Seminggu sebelum pertemuan besar itu, rumah Nathan berjalan dalam suasana yang tidak biasa: tenang.
Perubahannya bahkan sampai terbawa ke tempat kerja. Di Q&Q, Feli menatap Qiandra yang tersenyum sendiri saat menyusun gelas, lalu menoleh ke Elli dengan alis terangkat.
"Loe lihat nggak?" bisik Feli.
"Lihat apa?"
"Dia senyum. Tanpa disuruh. Tanpa ada lucu-lucunya." Feli mencondongkan badan. "Terakhir kali dia kayak gitu waktu masih pacaran sama Rifki. Itu pun jarang."
"Mungkin suaminya lagi baik?" Elli menebak.
"Atau mungkin suaminya lagi pergi jauh." Feli nyengir.
"Gue bisa denger kalian berdua, tau." Qiandra menoleh tanpa menghentikan tangannya. "Dan untuk catatan, suami gue nggak ke mana-mana. Dia cuma lagi... belajar."
"Belajar apa?"
Qiandra berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. "Belajar jadi orang."
Feli dan Elli saling pandang, memutuskan bahwa jawaban itu terlalu aneh untuk diperdalam, dan kembali ke pekerjaan masing-masing.
Tugas tujuh kalimat dari dokter Larasati sudah selesai, dan tanpa disuruh, mereka melanjutkannya ke minggu kedua. Beberapa malam kalimat itu cuma basa-basi. Tetapi makin lama, kalimat-kalimat itu makin jujur. Malam kesembilan, Qiandra berkata, "Hari ini gue kangen masakan Ibu." Besoknya, tanpa diminta, Nathan menyuruh Pak Shodiq mengantar Qiandra mampir ke Tanah Abang sepulang kerja, dan menunggu di mobil satu jam penuh sementara Qiandra makan sayur asam buatan ibunya.
Malam kesepuluh, Nathan berkata, "Hari ini gue ngerasa bersalah sama Johan."
Qiandra sampai menoleh. "Serius?"
"Gue buka blokirnya. Dari ponsel loe." Nathan menatap langit-langit, seolah langit-langit itu lebih mudah diajak bicara. "Kalau loe mau hubungin dia soal kerjaan, silakan. Gue cuma minta satu: jangan sembunyiin. Selama gue tahu, gue bisa tahan. Yang bikin gue gila itu bukan orangnya. Yang bikin gue gila itu nggak tahunya."
Qiandra tidak langsung menjawab. Di kegelapan kamar, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan terhadap suaminya. Bukan cinta—ia belum berani menyebutnya begitu. Tetapi hormat. Hormat pada orang yang sedang berkelahi dengan dirinya sendiri dan tidak menyerah.
Perubahan itu juga tidak luput dari mata Bi Umi. Pagi-pagi, wanita tua itu mendapati Nathan sudah ada di dapur sebelumnya, mengukur gula untuk lemon tea Qiandra dengan ketelitian seorang apoteker.
"Tiga sendok, Aden. Jangan lebih. Nanti Nyonya kembung."
"Bi Umi, gue udah bikinin dia lemon tea empat bulan. Gue hafal takarannya."
"Iya. Tapi Bi Umi tetap harus ngingetin. Itu tugas Bi Umi."
Nathan tertawa kecil. Bi Umi berhenti mengepel dan menatapnya, dan wanita tua itu menyimpan momen itu baik-baik, seperti orang menyimpan foto. Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar Aden-nya tertawa di pagi hari.
Sayangnya, kedamaian selalu punya musuh, dan musuh kali ini datang dari rumah sebelah.
Leslie tahu tentang Stephanie dari Rian, yang tahu dari sopir Subagio, yang mendengar dari pembicaraan di rumah besar. Kabar di kalangan keluarga Rajendra bergerak lebih cepat dari api di lahan kering. Sore itu Leslie muncul di teras rumah Nathan tanpa diundang, rokok di tangan, wajahnya datar seperti biasa, tetapi matanya menyala dengan cara yang membuat Bi Umi langsung mengundurkan diri ke dapur.
