Qiandra pergi bekerja dengan mata sembab dan hati yang lebih berat dari biasanya. Sepanjang perjalanan naik ojek online, pikirannya tidak lepas dari pertengkaran pagi tadi. Bukan kata-kata Nathan yang melukainya, melainkan tatapan terakhir laki-laki itu sebelum Qiandra menutup pintu. Tatapan orang yang sudah terjatuh ke dasar sumur, lalu menemukan bahwa dinding sumur itu ternyata masih bisa runtuh lebih jauh.
Di Q&Q, keramaian siang hari tidak membantunya melupakan apa pun. Ia melayani pelanggan seperti robot, tersenyum otomatis, mencatat pesanan otomatis, dan berharap tidak ada yang menyadarinya.
Harapan itu gagal total.
"Loe nangis, ya?" Feli menangkap lengannya begitu mereka berpapasan di dapur. "Bohong kalau nggak. Pipi loe bengkak."
Qiandra menggeleng. "Capek aja. Semalem kurang tidur."
"Curigaan laki loe makin parah, kan?" Feli menurunkan suaranya. "Semalam Elli udah ngasih tau gue. Katanya kemarin laki loe manggil-manggil dari mobil lagi."
"Udah, Feli. Gue lagi nggak pengin bahas."
"Astaga." Feli langsung tutup mulut, tetapi matanya penuh kekhawatiran. "Kalau loe butuh tempat nginep, rumah gue selalu terbuka, ya. Serius."
Qiandra tersentuh sekaligus terluka. Berapa lama lagi pertemanan ini akan bertahan jika setiap kali mereka bertemu, topiknya selalu berkisar pada suaminya yang sakit?
Pulang kerja, Pak Shodiq tidak ada. Qiandra menunggu lima belas menit di pinggir jalan sebelum sadar bahwa Nathan pasti melarang sopirnya menjemput hari ini. Ia menghela napas, memesan ojek online, dan pulang sendiri.
Di rumah, Bi Umi sedang mengepel lantai teras. Melihat Qiandra turun dari ojek, wanita itu menghentikan pekerjaannya dan berjalan menghampiri dengan langkah pelan.
"Nathan lagi ada tamu?" tanya Qiandra setengah takut-takut.
"Bukan tamu." Bi Umi menggeleng. "Leslie. Dari sore."
Nama itu membuat Qiandra mematung. Leslie. Sepupu yang pernah menyatakan cinta pada Nathan. Sepupu yang beberapa kali membuat suasana makan malam terasa seperti medan perang. Qiandra tidak pernah menyukai wanita itu, dan dari sorot matanya, Leslie juga tidak pernah menyukai Qiandra.
"Aku tunggu di teras aja, Bi." Qiandra duduk di kursi kayu dekat pintu. "Nggak enak masuk."
Bi Umi memperhatikannya beberapa saat, lalu duduk di kursi sebelahnya. Kedua wanita itu diam mendengarkan suara hujan gerimis yang kembali turun, seolah Jakarta tidak punya hari lain selain hujan.
"Nak." Bi Umi akhirnya membuka suara, pelan. "Bi Umi boleh nanya sesuatu?"
Qiandra menoleh.
"Nyonya kenapa mau nikah sama Aden?"
Pertanyaan itu menampar Qiandra tanpa ampun. Ia menatap wajah Bi Umi yang keriput, mencari niat di baliknya, dan tidak menemukan apa-apa selain kejujuran yang tulus.
"Karena terpaksa, Bi." Qiandra menjawab jujur. "Karena gue ngerasa bersalah."
"Bersalah." Bi Umi mengulanginya seperti merasakan kata itu di lidahnya. "Bersalah itu nggak bisa bikin orang bahagia, Nak. Yang bisa bikin orang bahagia itu cuma cinta."
Qiandra tertawa kecil, getir. "Cinta? Gue bahkan nggak tahu apa itu cinta, Bi. Gue dulu kira cinta itu kayak Rifki. Sabar, nerima, nggak banyak nuntut. Ternyata Rifki juga pergi."
"Rifki bukan cinta." Bi Umi menatap lurus ke depan. "Rifki itu kebiasaan. Tujuh tahun orang pacaran, lama-lama lupa kenapa mereka mulai."
