Tiga hari setelah pertemuan di rumah besar, Nathan menepati janjinya dengan cara yang paling Nathan: tanpa mengumumkannya.
Qiandra tahu mereka akan pergi ke psikolog hanya karena pagi itu Nathan berkata, "Hari ini loe izin setengah hari. Gue udah ngomong sama Bang Andi lewat Rian." Lalu, seolah membicarakan jadwal rapat biasa, "Janjinya jam dua. Dokter Larasati. Rekomendasi dokter Bayu."
Sepanjang perjalanan, Nathan tidak bicara. Qiandra juga tidak. Kursi roda, lift, lorong klinik yang wangi antiseptik, ruang tunggu yang terlalu terang—semuanya terasa seperti prosesi menuju ruang sidang.
Dokter Larasati adalah wanita lima puluhan dengan kacamata baca menggantung di rantai emas. Ia tidak memulai dengan pertanyaan. Ia memulai dengan diam yang nyaman, membiarkan kedua pasiennya menata diri di dua kursi berhadapan.
"Kalian berdua tahu kenapa kalian ada di sini?" tanyanya akhirnya.
"Karena istri saya pikir saya gila," kata Nathan.
"Karena suami saya nggak bisa berhenti curiga," kata Qiandra bersamaan.
Dokter Larasati tersenyum kecil. "Bagus. Setidaknya kalian kompak dalam ketidaksetujuan."
Ia memulai dari jauh. Bukan dari cemburu, bukan dari kontak yang diblokir, melainkan dari hari kecelakaan itu. Nathan diminta menceritakan ulang detik-detiknya—pohon yang menghampiri kaca depan, bunyi yang tidak bisa ia lupakan, dan rasa aneh di kakinya yang sejak itu tidak pernah hilang. Untuk pertama kalinya Qiandra mendengar cerita itu dari sudut pandang Nathan, bukan dari berkas rumah sakit, bukan dari amarah Subagio. Suaranya datar, tetapi tangannya menggenggam pegangan kursi roda sampai putih.
"Dan sejak hari itu," dokter Larasati bertanya, "apa yang menurut Anda hilang dari diri Anda?"
"Kaki," jawab Nathan cepat.
"Bukan itu yang saya tanyakan."
Nathan diam lama. "Kendali," katanya akhirnya. "Gue kehilangan kendali atas hidup gue sendiri."
Satu jam berikutnya adalah jam paling tidak nyaman dalam hidup Qiandra. Dokter itu tidak menghakimi siapa pun, dan justru karena itu semuanya terasa lebih telanjang. Ia bertanya tentang pernikahan mereka, tentang kecelakaan itu, tentang Stephanie, tentang Rifki. Nathan menjawab dengan nada datar seorang terdakwa. Qiandra menjawab dengan nada lelah seorang saksi.
Ketika sampai pada soal blokir kontak, Nathan tidak mengelak. "Gue tahu itu berlebihan," katanya, mengejutkan semua orang di ruangan, termasuk dirinya sendiri. "Tapi setiap kali gue lihat dia ketawa sama orang lain, kepala gue langsung muter satu skenario. Skenarionya selalu sama. Dia ketemu orang yang bisa jalan, orang yang utuh, terus dia sadar dia salah pilih."
"Skenario itu punya dasar?" tanya dokter Larasati.
"Punya. Namanya Stephanie." Nathan menatap lantai. "Istri pertama gue pergi hari keenam gue lumpuh. Jadi di kepala gue, semua orang pada akhirnya pergi. Cuma soal waktu. Dan kalau cuma soal waktu, gue mau waktunya sejauh mungkin."
"Meskipun harus mengurung istri Anda untuk itu?"
"Meskipun begitu," jawab Nathan, lalu berhenti, dan suaranya turun. "Tapi gue mulai sadar kurungan itu juga yang bikin orang pengin kabur."
"Pak Nathan," dokter Larasati berkata di pertengahan sesi, "boleh saya minta Anda menjawab pertanyaan ini tanpa berpikir lebih dari tiga detik? Kalau Bu Qiandra pergi besok dan tidak kembali, apa yang paling Anda takutkan?"
