Lima hari menunggu hasil itu terasa lebih panjang dari lima bulan pernikahan mereka.
Qiandra menjalani hari-harinya di Q&Q seperti orang yang berjalan sambil menghitung. Feli memergokinya mengantar es teh ke meja yang memesan es jeruk. Elli, dengan caranya yang selalu berlebihan, sudah menyiapkan tiga skenario lengkap dengan referensi. Johan—yang kontaknya sudah tidak diblokir lagi—hanya berkata sederhana, "Apa pun hasilnya, loe kuat, Qian." Entah kenapa kalimat pendek itu yang paling membekas.
Nathan sendiri menjalani hari-harinya dengan cara yang tidak biasa: ia pergi ke sesi psikolog keduanya sendirian. Tanpa disuruh. Tanpa diingatkan. Sepulangnya ia tidak bercerita banyak, hanya berkata, "Dokter Larasati bilang gue harus berhenti nganggep semua orang bakal pergi. Termasuk Papa. Tapi yang ini susah, Qian. Papa gue emang pergi. Bukan badannya. Perasaannya."
Malam-malam mereka masih diisi satu kalimat jujur. Malam ketiga, Nathan berkata, "Gue ngerasa takut hasilnya positif, dan lebih takut lagi gue diam-diam berharap hasilnya positif. Karena kalau ada anak, Papa akan berhenti merongrong kita. Gue benci diri gue yang mikir gitu."
Dan Qiandra, yang malam itu seharusnya tidur lebih dulu, justru terjaga sampai subuh memikirkan kalimat itu.
Hasilnya datang hari Kamis sore, dalam amplop cokelat tertutup yang dibawa kurir khusus ke rumah besar Menteng. Sesuai kesepakatan, amplop itu dibuka di hadapan semua pihak: Mega, Nathan, Qiandra, Stephanie, Sam, dan satu pengacara keluarga.
Subagio datang lima menit sebelum amplop itu dibuka. Ia tidak berkata apa-apa pada siapa pun, hanya duduk di kursi kepalanya dan menatap amplop itu seperti menatap surat wasiat.
Pengacara itu membuka segelnya dengan hati-hati. Tidak ada yang bernapas dengan benar di ruangan itu.
"Hasil analisis sampel," pengacara itu membaca, "menunjukkan probabilitas paternitas sebesar... nol koma nol nol persen. Subjek laki-laki atas nama Nathan Prabu Rajendra, bukan merupakan ayah biologis dari janin yang dikandung subjek perempuan."
Sunyi.
Sunyi yang sangat panjang, sampai Qiandra bisa mendengar bunyi jam dinding di ruangan itu, satu detik demi satu detik, seperti langkah kaki orang yang meninggalkan ruangan.
Yang pertama bergerak adalah Sam. Ia bangkit begitu cepat hingga kursinya hampir jatuh. "Tidak mungkin. Lab-nya salah. Kita harus ulang. Kita harus—"
"Sam." Stephanie tidak mengangkat suaranya, tetapi kakaknya berhenti. Stephanie duduk sangat tegak, kedua tangannya melindungi perutnya, dan wajahnya—Qiandra melihatnya dengan jelas—wajahnya tidak hancur. Wajahnya lega.
Lega, pikir Qiandra. Dia lega.
"Saya sudah bilang dari awal, saya tidak yakin." Stephanie menatap kakaknya. "Sekarang kita tahu."
"Kita tidak tahu apa-apa!" Sam menunjuk amplop itu, jarinya gemetar. "Lab itu bisa salah. Bisa disuap. Bisa—"
Ia berhenti. Terlalu lambat. Kata-kata itu sudah keluar dan tidak bisa ditarik.
Mega menoleh perlahan. "Disuap?" ulangnya, lembut dan berbahaya. "Kata yang menarik. Kenapa kata itu yang pertama keluar dari mulutmu, Nak Sam?"
Sam membeku. Di ujung meja, Subagio berdiri tanpa suara, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Qiandra melihat mertuanya kehilangan kendali atas wajahnya sendiri. Tidak banyak—hanya sepersekian detik, otot rahang yang mengeras, tangan yang mengepal lalu dibuka paksa—tetapi cukup. Cukup untuk Nathan.
