Mereka tidak mengajak Subagio masuk ke ruang tengah. Nathan memilih tetap di teras—wilayah netral, katanya, tempat tamu bicara. Qiandra duduk di samping kursi roda suaminya, dan Bi Umi menyuguhkan teh hangat yang tidak disentuh siapa-siapa.
Hujan gerimis masih turun. Subagio menatap jalanan cluster yang basah untuk waktu yang lama sebelum akhirnya bicara.
"Papa kalah malam ini," katanya. "Kalian berdua tahu itu."
Nathan tidak menjawab. Qiandra menatap tangannya sendiri.
"Papa bohong soal rapat hari tes itu," kata Nathan. "Qiandra lihat Sam bicara sama orang asing di basement parkir klinik. Orang yang nepak bahunya kayak atasan nepak bawahan. Gue kenal gaya itu. Gue dibesarin oleh gaya itu."
Subagio menutup matanya sejenak. Tidak ada gunanya berbohong di malam seperti ini; malam seperti ini memang diciptakan untuk kebenaran yang sudah terlambat.
"Namanya Danu," kata Subagio akhirnya. "Orang yang menyelesaikan hal-hal yang tidak bisa Papa selesaikan lewat pengacara. Dia sudah bekerja untuk keluarga ini sejak kamu masih SMA."
"Berapa banyak hal yang dia beresin buat Papa?"
"Cukup banyak untuk membuatmu tidak mau tahu jawabannya."
Nathan mengangguk pelan, mencerna. Ada bagian dari dirinya yang marah, tetapi ada bagian lain yang hanya lelah. Ia dibesarkan di dalam mesin ini; ia hanya tidak pernah tahu mesin itu juga bisa diarahkan ke dirinya.
"Tapi hasil tes itu gagal Papa beli," kata Nathan. "Kenapa?"
"Karena kalian memilih lab yang tidak bisa disentuh." Untuk pertama kalinya malam itu, ada nada lain di suara Subagio—sesuatu yang menyerupai hormat yang enggan. "Kamu dan istrimu. Papa meremehkan kalian berdua."
"Tapi Papa tidak datang untuk membela diri." Subagio menoleh, dan di bawah lampu teras yang kuning, wajahnya terlihat jujur dengan cara yang asing. "Papa datang untuk menjelaskan. Sekali saja. Setelah itu terserah kalian mau menerima atau tidak."
"Jelaskan apa, Pa?" Nathan bertanya datar. "Jelaskan kenapa Papa nyuruh orang nemuin Sam? Jelaskan kenapa Papa mau bayar sepuluh kali lipat buat hasil tes yang palsu?"
Subagio tidak mengelak. "Itu. Dan yang lebih lama dari itu."
Ia mengangkat cangkir tehnya, tidak meminumnya, hanya memutarnya pelan di tangannya yang sudah berkerut.
"Kalian tidak tahu bagaimana rasanya membangun semua ini dari nol. Papa lahir di rumah petak di Kebayoran, satu kamar untuk sembilan orang. Papa merangkak dari bawah, Nathan. Empat puluh tahun. Rajendra bukan nama yang Papa terima, Rajendra nama yang Papa bangun." Suaranya mulai bergetar di tepinya, dan ia berhenti sejenak untuk menguasainya. "Dan satu-satunya yang Papa takutkan, lebih dari mati, adalah nama itu berhenti di Papa. Kamu anak tunggal. Kamu lumpuh. Istrimu yang pertama pergi. Dan yang kedua—" ia menatap Qiandra, tidak dengan permusuhan, tetapi dengan sesuatu yang lebih sulit: permintaan maaf yang tidak bisa diucapkan, "—belum memberi tanda apa pun."
"Jadi Papa membeli cucu?" Nathan tidak menaikkan suaranya, dan itu lebih menyakitkan dari teriakan. "Kayak beli tanah? Kayak beli saham?"
"Seperti orang yang putus asa." Subagio meletakkan cangkirnya. "Ya. Seperti itu. Papa tidak akan memolesnya menjadi lebih mulia."
Qiandra akhirnya bicara, pelan. "Pa. Aku anak pedagang kelontong di Tanah Abang. Bapakku guru wiyata. Ibuku pernah pingsan kena serangan jantung karena orang-orang keluarga ini datang ke rumah kami menekan kami." Ia menatap mertuanya lurus-lurus. "Jadi aku tahu rasanya jadi orang kecil yang diinjak nama besar. Malam ini Papa melakukan hal yang sama ke bayi itu. Ke Stephanie. Ke Nathan. Ke aku."
Subagio diam. Hujan mengisi keheningan.
"Dan satu hal lagi, Pa." Qiandra melanjutkan. "Cucu bukan piala. Cucu itu lahir dari dua orang yang saling sayang. Kalau Papa mau cucu dari kami, berhenti menagihnya. Karena setiap kali Papa nagih, Papa bikin kami makin jauh dari sana."
Lama sekali Subagio tidak bergerak. Lalu pria tua itu mengangguk, pelan, satu kali, seperti orang menerima vonis yang sudah ia tahu sejak lama.
"Empat puluh tahun Papa membangun," katanya, "dan baru malam ini Papa sadar Papa tidak pernah membangun satu pun orang di dalamnya."
Ia berdiri dengan susah payah, menolak tongkat yang sebenarnya selalu ada di mobilnya. Sebelum turun dari teras, ia berhenti di samping kursi roda putranya.
"Nathan."
"Ya?"
"Papa tidak akan minta maaf. Papa terlalu tua dan terlalu sombong untuk kata itu." Subagio menatap lurus ke depan, ke arah hujan. "Tapi mulai besok, Papa akan mengundurkan diri dari keputusan-keputusan keluarga. Kamu yang pegang. Semuanya. Papa hanya akan jadi orang tua yang duduk di rumah besar dan menunggu kabar."
"Pa—"
"Dan satu hal." Subagio akhirnya menoleh, menatap putranya, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Nathan, mata ayahnya tidak sedang menilai, tidak sedang menghitung, tidak sedang menuntut. Mata itu hanya sedang melihat. "Kamu lebih kuat dari Papa. Bukan karena kakimu. Tapi karena kamu berani berubah. Papa tidak pernah bisa."
Ia berjalan ke mobilnya, menolak payung yang ditawarkan sopirnya, dan masuk ke dalam sedan hitam metallic itu.
Nathan dan Qiandra duduk di teras sampai lampu belakang mobil itu hilang di tikungan cluster.
"Gue nggak nyangka," kata Nathan pelan, "gue bakal denger kalimat itu dari dia. Seumur hidup gue."
"Orang berubah pas mereka udah nggak punya pilihan lain," kata Qiandra. "Atau pas mereka akhirnya lihat apa yang selama ini mereka rusak."
Nathan menoleh ke istrinya. "Kita masuk? Dingin."
"Sebentar." Qiandra menatap hujan. "Gue suka teras ini. Semua hal penting di hidup kita kayaknya selalu terjadi di teras."
Nathan tertawa kecil. Dan di teras yang basah itu, di bawah lampu kuning yang berdengung pelan, mereka duduk berdampingan tanpa bicara, dua orang yang perlahan-lahan berhenti menjadi tawanan dan sipir, dan mulai menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang belum berani mereka beri nama.
Di dalam rumah, Bi Umi mengintip dari balik gorden, lalu menarik kepalanya cepat-cepat dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Empat puluh tahun ia bekerja untuk keluarga Rajendra. Ia tahu persis bagaimana rupa pasangan yang sedang jatuh cinta tanpa menyadarinya.
Dan malam ini, di teras yang basah itu, ia sedang melihatnya.
…