Malam itu, untuk pertama kalinya, kalimat jujur mereka tidak berhenti di satu kalimat.
Qiandra duduk bersila di ranjang, masih berpakaian kerja, mendengarkan Nathan menceritakan semuanya. Tentang keraguan Stephanie atas bayinya sendiri. Tentang perselingkuhan satu kali di bulan-bulan terakhir pernikahan mereka. Tentang alasan sebenarnya Stephanie pergi—bukan karena kaki Nathan yang lumpuh, melainkan karena rasa takutnya sendiri ketahuan.
Qiandra mendengarkan tanpa menyela. Ada kalanya dadanya mengetat, terutama di bagian perselingkuhan itu, tetapi ia menahannya. Ini bukan cerita untuk dihakimi. Ini adalah luka yang akhirnya diperlihatkan pemiliknya.
"Jadi selama ini," kata Nathan di akhir ceritanya, menatap langit-langit kamar, "gue bangun benteng dari asumsi yang salah. Gue pikir dia pergi karena gue lumpuh. Gue pikir semua orang akan pergi kalau gue cacat. Jadi gue ikat loe sekuat-kuatnya. Ternyata yang salah bukan kaki gue."
Qiandra diam sejenak. "Dan sekarang?"
"Sekarang gue nggak tahu harus ngerasain apa." Nathan tertawa kecil, lelah. "Marah? Udah lewat. Sedih? Udah juga. Yang ada malah... lega. Aneh, ya."
"Nggak aneh." Qiandra menatapnya. "Orang yang berhenti nyalahin dirinya sendiri memang selalu ngerasa lega."
Nathan menoleh ke arahnya. Di kegelapan kamar, mereka berpandangan lama, lebih lama dari biasanya, dan tidak ada yang mengalihkan tatapan duluan.
"Qian."
"Ya?"
"Makasih udah ngasih gue sepuluh menit itu."
Qiandra mengangkat bahu, berusaha terdengar ringan. "Pintunya nggak dikunci. Gue bisa nerobos kapan aja."
"Tapi loe nggak nerobos."
"Karena loe bilang loe cuma takut kesepian." Qiandra merebahkan tubuhnya, memunggunginya, tetapi suaranya lebih lembut dari kata-katanya. "Orang yang takut kesepian nggak butuh penjaga. Dia butuh orang yang percaya dia bisa balik sendiri."
Nathan tidak menjawab. Tetapi malam itu, sebelum tidur, ia mengucapkan kalimat jujurnya dengan suara yang bergetar sedikit: "Hari ini gue ngerasa... beruntung. Pertama kali sejak kecelakaan, gue ngerasa beruntung."
Di kegelapan, Qiandra tersenyum tanpa suara.
"Giliran loe," kata Nathan.
Qiandra diam sebentar. Lalu ia bangkit, berjalan ke lemari, dan membuka laci paling bawah—laci tempat ia membuang kotak beludru merah berbulan-bulan lalu. Ia mengambilnya, membukanya, dan menatap cincin zamrud itu di bawah cahaya lampu tidur yang remang.
"Waktu loe ngasih ini lewat Pak Shodiq, gue anggap ini suap," katanya pelan. "Materi doang. Nggak ada perasaannya."
Nathan menahan napas.
"Tapi Bi Umi bilang, loe ngukur jari gue dari foto KTP sebelum nikah. Sendiri. Pelan-pelan, pakai penggaris." Qiandra memandang cincin itu, lalu suaminya. "Hari ini gue ngerasa... mungkin gue yang salah menilai. Bukan cincinnya yang kosong. Gue yang nolak ngeliat isinya."
Ia tidak memakai cincin itu malam ini. Belum. Tetapi ia meletakkannya di atas nakas, di tempat terbuka, di tempat yang bisa dilihat Nathan dari sisi ranjangnya. Bagi dua orang yang sedang belajar bahasa satu sama lain, itu sudah seperti sebuah kalimat.
Nathan menatap cincin itu sampai matanya panas. "Satu kalimatnya kebanyakan," bisiknya.
"Iya," kata Qiandra, berbaring kembali. "Anggap aja bonus."
Tetapi tidak semua orang di kota ini sedang merasa damai.
