Tiga bulan berlalu tanpa terasa.
Musim hujan akhirnya benar-benar selesai, dan Jakarta kembali ke wajah aslinya: panas, bising, dan jujur. Hubungan Nathan dan Qiandra berjalan di atas rel yang baru, pelan tetapi pasti. Terapi kaki berjalan dua kali seminggu. Sesi dengan dokter Larasati sebulan dua kali. Dan kalimat-kalimat jujur setiap malam sudah tidak lagi terasa seperti tugas, melainkan seperti napas.
Malam itu ponsel Qiandra berbunyi pukul sebelas malam. Nomor tak dikenal. Ia hampir tidak mengangkatnya, tetapi ada sesuatu yang mendorongnya.
"Halo?"
Suara di seberang itu parau, terengah, dan penuh rasa sakit yang ditahan. "Qiandra. Ini Stephanie."
Qiandra langsung bangkit duduk. Nathan menoleh, waspada.
"Kontraksinya udah mulai dari sore," kata Stephanie, napasnya putus-putus. "Sekarang makin cepat. Gue... gue nggak bisa hubungin Sam. Ponselnya mati. Gue nggak punya siapa-siapa lagi di kota ini."
"Di mana loe?"
"Apartemen. Gue udah manggil taksi, tapi gue nggak yakin bisa turun sendiri—" Kalimatnya terputus oleh desahan tertahan.
"Jangan turun sendiri." Qiandra sudah berdiri, meraih jaketnya. "Kunci pintunya, duduk dekat pintu, tas persalinan di pangkuan. Kita jemput. Dua puluh menit."
Nathan sudah bergerak ke kursi rodanya sebelum Qiandra selesai bicara. "Pak Shodiq libur. Gue nyetir sendiri. Mobil matic."
Dua puluh tiga menit kemudian, mereka sampai. Stephanie duduk di lorong lantai dua puluh tiga dengan wajah pucat dan tas persalinan di pangkuan, persis seperti yang disuruh. Melihat Qiandra berlari ke arahnya, wanita yang dulu paling tinggi hati itu menangis begitu saja.
"Maaf," katanya terisak. "Maaf. Gue nggak tahu harus nelpon siapa lagi."
"Udah. Jangan ngomong." Qiandra memapahnya. "Sekarang kita ke rumah sakit."
Persalinan itu berlangsung enam jam. Nathan dan Qiandra menunggu di lorong yang panjang—Nathan di kursi rodanya, Qiandra berjalan mondar-mandir.
Sekitar jam dua pagi, ketika kopi dari vending machine sudah dingin dan lorong sudah terlalu sepi, Nathan berkata pelan, "Loe pernah bayangin punya anak?"
Pertanyaan itu datang tanpa angin. Qiandra berhenti berjalan.
"Dulu. Sama Rifki. Kita pernah ngomongin nama, sekolah, hal-hal bodoh yang diomongin orang yang mau nikah." Ia duduk di kursi sebelah Nathan. "Terus semuanya hancur, dan gue berhenti bayangin apa-apa."
"Dan sekarang?"
Qiandra menatapnya. "Sekarang gue masih belajar berani bayangin apa-apa lagi. Satu-satu."
Nathan mengangguk. Ia tidak mendesak, dan Qiandra berterima kasih untuk itu dalam hati. Beberapa bulan lalu, laki-laki ini akan menuntut kepastian. Sekarang ia hanya duduk di sana, menemani ketidakpastiannya.
"Tapi kalau nanti," kata Qiandra akhirnya, menatap pintu ruang bersalin, "gue mau anak kita tahu satu hal dari awal: dia lahir bukan karena disuruh kakeknya. Dia lahir karena dua orang yang akhirnya berhenti saling nyakitin."
Nathan menatap istrinya lama. Lorong itu sangat sunyi, dan lampu-lampunya berwarna putih pucat, tetapi ada kehangatan kecil di dada Nathan yang tidak ia dapatkan dari mana pun.