Nathan menatap ayahnya. Ayahnya menatap balik. Dan dalam tatapan yang tidak lebih dari dua detik itu, sebuah percakapan utuh terjadi tanpa satu pun kata.
Kau yang atur ini, ya.
Dan kau yang gagal.
"Sudah," kata Subagio akhirnya, suaranya terlalu tenang. "Hasilnya jelas. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kalian semua bisa pulang."
Ia berjalan keluar lebih dulu, langkahnya cepat untuk ukuran pria enam puluh tiga tahun. Mega memandangi punggung suaminya dengan tatapan yang menyimpan seribu pertanyaan, tetapi ia menahannya. Empat puluh tahun menikah mengajarinya kapan pertanyaan boleh diajukan dan kapan harus disimpan untuk malam yang lebih tepat.
Stephanie dan Sam pergi tanpa pamit. Di pintu keluar, Stephanie sempat menoleh ke arah Qiandra—anggukan kecil, hampir tak terlihat—lalu menghilang.
Di mobil pulang, Nathan diam sangat lama. Qiandra membiarkannya. Pak Shodiq, yang sudah mahir membaca suasana, bahkan tidak menyalakan mp3 player-nya.
"Gue harusnya lega," kata Nathan akhirnya, di tengah jalan, menatap hujan yang mulai turun lagi. "Anak itu bukan anak gue. Nggak ada yang ngikat gue sama Stephanie lagi. Semuanya selesai."
"Tapi?"
"Tapi gue ngerasa aneh." Nathan mengetuk pegangan kursi rodanya, sekali, dua kali. "Kayak ada sesuatu yang lolos. Papa terlalu tenang waktu hasilnya dibaca. Dan Sam... loe denger kata 'disuap' tadi, 'kan?"
"Gue denger."
"Orang nyebut kata itu kalau dia pernah mikirin kata itu." Nathan menoleh ke Qiandra. "Papa pernah nyoba ngatur hasilnya. Gue yakin. Dan yang gagal dia atur adalah lab yang kita pilih berdua."
Qiandra merinding. Ia teringat pria berkemeja rapi di basement parkir. Tepukan di bahu Sam. Gerakan atasan pada bawahan.
"Terus sekarang gimana?" tanyanya.
"Sekarang kita pulang. Makan masakan Bi Umi. Tidur." Nathan meraih tangan Qiandra, dan kali ini menggenggamnya, bukan hanya meraih. "Dan besok pagi gue akan ngadepin Papa. Bukan sebagai anak. Sebagai orang yang hampir kehilangan segalanya karena obsesinya."
Qiandra menggenggam balik.
Tetapi malam itu, ketika mereka tiba di rumah, ada satu mobil hitam metallic yang sudah terparkir di depan pagar. Platnya tidak asing.
Subagio sudah menunggu di teras rumah mereka, duduk di salah satu kursi kayu, dengan hujan gerimis membasahi pundak jasnya tanpa ia hiraukan.
Bi Umi berdiri di dalam pintu dengan wajah cemas, menggenggam telepon rumah yang tidak ia gunakan. Tangannya bergerak-gerak gugup ke ujung dasternya, gerakan yang hanya ia lakukan kalau ada tamu yang tidak bisa ia tolak masuk.
"Bi Umi udah bilang tunggu besok aja," bisik wanita tua itu saat Qiandra melewatinya. "Tapi beliau nggak mau. Udah hampir satu jam di sini."
Pakaian Subagio basah sebagian. Ada noda gelap di sepatunya, bekas kubangan air. Orang seperti Subagio Rajendra tidak pernah kehujanan; ia punya payung, punya sopir, punya dunia yang mengatur cuaca untuknya. Malam ini ia duduk basah di teras orang lain, dan itu lebih menakutkan daripada kalau ia datang dengan amukan.
"Papa mau bicara," kata Subagio begitu mereka turun dari mobil. Suaranya tidak marah. Suaranya justru terlalu lembut, seperti pisau yang dibungkus sutra. "Berdua. Dengan kalian berdua."
Nathan dan Qiandra saling menatap.
Badai yang mereka kira sudah lewat, ternyata baru saja berganti nama.
…