Di rumah besar Menteng, Subagio Rajendra duduk di ruang kerjanya yang remang, dikelilingi rak-rak buku hukum dan piagam perusahaan. Di hadapannya, berdiri seorang pria berkemeja rapi—bukan pengacara keluarga yang biasa, melainkan orang yang selama ini bekerja di bayangan: fixer keluarga, orang yang menyelesaikan hal-hal yang tidak bisa ditulis di atas kertas.
"Pertemuan tadi bagaimana?" tanya Subagio.
"Sesuai prediksi, Pak. Pihak seberang minta angka besar. Dan istri muda Pak Nathan mengizinkan suaminya bicara berdua dengan mantannya."
"Perempuan itu lebih pintar dari yang kukira," gumam Subagio. Ia menyalakan cerutu, mengisapnya pelan, dan mengembuskan asap ke langit-langit. "Tapi kepintaran tidak penting. Yang penting satu: ada kemungkinan bayi itu darah Rajendra."
"Kalau tes DNA membuktikan bukan?"
"Maka kita berdoa tes itu membuktikan sebaliknya." Subagio menatap hujan di luar jendela. "Aku sudah tua. Perusahaan ini butuh penerus. Nathan lumpuh, dan istrinya yang sekarang—" ia berhenti, memilih kata, "—belum menunjukkan tanda apa pun. Empat bulan. Nol."
"Papa menginginkan bayi itu masuk keluarga?"
"Aku menginginkan bayi itu lahir dengan nama Rajendra, apa pun ibunya." Subagio mengetuk abu cerutunya. "Dan kalau perlu mengatur hasilnya supaya sesuai keinginan..."
Fixer itu menunggu. Orang-orang seperti Subagio tidak pernah menyelesaikan kalimat seperti itu di depan orang lain. Tetapi semua orang di ruangan ini tahu kalimat itu berakhir di mana.
"Ada satu masalah, Pak," kata fixer itu hati-hati. "Laboratorium untuk tes DNA biasanya ditunjuk kedua belah pihak. Sulit disentuh tanpa jejak."
"Semua hal sulit disentuh tanpa jejak. Itu sebabnya aku membayarmu mahal." Subagio berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela. Punggungnya yang sudah membungkuk itu masih menyimpan sisa-sisa wibawa orang yang terbiasa ditakuti. "Nathan pikir dia sudah menang melawanku tadi. Anak itu lupa, aku yang mengajarinya bermain. Dan pemain yang baik tidak pernah menaruh semua harapannya di satu kartu."
"Bagaimana dengan Nyonya Mega?"
"Mega tidak perlu tahu." Subagio mengibaskan tangannya. "Istriku itu akhir-akhir ini terlalu lembek pada menantunya. Perempuan berbicara dengan perasaan. Aku berbicara dengan kepentingan."
"Atur pertemuan dengan si kakak. Sam." Subagio akhirnya berkata. "Tanpa sepengetahuan Nathan. Tanpa sepengetahuan Mega. Dia terlalu emosional akhir-akhir ini."
"Kapan, Pak?"
"Sebelum tes DNA." Subagio tersenyum tipis, senyum seorang pemain yang merasa masih memegang kartu terbaik di meja. "Semua orang punya harga. Kita hanya perlu menemukan harga si kakak."
Fixer itu mengangguk, mencatat semuanya dalam kepala—orang sepertinya tidak pernah menulis apa pun—lalu membungkuk dan keluar tanpa suara, seperti ia masuk.
Subagio duduk kembali sendirian di ruang kerjanya. Di atas mejanya ada foto keluarga yang diambil sepuluh tahun lalu: dirinya, Mega, dan Nathan muda yang berdiri kaku dengan senyum yang dipaksakan. Ia menatap foto itu lama, dan untuk sesaat—hanya sesaat—wajahnya terlihat seperti seorang ayah biasa yang rindu pada anaknya. Lalu ia membalik foto itu menghadap meja, dan wajahnya kembali menjadi wajah seorang Rajendra.
Di luar, hujan Jakarta belum juga berhenti. Dan di kota yang sama, di apartemen Kuningan, Stephanie berbaring memeluk perutnya, tidak tahu bahwa besok pagi hidupnya akan ditawar oleh dua orang yang sama-sama mengaku melakukannya demi keluarga.
Yang satu kakaknya sendiri.
Yang satu, mantan mertuanya.
…