Gedung Rajendra Land berdiri dua puluh lantai di kawasan Sudirman, dan ruang rapat di lantai delapan belas punya jendela selebar dinding yang menghadap langsung ke langit Jakarta yang kelam. Hari ini hujan turun sejak pagi, seolah kota itu ikut meramalkan pertemuan yang akan berlangsung.
Qiandra datang mengenakan blus biru tua, pakaian paling rapi yang ia punya. Nathan ada di sampingnya, jas gelap dan dasi yang dikalungkan Bi Umi pagi tadi dengan tangan berdoa. Di dalam lift, Nathan meraih tangan Qiandra. Tidak menggenggam. Hanya meraih. Dan Qiandra membiarkannya.
"Apa pun yang terjadi di dalam sana," kata Nathan pelan, "loe bukan tamu. Loe istri gue. Duduk di sebelah gue."
Qiandra mengangguk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia akui.
Ruang rapat sudah penuh ketika mereka tiba. Mega duduk di ujung meja, rapi dan galak. Di sampingnya, dua pengacara keluarga dengan map tebal. Subagio tidak hadir—dan ketidakhadiran itu, menurut Mega, adalah keputusan paling damai yang bisa diambil pria itu minggu ini.
Saat Nathan berbicara dengan salah satu pengacara, Mega berjalan menghampiri Qiandra. Wanita itu tidak tersenyum, tetapi suaranya lebih rendah dari biasanya.
"Hari ini kamu tidak perlu bicara apa-apa. Cukup duduk. Kehadiranmu saja sudah bicara banyak."
"Aku nggak takut, Ma," kata Qiandra.
Mega memperhatikannya sejenak, lalu mengangguk kecil. "Aku tahu. Itu sebabnya aku memilihmu." Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Dan jaga Nathan. Bukan dari Stephanie. Dari dirinya sendiri."
Lima menit kemudian, pintu terbuka.
Stephanie masuk lebih dulu.
Qiandra pernah melihatnya sekali, di rumah sakit, di hari-hari paling buruk dalam hidupnya. Saat itu Stephanie adalah istri yang sedang menuntut cerai dengan suara keras. Sekarang ia adalah wanita lain: perutnya membuncit jelas di balik dress rajut krem, wajahnya masih seindah dulu tetapi matanya lebih berat, lebih tua. Di belakangnya, Sam melangkah dengan map kulit di tangan dan senyum yang dipasang terlalu rapi.
Semua orang di ruangan itu menahan napas. Pertemuan ini tidak akan membahas bisnis, tetapi tegangnya seperti merger seratus miliar.
"Terima kasih sudah mau datang." Mega membuka, suaranya datar. "Kita tidak perlu basa-basi. Kalian sudah tahu kenapa kita ada di sini."
"Justru karena nggak perlu basa-basi, kami langsung ke pokok." Sam membuka mapnya. "Klien kami—"
"Klien?" Mega mengangkat alis. "Ini adikmu, bukan klienmu."
Sam tidak bergeming. "Hari ini dia klien saya. Supaya tidak ada yang baper." Ia menyodorkan selembar kertas ke tengah meja. "Ini daftar kebutuhan Stephanie selama kehamilan dan sesudahnya. Apartemen, tunjangan, biaya persalinan. Semua wajar. Semua terukur."
Pengacara Rajendra membacanya. Salah satu dari mereka mengerutkan dahi membaca angkanya.
"Dan kami juga punya syarat." Sam melanjutkan. "Pengakuan anak, kalau hasil DNA cocok. Tertulis. Bermaterai."
"Pengakuan anak hanya bisa dibicarakan setelah ada hasil tes," jawab pengacara itu. "Keluarga kami mengusulkan tes pranatal non-invasif. Bisa dilakukan minggu ini."
"Non-invasif tetap butuh sampel dari kami berdua." Sam tersenyum. "Dan sebelum sampel itu keluar, kami butuh jaminan bahwa kalian tidak akan menekan Stephanie selama sisa kehamilannya. Dia stres. Dokternya bilang begitu. Dan stres itu," ia mengetuk meja sekali, "berbahaya buat bayi."
