Pengumuman itu disampaikan Bang Andi pada hari Senin, setelah jam makan siang selesai, ketika semua karyawan dikumpulkan di area makan yang sudah bersih. Bang Andi bukan orang yang suka pidato, jadi ketika ia berdiri di depan dengan wajah seperti itu, semua orang langsung tahu ini bukan pengumuman soal gaji atau jadwal libur.
"Bapak saya mau jual tanah ini," kata Bang Andi tanpa pembukaan. "Sama rumah makannya."
Sunyi. Feli, yang sedang menghitung uang kas, berhenti dengan tangan menggantung di udara.
"Q&Q ini berdiri tahun 1998," Bang Andi melanjutkan, suaranya berat. "Dua puluh empat tahun. Saya besar di sini. Kalian sebagian besar juga sudah bertahun-tahun di sini. Tapi Bapak saya sekarang tinggal di Tasik, sakit-sakitan, dan pengelola di sana bilang biayanya besar. Tanah ini satu-satunya yang bisa dijual cepat."
"Bang, tanah ini kan masih atas nama—" Johan memulai.
"Masih atas nama Bapak saya. Secara hukum, dia berhak." Bang Andi mengangkat tangannya, meminta semua mendengarkan sampai selesai. "Sudah ada calon pembeli. Developer. Mereka mau bangun ruko di sini. Penawarannya besar, dan mereka minta jawaban dalam satu bulan."
Satu bulan. Kata itu berputar-putar di kepala Qiandra.
"Saya janji satu hal," kata Bang Andi, menatap karyawannya satu per satu. "Kalau penjualan ini jadi, kalian semua dapat pesangon sesuai aturan. Itu sudah saya perjuangkan mati-matian. Tapi lebih dari itu... saya nggak bisa janji."
Rapat kecil itu bubar dengan suasana seperti pemakaman. Wawan melempar lap ke meja dengan kasar. Kristian langsung meraih ponselnya, mencari lowongan. Feli menangis pelan di kasir, dihapus-hapusnya air matanya, malu ketahuan. Elli berdiri diam dengan tatapan kosong—untuk sekali ini, ensiklopedia berjalan itu tidak punya data apa pun.
Masing-masing dari mereka punya sesuatu yang digantungkan di warung ini. Feli sedang menabung untuk menikah dengan Kristian tahun depan; uang muka resepsinya baru terkumpul sepertiga. Wawan menanggung adiknya yang masih kuliah. Elli mengirim sebagian gajinya untuk ibunya di kampung yang sakit ginjal. Dan Johan, yang paling pendiam di antara semuanya, hanya berkata satu kalimat sebelum kembali ke dapur: "Gue udah nolak kerja di tempat lain dua kali karena betah di sini."
Bang Andi mendengar semua itu dari balik pintu kantornya yang setengah terbuka. Ia tidak keluar sampai malam, dan ketika akhirnya keluar, matanya merah.
"Kalau ada jalan lain," katanya pada Qiandra, satu-satunya yang masih tinggal, "gue udah ambil. Percaya sama gue."
Qiandra percaya. Justru itu yang membuat semuanya lebih berat—tidak ada yang bisa disalahkan. Bapaknya sakit. Tagihannya nyata. Tidak ada penjahat dalam cerita ini, dan cerita tanpa penjahat adalah cerita yang paling sulit diterima.
Setidaknya, itulah yang ia pikir sore itu.
Qiandra duduk di tangga belakang, menatap halaman dapur yang sudah bertahun-tahun menjadi dunianya. Warung ini bukan sekadar tempat kerja. Warung ini adalah tujuh tahun hidupnya. Teman-temannya. Pagi-paginya. Bau sambalnya. Ia kehilangan Rifki, kehilangan kebebasannya, hampir kehilangan kewarasannya—dan warung ini selalu ada, tidak pernah bergerak, seperti jangkar.
Sekarang jangkarnya akan dicabut.
Malamnya, di rumah, ia menceritakan semuanya pada Nathan. Ia sudah belajar bahwa menyimpan hal buruk sendirian hanya membuatnya membusuk.
