Rumah besar keluarga Rajendra berdiri di kavling sudut Menteng, diapit dua pohon kenari tua yang sudah lebih tua dari usia pernikahan Subagio dan Mega. Qiandra hanya pernah ke sini dua kali, dan kedua-duanya bukan pengalaman yang menyenangkan. Pertama kali ia datang sebagai tersangka yang dipaksa menikah. Kedua kali sebagai pengantin baru yang diberi wejangan soal cucu.
Kali ketiga ini, ia datang sebagai istri yang rumah tangganya sedang dipertaruhkan.
Pak Shodiq membantu Nathan turun dari mobil. Qiandra berjalan di samping kursi roda itu, menahan dorongan untuk meraih pegangannya. Sejak semalam, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Bukan damai. Bukan pula perang. Sesuatu yang rapuh dan belum bernama.
Di ruang tamu utama, Subagio duduk di kursi kepalanya dengan wajah yang sulit dibaca. Mega berdiri di sampingnya, sebatang rokok belum sempat dihabiskan sudah ia matikan di asbak kristal. Wanita itu tampak lebih tua sepuluh tahun dalam satu malam.
Pelayan rumah besar itu menyuguhkan teh dengan tangan gemetar. Semua orang di rumah ini sudah tahu ada badai yang sedang turun dari langit. Semua orang memilih membuat dirinya sekecil mungkin agar tidak tersambar.
"Duduk." Subagio mengangguk ke arah sofa. Tidak ada salam. Tidak ada basa-basi.
Begitu mereka duduk, Mega langsung meletakkan ponselnya di meja, layarnya menghadap ke semua orang. Foto itu. Perut membuncit di depan cermin kamar mandi.
"Pesan ini masuk jam sepuluh malam." Suara Mega serak. "Nomor lamanya. Masih aktif."
"Dia mau apa?" Nathan langsung ke pokok masalah. Tidak ada amarah di suaranya, dan itu justru menandakan ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar.
"Belum bilang." Mega menatap putranya. "Cuma itu. Foto dan satu kalimat."
"Berarti dia nunggu kita yang nanya." Nathan menyandarkan punggung. "Klasik. Lempar umpan, tunggu ikan."
Subagio yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Kalau benar anak itu anakmu—"
"Tes DNA." Nathan memotong tanpa ragu. "Segera setelah anak itu lahir. Atau tes pranatal kalau mereka berani. Gue nggak akan ngakuin apa pun sebelum ada hasil laboratorium."
"Dan kalau hasilnya benar?" Subagio mencondongkan badan. Matanya yang tua menyala dengan sesuatu yang membuat Qiandra merinding. "Kalau benar itu cucu kita, Nathan? Cucu pertama keluarga ini?"
Ruang tamu hening. Qiandra bisa merasakan arah pembicaraan ini berbelok, dan ia tidak menyukai ke mana arahnya.
"Maksud Papa?" Nathan bertanya pelan.
"Maksud Papa," Subagio berdiri, "anak Rajendra tidak boleh lahir tanpa nama Rajendra. Kalau anak itu benar darah dagingmu, anak itu harus pulang ke keluarga ini. Dengan cara apa pun."
"Termasuk membawa ibunya kembali?" Nathan bertanya datar.
"Termasuk membawa ibunya kembali."
Qiandra merasakan darahnya turun dari wajah. Ia menatap mertuanya, lalu menatap suaminya, lalu menatap Mega yang menghindari pandangannya. Wanita itu tahu. Wanita itu tahu kalimat barusan adalah kalimat yang kejam, tetapi ia membiarkannya keluar karena di matanya cucu lebih penting dari menantu.
"Pa." Suara Nathan turun satu oktaf. "Gue udah nikah. Loe ada di sana waktu akad. Istri gue namanya Qiandra. Duduk di sebelah gue sekarang."
"Dan siapa yang bisa menjamin dia bisa memberi kita cucu?" Subagio menatap Qiandra untuk pertama kalinya, dan tatapannya tidak menyembunyikan apa-apa. "Empat bulan menikah. Tidak ada tanda apa pun. Sementara di luar sana, ada rahim lain yang sedang membesarkan darah daging keluarga ini."
"Papa dengar baik-baik." Nathan mengangkat tangannya, telapak terbuka, tanda peringatan yang Qiandra kenal dari lorong-lorong SMA dua belas tahun lalu. "Gue datang ke sini malam ini bukan untuk minta izin. Gue datang untuk memberi tahu. Anak itu akan dites DNA-nya. Kalau benar anak gue, gue akan bertanggung jawab secara materi. Hak asuhnya kita bicarakan nanti. Tapi tidak ada seorang pun, termasuk Papa, yang akan memaksa gue meninggalkan istri gue."
"Kamu berani bicara begitu karena kamu pikir Papa membutuhkanmu." Subagio tertawa kecil, dingin. "Kamu lupa, Nak. Semua yang kamu pegang sekarang, rumah itu, jabatan itu, saham itu, semuanya atas nama keluarga. Papa bisa mengambilnya kapan saja."
"Silakan ambil." Nathan menjawab tanpa jeda. "Gue masih punya otak. Gue masih punya nama sendiri. Rajendra ada karena ada gue yang ngerjain proyek-proyeknya lima tahun terakhir, bukan sebaliknya. Kalau Papa mau perang urat syaraf sama anak sendiri, silakan. Tapi jangan kaget kalau yang hancur bukan cuma gue."
Qiandra menatap suaminya dengan perasaan yang aneh. Laki-laki yang semalam berkata takut ditinggalkan, sekarang sedang mempertaruhkan seluruh hidupnya di depan ayahnya sendiri. Untuk apa? Untuk sebuah prinsip? Atau untuk dia?
Mega akhirnya bicara, suaranya lembut namun tajam, khas wanita yang tahu cara membelah pertengkaran. "Sudah. Cukup." Ia menatap suami dan anaknya bergantian. "Kita semua emosi. Keputusan besar tidak boleh diambil dengan kepala panas. Stephanie akan kita hubungi. Baik-baik dulu. Tes DNA, kita atur. Soal yang lain-lain, nanti."
"Dan satu hal lagi." Mata Mega beralih ke Qiandra, dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang menyerupai keadilan di tatapannya. "Qiandra adalah menantu keluarga ini. Tidak ada yang boleh membicarakan cucu dengan mengorbankan dia. Aku yang memilih dia untuk Nathan. Aku yang akan membelanya."
Subagio mengibaskan tangannya dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan bau kopi tanpa gula yang belum sempat dihabiskannya.
Di perjalanan pulang, tidak ada yang bicara. Nathan menatap jendela, jari-jarinya mengetuk pegangan kursi roda tanpa henti. Qiandra menatap pemandangan Jakarta malam hari yang basah oleh gerimis.
Sampai rumah, ketika Pak Shodiq sudah masuk ke garasi, Nathan akhirnya bersuara, pelan, tanpa menoleh.
"Gue nggak tahu anak itu anak gue atau bukan."
"Iya."
"Tapi kalau benar anak gue, hidup kita nggak akan pernah sama lagi."
"Iya."
Nathan menarik napas panjang, lalu mengucapkannya pada malam, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Qiandra.
"Karena itu gue butuh loe tetap di sini."
Qiandra tidak menjawab. Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, saat Nathan menyodorkan tangannya di kegelapan kamar, Qiandra tidak menggeser tubuhnya menjauh.
Garis batas itu masih ada. Hanya saja, malam ini, ada tangan yang melintasinya.
…