Sepanjang pertukaran itu, Nathan tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya menatap Stephanie, dan Stephanie tidak menatap balik. Wanita itu menatap meja, jendela, tangannya sendiri—ke mana pun, asal bukan ke kursi roda di seberangnya.
"Baik," Mega berkata setelah membaca daftar itu sampai habis. "Angkanya bisa dibicarakan. Tapi saya mau satu hal dipahami sejak sekarang." Ia menatap Sam, lalu Stephanie. "Keluarga ini tidak pernah, dan tidak akan pernah, bisa diperas. Kalau di balik daftar ini ada ancaman untuk membawa cerita ini ke mana-mana, lebih baik dikeluarkan sekarang, supaya kita semua tahu medannya."
Sam menyilangkan tangan. "Kami tidak pernah menyebut kata peras, Tante. Kami menyebutnya kerja sama."
"Kerja sama dimulai dengan foto perut yang dikirim jam sepuluh malam?"
"Itu bukan ancaman. Itu pemberitahuan."
"Pemberitahuan," Mega mengulangi, menimbang kata itu seperti menimbang emas palsu. "Baik. Maka ini pemberitahuan dari kami. Tes DNA minggu ini. Selama proses berjalan, tidak ada satu pun dari kalian yang menghubungi media. Kalau satu saja berita bocor sebelum hasil keluar, perundingan ini mati, dan kalian akan berhadapan dengan tim hukum yang tidak pernah kalah satu kasus pun dalam sepuluh tahun terakhir."
Sam tertawa kecil. "Tante main kasar."
"Tante main rapi," balas Mega. "Kasar itu pekerjaan orang yang kehabisan akal."
Qiandra memperhatikan semuanya dengan hati yang aneh. Ia menunggu ledakan cemburu yang seharusnya datang, menunggu rasa panas di dada saat melihat istri pertama suaminya duduk di ruangan yang sama. Tetapi yang datang justru sesuatu yang lebih mengejutkan: iba. Stephanie tampak seperti orang yang sedang berperan dalam lakon yang bukan tulisannya sendiri. Matanya sesekali bergerak ke arah kakaknya, mencari aba-aba, seperti pemain yang takut salah dialog.
"Kalau semua pihak setuju dengan prosedurnya," Mega berkata, "kita tutup pertemuan ini dan—"
"Satu hal lagi."
Stephanie akhirnya bersuara. Semua kepala menoleh. Suaranya tidak sekeras yang Qiandra ingat dari rumah sakit dulu. Lebih pelan. Lebih berhati-hati.
"Sebelum tes, sebelum surat, sebelum angka-angka itu," Stephanie menatap meja panjang di depannya, lalu perlahan, untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, mengangkat wajah dan menatap Nathan, "gue mau bicara sama Nathan. Berdua. Sepuluh menit."
Sam bergerak gelisah di kursinya. "Steph—"
"Sepuluh menit, Sam. Gue yang hamil. Gue yang berhak minta."
Mega menatap Nathan. Para pengacara saling pandang. Dan Nathan, perlahan, menoleh ke satu-satunya orang yang pendapatnya ia butuhkan.
Qiandra.
Seluruh ruangan ikut menoleh ke arahnya. Qiandra merasakan berat tatapan mereka seperti beban di pundak. Di hadapannya duduk seorang wanita hamil yang dulu meninggalkan suaminya, dan sekarang meminta sepuluh menit berdua dengannya. Menolak berarti tampak takut. Mengizinkan berarti menyerahkan suaminya ke ruangan tertutup bersama masa lalunya.
Nathan tidak membantu. Ia menunggu. Untuk pertama kalinya, laki-laki yang selalu memutuskan segalanya sendirian itu menyerahkan keputusan ke tangannya.
Qiandra menarik napas panjang. Tangannya meraih tangan Nathan di bawah meja—dan kali ini, menggenggamnya.
"Sepuluh menit," kata Qiandra, suaranya pelan tetapi tidak bergetar. "Tapi pintunya jangan dikunci."
Dan di ujung meja, untuk sepersekian detik, Qiandra melihat sesuatu di mata Stephanie yang tidak ia duga sama sekali.
Bukan kemenangan.
Penyesalan.
…