Mega tahu semuanya tiga hari kemudian, dan bukan dari suaminya.
Ia tahu dari Nathan, yang meneleponnya dengan suara datar dan menceritakan semuanya: Danu, amplop cokelat, sepuluh kali lipat, laboratorium yang hampir dibeli. Tidak ada yang Nathan sembunyikan. Era menyimpan rahasia dari orang tua sudah berakhir—setidaknya dari ibunya.
Malam itu, di rumah besar Menteng, terjadi pertengkaran yang tidak disaksikan siapa pun kecuali para pelayan yang berpura-pura tuli. Mega tidak menangis. Mega tidak menjerit. Mega hanya berkata satu kalimat yang kemudian membuat Subagio tidur di kamar tamu selama dua minggu:
"Kau hampir menjual anakmu sendiri, dan kau menyebutnya cinta keluarga."
Setelah itu, rumah besar berjalan dengan aturan baru. Subagio benar-benar mengundurkan diri dari keputusan keluarga. Surat kuasa ditandatangani. Nathan resmi memegang kendali penuh atas real estat, perbankan, dan teknologi keluarga Rajendra. Para pemegang saham tidak ada yang keberatan; sebagian besar justru lega. Mereka sudah lama berbisnis dengan Nathan, dan Nathan tidak pernah membeli apa pun di basement.
Perubahan itu terasa sampai ke kantor. Rian, yang bekerja tepat dua ruangan dari Nathan, adalah orang pertama yang menyadarinya.
"Loe belakangan ini beda," kata Rian suatu siang, menyelonong masuk ke ruangan Nathan dengan dua cup es kopi. "Kemarin Pak Dodi salah ketik angka di proposal, dan loe cuma bilang 'revisi'. Rian ulang sepuluh kali dengernya. Revisi. Bukan makian."
"Gue lagi berusaha jadi orang," kata Nathan tanpa mengangkat kepala dari laptopnya.
"Berhasil nggak?"
"Kata istri gue, progresnya tujuh persen."
Rian tertawa keras. Lalu ia memperhatikan sepupunya itu lebih lama—wajah yang lebih segar, bahu yang tidak lagi menegang sepanjang hari, dan satu hal yang paling aneh: Nathan beberapa kali terlihat tersenyum sendiri di lift.
"Qiandra," kata Rian, mengangguk-angguk seperti dokter yang menemukan diagnosis. "Semua ini gara-gara Qiandra."
"Keluar. Kerja."
"Tujuh persen itu sudah termasuk ngusir orang belum?"
"Keluar, Ri."
Rian keluar sambil tertawa. Tapi di balik pintu, ia berhenti sejenak dan mengeluarkan ponselnya, mengetik ke grup sepupu: Loe semua harus lihat Nathan sekarang. Kayak orang yang abis sembuh dari penyakit lama.
Leslie tidak membalas. Tetapi ia membaca pesan itu tiga kali, merokok setengah batang di balkon apartemennya, dan untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang mirip ikhlas.
Sementara itu, di rumah cluster yang lebih kecil, kehidupan berjalan dengan ritme yang semakin tidak asing: hangat.
Tugas satu kalimat jujur tidak pernah lagi disebut sebagai tugas. Ia sudah menjadi kebiasaan, seperti kopi pagi dan lemon tea. Beberapa malam kalimatnya dalam, beberapa malam hanya soal ceker Lombok ijo Bi Umi yang kepedasan. Tetapi tidak pernah bolong.
Hari Minggu pertama setelah surat kuasa ditandatangani, empat sepupu dari rumah sebelah menyerbu masuk untuk sarapan—tradisi lama yang sempat mati sejak pernikahan Nathan. Rian membawa kelepon dagangannya, Luki datang dengan wajah yang masih tidak percaya pagi itu ada, Vian datang dengan seragam sekolah karena habis itu mau kabur main, dan Leslie datang terakhir, berdiri di pintu beberapa detik sebelum akhirnya masuk.
Ia tidak duduk dekat Nathan. Ia duduk di sebelah Qiandra, dan di tengah sarapan yang ribut, ia berkata pelan, hanya untuk Qiandra:
"Dia berubah. Dan bukan karena aku."