Nathan mendengarkan sampai selesai, seperti biasa sekarang. Lalu ia bertanya, "Loe mau apa?"
Qiandra mengangkat wajahnya. Pertanyaan itu masih terasa baru. Dulu Nathan akan langsung mengambil alih—membeli tanah itu, menyelesaikan masalah, dan menyerahkan hasilnya sebagai hadiah yang tidak diminta. Loe mau apa adalah kalimat yang dipelajarinya dengan susah payah.
"Gue nggak tahu," kata Qiandra jujur. "Gue pengin warung itu tetap ada. Tapi itu bukan tanah kita, bukan bisnis kita. Gue cuma karyawan."
"Karyawan yang nggak mau kehilangan tempat kerjanya tujuh tahun." Nathan mengetuk pegangan kursi rodanya, berpikir. Qiandra bisa melihat roda-roda di kepalanya berputar—otak bisnisnya menyala, tetapi ia menahannya, menunggu.
"Kalau gue beli tanahnya," kata Nathan pelan, "dan warungnya tetap jalan seperti biasa, dengan Bang Andi tetap ngelola—loe akan marah nggak?"
Qiandra diam. Ini persis seperti dulu: tawaran modal yang membuatnya meledak. Tetapi dulu tawarannya untuk menariknya keluar dari sana. Kali ini untuk menjaganya tetap di sana.
"Bedanya," Nathan melanjutkan, membaca keraguannya, "dulu gue nawarin buat mindahin loe dari sana. Sekarang gue nawarin supaya loe nggak kehilangan dia. Gue tetep nggak suka loe capek-capek di situ, tapi gue udah belajar: warung itu bukan tempat kerja loe. Warung itu rumah kedua loe. Dan gue nggak akan beli rumah orang tanpa ngomong dulu sama yang tinggal di dalamnya."
Qiandra menatap suaminya lama. "Lima belas persen naik jadi berapa sekarang?"
"Dua puluh dua." Nathan menjawab tanpa jeda. "Gue ngitung sendiri tadi siang."
Qiandra tertawa—tawa pertama hari itu, dan rasanya seperti matahari kecil di tengah hari yang mendung.
"Tapi ada masalahnya," kata Nathan, dan wajahnya berubah serius. "Gue udah minta Rian cek calon pembelinya. Developer itu bukan developer biasa. Mereka anak perusahaan dari grup yang lima tahun ini selalu ngejegal proyek-proyek kita. Dan kebetulan banget mereka tau tanah itu mau dijual, padahal Bapaknya Bang Andi belum pernah umumin ke mana-mana."
Qiandra merasakan dingin di tengkuknya. "Maksud loe?"
"Maksud gue, ada yang ngasih tau mereka." Nathan menatapnya. "Dan orang yang tau soal keuangan Bapaknya Bang Andi di Tasik, tau soal Q&Q, dan punya alasan buat nyakitin kita... daftarnya pendek, Qian. Pendek banget."
Qiandra tidak perlu bertanya siapa saja isi daftar itu. Kepalanya sudah menyusunnya sendiri, tanpa diminta, seperti kartu-kartu yang terbuka satu per satu di atas meja.
Di luar, angin malam bergerak pelan di antara rumah-rumah cluster. Dan Qiandra menyadari bahwa ketenangan yang baru mereka bangun ini—pelan-pelan, dengan kalimat jujur dan lemon tea—sedang diperhatikan oleh seseorang dari kejauhan.
Seseorang yang tidak suka melihat mereka bahagia.
"Nat," kata Qiandra akhirnya, memecah keheningan. "Apa pun yang terjadi sama warung itu, gue mau kita ngadepinnya bareng-bareng. Nggak ada yang memutuskan sendiri. Nggak ada yang bergerak diam-diam. Setuju?"
Nathan menggenggam tangannya. "Setuju."
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, kata setuju itu tidak terasa seperti janji. Ia terasa seperti sumpah.
…