Ruang rapat itu dikosongkan. Pengacara keluar membawa map mereka. Mega keluar sambil menelepon seseorang. Sam keluar paling terakhir, dengan wajah orang yang terpaksa meninggalkan dompetnya di rumah. Qiandra berdiri di ambang pintu paling akhir, menatap Nathan, dan Nathan mengangguk kecil padanya.
Sepuluh menit, bisik anggukan itu. Percaya padaku sepuluh menit.
Pintu tertutup. Tidak dikunci, sesuai syarat Qiandra.
Di luar, sepuluh menit itu berjalan seperti sepuluh jam.
Qiandra berdiri di koridor, menatap butiran hujan yang menempel di kaca jendela. Mega berdiri tidak jauh darinya, menyalakan rokok lalu mematikannya lagi karena ingat ini gedung bebas asap rokok. Sam duduk di sofa tunggu, membaca ponselnya dengan gelisah, sesekali melirik jam.
"Loe nggak takut?" Sam akhirnya bertanya, setengah menyeringai. "Suami loe di dalam sana sama mantan istrinya. Sendirian."
Qiandra tidak menoleh. "Orang yang takut itu yang nggak percaya sama pasangannya."
"Dan loe percaya sama Nathan?"
Qiandra diam sejenak. Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab, tetapi lidahnya membutuhkan waktu. "Gue lagi belajar," katanya akhirnya. "Dan belajar itu dimulai dari kasih kesempatan."
Sam tertawa kecil, tidak percaya, dan kembali ke ponselnya. Mega memandang menantunya dari sudut matanya, dan kali ini tidak menyembunyikan rasa kagumnya.
Di dalam, hanya ada dua orang yang pernah menjadi suami istri, dipisahkan meja sepanjang tiga meter dan sejarah yang lebih panjang lagi.
Stephanie tidak langsung bicara. Ia berdiri dari kursinya dengan susah payah—perut lima bulan membuat setiap gerakan jadi lambat—dan berjalan ke jendela. Hujan masih turun. Jakarta di bawah sana terlihat seperti kota yang tenggelam dalam kabut.
"Kaki loe," kata Stephanie akhirnya, tanpa berbalik. "Masih sama?"
"Masih." Nathan menjawab singkat. "Terapi tiap minggu. Ada perbaikan kecil di sensorik. Motorik belum."
"Gue denger loe ke psikolog."
Nathan tidak menjawab. Canggung menggantung di udara.
"Bagus," kata Stephanie pelan. "Dulu gue pernah nyuruh loe ke psikolog, waktu kita masih nikah. Loe ketawa. Sekarang istri baru loe nyuruh, loe nurut."
"Steph. Loe minta sepuluh menit bukan buat ngomongin psikolog."
Stephanie berbalik. Dan untuk pertama kalinya, Nathan melihat wajahnya dengan jelas. Tidak ada riasan sempurna seperti dulu. Ada lingkar hitam di bawah matanya, ada garis lelah di sudut bibirnya. Perempuan ini sedang tidak baik-baik saja, dan ia tidak menyembunyikannya lagi.
"Gue mau ngasih tahu sesuatu." Stephanie menarik napas. "Dan gue mau loe denger sampai selesai, tanpa motong. Bisa?"
"Silakan."
"Anak ini..." Stephanie mengusap perutnya. "...gue sendiri nggak yakin seratus persen ini anak loe."
Kalimat itu jatuh ke ruangan seperti batu ke kolam yang tenang.
Nathan tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Tetapi tangannya, yang bertumpu di pegangan kursi roda, mengencang perlahan.
"Waktu kita masih nikah, bulan-bulan terakhir," Stephanie melanjutkan, suaranya bergetar di tepinya, "gue ada sama orang lain. Sekali. Gue nggak akan nyebut namanya. Dan setelah kecelakaan itu, waktu gue tahu loe lumpuh, gue panik. Gue ceraiin loe bukan cuma karena loe nggak bisa jalan, Nat. Gue ceraiin loe karena gue takut loe tahu."