Qiandra menatapnya. Leslie tidak menatap balik, sibuk dengan kopinya.
"Jaga dia," kata Leslie. "Kali ini aku serius."
Makan pagi itu berlangsung dua jam, dan Bi Umi menghitung dengan hati-hati: sudah bertahun-tahun rumah ini tidak penuh tawa selama itu.
Dan Kamis itu, kabar dari dokter Bayu datang seperti matahari yang menyelundup lewat jendela.
"Ada perkembangan," kata dokter Bayu, menempelkan hasil pemeriksaan ke lightbox. "Refleks lutut kirinya mulai kembali. Lemah, tapi ada. Dua bulan lalu tidak ada sama sekali."
Nathan menatap hasil itu lama. "Artinya?"
"Artinya paraplegia incomplete-mu hidup sesuai namanya. Tidak lengkap. Ada jalur yang masih tersambung." Dokter Bayu melepas kacamatanya. "Saya tidak akan janji apa-apa, Nathan. Saya dokter, bukan dukun. Tapi kalau terapi intensif berjalan, dan kondisi psikismu stabil—dan dari kabar dokter Larasati, kondisimu memang membaik—ada kemungkinan nyata kamu bisa berdiri dengan alat bantu dalam satu sampai dua tahun."
Satu sampai dua tahun.
Nathan keluar dari ruang pemeriksaan itu dengan wajah yang tidak bisa ia kendalikan. Di lorong rumah sakit, di hadapan Pak Shodiq yang langsung berdiri dari kursi tunggu, Nathan berkata dengan suara yang bergetar:
"Pak. Pulang. Sekarang. Gue mau cerita ke istri gue."
Pak Shodiq tidak pernah mendengar kalimat itu dari majikannya. Bukan "gue mau pulang", bukan "antar ke kantor", melainkan "gue mau cerita ke istri gue"—kalimat orang yang punya rumah, bukan sekadar tempat tinggal.
Malam itu Qiandra mendengar kabar itu di dapur, dengan apron masih tersampir di lehernya karena ia sedang belajar menggoreng tempe dengan Bi Umi. Ia tidak berkata apa-apa untuk beberapa detik.
"Qian?"
"Satu sampai dua tahun," ulang Qiandra.
"Kemungkinan. Bukan janji."
"Kemungkinan juga nggak datang ke orang yang berhenti." Qiandra melepas apronnya, berjalan menghampiri kursi roda itu, dan—untuk pertama kalinya, di depan Bi Umi yang berpura-pura sibuk mencuci—ia menempelkan tangannya di bahu Nathan. "Kita jalanin. Terapinya, psikolognya, semuanya. Gue temenin."
Nathan menatap tangan di bahunya. Lalu menatap istrinya. Lalu menatap tangan itu lagi, seolah takut benda itu akan menghilang kalau ia berkedip.
"Kenapa?" tanya Qiandra, setengah tersenyum.
"Nggak ada." Nathan menelan sesuatu di tenggorokannya. "Cuma... dua belas tahun gue ngejar loe, dan gue nggak pernah sekalipun bayangin yang bikin gue dapetin loe itu bukan usaha gue. Tapi kaki yang patah dan jalanan yang basah."
"Jangan dibawa filosofis." Qiandra menepuk bahunya pelan. "Besok tempe gue gosong gara-gara loe."
Malam itu, ketika lampu kamar sudah dimatikan dan garis batas yang tak kasat mata itu sudah lama tidak dibicarakan lagi, Nathan berkata dalam gelap:
"Hari ini gue ngerasa hidup gue mulai lagi."
Dan Qiandra, yang sudah setengah tertidur, menjawab tanpa membuka mata:
"Hari ini gue ngerasa kita mulai bareng."
Di dapur, cincin zamrud di jari Qiandra—yang sudah seminggu ini ia pakai—berkilau tertimpa lampu, memantulkan cahaya kecil ke dinding, seperti bintang yang akhirnya menemukan langitnya.
…