Hari itu Qiandra pulang ke Tanah Abang sendirian, karena Nathan ada rapat sampai sore dan Qiandra sudah lama ingin makan sayur asam ibunya tanpa buru-buru.
Rumah orang tuanya masih sama: toko kelontong di depan, rumah mungil di belakang, dan aroma kayu manis dari dus-dus dagangan. Ibunya sudah sehat kembali, meski masih dilarang dokter mengangkat galon. Tasya membukakan pintu sambil mengomel kenapa kakaknya tidak telepon dulu, dan Sisil langsung menyerobot tas Qiandra mencari oleh-oleh.
Makan siang itu berlangsung dua jam. Ibunya bertanya banyak hal, tetapi tidak sekali pun menanyakan hal yang dulu selalu ia takutkan. Kapan punya anak. Ibunya tidak pernah menagih itu, dan Qiandra baru menyadarinya siang itu, menyadari bahwa di dunia ini hanya ibunya yang tidak pernah menagih apa pun darinya.
"Ayahmu kemarin nonton berita ada nama Rajendra," kata ibunya sambil membungkuskan sayur asam untuk dibawa pulang. "Dia diam aja. Tapi habis itu dia bilang, 'Qiandra kayaknya baik-baik aja. Mukanya di TV nggak kayak orang tertekan.'"
"Aku baik, Bu," kata Qiandra, dan untuk pertama kalinya, kalimat itu bukan penenang. Kalimat itu laporan yang sebenarnya.
Motor matic tua itu akhirnya benar-benar menyerah di pertengahan jalan pulang, lima ratus meter sebelum jalan besar menuju rumahnya.
Qiandra sudah memperingatkan dirinya sendiri sejak pagi. Motor ini memang sudah lama tidak dipakai; ia mengambilnya dari rumah orang tuanya seminggu lalu, setelah Nathan—dengan cara yang sangat hati-hati, belajar dari pengalaman—menyarankan bukan, tetapi menawarkan, "Kalau loe mau motor loe dipake lagi, gue benerin dulu, ya. Biar aman." Qiandra setuju, dan motor itu diantar pulang dalam kondisi sehat.
Sehat, ternyata, ada batasnya. Karburatornya mogok tepat di tikungan jalan, di depan sebuah bengkel kecil dengan papan nama lusuh.
Qiandra menatap papan nama itu, dan waktu berhenti berjalan selama beberapa detik.
Bengkel Barokah Motor.
Ia tidak tahu bengkel Rifki ada di sini. Atau mungkin, ia pernah tahu, dari cerita-cerita lama yang sudah lama tidak ia buka. Tujuh tahun pacaran menyimpan terlalu banyak detail, dan tidak semuanya bisa dihapus sesuai pesanan.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak—"
Suara itu berhenti di tengah. Qiandra berbalik.
Rifki berdiri di ambang bengkel dengan kaus oblong bernoda oli dan kunci inggris di tangan. Ia lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, tetapi matanya tetap sama: mata orang yang tidak pernah pura-pura.
Sepuluh detik berlalu tanpa ada yang bicara.
"Motor gue mogok," kata Qiandra akhirnya, dengan nada yang ia usahakan sebiasa mungkin.
"Gue lihat." Rifki berjalan mendekat, berlutut di samping motor itu, memeriksa dengan gerakan yang sudah sepuluh ribu kali ia lakukan. "Karbu. Bisa dibenerin. Setengah jam."
Ia bekerja tanpa banyak bicara, dan Qiandra berdiri di pinggir bengkel, di bawah atap seng yang berisik oleh matahari, menatap punggung yang dulu pernah menjadi masa depannya.
"Lo keliatan beda," kata Rifki tanpa berbalik, tangannya sibuk.
"Beda gimana?"
"Entah. Lebih... tenang." Ia mengencangkan sesuatu. "Dulu loe selalu kayak orang yang lagi ngejar sesuatu. Sekarang nggak."
