Surat itu datang lewat kurir, bukan lewat email. Kop suratnya tebal dan bermaterai: kantor hukum keluarga Rajendra. Sam membacanya dua kali, lalu melemparnya ke meja dengan tawa kecil yang penuh kemenangan.
"Mereka ngajak ketemu. Di kantor pusat Rajendra. Ada pengacara, ada notulis. Ini bukan obrolan keluarga, Steph. Ini meja perundingan."
Stephanie mengambil surat itu. Tangannya tidak gemetar, tetapi butuh waktu lama baginya untuk menyelesaikan tiga paragraf yang sebenarnya pendek.
"Mereka mau tes DNA."
"Wajar. Gue juga akan minta hal yang sama kalau jadi mereka." Sam menyalakan rokok baru dengan rokok lamanya. "Yang penting bukan tesnya. Yang penting mereka udah duduk di meja. Orang yang udah mau duduk di meja adalah orang yang udah ngaku kalah setengah."
"Atau orang yang yakin menang."
"Stephanie." Sam menatap adiknya tajam. "Dari mana asalnya keraguan ini? Dua bulan loe nyusun rencana ini bareng gue. Sekarang rencananya jalan, dan loe tiba-tiba berkeringat dingin?"
Stephanie tidak menjawab langsung. Ia berjalan ke jendela, menatap lalu lintas Kuningan dari lantai dua puluh tiga. Di dalam perutnya, bayi itu bergerak lagi. Akhir-akhir ini gerakannya semakin kuat. Kadang-kadang, di malam yang sepi, Stephanie berbaring dan membiarkan makhluk kecil itu menendang-nendang, dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, matanya basah.
"Gue nemuin artikel kemarin," katanya akhirnya. "Nathan nikah lagi. Nama istrinya Qiandra. Mereka nikah empat bulan yang lalu."
"Gue tahu. Semua orang tahu."
"Ada foto mereka di acara yayasan. Nathan pakai kursi roda, dan perempuan itu berdiri di belakangnya." Stephanie menelan ludah. "Dia nggak pegang kursi rodanya. Dia berdiri agak jauh. Kayak orang yang dipaksa foto bareng."
"Terus?"
"Nggak terus apa-apa. Gue cuma mikir." Stephanie mengusap perutnya. "Kalau rencana ini berhasil, perempuan itu yang paling rugi. Dia nggak salah apa-apa."
Sam berdiri dan berjalan menghampiri adiknya. Tidak kasar, tetapi tegas, ia memutar bahu Stephanie agar menghadapnya.
"Dengerin gue baik-baik. Perempuan itu nikah sama Nathan karena terpaksa. Semua orang yang kenal keluarga Rajendra tahu itu. Dia nggak cinta sama Nathan. Nathan nggak bahagia. Dan loe," Sam mengetuk pelan perut Stephanie, "membawa satu-satunya hal yang bisa bikin seluruh keluarga itu bertekuk lutut. Loe bukan perusak rumah tangga, Steph. Loe cuma nawarin solusi buat keluarga yang dari awal emang udah rusak."
"Solusi yang loe maksud itu jual bayi sendiri."
"Solusi yang gue maksud itu ngejamin masa depan bayi itu di tangan keluarga paling kaya yang bisa dia punya, sambil ngejamin loe nggak perlu ngeliat muka klien mana pun selama sepuluh tahun ke depan." Sam mengangkat bahu. "Dua-duanya menang. Di mana jahatnya?"
Sam meraih map plastik dari tasnya dan membukanya di meja. Di dalamnya ada daftar yang sudah ia susun rapi, diketik dan diberi nomor, seperti proposal bisnis.
"Satu, apartemen ini atas nama loe, lunas. Dua, tunjangan bulanan sampai anak itu umur delapan belas, dikalikan standar gaya hidup Rajendra, bukan standar kita. Tiga, biaya persalinan di rumah sakit swasta penuh. Empat," Sam mengetuk baris terakhir dengan ujung jari, "pernyataan tertulis bahwa anak ini diakui, kalau—dan cuma kalau—hasil DNA-nya cocok. Kita nggak jual anaknya, Steph. Kita jual ketenangan mereka. Keluarga sebesar Rajendra nggak tahan gosip. Satu berita miring aja keluar, saham mereka bisa goyang. Itu yang kita tawarkan untuk mereka beli."
Stephanie membaca daftar itu dari atas ke bawah. Angkanya membuat kepala berdenyut. Uang sebanyak itu bisa mengubah hidupnya sepenuhnya. Uang sebanyak itu juga bisa mengubah bayi di perutnya menjadi barang yang sudah terjual bahkan sebelum dilahirkan.
"Dan kalau DNA-nya nggak cocok?" tanyanya pelan.
Sam berhenti sejenak. Itu pertanyaan yang tidak sering mereka bahas, pertanyaan yang selalu mereka angkat kaki dari meja perundingan.
"Kalau nggak cocok, kita turun ke rencana B," kata Sam akhirnya. "Anak tetap loe lahirin, tetap loe besarin, dan keluarga Rajendra tetap bayar untuk tutup mulut. Karena yang mereka takutin bukan cuma anak haram, Steph. Yang mereka takutin itu beritanya."
Stephanie ingin percaya. Sungguh, ia ingin. Tetapi ada suara kecil di kepalanya yang akhir-akhir ini semakin keras, suara yang bilang bahwa bayi di perutnya bukan properti, bukan aset, bukan bahan lelang. Suara itu biasanya datang jam tiga pagi, saat ia terjaga sendirian dan tidak ada Sam yang bisa membungkamnya dengan kalkulasi.
"Ada satu hal lagi yang perlu loe tahu," kata Sam, mengeluarkan ponselnya. "Gue dapet info dari orang dalam. Nathan lagi terapi."
"Terapi kaki?"
"Terapi jiwa." Sam menyeringai. "Psikolog. Sama istrinya. Kabarnya mereka berantem terus, dan si istri maksa Nathan ke psikiater. Ini bagus buat kita."
"Bagus gimana?"
"Kalau pernikahan itu goyang, Nathan makin rapuh. Orang rapuh lebih gampang diajak negosiasi. Dan kalau kita beruntung, si Qiandra sendiri yang bakal minta cerai begitu tahu ada bayi. Lo bayangin betapa gampangnya hidup kita kalau dia minggir sendiri tanpa perlu kita dorong."
Stephanie menatap kakaknya. Ada sesuatu yang selama ini tidak pernah ia akui, sesuatu yang baru bisa ia lihat dengan jelas malam ini: Sam tidak sedang membantunya. Sam sedang menggunakannya. Bayi ini, perut ini, rasa takut ini—semuanya bahan bakar untuk mesin ambisi kakaknya sendiri.
Tetapi pengakuan itu datang terlambat. Roda sudah berputar. Surat sudah terkirim. Dan pertemuan sudah dijadwalkan.
"Besok," kata Sam, melihat jadwalnya, "kita ke kantor Rajendra. Loe pakai baju yang paling bagus. Hamil itu bukan aib, Steph. Hamil itu panggung."
Malam itu, Stephanie tidak tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan, membuka galeri, dan menatap satu foto lama yang seharusnya sudah ia hapus sejak lama: Nathan, dua tahun lalu, tertawa di sebuah taman, sebelum kecelakaan, sebelum semuanya, dengan tangan yang masih bisa merangkul dan kaki yang masih bisa berdiri.
Ia menatap foto itu lama sekali. Lalu, dengan jari yang ragu, ia menekan tombol hapus.
Foto itu hilang. Tetapi rasa yang dibawanya tidak ikut hilang.
…