "Gue ninggalin dia saat dia lumpuh. Gue ceraiin dia di hari keenam. Menurut loe gue masih peduli?"
"Gue cuma nanya."
Stephanie kembali menatap jendela. Di kaca, pantulan wajahnya sendiri terlihat kabur, tumpang tindih dengan lampu kota di kejauhan. Ada sesuatu yang mengganggunya belakangan ini. Bukan kehamilan. Bukan rencana. Melainkan ingatan-ingatan kecil yang tiba-tiba muncul di malam hari. Bagaimana Nathan pernah membuatkan dia teh hangat waktu mereka masih pacaran. Bagaimana Nathan selalu tahu kapan Stephanie lagi capek setelah syuting. Bagaimana Nathan tidak pernah, sekali pun tidak pernah, membentaknya.
Laki-laki itu juga yang kini sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Perempuan yang katanya murid beasiswa di SMA dulu. Perempuan yang katanya jadi penyebab semua ini.
"Besok gue akan kirim pesan ke Mega." Stephanie akhirnya berkata. "Bukan lewat email, bukan lewat surat. Lewat nomor pribadi yang dulu pernah gue simpan. Biar dia tahu ini bukan spam."
"Isinya?"
"Simpel. Foto perut gue. Sama satu kalimat." Stephanie meraih ponselnya dari meja. "'Sudah waktunya kita bicara, Tante.'"
Sam mengangguk. "Bagus. Nggak perlu ancaman. Nggak perlu tuduhan. Biar mereka yang datang."
Malam itu, di apartemen itu, sepasang kakak beradik merayakan keputusan mereka dengan segelas wine murah. Mereka tidak tahu, di sisi lain kota, seorang perempuan bernama Qiandra juga sedang terjaga, menatap langit-langit kamar, dan memikirkan hal yang jauh lebih sederhana.
Bagaimana caranya menyelamatkan pernikahan yang sejak awal tidak pernah ia minta.
Dan di antara dua kegelapan itu, ada satu laki-laki bernama Nathan Rajendra yang sedang berbaring di atas ranjang, menatap sisi tempat tidur yang kosong, dan untuk pertama kalinya bertanya pada dirinya sendiri.
Jika besok istriku benar-benar pergi, siapa yang salah?
…