"Jadi benar." Leslie duduk tanpa dipersilakan. "Stephanie hamil. Dan keluarga loe mau ketemu dia."
Nathan sedang membaca dokumen di kursi rodanya. Ia tidak mengangkat kepala. "Rian mulutnya perlu disumbat pakai kelepon."
"Jangan alihkan." Leslie mematikan rokoknya. "Nathan. Liat gue."
Nathan menatapnya.
"Ini kesempatan loe." Leslie mencondongkan badan, dan suaranya turun menjadi bisikan yang tajam. "Stephanie balik dengan bayi. Keluarga loe pengin cucu. Pernikahan loe sama Qiandra dari awal emang paksaan. Semua orang tahu itu. Kalau loe lepas sekarang, nggak ada yang nyalahin loe. Loe dapet anak, dapet restu, dan lepas dari pernikahan yang nggak pernah loe minta—"
"Selesai?" Nathan memotong.
Leslie berhenti.
"Gue ulangin biar loe denger jelas, Les." Nathan menutup dokumennya dan meletakkannya di pangkuan. "Gue nggak akan ninggalin Qiandra. Bukan karena terpaksa. Bukan karena bayi. Bukan karena Papa. Gue nggak ninggalin dia karena gue milih dia. Dua belas tahun lalu gue milih dia, dan sampai sekarang pilihan itu nggak pernah berubah."
"Bahkan kalau bayi itu anak loe?"
"Bahkan kalau bayi itu anak gue." Nathan menatap sepupunya lurus-lurus. "Anak itu akan gue tanggung jawabi kalau memang darah gue. Tapi ibunya bukan istri gue. Titik."
Leslie tertawa kecil, pahit, menatap rokoknya yang sudah padam. "Loe tahu apa yang paling nyebelin dari loe, Nat? Loe selalu bisa ngasih jawaban yang bener di saat gue pengin loe salah."
"Aku bukan sibuk jadi bener. Aku cuma capek jadi salah."
Leslie diam. Untuk pertama kalinya sejak mereka kecil, wanita itu tidak punya kalimat balasan. Ia berdiri, meraih jaketnya, dan berjalan ke arah pintu. Di ambang pintu ia berhenti, tanpa berbalik.
"Empat tahun gue nunggu loe sadar bahwa gue orang yang paling ngerti loe." Suaranya datar, tetapi ada retakan kecil di ujungnya. "Ternyata yang loe butuhin bukan orang yang ngerti loe. Yang loe butuhin itu orang yang berani ngelawan loe. Dan itu bukan gue."
"Les—"
"Udah. Jangan kasihan." Leslie membuka pintu. "Gue nggak butuh dikasihani sama orang yang gue cintai. Itu penghinaan paling parah."
Pintu tertutup.
Nathan duduk sendirian di ruang tengah yang tiba-tiba terasa lebih besar. Di balik pintu kamar, tanpa Nathan tahu, Qiandra berdiri dengan tangan menempel di daun pintu. Ia pulang lebih awal, hendak mengejutkan suaminya dengan membawa oleh-oleh dari ibunya. Ia tidak bermaksud menguping. Tetapi ia mendengar semuanya.
Gue nggak ninggalin dia karena gue milih dia.
Qiandra merosot pelan ke lantai, punggung menempel di pintu, oleh-oleh dari ibunya masih tergenggam di tangan. Ada sesuatu yang hangat menggenang di pelupuk matanya, dan kali ini ia tidak berusaha menghapusnya.
Dua belas tahun lalu, seorang anak SMA berkata perasaannya seperti angsa. Satu, dan untuk selamanya.
Dua belas tahun kemudian, di balik pintu yang memisahkan mereka, Qiandra akhirnya mulai percaya bahwa angsa itu tidak pernah terbang ke mana-mana.
…