Qiandra tersenyum kecil. "Mungkin gue udah nggak ngejar apa-apa."
Rifki berhenti sejenak, lalu melanjutkan pekerjaannya. "Gue denger kabar-kabar. Dari Tasya. Yang tentang Stephanie itu, yang tes DNA itu." Ia mengelap tangannya ke kain lap. "Gue nggak bakal nanya detailnya. Bukan urusan gue. Tapi gue cuma mau bilang satu hal, dan loe denger baik-baik."
Qiandra menunggu.
"Waktu loe mutusin gue lewat telepon dulu, gue benci loe." Rifki akhirnya berbalik, duduk di atas trotoar, menatapnya dengan jujur. "Setahun lebih gue benci loe. Gue pikir loe pergi karena duit, karena nama, karena takut. Butuh waktu lama buat gue sadar: loe pergi karena loe orang baik yang lagi disudutin. Orang baik yang disudutin selalu milih nyerah. Itu kelemahan mereka, tapi itu juga kenapa mereka baik."
"Rifki—"
"Belum selesai." Ia mengangkat tangan, tersenyum kecil. "Gue juga mau minta maaf. Tujuh tahun kita bareng, dan gue nggak pernah bener-bener nanya loe mau apa. Gue pikir ngasih itu cukup. Bengkel, rencana nikah, masa depan yang udah gue susun rapi. Gue nggak pernah nanya loe baca peta yang sama atau nggak."
Qiandra merasakan matanya panas. Ia sudah lama ingin meminta maaf pada laki-laki ini, dan sekarang laki-laki ini malah meminta maaf padanya.
"Gue juga nggak pernah bilang apa yang gue mau," kata Qiandra. "Jadi kita berdua salah. Dua orang yang saling sayang tapi nggak pernah bener-bener ngobrol."
"Kayaknya gitu." Rifki berdiri, menepuk motor yang sudah selesai ia perbaiki. "Udah. Coba nyalain."
Motor itu menyala di putaran pertama.
"Berapa?" Qiandra meraih dompetnya.
"Nol." Rifki mengangkat kedua tangannya. "Anggap sumbangan buat masa lalu."
"Rifki."
"Qian." Rifki menatapnya, dan tatapannya tidak lagi menyimpan apa-apa. Bukan cinta, bukan luka—hanya keikhlasan yang sudah selesai dimasak. "Gue bahagia loe keliatan tenang. Beneran. Dan cowok loe itu... gue pernah ketemu dia sekali, inget nggak? Dua rival yang akhirnya saling ngerti. Gue lihat dia waktu itu, dan gue tahu dia bakal berjuang buat loe dengan cara yang nggak bisa gue lakuin. Cara gue terlalu pelan buat dunia yang loe masukin."
Malam itu, di rumah, Qiandra menceritakan semuanya pada Nathan. Pertemuannya. Percakapannya. Motornya. Tidak ada yang disembunyikan.
Nathan mendengarkan sampai selesai. Qiandra bisa melihat tangan suaminya sempat mengetuk pegangan kursi roda—kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang—tetapi laki-laki itu menahannya, menghela napas, dan berkata:
"Gue seneng loe cerita. Dan gue seneng dia benerin motor loe gratis. Itu berarti dia orang baik."
"Loe nggak cemburu?"
"Cemburu." Nathan mengangkat bahu. "Tapi cemburu itu milik gue, bukan salah loe. Gue yang ngatur dia, bukan loe yang gue atur."
Qiandra menatap suaminya lama, lalu berkata pelan, "Tujuh persen naik jadi lima belas."
Nathan tertawa lepas. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun nama dari masa lalu yang berdiri di antara mereka.
Masa lalu sudah diperbaiki, seperti karburator tua di bengkel kecil di Tanah Abang—dibuka, dibersihkan, dipasang kembali, dan dinyalakan untuk terakhir kalinya sebelum dibiarkan berjalan sendiri ke arah yang sudah seharusnya.
…