Nathan membuka mulut, lalu menutupnya. Untuk pertama kalinya di ruangan itu, wajahnya kehilangan topeng.
"Tiga detiknya sudah lewat, Pak."
"Kesepian," kata Nathan akhirnya, hampir tak terdengar. "Yang paling gue takutin itu kesepian."
Qiandra menoleh. Ia tidak menyangka jawabannya. Ia menyangka Nathan akan berkata malu, gengsi, atau harga diri. Bukan kesepian.
"Dan Ibu Qiandra. Pertanyaan yang sama. Kalau Pak Nathan membebaskan Anda besok—menceraikan, memberi kompensasi, mengembalikan hidup Anda—apa yang pertama kali Anda rasakan?"
Qiandra diam. Tiga detik lewat. Sepuluh detik lewat.
"Nggak tahu," katanya pelan. "Gue nggak tahu."
Dokter Larasati menuliskan sesuatu. "Menarik. Biasanya orang dalam posisi Ibu menjawab 'lega' dalam satu detik."
Sesi berakhir dengan tugas yang terdengar remeh tetapi terasa mustahil: setiap malam, sebelum tidur, masing-masing harus menyampaikan satu hal yang mereka rasakan hari itu. Satu hal jujur. Bukan tuduhan. Bukan laporan. Perasaan.
"Seminggu. Tujuh kalimat dari masing-masing. Minggu depan kita bicara lagi."
Di mobil pulang, suasana aneh. Bukan hening yang bermusuhan, melainkan hening dua orang yang sama-sama baru saja dibedah dan luka-lukanya belum dijahit.
Malam pertama tugas itu, mereka berbaring di ranjang masing-masing dengan garis batas di tengah. Sepuluh menit lewat tanpa ada yang memulai.
"Loe duluan," kata Nathan.
"Loe duluan. Loe yang lebih tua."
"Umur kita sama."
"Loe yang lebih keras kepala."
Nathan mendengus. Hampir tertawa. Lalu ia menatap langit-langit, dan suaranya keluar pelan, seperti orang mengeluarkan duri dari daging.
"Hari ini gue ngerasa malu. Duduk di ruangan itu, ngakuin gue takut kesepian di depan orang asing dan di depan loe. Gue benci malu. Gue lebih baik marah daripada malu."
Qiandra menatap sisi wajahnya dalam gelap. "Giliran gue?"
"Giliran loe."
"Hari ini gue ngerasa..." Qiandra berhenti, mencari kata yang benar. "...heran. Gue baru tahu loe takut kesepian. Selama ini gue pikir loe cuma takut kehilangan gengsi."
"Gengsi itu buat orang lain. Sepi itu buat diri sendiri."
Qiandra tidak menjawab. Tetapi ia memikirkan kalimat itu sampai matanya berat.
Tujuh malam berjalan. Tujuh kalimat. Beberapa kalimat Nathan masih terdengar seperti laporan. Beberapa kalimat Qiandra masih terdengar seperti keluhan. Tetapi ada satu malam, malam kelima, ketika Nathan berkata, "Hari ini gue ngerasa seneng, karena loe ketawa di telepon sama Tasya. Gue nggak curiga. Gue cuma seneng denger suaranya."
Dan malam keenam, Qiandra berkata, "Hari ini gue ngerasa tenang. Karena loe nggak nanya gue pergi ke mana."
Pelan-pelan, sangat pelan, seperti es yang mencair di bawah matahari yang malu-malu, sesuatu di rumah itu mulai berubah suhu.
Sampai hari kedelapan tiba, dan ponsel Mega berdering dengan jawaban yang sudah mereka tunggu-tunggu.
Stephanie bersedia bertemu. Di kantor keluarga Rajendra. Dengan satu syarat yang membuat Mega mengerutkan dahi saat membacanya.
Dia ingin Nathan datang. Dan dia ingin Qiandra juga ada di sana.
…