Kafe itu terletak di basement sebuah gedung tua di Blok M, tempat yang dipilih dengan sengaja: sepi, redup, dan tidak pernah dikunjungi orang-orang yang namanya berarti. Sam tiba lebih dulu, duduk di sudut paling belakang, memainkan korek gas di antara jari-jarinya.
Sebelum berangkat, ia sempat berpapasan dengan Stephanie di lorong apartemen. Adiknya itu baru pulang dari toko perlengkapan bayi, kantong-kantong belanja bergelantungan di kedua lengannya.
"Mau ke mana malem-malem?" tanya Stephanie.
"Nemuin teman." Sam mengancingkan jaketnya. "Urusan kerjaan."
"Kerjaan apa yang jam delapan malam di luar?"
"Steph." Sam menatapnya dengan tatapan yang biasa ia pakai untuk menutup pembicaraan. "Semua yang gue lakuin, gue lakuin buat loe dan bayi loe. Ingat itu."
Stephanie menatap punggung kakaknya sampai pintu lift tertutup. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Selama tiga puluh tahun ia hidup sebagai adik Sam, ia hafal satu hal: setiap kali Sam berkata "buat loe", yang ia maksud adalah "buat gue".
Ia tidak tahu siapa yang mengundangnya. Pesan itu datang dari nomor tak dikenal, singkat dan lugas: Ada pihak yang ingin berbicara soal masa depan bayi itu. Jam delapan malam. Sendirian.
Dan ketika pintu kafe terbuka, Sam mengerti segalanya.
Subagio Rajendra masuk dengan jas tua dan langkah lambat, tetapi kehadirannya langsung mengubah suhu ruangan. Beberapa pengunjung menoleh tanpa tahu kenapa mereka menoleh. Orang seperti Subagio tidak perlu diperkenalkan; uang dan kekuasaan punya aroma sendiri.
"Pak Subagio." Sam berdiri setengah, tidak tahu harus menyalami atau membungkuk.
"Duduk." Subagio duduk di hadapannya tanpa bersalaman. "Kita tidak punya banyak waktu, dan aku tidak suka bertele-tele. Kau kakak Stephanie. Benar?"
"Benar."
"Dan kau yang menyusun daftar angka kemarin."
Sam tersenyum tipis. "Angka itu pantas untuk—"
"Angka itu omong kosong." Subagio memotong dengan suara yang tetap datar. "Apartemen, tunjangan, biaya persalinan. Semua itu recehan. Dan aku tidak datang ke tempat seperti ini untuk membicarakan recehan."
Sam menajamkan telinganya. Instingnya—insting yang selama ini tidak pernah salah dalam mencium bau uang—mengatakan bahwa malam ini akan menjadi malam terpenting dalam hidupnya.
"Aku akan langsung," kata Subagio. "Aku ingin bayi itu. Bukan sekadar diakui. Aku ingin bayi itu lahir, dibesarkan, dan memegang nama Rajendra. Di bawah atap keluargaku. Dengan dokumen lengkap. Dengan nama ayah yang benar di akta kelahirannya."
"Dengan segala hormat, Pak, itu kan tergantung hasil tes DNA—"
"Tes DNA." Subagio mengulanginya seperti orang mengulang lelucon basi. "Anak muda, kau pikir aku sampai di umur enam puluh tiga tahun dengan membiarkan hasil apa pun ditentukan oleh laboratorium?"
Sam diam. Perlahan, sangat perlahan, ia mengerti apa yang sedang ditawarkan di meja gelap ini. Dan ia merasakan sesuatu yang biasa ia rasakan saat melihat peluang besar: gatal di seluruh tubuhnya.
"Tapi hasil tes itu ditandatangani dua pihak," kata Sam hati-hati. "Keluarga Anda dan kami. Kalau hasilnya bilang bukan anak Nathan, tidak ada yang bisa—"
"Hasilnya akan bilang anak itu anak Nathan." Subagio meletakkan satu amplop cokelat tebal di atas meja, mendorongnya dua senti ke arah Sam. "Dan untuk memastikan semuanya berjalan mulus, kau akan membantuku dari dalam. Meyakinkan adikmu untuk ikut tes di laboratorium yang kutunjuk. Menjaga mulutnya tetap rapat. Dan setelah bayi itu lahir, memastikan dia menyerahkan hak asuhnya dengan sukarela."
Sam menatap amplop itu tanpa menyentuhnya. "Dan sebagai gantinya?"
"Sepuluh kali lipat dari angka yang kau tulis kemarin." Subagio menyandarkan punggungnya. "Tunai. Bertahap. Tanpa nama."
Sam menelan ludah. Sepuluh kali lipat. Angka di kepalanya berputar seperti mesin slot yang berhenti di tiga gambar yang sama. Ia bisa melunasi utang-utangnya. Ia bisa pindah ke apartemen yang lebih besar. Ia bisa—
"Ada satu syarat tambahan." Suara Subagio memotong lamunannya. "Adikmu tidak boleh tahu soal pengaturan hasil tes. Dia harus percaya hasilnya murni. Perempuan yang tahu kebenaran adalah perempuan yang bisa meledak kapan saja. Aku tidak membeli bom waktu."
"Dan kalau bayi itu memang bukan anak Nathan? Bagaimana kalau kelak, suatu hari, ada yang memeriksanya lagi?"
"Kalau hari itu tiba, itu urusanku." Subagio berdiri, merapikan jasnya. "Kau hanya perlu memastikan hari itu tidak pernah tiba."
Sam menatap amplop cokelat di depannya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Ini bukan negosiasi. Ini adalah kakek tua yang membeli cucu, dan menjual kembali kebenarannya di tempat terpisah. Dan seharusnya—seharusnya—Sam merasa jijik.
Tetapi yang ia rasakan justru kagum. Selama ini ia mengira dirinyalah pemain terbaik di keluarganya. Ternyata di kota ini ada pemain-pemain dari liga yang sama sekali berbeda, dan salah satunya baru saja duduk di hadapannya selama sebelas menit.
"Adikku sudah mulai goyah," kata Sam akhirnya, mengangkat amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas. "Kemarin dia cerita macam-macam soal penyesalan. Kalau terus dibiarkan, dia bisa membocorkan semuanya ke Nathan."
"Maka jangan biarkan."
"Kalau dia tahu saya terlibat pengaturan ini, dia akan membenci saya seumur hidup."
Subagio sudah berbalik menuju pintu. Tanpa menoleh, ia menjawab dengan suara yang tidak menyisakan ruang untuk perasaan.
"Anak muda, orang miskin tidak punya kemewahan untuk dibenci dengan benar. Cintai atau benci, yang penting kalian makan."
Pintu kafe tertutup. Sam duduk sendirian di sudut yang redup, memeluk tas yang kini terasa sepuluh kali lebih berat.
Di apartemen, Stephanie sedang melipat baju-baju bayi mungil yang baru saja ia beli dengan uangnya sendiri—belanja pertama yang tidak ia mintakan pada kakaknya. Ia menatap baju-baju kecil itu dengan senyum yang aneh, senyum yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia tidak tahu bahwa di basement sebuah kafe tua di Blok M, bayi yang ia kandung baru saja dijual dua kali: sekali oleh kakaknya, dan sekali oleh kakek yang belum tentu menjadi kakeknya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, malam itu Stephanie tidur sambil memeluk perutnya seperti memeluk sesuatu yang berharga—bukan karena harganya, tetapi karena ia mulai takut kehilangannya.
…