Laboratorium itu berada di lantai dasar sebuah klinik swasta di Kebayoran Baru, dipilih oleh kedua belah pihak setelah perundingan kecil yang melelahkan. Pihak Rajendra mengusulkan lab A, pihak Sam mengusulkan lab B, dan akhirnya mereka bertemu di lab C—netral, terakreditasi, dan tidak punya sejarah dengan keluarga mana pun.
Setidaknya itulah yang diyakini semua orang.
Perjalanan ke klinik itu berlangsung dalam keheningan yang berbeda dari biasanya. Pak Shodiq tidak menyetel dangdut. Nathan tidak membuka laptop. Qiandra tidak membuka ponsel. Tiga orang dalam satu mobil, masing-masing sibuk dengan hitungannya sendiri.
Mega sudah tiba lebih dulu ketika mereka sampai. Wanita itu menyambut mereka di lobi, dan sambil menunggu giliran, ia duduk di samping Qiandra.
"Papa Nathan tidak bisa datang," kata Mega, lebih seperti memberi tahu dirinya sendiri. "Ada rapat mendadak di kantor."
"Rapat jam delapan pagi, Ma?"
Mega menatap menantunya sekilas. Perempuan ini, pikirnya, makin lama makin sulit dibohongi. "Rapatnya penting."
"Lebih penting dari cucu pertama?"
Pertanyaan itu tidak dijawab. Mega menyibukkan diri dengan ponselnya, tetapi Qiandra melihat jari-jari wanita itu gemetar sedikit saat mengetik. Entah sedang mengetik apa. Entah kepada siapa.
Qiandra ikut pagi itu. Tidak ada yang melarangnya, dan tidak ada yang berani bertanya kenapa ia mau repot-repot hadir. Ia duduk di kursi tunggu sambil menggenggam botol air mineral, menatap pintu-pintu putih yang hilir-mudik dibuka perawat.
Nathan ada di sampingnya, lebih tenang dari dugaan Qiandra. Atau mungkin, pikir Qiandra, laki-laki itu sudah terlalu lelah untuk tegang.
"Nanti mereka ambil darah loe sama darah dia," kata Nathan pelan. "Sampel gue udah dari kemarin, lewat pipi. Prosedurnya simpel."
"Loe nggak takut?"
Nathan diam sejenak. "Takut. Tapi takutnya beda sama dulu. Dulu gue takut hasilnya. Sekarang gue lebih takut pada orang-orang yang nungguin hasilnya."
Qiandra mengerti maksudnya tanpa perlu dijelaskan. Subagio tidak datang pagi ini—katanya ada rapat—tetapi ketidakhadirannya justru terasa seperti kehadiran. Mega yang datang, duduk dua kursi dari mereka, mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai tanpa sadar.
Pintu utama terbuka. Stephanie masuk bersama Sam.
Hari ini Stephanie tidak memakai riasan apa pun. Sweater longgar abu-abu, rambut diikat asal, dan wajah yang terlihat seperti orang yang tidak tidur. Ia menyapa Mega dengan anggukan kecil, menyapa Nathan dengan tatapan sekilas, dan ketika matanya sampai pada Qiandra, ia berhenti sepersekian detik.
Hormat, Qiandra membaca tatapan itu. Atau mungkin permintaan maaf yang tidak tahu cara keluar.
Prosedur berjalan cepat. Stephanie dipanggil masuk lebih dulu. Sam menunggu di luar bersama yang lain, tetapi ia tidak bisa duduk diam—ia berdiri, berjalan, menelepon seseorang dengan suara yang sengaja direndahkan, lalu kembali duduk. Qiandra memperhatikannya dari sudut mata. Ada sesuatu pada lelaki itu yang membuatnya tidak tenang. Bukan sikapnya yang percaya diri—itu sudah biasa. Melainkan keringat di pelipisnya pada pagi yang ber-AC.
Orang yang yakin menang tidak berkeringat.
"Bu Qiandra, ya?"