"Jadi selama ini," suara Nathan sangat pelan, "loe ninggalin gue bukan karena gue cacat."
"Karena gue yang busuk." Air mata akhirnya jatuh di pipi Stephanie, dan ia menghapusnya dengan kasar, marah pada dirinya sendiri. "Loe nggak pernah jahat sama gue, Nat. Nggak pernah sekali pun. Dan gue bayar kebaikan loe dengan lari."
Nathan diam lama. Di luar, hujan mengetuk kaca. Dua belas tahun ia mengenal perempuan ini, tiga tahun menjadi suaminya, dan baru malam ini ia tahu bahwa kepergiannya bukan tentang kakinya. Ada perasaan lega yang aneh menyusup ke dadanya, bercampur dengan sesuatu yang lebih pahit.
"Kenapa loe cerita sekarang?" tanyanya.
"Karena Sam." Stephanie menatapnya, dan kali ini matanya jernih. "Kakak gue udah nyusun semuanya. Angka, ancaman, skenario kalau hasil tesnya nggak cocok. Dia nggak akan berhenti, Nat. Bagi dia, bayi ini tiket. Dan gue..." suaranya patah, "...gue udah capek jadi kendaraannya."
"Loe bisa berhenti kapan aja. Loe yang hamil."
"Nggak semudah itu kalau loe hidup dari uang dia sejak cerai." Stephanie tertawa getir. "Tapi gue bisa ngasih loe ini: kejujuran. Biar loe masuk ke tes DNA itu dengan mata terbuka. Kalau hasilnya bukan anak loe, jangan kaget. Dan kalau Sam meledak, jangan kasih dia panggung."
Nathan menatap perempuan itu lama. Dulu ia pernah mencintainya—atau mengira ia mencintainya. Sekarang yang tersisa hanya semacam belas kasih yang lelah, seperti melihat rumah yang dulu pernah ia tinggali dan kini reyot.
"Kenapa loe lakuin ini buat gue?" tanya Nathan. "Setelah semuanya?"
Stephanie berjalan pelan kembali ke kursinya. Sebelum duduk, ia berhenti, menatap Nathan dari jarak dua meter, dan menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Karena ada satu orang di luar sana yang berdiri di depan pintu dengan tenang, padahal dia bisa aja larang kita ketemu." Stephanie tersenyum kecil, sedih. "Istri loe lebih kuat dari yang loe kira, Nat. Dan dia nggak pantas dapet reruntuhan yang gue tinggalin."
Sepuluh menit habis. Pintu terbuka dari luar—Qiandra tidak masuk, hanya berdiri di ambangnya, tepat waktu seperti janji.
Nathan memutar kursi rodanya. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa berbalik.
"Steph. Untuk apa pun yang terjadi setelah ini—gue maafin loe."
Ia tidak menunggu jawaban. Kursi roda itu bergerak keluar, dan pintu tertutup di belakangnya.
Di dalam ruangan yang kosong, Stephanie duduk sendirian, memeluk perutnya, dan untuk pertama kalinya sejak kehamilan ini dimulai, ia menangis tanpa ada yang menonton.
Di koridor, Qiandra menyambut Nathan keluar tanpa bertanya apa-apa. Ia hanya mengambil posisi di belakang kursi roda itu—posisi yang selama empat bulan selalu ia tolak—dan mendorongnya pelan menuju lift.
Nathan menoleh ke belakang, kaget. "Loe lagi dorong kursi roda gue."
"Iya."
"Loe nggak pernah mau."
"Sekarang gue mau." Qiandra menatap lurus ke pintu lift. "Ada masalah?"
Nathan tidak menjawab. Tetapi selama perjalanan turun delapan belas lantai, tangan laki-laki itu diam di pangkuannya, tidak mengetuk apa-apa, dan senyum kecilnya tidak hilang-hilang.
Cerita tentang sepuluh menit itu baru Nathan sampaikan nanti malam, kata demi kata, tanpa ada yang disembunyikan. Karena begitulah janji mereka sekarang: satu hal jujur setiap malam. Dan malam itu, kejujurannya lebih panjang dari biasanya.
…