Ketika Qiandra masuk, suasana di ruang tengah terasa canggung. Leslie duduk di sofa seberang dengan satu kaki naik, rokok di tangannya sudah terbakar separuh. Nathan ada di sisinya, kursi rodanya diparkir menghadap televisi yang tidak mereka tonton. Keduanya sedang membicarakan sesuatu yang langsung terhenti begitu Qiandra muncul di ambang pintu.
"Eh. Istri loe pulang." Leslie berdiri, mematikan rokoknya di asbak. "Gue cabut. Udah lama juga."
Ia berjalan melewati Qiandra, dan untuk sepersekian detik, kedua wanita itu saling menatap. Ada sesuatu di mata Leslie yang sulit diartikan. Bukan permusuhan biasa. Lebih seperti penilaian. Seperti wanita itu sedang menimbang apakah Qiandra layak untuk hal yang sedang ia perjuangkan.
"Jaga laki loe baik-baik." Leslie berkata pelan, hanya cukup keras untuk Qiandra dengar. "Sebelum orang lain yang jaga."
Qiandra tidak menjawab. Ia menatap punggung Leslie yang menghilang di teras, lalu menoleh ke Nathan. Suaminya masih menghadap televisi, tetapi jarinya mengetuk-ngetuk pegangan kursi roda dengan gelisah. Kebiasaan kecil yang Qiandra baru sadari beberapa minggu terakhir. Nathan selalu mengetukkan jari kalau sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia sukai.
"Leslie lama di sini?" tanya Qiandra, berusaha membuat suaranya senetral mungkin.
"Cuma ngobrol." Nathan menjawab singkat. "Loe baru pulang?"
"Iya. Pak Shodiq nggak jemput." Qiandra berjalan menuju dapur, mengambil gelas, dan menuang air. "Gue naik ojek online."
Nathan diam sejenak. "Besok Pak Shodiq jemput lagi. Kayak biasa."
Qiandra mengangkat alis. Itu adalah tawaran damai, meskipun disampaikan dengan cara yang kaku. Ia mengangguk. "Makasih."
Hening lagi. Hening yang tidak sepenuhnya buruk, tetapi juga tidak sepenuhnya baik. Qiandra berdiri di dapur, menatap suaminya dari balik punggung. Ia teringat kata-kata Bi Umi. Dia cuma tahu cara menguasai. Karena itu satu-satunya hal yang dia lihat dari orang tuanya.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Qiandra memutuskan untuk tidak hanya melihat kesalahan Nathan. Ia melihat laki-laki itu secara utuh. Laki-laki yang lumpuh karena kesalahannya, yang ditinggalkan istri pertamanya di hari keenam, yang tidak pernah tahu bagaimana cara dicintai tanpa syarat. Laki-laki yang mengira mengikat seseorang adalah satu-satunya cara membuatnya bertahan.
Itu tidak membuat tindakan Nathan benar. Tetapi itu membuat tindakan Nathan bisa dimengerti. Dan dimengerti adalah awal dari segalanya.
"Nat." Qiandra akhirnya berkata. "Soal psikolog tadi pagi. Gue masih mau loe pikirin."
Nathan tidak menjawab. Tetapi jari-jarinya berhenti mengetuk.
"Bukan karena gue pikir loe gila." Qiandra melanjutkan. "Tapi karena gue nggak mau kita terus kayak gini. Gue capek ribut. Dan gue yakin loe juga capek."
Lama Nathan tidak menjawab. Qiandra sudah hampir menyerah ketika laki-laki itu akhirnya bersuara, pelan sekali, seolah sedang mengaku pada dinding.
"Gue takut, Qian."
Dua kata itu membuat Qiandra berbalik penuh.
"Gue takut loe pergi." Nathan masih tidak menoleh. Suaranya terdengar lelah, jujur, dan rapuh dalam cara yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Setiap hari gue takut loe pergi kayak Stephanie. Jadi gue bikin semua aturan ini. Gue blokir kontak orang. Gue larang loe ketemu siapa pun. Karena kalau loe nggak punya tempat untuk pergi, loe nggak bisa pergi."
Qiandra merasakan dadanya sesak. Bukan karena marah. Karena ia mengerti. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti.
"Aku nggak bisa janji nggak akan pergi kalau loe terus kayak gini, Nat." Qiandra berkata pelan. "Tapi aku bisa janji satu hal. Kalau loe mau berobat, aku temenin."
Nathan menatapnya dari balik bahu. Ada jarak lima meter di antara mereka, tetapi entah kenapa rasanya seperti jarak itu menyusut.
"Gue pikirin." Itu saja yang Nathan katakan. Tetapi dari laki-laki yang keras kepala itu, dua kata ini adalah kemenangan.
Malam itu mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah dua hari berturut-turut saling mengabaikan. Bi Umi menyajikan ayam goreng dan sambal terasi dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya. Nathan makan sedikit, tetapi ia tidak menyentuh kopi. Qiandra memperhatikan hal itu dan menyimpannya di hati.