"Anak kita," ulangnya pelan, seperti merasakan kata itu untuk pertama kalinya.
"Kalau nanti," Qiandra menegaskan, tapi telinganya memerah.
Pukul empat pagi, Sam muncul dengan mata merah dan bau alkohol, mengaku ponselnya habis baterai. Nathan menatapnya lama, tetapi Qiandra yang menjawab dengan dingin: "Bayinya udah lahir. Dimana loe selama enam jam?"
Sam tidak punya jawaban. Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu punya jawaban itu tidak punya jawaban.
Ia menatap ke dalam ruang bayi lewat kaca, lama sekali, dan tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan. Utang-utangnya, mungkin. Amplop cokelat yang kini tak ada artinya. Atau mungkin—dan malam itu Qiandra memilih untuk percaya hal ini—ia sedang menghitung berapa banyak yang sudah ia gadaikan untuk sampai ke titik di mana adiknya tidak meneleponnya di saat paling penting dalam hidupnya.
Bayi itu perempuan. Dua koma sembilan kilogram. Sehat, berkulit putih, dengan rambut hitam tebal dan tangis pertama yang membuat seluruh lorong menoleh.
Stephanie menamainya Kirana.
"Cahaya," katanya lemah dari tempat tidur rumah sakit, menggendong bayinya dengan cara yang masih kaku, cara seorang ibu yang baru belajar. "Karena dia lahir pas semuanya lagi gelap-gelapnya."
Qiandra berdiri di samping tempat tidur, menatap makhluk kecil yang matanya masih terpejam itu. Empat bulan lalu, bayi ini adalah aset. Bom waktu. Alat tawar. Sekarang ia hanya bayi—merah, kecil, dan menangis minta dunia memperlakukannya dengan lebih lembut.
"Dan satu hal lagi." Stephanie menatap Qiandra, lalu Nathan yang menunggu di dekat pintu. "Gue udah mutusin. Gue nggak akan nerima satu rupiah pun dari Sam. Gue mau pindah dari apartemen itu. Gue... gue mau besarin Kirana sendiri. Dengan cara yang bener."
"Sam setuju?" tanya Nathan.
"Sam nggak perlu setuju." Untuk pertama kalinya, suara Stephanie punya besi di dalamnya. "Gue ibunya. Bukan dia."
Nathan mengangguk pelan. Lalu, dengan hati-hati, ia berkata, "Kalau loe butuh bantuan—bukan uang, tapi hal-hal lain, rumah sakit, dokter, apa pun—loe tahu nomor kami."
"Bukan kami," Stephanie tersenyum lemah. "Nomor Qiandra. Lo tetep mantan suami yang nyebelin, Nat."
Nathan tertawa. Sungguhan. Bunyi itu membuat Qiandra menoleh—ia mulai hafal bunyi itu sekarang, tetapi di rumah sakit jam lima pagi, bunyi itu tetap terasa seperti keajaiban kecil.
Sebelum pulang, Qiandra berdiri sejenak di samping boks bayi. Kirana tertidur dengan tangan mungilnya terbuka, seperti orang yang tidak menyimpan apa-apa.
"Selamat datang di dunia," bisik Qiandra. "Maaf, awal-awalnya berantakan. Tapi gue janji, sisanya nggak."
Di perjalanan pulang, matahari terbit pelan-pelan di balik gedung-gedung Jakarta. Nathan menyetir dengan satu tangan; tangan satunya menggenggam tangan Qiandra di konsol tengah.
"Hari ini gue ngerasain apa-apa yang susah dijelasin," kata Nathan.
"Coba."
"Kayak... semua yang hancur itu ternyata nggak sia-sia." Ia menatap jalan. "Kecelakaan, perceraian, pertengkaran kita, semuanya. Semuanya kayak jalan rusak yang ternyata tetep nyampe ke tempat yang bener."
Qiandra menatap matahari terbit itu lama.
"Gue juga," katanya pelan.
Dan tidak ada lagi yang perlu dikatakan sepanjang sisa jalan pulang.
…