Qiandra menoleh. Stephanie berdiri di depannya, sudah selesai dengan pengambilan darahnya, plester kecil menempel di siku lengannya. Sam tidak terlihat—ke kamar mandi, katanya.
"Boleh saya duduk?" tanya Stephanie.
Qiandra bergeser. Dua perempuan itu duduk bersebelahan dalam keheningan yang aneh: istri sekarang dan istri dulu, dipisahkan oleh sejarah yang tidak pernah mereka pilih.
"Saya nggak akan lama," kata Stephanie pelan, matanya lurus ke depan. "Saya cuma mau bilang satu hal. Sama Anda, bukan sama Nathan."
Qiandra menunggu.
"Apa pun hasil tes itu nanti," Stephanie berkata, suaranya rata seperti orang yang sudah mengucapkan kalimat ini berkali-kali di dalam hati, "saya nggak akan merebut suami Anda. Saya nggak punya hak, dan saya nggak punya niat. Yang saya punya cuma perut ini dan rasa bersalah yang kekecilan buat ditanggung sendiri."
"Kenapa bilang ini ke saya?"
"Karena di ruang rapat kemarin, Anda satu-satunya orang yang ngeliat saya sebagai manusia." Stephanie menoleh, dan matanya basah tanpa suara. "Semua orang ngeliat perut ini. Anda ngeliat saya."
Qiandra tidak tahu harus menjawab apa. Empat bulan lalu, di rumah sakit, perempuan ini menudingnya sebagai perusak hidup orang. Sekarang perempuan yang sama duduk di sampingnya dengan bahu yang turun dan mata yang sudah selesai berperang.
"Kalau bayi itu memang anak Nathan," kata Qiandra akhirnya, pelan, "kita akan ngurus bareng. Saya nggak akan ngelarang seorang anak kenal sama ayahnya."
Stephanie menatapnya lama. "Anda lebih baik dari yang saya kira."
"Saya bukan baik. Saya cuma capek jadi jahat di cerita orang."
Untuk sesaat, dua perempuan itu tertawa kecil—pendek, getir, tetapi tulus. Tawa dua orang yang seharusnya bermusuhan tetapi sama-sama terlalu lelah untuk itu.
Sam muncul dari arah koridor, dan tawa itu langsung mati. Stephanie berdiri, mengangguk sekali pada Qiandra, dan berjalan ke arah kakaknya.
Semuanya selesai dalam empat puluh menit. Hasil akan keluar dalam lima sampai tujuh hari kerja.
Di area parkir, ketika Nathan sudah masuk mobil dan Qiandra hendak menyusul, ia melihat sesuatu di ujung basement yang membuat langkahnya terhenti.
Sam berdiri di antara dua pilar, berbicara cepat dengan seorang pria berkemeja rapi yang tidak pernah Qiandra lihat sebelumnya. Pria itu menepuk bahu Sam dua kali—gerakan yang bukan gerakan teman, melainkan gerakan atasan pada bawahan—lalu masuk ke sebuah sedan hitam tanpa plat yang mencolok.
Sam berdiri sendirian beberapa detik setelahnya, menatap tangannya sendiri seperti orang yang tidak mengenali tangannya sendiri.
Qiandra menyimpan pemandangan itu baik-baik di kepalanya. Ia tidak tahu apa artinya. Tetapi setelah empat bulan menikah dengan seorang Rajendra, ia sudah belajar satu hal: di keluarga ini, orang-orang yang berbicara di basement jarang sekali membicarakan hal baik.
Malamnya, di ranjang, Nathan bertanya seperti biasa: "Hari ini loe ngerasain apa?"
Qiandra menatap langit-langit. "Curiga."
"Sama siapa?"
"Sama orang-orang yang terlalu tenang." Qiandra menoleh ke arah suaminya. "Nat, Papa loe kenapa nggak datang hari ini?"
Nathan diam. Dan di keheningan itu, Qiandra tahu pertanyaannya sudah menemukan rumahnya.
…