Setelah makan, Nathan kembali ke laptopnya. Qiandra duduk di sofa, membaca pesanan reseller-nya, sesekali mencuri pandang ke arah suaminya. Suasana hampir normal. Hampir.
Ponsel Nathan berbunyi. Laki-laki itu mengerutkan dahi melihat nama yang muncul di layar.
"Mama." Ia mengangkatnya. "Ada apa malem-malem?"
Di ujung sana, suara Mega terdengar tidak biasa. Wanita yang biasanya bicara dengan nada memerintah itu kini terdengar tergesa-gesa, napasnya pendek, seperti orang yang baru saja menuruni tangga dengan tergopoh-gopoh. Qiandra tidak bisa mendengar apa yang dikatakan, tetapi ia bisa melihat efeknya. Wajah Nathan berubah. Perlahan, warna di wajahnya pudar, digantikan oleh sesuatu yang lebih pucat dari pucat. Tangan yang memegang ponsel mengetat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mama yakin ini bukan bohong?" tanya Nathan. Suaranya mulai bergetar di ujungnya.
"Kapan?" Nathan bertanya. Suaranya parau.
Diam. Nathan mendengarkan.
"Jangan pegang apa-apa. Gue ke sana sekarang." Ia menutup telepon, dan untuk beberapa detik, ia hanya duduk diam di kursi rodanya seperti orang yang baru saja ditampar.
"Nat?" Qiandra berdiri. "Ada apa?"
Nathan menoleh ke arahnya. Tatapannya kosong, seolah ia sedang melihat Qiandra dari jarak yang sangat jauh. Bibirnya bergerak, membentuk kalimat yang ia sendiri tampak tidak percaya sedang ia ucapkan.
"Stephanie hamil."
Dua kata itu menggantung di udara ruang tengah, di antara bau sambal terasi yang belum hilang dan suara hujan gerimis yang masih turun di luar sana.
Qiandra merasa lantai di bawah kakinya bergeser sedikit. Atau mungkin hanya perasaannya saja. Otaknya bekerja cepat, terlalu cepat, menyusun potongan-potongan informasi yang berantakan. Stephanie hamil. Stephanie pergi empat bulan lalu. Kalau perutnya sudah sebesar itu …
"Usia kandungannya berapa?" Qiandra bertanya, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. "Kalau dari foto itu, kelihatannya udah lumayan gede. Itu berarti—"
"Itu berarti anak itu dikandung sebelum perceraian selesai." Nathan menyelesaikan kalimatnya dengan nada datar. "Secara hukum, anak yang lahir dalam masa iddah atau yang dikandung saat pernikahan masih sah, adalah anak kami berdua. Gue yang harus menafkahinya. Gue yang namanya akan tercantum di akta kelahirannya."
"Bukankah itu bagus?" Qiandra mencoba mencari sisi baiknya, meskipun ia sendiri tidak yakin ada. "Bukankah Papa dan Mama selama ini pengin cucu?"
"Bagus?" Nathan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Qian, loe pikir Stephanie muncul sekarang, di saat seperti ini, karena dia rindu sama gue? Karena dia pengin balikan? Dia pengin sesuatu. Dan sesuatu itu harganya nggak murah."
Ponsel di tangan Nathan menyala lagi. Kali ini sebuah gambar masuk. Nathan menatap layarnya lama, terlalu lama, sebelum membalik ponselnya ke arah Qiandra.
Di sana, foto seorang wanita berdiri di depan cermin kamar mandi, satu tangan memegang ponsel, satu tangan mengangkat bajunya. Perutnya membuncit jelas. Wajahnya tidak terlihat, tetapi Qiandra tahu siapa wanita itu.
Di bawah foto itu, ada satu pesan singkat yang membuat darah Qiandra berdesir dingin.
Sudah waktunya kita bicara, Tante.
Qiandra menatap ponsel itu, lalu menatap Nathan, lalu kembali menatap ponsel. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan. Apakah Nathan yakin anak itu anaknya? Apakah Nathan akan kembali pada Stephanie? Bagaimana dengan pernikahan mereka? Bagaimana dengan janji dua kata tadi—gue pikirin—yang sekarang rasanya sudah tidak relevan lagi?
Tetapi yang keluar dari mulutnya hanya satu pertanyaan.
"Sekarang apa yang mau loe lakuin?"
Nathan menatap layar ponselnya sekali lagi. Lalu ia meletakkannya di meja dengan hati-hati, seolah benda itu bisa meledak kapan saja. Ia menatap Qiandra, dan kali ini tatapannya sudah kembali menjadi tatapan Nathan yang Qiandra kenal. Tajam. Terkendali. Dan menyimpan badai di baliknya.
"Besok kita ke rumah Papa dan Mama. Berdua." Ia berhenti sejenak. "Dan gue mau loe ada di sana. Sebagai istri gue."
Malam yang tadi hampir normal, hancur berkeping-keping dalam satu detik.
…