Kalimat itu menancap di dada Qiandra seperti paku. Ia tidak pernah memikirkannya dari sudut itu. Tujuh tahun bersama Rifki, dan yang ia rasakan di akhir hubungan bukan patah hati, melainkan kelegaan yang aneh. Kelegaan karena tidak perlu lagi berpura-pura bahagia.
"Terus Aden?" Bi Umi bertanya. "Nyonya pernah ngerasa sesuatu waktu Aden buatin Nyonya kopi tiap pagi? Waktu Aden beliin cincin zamrud waktu itu? Waktu Aden nyuruh Bi Umi masak semua pedes padahal perutnya nggak kuat?"
Qiandra terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkannya. Semua perhatian itu ia terima sebagai kewajiban, sebagai ganti rugi, sebagai sesuatu yang memang seharusnya Nathan lakukan setelah semua yang sudah terjadi.
"Aden itu dari kecil nggak pernah diajarin cara sayang sama orang." Bi Umi melanjutkan. "Bapaknya sibuk bisnis. Ibunya sibuk arisan. Waktu umur tujuh tahun, Aden pernah panas tinggi tiga hari tiga malam, dan yang nungguin cuma Bi Umi. Waktu umur lima belas, Aden bikin masalah di sekolah, dan yang datang ke sekolah bukan bapak ibunya, tapi pengacara keluarga. Jadi wajar kalau cara dia sayang orang jadi aneh. Dia nggak tahu caranya, Nak. Dia cuma tahu cara menguasai. Karena itu satu-satunya hal yang dia lihat dari orang tuanya."
Bi Umi berhenti sejenak, tangannya memutar kain pel di pangkuannya.
"Nyonya tahu kenapa Aden jatuh cinta sama Nyonya waktu SMA?" lanjutnya. "Bukan karena Nyonya cantik. Banyak perempuan cantik yang ngejar Aden. Tapi cuma Nyonya yang pernah berani bilang 'nggak' ke dia. Cuma Nyonya yang nggak takut sama nama Rajendra. Waktu itu Aden pulang ke rumah dengan muka merah, terus bilang ke Bi Umi, 'Bi, ada cewek yang nolak gue.' Sambil senyum, Nak. Bi Umi waktu itu heran. Anak ini ditolak kok malah senyum. Ternyata selama ini dia pengin dicintai sebagai manusia, bukan sebagai Rajendra."
Qiandra menunduk. Dua belas tahun lalu ia menolak Nathan di lorong kelas XII IPA-2 dengan kata-kata pedas yang bahkan sampai sekarang masih ia ingat. Ia kira penolakan itu adalah akhir dari segalanya. Ternyata bagi Nathan, itu adalah awal.
"Waktu kecelakaan itu terjadi," suara Bi Umi bergetar sedikit, "Aden nggak pernah nangis. Nggak sekali pun. Bi Umi masuk kamar pas dia sendirian, tetap nggak nangis. Tapi ada satu malam, Bi Umi denger dia ngomong sendiri sama fotonya waktu masih bisa jalan. Dia bilang, 'Seenggaknya sekarang ada alasan Qian nggak bisa ninggalin gue.' Itu satu-satunya kali Bi Umi denger Aden nangis."
"Jadi gue harus nerima semua sikapnya?" tanya Qiandra pelan.
"Bukan nerima." Bi Umi menggeleng. "Ngenalin. Bi Umi nggak bilang Aden benar. Aden banyak salahnya. Tapi Nyonya harus lihat dulu orangnya, sebelum lihat kesalahannya."
Qiandra menatap hujan gerimis di luar teras. Ada sesuatu yang mengendur di dadanya, perlahan-lahan, seperti simpul yang ditarik dari dua sisi.
Di dalam rumah, suara Leslie tertawa pelan. Suara itu terdengar tidak wajar di telinga Qiandra. Bukan karena jelek, melainkan karena itu adalah suara tawa yang sudah lama tidak ia dengar di rumah ini. Tawa Nathan.
Qiandra berdiri, mengucapkan terima kasih pada Bi Umi, dan masuk ke dalam. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan atau katakan. Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini, ada pintu kecil di hatinya yang terbuka sedikit. Hanya sedikit. Tetapi cukup untuk membuatnya melihat bahwa di balik dinding itu, ada laki-laki yang juga sedang berjuang dengan caranya sendiri.
Caranya yang aneh, menyakitkan, dan sering kali salah. Tetapi berjuang.
…